Kemala seorang wanita belia, yang sudah menjanda dua kali, semua suaminya meninggal secara misterius.
Takdir mempertemukan dia dengan seorang pria dikala hatinya masih merasakan sakit dan trauma terhadap pernikahan. Serta bayang bayang dari masa lalu yang masih terus mengejarnya.
Akankah cinta pria itu dapat menyembuhkan lukanya atau Kemala akan menjada untuk ketiga kalinya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pamer calon mantu part 1
Mau marah juga sama siapa, semua kesalahan Galuh sendiri. Akibatnya sekarang Galuh jadi sering uring-uringan. Dan Damar lah yang jadi korban kelabilan atasannya itu.
"Dam, kamu gimana sih lelet bener," ketus Galuh.
Ya elah, pak CEO yang terhormat, loe pikir kerjain ini semua kayak makan kerupuk apa, kriuk kriuk abis, pake otak Bray.
"Maaf Pak, saya akan lebih giat lagi," ucap Damar sambil menaruh berkas di atas meja kerja Galuh.
"Hmmm, jangan ngedumel. Gua tau loe ngomongin gua dalam hati," ucap Galuh tanpa mengalihkan pandangannya dari meja kerja.
Buset, sejak kapan nih anak punya ilmu Roy kinosi. batin Damar lagi.
"Masih penasaran sama ilmu saya."
"Maaf Pak, kalau begitu saya permisi." Damar pun keluar dari ruangan Galuh dengan wajahnya yang di tekuk masam.
Seperti itulah Galuh sejak tau bahwa dia begitu bodoh, segitu ga bisanya dia ga bisa bedain darah gituan dengan darah ginian.
"Aghh.... sial," ujar Galuh sambil mengusap wajahnya kasar.
"Damar masuk ke ruangan ku, Sekarang!" seru Galuh dengan lantang lewat telepon kantor.
"Huh... pasti lagi PMS tuh anak," gerutu Damar, sambil meletakkan gagang telepon dengan kasar.
Dengan enggan Damar bangkit dari duduknya, berjalan menuju pintu besar di seberang ruangannya.
"Ada apa Pak, Anda butuh sesuatu," ujar Damar basa basi, padahal di hatinya sudah memaki.
"Duduk loe."
"Eits dah main, Elo, Gua aja. masih jam kantor ini, Pak!" seru Damar sambil duduk di sofa yang ada di samping itu.
Galuh menghembuskan nafasnya, dia harus membagi beban ini, kalau tidak entah apa yang terjadi dengan otaknya besok.
"Dam, apa aku harus tetep nikahi, Dia." ujar Galuh sambil menatap langit langit ruangannya.
mendengar kata menikah Damar langsung terlonjak dan berjalan cepat mendekati Galuh.
"Loe serius mau nikah, telinga Damar hampir terlepas dari tempatnya. Mendengar Galuh mengucapkan kata keramat itu.
"Ya kan kemarin elo bilang kayak gitu, lagian juga Gua orang yang bertanggung jawab, baik hati dan tidak sombong," ujar Galuh sambil membenahi jas yang ia pakai.
Huuuuweeeek. batin Damar.
"Ya Gua asal ngomong aja kemarin," ucap Damar sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Tapi gua bingung, Dam, apa Gua harus tetep tanggung jawab kalau ternyata dia seorang janda." lirih Galuh.
Hampir saja air yang baru di teguk Damar menyembur keluar dari mulutnya, untung Damar masih bisa menahannya.
"Ya bener loe ,Bray, kemarin loe bilang dia berdarah darah, eh sekarang bilang kalau dia bolong. Jangan bilang kalau elo cari cari alasan buat lari dari tanggung jawab ini!"
"Loe,-
"Ah sudahlah," Galuh sungguh enggan berdebat dengan Pria satu ini.
"Gua apa, loe sendiri kan yang bilang kalau loe abis ituin anak orang," cerca Damar.
Galuh diam dengan matanya yang terus menatap tajam, tak ingin di salahkan.
Damar hanya bisa melengos, saat Galuh sudah dalam mode ini.
"Terserah loe, deh. Gua yang salah suruh loe nikah, ok puas saudara Galuh. Terlepas dia janda atau ga, loe gituin dia ga sebenarnya?"
"Itu semua salah paham, dan salah gua ga bertanya Ama yu cewek dari awal" ucap Galuh.
Berkali kali Galuh menghela nafasnya, sambil menopang dagunya di satu telapak tangannya.
"Maksud Lo?" tanya Damar penasaran tingkat dewa.
"Gua udah kenalin dia sama Mama, tanpa Gua tanya dulu kejelasan dari tu cewek," ucap Galuh lesu.
"Apa."
"Loe... Goblok banget sih!"
Kapan lagi gua bisa makin loe di kantor kayak gini hahahaha, gumam Danar dalam hati.
Melihat muka Galuh yang galau karena seorang wanita merupakan hal langka di dunia ini, dan Damar tak menyia-nyiakan kesempatan ini berlalu begitu saja.
"Eh , maaf maksud gua, kenapa Anda begitu gegabah?" tanya Damar dengan senyum palsunya.
"Ga usah senyum senyum, geli gua lihatnya," ketus Galuh.
"Gua pikir simple aja Dam, waktu itukan Gua pikir, gua udah gituin cewek itu, jadi gua mau tanggung jawab perbuatan gua. Mama juga mau punya menantu, ya udah cocokkan, ga taunya malah kayak gini," ucap Galuh sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Nah itu gobloknya elo, grasak-grusuk kayak maling ayam," Damar langsung menutup mulutnya dengan tangannya.
