Aku Rania, bukan Dila saudari kembarku. Berkali-kali aku harus menjadi dia karena keadaan. Tapi aku bukan dia, sekeras apapun aku mencoba menjadi dia, aku hanya akan berakhir menjadi diriku sendiri.
Aku Dila, bukan Rania saudari kembarku. Aku adalah aku, aku tidak mau menjadi dia. Aku bahkan tak mau membayangkan jadi dirinya. Sebanyak apapun kalian meminta aku untuk bisa sedikit seperti dia, maaf aku tak bisa. Aku bukan dia, aku adalah diriku sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RatihShinbe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Di perjalanan menuju hotel.
Dina menanyakan perihal senyuman Rania saat menyetir.
"Kamu pintar mengemudi ternyata. Apa yang kamu senyumkan saat menyetir tadi?" tanya Dina sambil memperhatikan jalan.
Rania menoleh, dia kembali menatap jalan di depan.
"Aku teringat saat pertama kali menyetir bersama teman kerja di restoran dulu" jawab Rania sambil tersenyum.
Dina menatapnya sebentar.
~melihat ekspresi wajahnya dia terlihat ngga lagi bohong~ ucap hati Dina.
"Oh ya, kamu semangat banget disuruh tinggal di rumah Bu Anita!" ucap Rania.
"Oh ya tentu saja. Irit biaya dong Dil!" ucap Dina.
Dia terhenti untuk melanjutkan ucapannya karena sudah terbiasa memanggil Rania dengan nama Dila, namun dia takut Rania tersinggung.
"Maaf, aku sudah terbiasa manggil Dila" ucap Dina mencoba meralat.
"Ngga apa-apa, aku harus terbiasa bukan?" jawab Rania.
"Oh ya benar!" balas Dina.
"Jadi apa alasan selain irit biaya? ku kira biaya hotel dan lainnya ditanggung Bondan?" lanjut Rania.
"Kalo kamar mu Bondan yang bayar, tapi kalo kamar ku aku sendiri yang bayar" jawab Dina.
Rania menatapnya seolah bertanya, lalu Dina pun mengerti arti tatapannya.
"Aku dan Dila kehilangan orang tua kami saat berusia 14 tahun, ya..kurang lebih lah. Kecelakaan saat hendak pergi meeting di luar kota membuat mereka pergi meninggalkan kami selamanya" ucap Dina.
Dina menghela nafas, matanya sedikit berkaca-kaca.
"Aku tidak tahu persis cerita Dila. Namun saat aku menangis meratapi kerpergian mereka, tante Anita datang dan memegang tanganku" lanjut Dina.
Dia terhenti kembali dan mengusap air matanya.
"Dia bilang, jangan takut! tante akan membantu mu sepenuhnya! Dia berjanji untuk satu hal yang aku tahu saat aku berumur 18 tahun. Orang tuaku meninggalkan hutang yang cukup banyak, bahkan setelah menjual aset berharga dan saham yang mereka miliki tak menutupi semua hutangnya. Aku baru sadar akan kata-katanya, ini yang dia maksud. Dia membantuku sepenuhnya hingga aku berhasil lulus SMA ternama. Dia baik banget. Aku sangat senang jika bisa membantu banyak untuk mereka. Setelah aku mampu mandiri aku sedikit demi sedikit tak mau merepotkan mereka lagi, jadi aku bayar apa yang aku mampu" jelas Dina.
"Bukan karena kamu suka Bondan kan?" tanya Rania.
Dina menginjak rem dengan mendadak. Untung saja lalu lintas malam itu tak terlalu ramai sehingga tak terjadi kecelakaan.
Dina menatap Rania yang hendak memarahinya karena menginjak rem dengan mendadak.
"Kamu tahu?" Dina balik bertanya.
Rania mengangkat kedua alisnya.
"Tidak ada yang menyadari atau mereka pura-pura tak tahu?" tanya Rania.
Dina mengalihkan pandangannya ke arah depan. Dia menepikan mobil lalu kembali menatap Rania.
"Dengar! Ngga ada satu pun orang yang mengatakan hal itu. Jika pun mereka menyadari perhatian ku pada Bondan, perasaan ku tidak berarti. Jadi jangan pernah bahas lagi!" ucap Dina.
"Loh, kenapa ngga berarti? Setiap manusia berhak mencintai dan dicintai. Bagaimana kamu bisa tahu perasaan Bondan jika kamu ngga pernah mengatakannya?" ucap Rania.
"Ngga, cukup Dil. Aku ngga mau kamu bahas ini lagi!" pinta Dina.
"Hei...Setidaknya, setelah kamu mengatakan perasaan kamu, kamu jadi ngga sesak lagi dalam dada. Mau dia terima atau tidak, itu cuma bonus" ucap Rania.
"Dil, please!" ucap Dina.
Matanya menatap lampu jalan yang ada di sisi sebrang jalan. Rania mendecak.
"Ckck, apa karena Dila menyukai Bondan kamu jadi mundur?" ucap Rania.
Dina menatap terkejut pada Rania yang dalam sehari mengatakan banyak hal yang dia tak duga.
"Apa? Dila suka sama kak Bondan?" Dina balik bertanya.
Rania menghela sambil tertawa.
"Wah, kejutan sekali. Kau benar-benar tidak tahu? Heuhh..funny!" ucap Rania menertawakan situasi yang terjadi.
Rania dan Dina terdiam untuk beberapa saat. Lalu Dina memecah kesunyian dengan bertanya.
"Darimana kamu tahu tentang hal itu?"
Suara Dina terlihat sangat kecewa dan sedih.
"Beni, dia mengatakan hal itu pas aku mau bikin dia ngga lagi ngancam bunuh diri sama kalian" jelas Rania.
