Novel ini adalah cerita tentang perjalanan si kembar Kean dan Lean dalam mencari partner terbaik mereka. Saudara kembar itu mempunyai prinsip jika sudah cinta dengan seorang wanita ingin langsung menikah bukan untuk pacaran.
"Kamu itu bagaikan alkohol yang bercampur dengan ganja, begitu memabukkan dan membuatku candu! Bagaikan langit yang sulit untuk kugapai." Adinda Larasati
"Kamu adalah gadis ceroboh yang bisa membuatku jatuh cinta padamu." Muhammad Keane Ar-rayyan
"Andai aku bisa mendapatkan cintamu, aku ingin segera menikah denganmu." Muhammad Leanne Ar-rayyan
"Dari awal aku tak pernah mencintaimu. Jadi jangan paksa aku untuk bisa mencintaimu!" Leandra Monroe.
" Setelah mencintaimu, hidupku menjadi berubah penuh warna." Nala Avrelia Prayoga
Ikuti kisah mereka hanya di My Best Partner .
Follow ig author : Novi_Rahajeng08
Saran baca novel pendahulunya. Anak Genius: Papa Bucin Yang posesif
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi rahajeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rentenir
Kenapa hari ini gue sial banget, sih! Udah bertemu dengan pria model seperti Aditya yang pelitnya minta ampun, di pergoki boss dingin ini lagi! Kan malu banget. Batin Dinda yang terus berjalan mengekor di belakang Kean.
Karena tidak fokus dengan jalannya, Dinda sampai tidak menyadari kalau Kean berhenti. Sehingga membuat Dia menabrak punggung Kean.
Dinda memegang keningnya yang sedikit sakit, lalu memundurkan langkahnya.
"Maaf pak," ucap Dinda.
Merasakan bahwa Dinda sudah tidak berada di belakangnya, membuat Kean melepaskan jaketnya, lalu memberikan jaket itu untuk menutupi tubuh Dinda.
"Pakailah," ucap Kean dengan mata yang sedikit tertunduk.
"Tidak perlu pak," Tolak Dinda.
"Apa kamu ingin saya terus melihat tubuh dengan pakaian terbuka itu!"
Ucapan Kean terdengar menohok sekali, dengan takut-takut Dinda mengambil jaket Kean dan memakainya. Jaket Kean terlihat sangat kebesaran di tubuh mungil Dinda.
"Masuk mobil."
"Tapi, pak___"
"Masuk atau___"
Sebelum Kean menyelesaikan ucapannya, Dinda sudah berlari ke pintu sisi kiri mobil. Nada suara marah pria itu, sudah membuat Dinda ketakutan. Saat di dalam mobil, Dinda mencoba menutupi tubuhnya dengan jaket kebesaran itu. Sedangkan Kean tak pernah melirik atau berkata sepatah katapun.
"Pak, nanti uangnya akan saya ganti kalau sudah gajian," ucap Dinda takut-takut.
"Tidak perlu, anggap saja sedekah!"
"Sedekah?" ulang Dinda. Sedangkan Kean hanya fokus mengemudi.
Orang kaya dari kecil mah bebas, ngasih uang sebanyak itu, di anggap sedekah! Batin Dinda.
"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" tiba-tiba Kean membuka pembicaraan.
"Belum, pak."
Kean mengerutkan keningnya. "Kalau belum selesai, kenapa pergi berkencan? Apa kamu ngebet pengen cepat nikah?"
Dinda tercengang saat mendengar ucapan Kean yang menghinanya kalau dia ngebet nikah.
"Siapa juga yang ngebet nikah, andai bukan di paksa dengan Ibu saya. Pasti ogah lah saya menemui pria seperti itu dengan pakaian seperti ini!" pungkas Dinda dengan suara sedikit tinggi.
"Lebih baik tidur dan mimpikan bebeb Eun-woo aja!" lirihnya.
Dinda melipat kedua tangannya , serta menatap lurus ke depan dengan tatapan kesal. Jika ibunya bilang sejak awal kalau pertemuan itu adalah kencan buta, sejak awal Dinda juga pasti akan menolak mentah-mentah permintaan itu.
" Apa barusan kamu bilang?" tanya Kean yang sedikit penasaran dengan ucapan lirih Dinda.
"Gak ada kok pak, anggap saja angin lewat!"
Kean mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti dengan wanita seperti Dinda. Tadi marah-marah, sekarang bilang lupakan saja.
Sebenarnya Dinda males pulang ke rumah, tapi dia bingung harus mengatakan alasan apa ke Kean agar tidak pulang.
Sesampainya di dekat rumah Dinda, begitu banyak tetangga di luar yang berkumpul seakan menonton keributan di teras rumah Dinda.
"Ini ada apa ya?" batin Dinda yang segera turun dari mobil dan mengecek apa yang telah terjadi.
Ketika melihat ada mobil mewah berhenti, pandangan mereka teralihkan ke arah mobil itu. Apalagi saat melihat Dinda yang keluar dari dalam mobil, membuat mereka tercengang dan saling berbisik.
"Eh, itu beneran si Dinda? Sama siapa dia, ya?"
"Kalau lihat dari penampilannya yang berdandan dan memakai baju seksi, mungkin om-om berduit!"
"Masak sih Dinda seperti itu?"
"Namanya juga udah kepepet, apapun bisa di lakukan demi bisa mendapatkan uang!"
