NovelToon NovelToon
Wife Or Nanny?

Wife Or Nanny?

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:240.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Y. A

Christopher August Mc, presdir group MC, duda beranak satu dan terkenal dikalangan wanita. Chris tumbuh dengan didikan keras almarhum ayahnya, menjadikan dia sosok menakutkan dikalangan para pengusaha.

Lalu, apa jadinya duda dengan satu anak ini menikahi seorang wanita sederhana pilihan anak dan ibunya?

"Aku apa bagimu?"

"Pengasuh anakku."

Mampukan kebencian menjadi cinta ditengah anggota keluarga Chris yang terus haus akan kekuasaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Y. A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Jihan dikejutkan dengan Jordi dan Jouji yang terlihat akrab. Mereka sedang berbicara di teras rumah.

Bagaimana Jouji bisa datang kerumah mereka?

Jihan tidak tahu. Tapi yang pasti, Jihan harus menghindarinya.

Sayangnya, Jordi yang tidak tahu masalah mereka mengajaknya masuk dan memanggil Jihan ketika dia hendak ke dapur bersama pelayan.

"Kak Jihan, Kenalkan temanku, Jordi. Kami teman satu SMA."

Jihan menatap keduanya dengan bergantian. Ada yang mengganjal dihatinya ketika melihat keduanya yang tersenyum padanya. Mengenyahkan pikiran buruknya, Jihan mengangguk singkat.

"Kami sudah pernah bertemu."

"Aku tahu, salah satu teman mengirimi link artikel gosip tentangmu. Tapi wus! Secepat kilat beritanya hilang juga. Hahahaha!"

Jihan sangat yakin keduanya bukan hanya teman SMA. Jordi tampak menyimpan banyak hal dalam senyuman ramahnya kali ini. Jihan bahkan tidak mengerti mengapa Jordi kembali memperkenalkan mereka kalau sudah tahu tidak ada gunanya. Seolah dia hanya ingin mengejek saja.

"Aku akan kembali ke dapur jika kalian tidak keberatan."

"Aku keberatan."

"Aku juga kak," sahut Jordi, menimpali ucapan Jouji yang kelewat lancang.

Jihan menatap keduanya dengan pandangan menilai. Berpikir bahwa dia sepertinya tidak akan mudah terbebas dari mereka begitu saja, terutama Jouji tentu saja.

"Kalian benar-benar satu SMA? Jordi terlihat lebih muda." tanya Jihan.

"Oh, sebenarnya aku ikut akselerasi beberapa kali dan berada di kelas yang sama ditahun ketiga dengannya. Jouji memilih tidak melanjutkan study karena suka bermain. Kalau aku tentu saja tidak." jawab Jordi.

"Tentu saja, keluarga angkatmu memaksamu keluar negeri agar berguna untuk mereka." sahut Jouji dengan seringai diwajahnya.

Jordi meninju lengan Jouji main-main.

"Jangan begitu, mereka keluargaku."

"Ya ya ya! Kamu selalu jadi anak yang penurut."

"Kalau begitu ... kamu juga kenal mantan istri Chris?" celetuk Jihan.

Keduanya terdiam, saling melirik sebelum Jordi memberikan senyum ramahnya lagi.

"Dia ... teman baik Jouji dan aku kak Jihan."

Jihan tertegun, satu fakta yang dia yakini saat ini. Dikirimnya Jordi keluar negeri bukan hanya karena pendidikan, ibu mertuanya tampaknya sudah mengatur keluarga ini dengan sangat arogan.

"Bolehkah aku bertemu dengannya?"

"Untuk apa?" tanya Jouji.

"Tidak masalah kan?" sahut Jordi, menatap Jouji yang mengerutkan dahi padanya. "Kak Jihan bisa belajar dari kesalahan gadis nakal itu."

"Sudah berapa kali aku katakan jangan memanggilnya gadis nakal!" protes Jouji. Tapi Jordi hanya tertawa kecil.

"Jangan bahas ini sekarang, aku muak harus membahasnya. Ayo kita bicara hal lain saja." kata Jordi. "Bagaimana kalau membahas bagaimana terjadinya gosip diantara kalian?"

Jihan benar-benar tidak mengerti pertemanan seperti apa yang dimiliki oleh kedua orang dihadapannya ini. Mereka seperti berteman dan bermusuhan secara bersamaan.

