Almahyra seorang anak korban tsunami yang diadopsi oleh seorang dokter lajang bernama Kenzo Takeshi Sato.
Mereka sama-sama memendam perasaan.
Pernikahan Kenzo dengan wanita lain yang bernama Mona tidak bahagia.
Setelah berpura-pura lumpuh dia baru sadar bahwa Almahyra lah yang pantas menjadi istrinya.
Kenzo dan Almahyra diam - diam menikah.
Apakah Mona rela di madu?
Apa yang akan terjadi setelah dia tahu di madu?
Selamat membaca...
Aku tunggu support Anda semua agar aku lebih semangat untuk berkarya.
Love u All.. 😘😘😘
Terimakasih.. 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ria aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENCURI DENGAR
“Ah, David!” Mona tersentak ketika terbangun dari tidurnya. Dia lupa jika sedang menginap bersama David. Badannya terasa remuk. Perlahan dia memindahkan tangan David yang masih memeluknya erat.
“Eemhh, kamu udah bangun?” David menggeliat merenggangkan tubuhnya lalu kembali menarik Mona ke dalam pelukannya.
Mona mencoba untuk melepaskan diri dari dekapan David. Sia-sia tenaga David sangat kuat. Dia tak mau melepaskan Mona.
“Mau kemana? Hari masih gelap Sayang.” tangan David semakin liar. Sepertinya dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang tersisa untuk melepaskan rindu mereka. David tidak tahu kapan lagi bisa mendapat kesempatan untuk bersama Mona seperti malam ini.
“Apa kamu nggak lelah?” Mona akhirnya menyerah. Dia pasrah menerima perlakuan mantan kekasihnya itu. Mereka kembali mengulang adegan panas di pagi itu.
“Aku sangat merindukanmu Mona. Rasa lelahku nggak sebanding dengan bahagia yang aku rasakan saat ini.”
Hampir satu jam mereka bertempur di atas ranjang. Seberkas cahaya matahari menerobos melalui celah jendela kamar yang mereka tempati menandakan hari sudah pagi. Mona segera bergegas ke kamar mandi karena ada jadwal pagi di rumah sakit.
“Ini masih terlalu pagi, Sayang.” David menghampiri Mona yang sedang bercermin mematut diri.
“Aku ada jadwal pagi ini. Apa kamu mau kita sarapan dulu?” tanya Mona.
“Benar. Aku sangat lapar. Kita ke kafe saja. Lagi pula mobilmu masih di sana, kan?”
“Hmm.” Mona mengangguk setuju.
Kafe masih sepi. Belum ada karyawan yang datang ke sana. David memasak sarapan untuk dirinya dan Mona. Setelah sarapan selesai, mereka berpisah dan kembali ke kehidupan masing-masing.
...
Almahyra dan Kenzo sampai di kediamannya sore ini. Mereka terlihat sangat sumringah. Semangat baru membuat mereka lebih terlihat segar.
“Non Al sudah pulang.” Mita membantu Arman untuk mengangkat barang-barang milik Kenzo dan Almahyra.
“Iya Mbak. Di kardus yang itu ada oleh-oleh buat Mbak Mita dan mas Arman.” Tangan Almahyra menunjuk sebuah kardus.
“Terima kasih, Non. Baju kotor yang mana, Non?” tanya Mita.
“Yang itu Mbak.” Almahyra menunjuk ke sebuah koper besar.
“Baik Non.” Mita segera membawa koper baju kotor dan barang lainnya ke tempat yang seharusnya.
Almahyra berjalan ke kamarnya untuk beristirahat. Ternyata Kenzo sudah berada di sana lebih dulu. Dia sedang bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Malam ini dia akan lembur di sana.
“Apa Paman nggak lelah? Sebaiknya besok saja Paman ke rumah sakit,” ucap Almahyra sambil membantu Kenzo bersiap.
“Ada hal yang harus aku persiapkan untuk besok, Sayang. Apa kamu masih rindu, hmmm?” Kenzo menarik pinggang Almahyra lalu mengecup bibirnya sekilas.
“Kalau aku setiap saat rindu, apa Paman mau di sisiku selamanya?” ucap Almahyra manja. Tangannya merangkul leher Kenzo.
“Tentu saja. Kamu mau ikut?” Kenzo membelai rambut Almahyra mesra.
Almahyra menggeleng. “Aku di rumah saja, Paman. Paman pasti nggak akan fokus kalau aku ngintilin Paman.”
“Iya, nggak jadi kerja. Hahaha.” Kenzo tertawa membayangkan jika Al benar-benar mengikutinya.
“Pergilah Paman. Doa kami selalu menyertaimu,” ucap Almahyra sambil menyentuh perutnya.
“Jaga anak kita dengan baik Al. Aku sangat menyayangi kalian.” Tangan Kenzo mengelus perut Almahyra.
Almahyra mengangguk. Ada kehangatan yang mengalir di hatinya setiap kali menerima perhatian dari Kenzo.
Sore itu Kenzo berangkat ke rumah sakit sementara Mona pulang ke rumahnya. Sebelum berangkat Kenzo berpesan kepada Mita agar melaporkan keadaan rumah. Kenzo juga meminta Mita untuk mengawasi Mona jika dia ingin menyakiti Almahyra.
Mita mengerti mengapa Kenzo sangat mengkhawatirkan Almahyra. Mona sangat ingin menyingkirkan Almahyra. Cepat atau lambat Mona pasti melakukan hal yang membuat Al terancam.
Saat berada di taman samping untuk membuang sampah, samar-samar Mita mendengar suara Mona seperti sedang berbicara pada seseorang. Mita mengurungkan niatnya dan mendekat ke arah sumber suara. Dia mengendap-endap seperti maling karena ingin mencuri dengar pembicaraan Mona.