"Benar-benar nggak nyangka, kirain anak baik-baik. Ternyata sama aja, mata duitan!"
Melihat Dinda yang keluar mobil dengan terburu-buru sampai melupakan tasnya, membuat Kean ikut turun dari mobil.
Saat melihat yang keluar dari mobil bukanlah om-om, melainkan pria muda yang sangat tampan. Membuat ibu-ibu yang bergosip itu tercengang, sampai tak berkedip sedikitpun.
"Sumpah, ini model atau artis hollywood sih? Ganteng ala bule gitu!"
"Iya, ternyata bukan om-om. Melainkan pria yang sangat tampan."
Ibu-ibu itu langsung menghampiri Kean dan ingin berfoto bersama. Tapi, Kean menolak dan mengatakan kalau dia bukanlah artis.
"Ganteng jangan sombong gitu, dong!" ucap seorang Ibu-ibu yang sudah menggandeng tangan Kean.
"Ibu, saya minta maaf sekali. Tapi, saya bukanlah artis. Jadi tolong lepaskan tangan saya." Kean berusaha melepaskan Diri dengan sopan, karena dia tak mau bersikap tidak sopan dengan orang yang lebih tua.
Namun, usahanya sia-sia, justru ada seorang Ibu-ibu yang ingin menyentuh pipi Kean dan membuatnya murka.
" Tolong lepaskan saya! "bentak Kean dengan raut wajah marah.
Melihat aura kemarahan terlihat jelas di wajah Kean, membuat mereka melepaskan diri dan merasa ketakutan.
Setelah itu, Kean pergi meninggalkan mereka.
" Ganteng-ganteng kalau marah menakutkan! "
***
Ketika melihat wajah babak belur bapaknya, dan ibunya yang bersimpuh memohon ampun di depan seseorang, membuat Dinda berlari menghampiri mereka.
"Bapak, Ibu!" seru Dinda yang duduk di dekat Ibunya.
"Dinda!" Nada terkejut saat melihat Dinda sudah pulang dari kencan buta.
"Kenapa kamu sudah pulang? Pergi dari sini, Nak." Nada berusaha untuk menyuruh Dinda pergi, dia tidak mau rentenir itu sampai melihat Dinda. Apalagi saat ini, Dinda dalam kondisi sangat cantik.
"Ibu ini ada apa?"
"Wah, ternyata anak gadis kalian jauh lebih cantik dari foto, ya." Pria botak dan gendut itu menghampiri Dinda.
Dia adalah boss rentenir yang meminta Dinda sebagai penebus hutang. Dia ingin Dinda menjadi istri kelimanya. Ketika mendengar bahwa bambang mulai berjudi, dan mempunyai hutang yang sangat banyak kepada rentenir, membuat Nada marah.
Sudah cukup selama ini, Nada bekerja keras agar kebutuhan keluarga ini tercukupi dengan menjadi buruh cuci baju, pembantu panggilan, dan lain sebagainya. Dia masih bertahan dan berharap bahwa suaminya mau bertaubat dan berhenti minum, tapi bukannya berhenti. Dia justru main judi dan berhutang pada rentenir.
Saat mengetahui bahwa boss rentenir itu, menginginkan Dinda. Nada berusaha untuk segera mencarikan Dinda suami agar ada yang menjaganya. Nada tidak rela jika putri satu-satunya menjadi istri kelima dari seorang rentenir.
Meskipun Nada suka marah-marah, tapi sejujurnya dia sangat menyayangi Dinda. Dia tidak ingin Dinda hidup menderita sepertinya. Jadi, saat temannya menawarkan seorang pria muda, mapan dan kaya sedang mencari seorang istri. Nada segera meminta agar dia bisa berkenalan dengan Dinda.
Bahkan, Nada rela menghabiskan uang tabungannya untuk membeli pakaian cantik buat Dinda. Saat itu Nada berpikir jika Dinda menikah dengan pria kaya, dia akan bahagia, dan selamat dari rentenir itu. Soal cinta, bisa berjalan dengan seiringnya waktu.
Bukannya matre, tapi realistis! karena Cinta saja tak cukup untuk menjalin rumah tangga.
Ketika boss rentenir itu ingin mendekati Dinda, Nada segera menggiring Dinda untuk berada di belakangnya.
"Jangan sentuh anak saya!"
Tanpa berpikir panjang, pria itu mendorong Nada agar menjauh.
"Ibu!" seru Dinda yang melotot ke arah boss rentenir itu.
Ketika pria itu ingin menyentuh pipi Dinda, Kean segera meraih tangan pria itu, dan memelintirnya ke belakang.
"Au, sakit! Siapa kamu?"
"Pak Kean!"
Saat anak buahnya ingin menyerang Kean, dia segera mendorong pria itu mengenai sang anak buah. Membuat mereka berjatuhan ke lantai.
"Dia siapa, Din?" tanya Nada.
"Sudah, Ibu bangun dulu." Dinda mencoba membantu Nada untuk bangun dari duduknya.
...****************...
Halo... Author datang lagi. Jadi sudah tahu kan alasan kenapa Nada menyuruh Dinda kencan buta?
Cowok gantengnya emak, bikin babak belur saja mereka ya...
Jangan lupa dukungannya dengan like, komen, vote dan hadiahnya ya... Biar author lebih semangat lagi
😊