Penjara cinta yang suaminya ciptakan membuat Firda tak tahan lagi . Ia hidup namun tak bisa hidup dengan bebas seperti manusia pada umumnya . Suaminya itu menyuruhnya melakukan hal hal yang tak ia sukai mulai dari Memakai softlens berwarna biru setiap hari , menghadiri les memasak juga menghadiri les piano .
Bukan hanya itu saja , setiap ia pergi keluar dari rumah .Para bodyguard selalu mengikuti dirinya , ia merasa tak nyaman namun ia berusaha berpikir positif bahwa itu semua suaminya lakukan demi keselamatan nya .
Namun semakin hari ia semakin tak nyaman , ia seperti seorang boneka yang hanya bisa pasrah di mainkan dan di atur oleh orang lain . Kebebasan nya seakan terenggut saat ia menikah dengan suaminya itu . Karena merasa lelah dan muak dengan itu semua akhirnya Firda mulai tak menuruti apa mau suaminya . Ia mulai lupa mengenakan softlens biru yang suaminya suruh pakai setiap hari .
Awal nya ia kira suaminya tak akan marah namun justru ia salah . Suaminya murka dan mengamuk hingga berakibat kekerasan dalam rumah tangga yang ia alami .Hal itu semakin membuat Firda tak kuat lagi menjalankan rumah tangga nya , keinginan nya untuk mengakhiri rumah tangga nya semakin kuat setelah mengetahui fakta bahwa suaminya menikahi dirinya hanya karena ia mirip dengan istri laki aki itu yang sudah meninggal . Hatinya semakin hancur kala mengtahui jika perintah perintah yang suaminya berikan hanya lah agar dia terlihat semakin mirip dengan mendiang istrinya .
Hingga akhirnya wanita itu memilih pergi mulai dari meminta cerai yang suaminya tolak mentah mentah. Hingga memalsukan kematian nya sendiri agar terbebas dengan dari cengkraman sang suami .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia puspitaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14 . Bertemu dengan nya .
Seminggu berlalu setelah kejadian itu Firda jadi banyak terdiam dan merenung , tak ada lagi senyum ataupun sepatah kata yang keluar dari mulutnya . Yang ada hanya rasa muak dan benci yang semakin bertambah besar setiap harinya .
" Nyonya ...Tuan Brian menyuruh saya mengantarkan makanan ini untuk anda . " Ucap seseorang wanita paruh baya yang baru saja memasuki kamar Firda . Firda hanya diam tanpa menjawab pertanyaan mbok Yem itu .
" Nyonya ... Saya tau anda sedang bersedih saat ini , tapi anda harus tetap makan . Anda bisa sakit jika terus terusan seperti ini . " Ucap mbok Yem mengusap rambut Firda perlahan .
" Aku tak lapar . " Ucap Firda dingin ...matanya memandang keluar jendela kamar dengan pandangan nanar.
" Tapi ...ini sudah 2 hari ...dan tubuh anda belum kemasukan apa pun nyonya .Saya sangat mengkhawatirkan nyonya . " Ucap mbok Yem membuat Firda mengalihkan pandangan nya . Melihat mbok Yem , Firda jadi teringat dengan ibunya . Rasa sesaat tiba tiba masuk kedalam relung hatinya , ia ingin pergi menemui ibunya dan menceritakan apa yang ia alami ..
Namun ia tak tau apakah ibunya akan bersedia membantu dirinya atau justru malah membela sang suami . Pengaruh suaminya sangat besar untuk kelangsungan hidup ibu dan ayah nya . Ia tak tau apakah ibunya rela kehilngan harta yang suaminya berikan atau tidak . Yang jelas untuk saat ini Firda hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri .
" Ayolah non ...makan ya . Nanti saya di marahi tuan kalau non gak mau makan . " Bujuk mbok Yem dengan nada sendu .
" Baiklah aku akan makan itu tapi tolong temani aku ya ...aku gak mau makan sendiri . " Ucap Firda pelan . Mbok Yem tersenyum dan mengangguk , ia sangat senang karena dirinya berhasil membujuk wanita muda di hadapannya itu .
" Tapi mbok ...sendok nya kan cuma satu . Mbok ambil lagi gih . Masak kita makan berdua tapi sendok nya cuma satu sih . " Ucap Firda di angguki oleh wanita paruh baya itu , wanita itu berlalu pergi meninggalkan Firda sendiri dengan makanan nya .
Setelah wanita paruh baya itu pergi . Firda bergegas mengambil sesuatu di laci mejanya . Kemudian setelah mendapatkan apa yang ia cari . Ia pun segera membuka bungkusan plastik yang berisi serbuk itu dan menaburkan nya keatas makanan yang ia akan berikan pada mbok Yem .
" Maaf mbok, tapi aku harus pergi dari rumah ini . " Lirih Firda setelah selesai menaburkan bubuk itu .
Tak lama mbok Yem pun datang dengan membawa sendok di tangan nya . Firda segera menyembunyikan bekas bubuk tabur tadi kedalam sakunya .
" Saya sudah bawa sendok nya nyonya . Mari kita makan . " Ucap mbok Yem duduk di atas ranjang bersama Firda .
" Mbok ...mbok makan yang bagian ini ya , sementara Firda bagian yang lain . Biar adil . " Ucap Firda tanpa di curiga i mbok Yem . Wanita paruh baya itu hanya menurut dan memulai makan malam nya bersama Firda .