Mata Mita terbelalak. Seketika dia menutup mulutnya yang hampir saja berteriak. Dia tidak menyangka jika Mona sekejam itu. Tubuh Mita gemetar. Kakinya seakan tidak mampu untuk menopang berat tubuhnya.
Setelah di rasa keadaan aman, Mita keluar dari persembunyiannya dan segera menuntaskan tugasnya. Setengah berlari Mita pergi ke kamarnya lalu buru-buru menguncinya dari dalam. Setelah gemuruh di dadanya sedikit normal, Mita mengambil ponselnya untuk menelepon Kenzo. Dia tidak ingin menunda karena takut semuanya terlambat.
“Hallo Mbak Mita. Selamat sore.” Suara Kenzo terdengar dari seberang.
“Se.. selamat sore Tuan Ken. Maaf mengganggu Tuan.” Ucapan Mita terdengar gugup. Mita berusaha menyusun kata-kata yang tepat untuk menceritakan apa yang di dengarnya barusan.
“Ada apa Mbak? Kelihatannya sangat penting.” Ucap Kenzo penasaran. Tidak biasanya dia meneleponnya jika tidak ada hal yang mendesak.
“Begini Tuan, ini berhubungan dengan Non Al dan Nyonya. Tadi... tadi... saya...” tiba-tiba Mita kehilangan kata-kata yang sudah dia susun dipikirannya.
“Kenapa dengan Al, Mbak? Bicaralah pelan-pelan!” Kenzo beranjak dari duduknya. Pikirannya seketika menjadi kacau takut kalau terjadi apa-apa dengan Almahyra.
Mita berusaha menetralkan kegugupannya. Dia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Setelah di rasa tenang dia baru mulai berbicara.
“Hallo, Mbak Mita. Masih dengar suaraku?” Kenzo terlihat tidak sabar menanti kabar dari Mita. Apalagi menyangkut Almahyra.
“Iya, Tuan. Begini. Saya tadi mendengar Nyonya menelepon seseorang. Kelihatannya mereka sangat dekat kalau nggak salah namanya David. Em...” Mita mulai berbicara lancar meskipun masih terbata-bata.
“David? Lalu hubungannya apa dengan Al?” Kenzo berpikir ke mana arah pembicaraan Mita.
“Nyonya... Emm... Nyonya berencana menculik Non Al dengan bantuan si David itu Tuan.” Mita merasa ketakutan mengingat akan rencana Mona.
“Apa? Jadi mereka masih menjalin hubungan di belakangku. Apa yang kamu dengar lagi, Mbak?” Kenzo mengepalkan tangannya menahan emosi.
“Sepertinya teman Nyonya itu akan menyamar dan ke sini saat Non Al sendirian, Tuan,” ungkap Mita yang sudah mulai tenang.
“Hmm, seperti itu rupanya. Terimakasih banyak Mbak Mita atas informasinya. Oh, iya, tetap bersikaplah biasa seolah nggak tahu apa-apa. Jangan ceritakan ini pada Al! Mbak Mita awasi terus keadaan rumah. Jika ada yang nggak beres segera hubungi saya!” jelas Kenzo panjang lebar.
“Baik Tuan Ken. Selamat sore.” Akhirnya Mita merasa lega.
“Selamat sore.” Kenzo menghela napas kasar setelah menutup teleponnya.
‘Al, maafkan aku. Aku sudah membawamu dalam hidup yang penuh liku. Sampai kapan cinta kita akan terus di uji. Aku harus menangkap basah mereka.’ Kenzo bermonolog dalam hati. Bayangan Almahyra membuatnya merasa risau. Kenzo harus segera menyelesaikan pekerjaannya dan menyusun rencana.
...
Almahyra makan malam bersama Mita. Sejak pertengkaran terakhirnya dengan Kenzo, Mona tidak pernah makan di rumah atau sekedar duduk bersama. Baru malam ini dia terlihat turun dan bergabung bersama Al dan Mita.
“Selamat malam Kak Mona,” sapa Almahyra dengan senyum termanisnya.
“Hmm,” jawab Mona tanpa menoleh. Dia langsung mengambil makan malamnya dan bersiap untuk membawanya ke kamar.
“Tunggu sebentar, Kak. Aku ada oleh-oleh untukmu.” Almahyra meninggalkan makan malamnya untuk mengambil oleh-oleh untuk Mona di kamarnya.
Tak mengindahkan ucapan Almahyra, Mona pergi ke kamarnya. Almahyra masih melihat sekilas kepergian Mona sebelum dia masuk ke kamarnya. Mita merasa iba melihat Al yang masih berdiri mematung melihat kepergian Mona.
“Biar saya saja yang ngasih ke Nyonya, Non.” Mita meraih beberapa paper bag dari tangan Al.
“Terimakasih, Mbak.” Al masih merasa sedih dengan perlakuan Mona. Beruntung hari ini dia tidak berlaku kasar padanya. Al sangat senang saat Mita menawarkan diri memberikan bantuan karena Al masih merasa segan berhadapan langsung dengan Mona.
“Sama-sama Non.”
Mita bergegas menuju kamar Mona. Bulu kuduknya merinding mengingat rencana jahat Mona. Mita berharap Ken akan segera bertindak dan Al akan selamat.
Pintu kamar Mona terbuka saat Mita datang. Mona meliriknya sebentar lalu memberi isyarat agar Mita meletakkan barang yang dia bawa di depan pintu. Mulut Mita seperti tercekat. Dia hanya mengangguk dan melakukan perintah Mona tanpa banyak bicara.
****
Bersambung...
semoga saja anak q sikapnya gk lemah spt dr. Kenzo karena anak q namanya juga kenzo