Jihan melirik jam di tangannya, sudah cukup siang dan sebentar lagi Catrin akan pulang. Dia tidak ingin terus ada di antara kedua orang ini yang sedang membahas hal-hal tidak berguna. Bahkan jika itu mengenai dirinya juga. Dia tampak tidak peduli sama sekali ketika Jouji dengan terang-terangan menunjukkan rasa sukanya.

"Wah! Gawat nih. Kamu mau merebut kakak iparku lagi?"

"Apa maksudmu lagi? Aku tidak merebut siapapun sebelumnya." sangkal Jouji dengan santai.

Keduanya kembali tertawa, namun jenis tawa aneh yang canggung. Seolah keduanya menyimpan satu hal yang membuat mereka saling tidak menyukai satu sama lain.

"Kak Jihan mau kemana?" tanya Jordi ketika Jihan hendak berbalik.

"Bersiap menjemput Catrin."

"Tidak boleh! Mama melarang kakak bepergian. Catrin sudah dijemput oleh supir dan pengasuh. Duduk saja dan tunggu dia datang."

"Oh ... kalau begitu aku akan menunggu di atas." Sayangnya Jouji lagi-lagi menghentikan langkahnya dengan sebuah permintaan.

"Jihan, bisakah kita bicara?" Jihan menatap Jouji yang tampak serius.

Jordi juga menatapnya dengan gekstur tubuh berhati-hati. Dia bahkan berdiri tegap disisi Jihan dan melemparkan tatapan penuh peringatan.

"Jangan memulai hal yang merugikanmu sendiri Jou, akhiri apapun yang ada didalam pikiranmu." katanya tegas.

"Untuk inikah mereka memanggilmu kembali?" tuduh Jouji. Keduanya saling lempar pandangan, tidak tampak raut ramah seperti tadi lagi.

"Tentu saja tidak, aku akan mulai bekerja. Kak Jihan masih sakit dan jangan membuatnya semakin susah. Tidak bisakah kamu melupakan segalanya dan berhenti mencampuri urusan Kak Chris?"

"Berhenti?" Jouji maju selangkah. Jordi juga maju dan berdiri tepat di depan Jihan. "Bajingan itu tidak pernah bertindak seperti manusia. Bagaimana bisa aku membiarkan Jihan disisinya? Apa kamu gila membiarkan hal buruk terjadi lagi? Lihat akibat kakakmu, Jihan terluka sangat parah."

"Jangan menyalahkan kak Chris sendirian Jou ... Meskipun aku tidak ada disana, aku tahu penyebab kegaduhan adalah dirimu."

Jouji tertawa hambar, melirik Jihan yang kini sedikit memiringkan kepalanya karena penasaran. Karena tidak tahan, akhirnya Jihan bergeser agar bisa melihat dengan jelas.

"Pulang saja, kalau Chris tiba-tiba pulang kamu bisa disakiti lagi." kata Jihan dengan nada menasehati.

"Aku ingin bicara."

Baik Jihan maupun Jordi menggeram kesal atas sikap Jouji yang keras kepala.

"Tidak ada yang perlu dibicarakan."

"Ada Ji, aku ada."

"Lain kali!" jawab Jihan jengah.

"Balas pesanku kalau begitu!"

"Hanya untuk hal penting."

Jouji tersenyum, matanya beralih pada Jordi yang masih berdiri disana menatapnya. Dia tersenyum dan menepuk pundaknya sebelum berbalik dan pergi dari sana.

Jordi menghela nafas dan berbalik. Menatap Jihan yang memandang pintu yang baru saja tertutup.

"Kakak tidak seharusnya meladeninya."

"Aku tahu," jawab Jihan dengan cepat, lalu mendongak untuk menatap Jordi dengan sorot tegas. "Aku juga tahu seharusnya tidak meladenimu kedepannya. Kalian terlihat sama mencurigakannya."

Jordi menatap punggung Jihan yang perlahan menjauh. Memperhatikan bagaimana Jihan masih berhati-hati saat berjalan. Menaiki tangga dan menghilang di sebalik tembok pembatas.

.

Arjun melirik Chris yang masih serius memeriksa berkas dihadapannya. Menghela nafas dengan gusar, dia berjalan kemeja atasannya, berdiri di depan Chris setelah menyimpan ponselnya.

"Ada apa?" tanya Chris tampa menoleh.

"Penjaga rumah anda mengatakan bahwa Jouji baru saja meninggalkan kediaman anda Tuan."

Pergerakan Chris berhenti begitu saja. Dia bersandar pada kursi dan menatap Arjun tajam.

"Apa dia bertemu Jihan?"