Damar melorotkan tangannya, menampakkan jajaran gigi putih miliknya. mendapatkan tatapan tajam dari Boss sekaligus kawan baiknya.
"Ngomong ama loe malah bikin otak gua buntu, keluar sana," ucap Galuh sambil mengibaskan tangannya.
Bukannya mendapatkan solusi, malah Damar terus menyalahkan dirinya. Galuh bukan tidak mengerti kebodohan yang dilakukan, tapi apa harus di perjelas lagi, kan ga juga kali.
"Sorry," ucap Damar dengan wajah tanpa dosa.
"Terus di mana wanita itu sekarang," tanya Damar.
Galuh menghela nafas panjang.
"Dia di rumah Mama," jawab Galuh dengan tertunduk lesu.
"What, ngapain disana?"
"Mama yang nyuruh, Gua juga bingung musti gimana?"
"Dia ga punya rumah gitu buat pulang," ujar Damar santai.
"Ga, Dia ga punya rumah, ga punya orang tua, suaminya juga meninggal." jelas Galuh.
"Astaga Galuh, loe di jodohin sama anak temannya Mama Shinta ga mau, malah bawa janda ga jelas pulang." cibir Damar.
"Apa maksud loe ngomong kayak gitu," ujar Galuh geram.
Hati kecil Galuh tak terima saat Damar mengatakan Kemala Janda tidak jelas. Padahal sudah jelas kemala janda yang manis.
Damar menelan ludahnya kasar. melihat tatapan Galuh yang seakan ingin mengulitinya hidup hidup. Tapi bukan Damar jika dia menyerah begitu saja,mumpung ada kesempatan mengoda CEO lajangnya.
"Eh ga gitu maksudnya..tapi kan emang ga jelas, ga punya rumah, ga punya sapa sapa, jangan jangan dia mau sengaja menjebak kamu, biar mau nikahi dia, mungkin dia mau nebeng hidup ama loe," cerca Damar.
"Loe tau gunung salak?"
"Tau, emang kenapa?"
"Tutup mulut nyinyir loe kalau ga mau gue suruh jadi pawang di sana."
Damar mengerakkan tangan layaknya menarik kepala resleting di mulutnya, lalu mengangkat kedua tangannya.
"Keluar, ngomong ama loe bikin gue tambah pusing tau ga," bentak Galuh.
Damar mengangkat bahunya dengan muka tanpa dosa dia pergi meninggalkan ruangan Tuannya.
Galuh menghela nafasnya lagi. Sudah seminggu Kemala di rumahnya, karena Mama Shinta tak mau jauh dari calon menantunya yang manis itu. Tapi Galuh yang belum menceritakan apapun pada Mamanya jadi dilema.
Galuh senang Mamanya tak lagi nagih janji soal pernikahan pada Galuh, tapi di sisi lain, bagaimana kalau Mama Shinta tau status Kemala yang sebenarnya. Dan Kemala, Galuh tidak bisa menebak wanita itu. Dia selalu menjaga jarak dari Galuh.
"Ah... pusing," keluh Galuh sambil mengacak-acak rambutnya.
sementara di tempat lain.
"Non, ga usah biar Bibi saja." ujar seorang wanita paruh baya.
"Kemala bosan Bi, biar Kemala saja yang masak hari ini," ujar kemala.
"Kalau begitu saya bantu ya, Non."
"Tolong, Bibi kupas bawang, Kemala mau potong sayurannya."
"Baik,Non," ujar Bu Marni, asisten rumah tangga di rumah besar itu.
Dengan suka hati Kemala mulai memotong sayuran, lama tak berkutat di dapur membuat Kemala rindu dengan aktifitas di depan kompor.
Sudah seminggu Kemala berada di rumah Mama Shinta, Kemala sudah berusaha menolak. Namun, akhirnya luluh dengan air mata ibu dari Galuh itu.
"Eh Kemala, kamu ngapain?, cepat ganti baju siap siap?" ujar Mama Shinta yang baru saja pulang dari Mall sambil menenteng banyak paper bag di tangannya.
"Lagi masak Ma," ucap Kemala dengan lembut.
"Aduh, menantu Mama, rajin banget sih. Udah cantik pintar masak, ga salah Galuh milih kami jadi istrinya." sanjung Mama Shinta pada Kemala.
Kemala hanya menunduk tersipu.
Namun, ada ketakutan dalam hatinya, bagaimana kalau Mama Shinta tau status Kemala yang sebenarnya.
"Udah ayo siap siap," ajak Mama Shinta.
"Siap siap apa Ma?"tanya Kemala, mengerutkan keningnya.
"Mama mau tamu, Kemala mau ya nemenin Mama. Bi tolong di lanjutkan masaknya. Ayo Kemala."
Kemala mengangguk cepat, dan mengikuti langkah Mama Shinta. Mam Shinta mengganjal Kemala masuk ke kamar dan menyuruhnya memakai baju yang baru saja dia beli. dengan sedikit sentuhan tangan ajaib Mama Shinta, Kemala terlihat semakin cantik.
Tok..tok tok .
"Nyonya para tamu sudah datang," ujar Bi Marni dari luar kamar.
"Iya Bu, sebentar lagi kami turun," sahut Mama Shinta.
"Ayo Kemala, ujar Mama Shinta sambil mengandeng tangan Kemala.
"Ma, Kemala takut," lirih Kemala.
"Kamu takut apa?"
"Kemala takut, nanti membuat Mama Malu," ucap Kemala sendu.
"Hmm.. Kemala manis, buat apa Mama malu, Mama malah bangga punya calon menantu cantik, manis, dan pinter masak kayak kamu."
"Ma, terima kasih," ucap Kemala dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.