"Kamu minta dia untuk ngga ngancam bunuh diri?" tanya Dina.
"Ya, Beni punya sifat aneh. Dia random, sebentar baik, sebentar kasar, sebentar aneh. Aku cuma mengamati selama merawatnya di rumah sakit. Aku punya cara agar dia mudah melepas Dila versi ku. Tapi agak sedikit rumit setelah tahu bahwa Dila menyukai Bondan" jelas Rania sambil menghela di ujung kalimatnya.
Dina terdiam menatap Rania, dia merasa Rania sangat ingin cepat menyelesaikan pekerjaan ini. Dia sampai mencari cara agar Beni mudah melepasnya.
"Kamu pintar, mudah mengetahui situasi dan mengerti keadaan seseorang. Apa tidak pernah terpikir mengembangkan kemampuanmu?" tanya Dina.
Rania tersenyum dengan menatap Dina.
"Tidak! Ada hal lain yang harus aku lakukan selain menyukseskan diriku sendiri" ucap Rania sambil menunduk.
Dina terdiam mendengar jawaban Rania. Dia tak tahu apa tujuan Rania. Namun dia berusaha memahami.
"Aku hanya mau kamu merahasiakan perasaan ku pasa kak Bondan. Yang lainnya terserah padamu. Aku juga tidak peduli jika Dila menyukai kak Bondan. Aku hanya akan menyimpan perasaan ini untuk diriku sendiri. Kau mau mengerti kan?" ucap Dina.
Rania menatap wajah Dina yang masih datar saat menyalakan mesin mobil dan melaju kembali. Dia teringat dengan dirinya sendiri yang menyukai Yudi, begitu suka.
Semua orang sudah menyarankannya untuk melupakan perasaannya, namun dia tetap bertahan. Cukup senang dan bahagia dengan bisa melihat Yudi setiap hari, meski kadang Yudi meneriakinya melampiaskan kekesalannya pada orang lain atau sekedar canggung dengan tatapan Rania padanya.
~Cinta itu rumit. Sulit ditebak. Kadang dibalas perasaan bukan lah satu-satunya cara untuk bahagia~
Sampai di hotel, Rania masuk ke kamar mengambil kopernya. Dina pun melakukan hal yang sama.
Rania sudah selesai dengan cepat, pakaiannya tak terlalu banyak juga karena dia tinggal di rumah sakit beberapa hari kemarin.
Rania turun dengan menggunakan lift, seorang pria masuk di lantai setelahnya. Daniel, ya itu dia Daniel. Rania menunduk mencoba menghindari tatapannya.
Daniel yang menyukainya sejak awal bertemu sangat mudah mengenalinya. Daniel mendekat dan menarik tangan Rania yang menutupi dahinya.
"Rania!" sapa Daniel dengan semangat.
Rania memejamkan matanya. Dia ketahuan dan merasa sulit untuk menhindar. Dia menatap Daniel dan tersenyum. Daniel pun tersenyum menyukai senyum Rania yang manis.
"Hai! Kenapa kau terlihat sedang menghindari ku?" ucap Daniel.
Rania tercengang menatap Daniel yang sadar bahwa dia memang menghindarinya.
"Aku minta maaf, tapi namaku sebenarnya adalah Dila. Aku membuat kesalahan saat aku mengaku sebagai Rania. Jadi ku mohon jangan panggil aku Rania, ok?" jelas Rania.
Daniel mengerutkan dahinya.
"Kau berpura-pura saat pertama kali kita berkenalan? Kenapa? Baiklah, ayo kita ulang"
Daniel menawarkan jabatan tangan dan tersenyum.
"Hi, nama ku Daniel Finlay. Senang bertemu dengan mu!" ucap Daniel dengan senyum di wajah bulenya yang tampan.
Rania menghela, dia menyambut tangan Daniel dan menjawabnya.
"Namu ku Dila Arayani Subagja. Senang juga bertemu dengan mu!"
Senyum Rania membuat Daniel ikut tersenyum.
"Senyum mu sangat manis!" ucap Daniel.
Rania membulatkan matanya, Daniel melihat pintu lift terbuka. Dia mempersilahkan Rania keluar terlebih dahulu. Rania berjalan dan berhenti di sofa lobi.
"Apa kamu mau check out hari ini?" tanya Daniel.
"Ya, sekarang aku menunggu teman ku turun" jawab Rania.
"Ouh ok, boleh kan aku menemani mu di sini?"
"Oh dia sudah datang!" jawab Rania.
Dia melihat Dina keluar dari lift. Daniel hendak menyapa Dina, namun Rania buru-buru pergi ke mobil sambil membawa koper Dina. Daniel merasa Dila tak mau terlalu akrab dengannya. Ya, dia sangat terlihat menghindar.
Dina menyelesaikan check out di meja lobi. Setelah selesai dia menyusul Rania ke mobil. Sambil masuk ke mobil Dina penasaran.
"Siapa tadi?" tanya Dina.
Rania terkejut, dia tak sangka Dina akan menanyakan tentang Daniel.
"Orang yang nanya destinasi wisata, aku bilang ga terlalu mengenal Australia. Aneh juga, kok nanya destinasi wisata sama orang dengan wajah asia kayak gue" jawab Rania dengan meringis sadar bahwa dirinya berbohong.
Dina hanya tersenyum dengan mendengar penjelasan Rania.
"Ya mungkin kamu terlihat seperti tour guide" ucap Dina.
"Iya..mungkin" balas Rania.
Mereka pun pergi ke rumah Beni.
Saranghaeyo 🥰🥰
tapi ya terserah yang buat cerita
gk ada yg jelas malah bikin rusuh tambah malah makin banyak
terimakasih sudah mampir ya🥰🤭🤗
😭