Arjun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu menggeleng sebagai jawaban. Arjun bisa melihat gurat kekesalan diwajah atasannya itu.

"Saya akan menghubungi pelayan dirumah anda."

"Tidak perlu, lanjutkan saja pekerjaanmu."

"Baik Tuan."

Chris menghela nafasnya, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Sayangnya, pikiran-pikiran mengenai istrinya dan Jouji terus berputar diotaknya. Dia membanting penanya dengan kesal dan bangkit berdiri. Arjun memperhatikannya dengan waspada. Ikut berdiri dan bersiap-siap pada tempatnya.

"Aku akan pulang untuk makan siang."

Arjun hanya mengangguk sebagai jawaban karena heran dengan tingkah bosnya itu. Hal yang sangat tidak lazim dan jarang terjadi. Selama dia bekerja, ini adalah pertama kalinya bosnnya makan siang dirumah. Arjun tersenyum dan menggeleng kemudian.

"Apa ini? Dia cemburu atau apa? Tapi cemburu sangat tidak mungkin kalau itu dia." kekehnya.

.

Setibanya Chris dirumah, dia menemukan Jihan sedang menyuapi Catrin yang terus berceloteh riang. Jordi ikut makan siang bersama mereka. Pemandangan itu membuatnya terganggu. Semakin memikirkannya, Chris semakin tidak mengerti akan dirinya saat ini.

"Daddy!" teriak Catrin dengan kencang.

Baik Jihan maupun Jordi menunjukkan wajah bingung akan kedatangan Chris yang tidak biasa ini. Catrin sudah ada di gendongannya dan dia duduk tepat disamping Jihan.

"Tuan, apakah anda akan makan siang dirumah?" tanya pelayan yang langsung menghampiri.

"Ya," jawabnya singkat.

"Lanjutkan makanmu sendiri Cat, mamamu perlu makan untuk pemyembuhannya."

"Yes Daddy!" sahut Catrin dengan semangat dan turun dari pangkuan ayahnya. Duduk di sisi lain Jihan, dimana tempatnya tadi. Menarik piring dari hadapan Jihan dan mulai makan sendiri dengan riang.

"Kak Chris ingin minum sesuatu? Aku akan meminta pelayan_"

"Tidak perlu." potong Chris.

Dia menatap Jordi dengan tajam. Jihan bisa melihat raut takut dan kawatir diwajah Jordi. Seakan dia sudah melakukan kesalahan besar.

"Katakan, untuk apa dia kesini?"

Dingin sekali, Chris membuat suasana dimeja makan menjadi sangat tegang. Bahkan Catrin mengubah cara makannya menjadi perlahan karena menyadari aura kelam ayahnya.

"Di...dia hanya menyapaku yang baru kembali."

"Benarkah?"

"Me...memangnya apa lagi, Kak?" Jordi memberanikan diri menatap mata Chris, namun baru sedetik dia menurunkan kembali pandangannya.

"Aku rasa kamu tahu batasannya kali ini. Jika ini terjadi lagi, aku tidak akan segan-segan melemparmu kembali kejalanan."

Jordi menunduk, kedua tangannya mengepal diatas pangkuannya. Jihan yang tidak tahan berdehem pelan. Dia menuang air putih dan meminumnya dengan sekali teguk. Membuat Chris beralih menatapnya.

"Suasana ini begitu mencekik sehingga aku butuh minum, apa itu masalah bagimu?" tantangnya saat dia membalas tatapan suaminya.

Chris tidak berkomentar apapun, dia kembali kesikap biasa. Saat makanan datang dia makan dengan tenang tampa mengatakan apapun lagi. Diantara mereka hanya terdengar suara Catrin yang terus bertanya ini dan itu pada Jihan.

Setelah semua menyelesaikan makanan mereka. Catrin berlari ke dalam kamarnya untuk selanjutnya bermain dengan mainan-mainannya ditemani Jordi yang sebenarnya mencari alasan untuk menghindari Chris.

"Kalian bertemu?" tanya Chris.

"Siapa?"

Chris berdecak malas dan menatap Jihan yang terlihat acuh.

"Aku tahu dia datang bukan untuk bertemu Jordi, apa yang dia katakan padamu kali ini? Kalian bahkan bertemu saat di Jeju sebelum kembali kesini bukan? Sekarang terang-terangan didalam rumahku? Kalian mengagumkan sekali."

Jihan tertawa sinis.

"Kamu selalu mencurigaiku dengannya, apa aku harus mengabulkan kecurigaanmu? Lagi pula ... untuk apa kamu peduli tentang kami? Aku hanya pengasuh anakmu bukan?"