" Masakan mbok memang enak sekali, mungkin saya tak bisa merasakan masakan ini lagi nanti . " Ucap Firda tersenyum getir . Sementara mbok Yem mengerutkan dahinya tak mengerti dengan apa yang di ucapkan Firda .
Belum sempat ia bertanya pada Firda tentang maksud ucapan nya . Wanita paruh baya itu sudah merasakan kantuk yang teramat sangat menimpanya .
" Aduh non ...kok saya tiba tiba ngantuk banget ya ?" tanya mbok Yem pada Firda . Firda hanya diam tak menjawab apa pun , tak lama tubuh mbok Yem jatuh keatas kasur dan dia pun tertidur dengan begitu lelap nya .
" Maafkan saya sekali lagi mbok.. " lirih Firda . Setelah memastikan mbok Yem benar benar tertidur ia pun segera mengambil tas besar yang akan ia gunakan untuk kabur . Saat ini keadaan sungguh mendukung Firda , rumah masih sepi . Santi pergi ke pasar sementara bodyguard yang biasanya menjaga dirinya tengah sibuk membereskan halaman belakang . Karena nanti malam akan ada pesta kecil kecil an untuk merayakan kemenangan Brian di rumah itu .
Dengan langkah mengendap endap Firda pun berjalan keluar menuju sebuah mobil yang kebetulan terparkir di depan rumah megah itu . Setelah masuk kedalam mobil iya langsung menancap gas dengan kencang ... Ia berharap rencananya kabur kali ini akan berhasil dan tak tertangkap oleh Brian lagi .
Mobil itu melaju menuju sebuah jalanan di tepi laut dengan ketinggian 20 meter dari permukaan laut . Setelah mengamati jalanan cukup sepi dan tak ada orang berlalu lalang di jalan itu . Firda segera keluar meninggalkan tas nya di dalam mobil . Setelah itu ia mendorong mobil yang ia kendarai masuk kedalam jurang di tepi laut .
Mobil itu langsung terjebur kedalam lautan . Di tengah tengah hujan dan malam yang semakin gelap . Firda tertatih berjalan tanpa alas kaki di aspal jalan itu . Ia berjalan tanpa tau kemana ia akan pergi ...
Baju serta kardigan yang ia pakai pun sudah basah kuyup akibat terguyur oleh air hujan. Meski begitu ia senang , setidaknya Brian akan menganggap ia mati esok saat melihat mobil itu . Ia harap tak ada CCTV yang merekam perbutan nya .
Ia sudah tak punya cara lain selain memalsukan kematiannya sendiri . Ia juga tak perduli dengan akibat yang akan ia terima setelah melakukan hal tersebut . Wanita itu hanya ingin bebas dari penjara emas yang membelenggunya beberapa tahun terakhir ini .
Sementara itu , Farel baru saja pulang dari klinik nya . Ya laki laki itu memutuskan untuk pulang ke rumah setelah sekian lama ia tak pulang . Di tengah jalan ia melihat sosok wanita yang basah kuyup berjalan di tengah hujan .
Siluet wanita itu mengingatkan Farel pada calon pasien yang ia tolak mentah mentah kemarin malam . Karena penasaran Farel pun memutuskan untuk menghampiri wanita itu .
Melihat lampu mobil yang menyoroti tubuh nya , Firda langsung berlari , wanita itu sungguh takut jika mobil di belakang nya adalah mobil Brian . Namun langkah kaki nya tetap saja kalah dengan laju mobil itu . Mobil itu menyalip nya dan berhenti tepat di hadapan .
Firda seketika terduduk memegang kedua kepalanya dengan begitu erat . Ia sungguh ketakutan , badannya bahkan sudah gemetar akibat dingin nya hujan dan rasa ketakutan nya .
Farel segera turun dan menghampiri Firda dengan perasaan khawatir .
" Kamu tak apa ?" Tanya Farel menatap wanita yang masih terduduk itu dengan perasaan cemas . Mendengar suara yang bukan milik suaminya seketika Firda mengangkat wajah nya .
Wanita itu mendapati sosok wajah tampan dengan bulu bulu halus di sekitar rahang yang membuat Firda terkesima untuk sesaat .
" Dokter ..." lirih Firda dengan bibir bergetar menahan tangis nya . Melihat itu Farel semakin merasa kasihan pada Firda .
" Ayo aku antar pulang . " Ucap Farel berusaha membantu Firda berdiri .
" saya tidak mau pulang dokter . saya mohon bawa saya pergi jauh dari kota ini . " Ucap Firda tak menjelaskan masalah nya kepada farel .
Lagi lagi farel terdiam , ia sebenarnya tak mau ikut campur masalah orang lain . Namun ia juga tak tega meninggalkan Firda di tengah tengah hujan sendirian di tepi jalan ..
" Baiklah , ayo masuk ke mobil ku . " Ucap Farel mengusap pucuk kepala Firda tanpa sadar . Usapan di kepalanya itu membuat Firda merasa nyaman . Namun rasa itu tak berangsur lama karena Farel segera melepaskan tangan nya dan membuka pintu mobil nya untuk Firda .
Firda segera masuk ke mobil itu . Setelah itu mobil farel melaju meninggalkan jalanan di mana Firda memalsukan kematiannya .
..
..
..
Jangan lupa like komen vaf dan hadiah ya .
Biar author semakin semangat .
DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERARTI UNTUK KAMI PARA AUTHOR.
tapi seru juga ....
semangat otor.