"Bagus jika kamu sadar tempatmu, tapi akan lebih bagus lagi jika kamu juga sadar bahwa kamu berstatus istri orang. Bertemu dengan pria lain apa itu pantas? Tidak peduli apa yang terjadi, jika ada yang melihat kedatangannya selain pihakku, maka kamu hanya akan membuat nama keluargaku semakin buruk."

"Aku bahkan tidak tahu dia akan datang apa itu juga salahku?"

Keduanya saling melempar tatapan tajam menusuk. Sebelum Chris menjulurkan tangannya dan mencengkram rahang Jihan dengan keras.

"Berhenti melawanku!"

"Akh! Ssstt!"

Chris melepaskan cengkramannya dan sorot matanya langsung berubah saat melihat raut kesakitan Jihan yang tidak biasa.

"Kepalamu sakit lagi?" tanyanya.

Ada sedikit nada kawatir disana. Sayangnya Jihan yang terlampau kesal tidak menyadari hal itu, dia memegang kepalanya dengan sebelah tangannya dan melempar tatapan marah pada Chris sebelum bangkit.

Dia berjalan pelan dengan kepala yang terasa berdenyut sebelah. Chris ikut berdiri dan mengikutinya. Kawatir saat Jihan naik tangga dan bisa jatuh begitu saja. Bisa ia dengar omelan kecil yang keluar dari bibir istrinya itu untuknya. Jihan bahkan tidak sadar diikuti. Hingga ia masuk kedalam kamar, barulah Chris berhenti.

"Sebenarnya apa yang sedang aku lakukan?" keluhnya pada diri sendiri.

Chris menghela nafas, dia kembali turun kebawah. Dia harus kembali ke kantornya karena pekerjaan yang menumpuk dan rapat yang harus ia hadiri.

Didalam perjalanan, dia baru menyadari satu hal, bahwa pikiran-pikiran buruk saat di kantor tadi hilang begitu saja. Matanya menatap keluar jendela, kepalanya dipenuhi pertanyaan mengenai apa yang ia rasakan akhir-akhir ini. Kata-kata anak sambungnya bahkan kembali terngiang-ngiang dikepalanya. Membuat sisi lain di dalam dirinya muncul dan menimbulkan rasa penyesalan akan tindakannya barusan.

1
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
wow aku suka gaya mu Lex..😌
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
sehati kita tu cewek mmg sialan ngeselin
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
sepanjang aku baca novel aku pikir yg paling menyebalkan dan keras kepala adalah alpha dari novel sebelah ternyata ada yg lebih di atas nya bahkan masuk tahap menjengkelkan dan lebih lucu nya lagi mengaku alim tapi berlaku sebaliknya hahhah
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
lucu katanya Jihan wanita alim berpendidikan dan jeli keadaan tpi ternyata aslinya malah bego bkn polos lagi itu tpi naif
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
kasian Chris kita pasti tau rasanya bertahan agar tetap waras walaupun keadaan memaksa kita gila,sakit bgt sih itu
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
Lumayan
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
knp bukanya Jihan mmg kuat yh apa yg perlu di takutkan klu dia butuh apa2 kan bisa minta bantuan mantan suami pertamanya...heran jg katanya perempuan beragama tpi....🙂
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
sakit jg klu pikir2 jdi Chris semua orang serasa melawan nya bahkan ibu yg harusnya jdi penenang justru dalang dari semua duka nya eh dpt istri bukanya bantu Berjuang mlh ikutan melukai cepek lh klu berjuang sendiri aja 😔
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
typo terus
Erlie
Luar biasa
Rusiani Ijaq
berkutat disitu situ aja jd ......
Rusiani Ijaq
jihat wanita munarto, katanya selalu menjaga marwa tp tak menjaga marwa. menyediakan
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀: setuju aneh aja katanya alim menjaga martabat tpi malah terlihat seperti jalang berkedok alim lawak m
total 1 replies
Ray
ck...ish...!!!
cahaya
sangat2 keren
Yani
Ceritanya bagus sosok istri ysng cerdas dan ga gampang di tindas
Yani
Penasaran dengan mmhnya Catrin
Yani
Kemana" selalu ada tu nyamuk
Yani
Kenapa no ga bloxir aja bikin.masalah aja tu pebinor
Yani
Semoga aja setelah kejadian ini Chris bisa berubah lebih baik
Yani
Berpikir positif sedikit pada suami mu Jihan biar kamu cepet sembuh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!