Jeviza tidak menyangka, persetujuannya mengikuti Keandra-sang mantan kekasih berkunjung ke rumah eyangnya di suatu kota membuatnya semakin terjebak lebih serius dan intim dengan Keandra.
Setelah dipertemukan dan tinggal satu atap dengan mantan kekasih, sekarang justru lebih serius, nama Jeviza dan Keandra tercatat dalam buku pernikahan.
Sama-sama masih memiliki rasa, tetapi gengsi dan ego masih saja membumbui rumah tangga dadakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masak untuk Kean
Di dalam kabin, Jeviza menyandarkan punggungnya, sesekali melirik Kean yang fokus dengan setir mobil, tetapi satu tangannya sibuk mengetik di layar ponsel. Lalu saat Kean menoleh padanya, Jeviza buru-buru mengalihkan pandangan matanya. Ia ingin bertanya tentang berita yang sedang beredar, tetapi melihat tenangnya Kean membuat Jeviza mengurungkan niatnya.
Sementara Kean sendiri melihat gelagat Jeviza membuat sudut bibirnya tertarik ke atas, lalu ponsel yang masih berada di satu tangannya ia taruh, sebelum akhirnya kembali menoleh pada Jeviza sesekali dengan satu tangan yang masih menyetir.
"Laper nggak?" tanyanya memecah keheningan.
Jeviza menggeleng, ia sudah makan seblak satu mangkok, roti yang tadi dibawakan Kean, juga matcha. Perutnya masih terasa kenyang sampai sekarang.
"Udah makan seblak tadi, kak Kean laper?" tanya Jeviza diangguki Kean.
"Gue di kafe Gio bimbingan sama dosen tadi, nggak sempet makan."
Jeviza mendesah, ia bingung sendiri harus melakukan apa? Menawarkan makan? Atau menawarkan untuk memasak? Jeviza tidak bisa memasak.
Ditengah kebingungan Jeviza, Kean kembali bersuara. "Mampir bengkel bentar ya, Je?"
Jeviza tidak langsung menjawab, ia melirik jam di ponselnya yang sudah menunjukan pukul setengah 8 lebih. "Kak Pus bakal marah kalau kita nggak pulang-pulang."
Mendengar itu membuat Kean terkekeh beberapa saat, melirik Jeviza yang masih belum sadar dengan apa yang ia khawatirkan. "Nggak akan, gue bawa lo satu minggu juga kak Pus nggak akan marah lagi."
Jeviza langsung menatap Kean, ingin protes, tetapi setelah sadar jika mereka sekarang suami istri ia langsung merutuki kebodohannya.
"Oke, kita ke bengkel dulu."
Kean tersenyum, mengacak rambut Jeviza pelan, sebelum kembali fokus pada setir mobilnya.
Jarak bengkel dengan kos yang memang tidak terlalu jauh hanya beberapa menit saja mobil sudah terparkir lagi di depan bengkel. Tidak lama seorang pegawai yang memang tidur di bengkel membuka pintu kecil sebelah rolling dor, pintu yang langsung menghubungkan ruangan belakang bengkel.
"Pakai." Kean menyodorkan jaket miliknya.
Jeviza tidak langsung menerimanya, menatap jaket tersebut beberapa saat.
"Di dalam banyak anak-anak," lanjutnya membuat Jeviza mengangguk mengerti.
Sebelum turun, Jeviza kenakan jaket yang Kean berikan tadi, lalu melangkah bersama dengan Kean ke dalam lorong yang sudah dipenuhi banyak motor milik pegawai Kean, juga terdapat motor sport Kean yang biasa dipakai olehnya. Jeviza sempat melirik beberapa saat, ia jadi kangen Kean dengan motor sportnya. Tetapi entah kenapa Kean sekarang lebih sering menggunakan mobil, bukan mobil mewah miliknya, justru mobil Arlo, Gio dan entah mobil siapa yang Kean bawa sekarang.
Saat di ruang tv, beberapa pegawai yang tadinya sedang bersantai sembari menonton film mengangguk dengan senyum. Lalu melirik Jeviza, melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan pada Kean. Jeviza yang sempat kebingungan membalasnya dengan melakukan hal yang sama.
Kean membawanya ke dapur bengkel. Lalu membuka kulkas, masih banyak bahan makanan, tetapi agaknya ia malas jika harus memasak, tadi energinya sudah terkuras habis ketika bertemu dosen pembimbingnya. Lalu membuka lemari yang masih terdapat mie instan dengan jumlah banyak. Kean terdiam sesaat menatap tumpukan mie isntan yang masih tersisa banyak. Ada kelegaan dalam dirinya, setidaknya anak-anak bengkel sekarang tidak lagi terus memakan mie untuk mengisi perut mereka.
"Je, gue boleh minta tolong?" tanya Kean menatap Jeviza yang berdiri tidak jauh darinya.
Jeviza mengangguk, meski tidak tahu apa yang Kean akan mintai tolong darinya.
"Lo bisa masak mie?"
"Kak Kean mau makan, mie?" tanya Jeviza setengah syok.
"Pengen, gue mau mandi, lo masakin buat gue ya?"
Jeviza mengangguk saja. "Oke."
"Mau rasa apa?" tanya Jeviza melangkah dekat rak lemari, lalu menoleh saat tidak mendapat jawaban dari Kean.
Jantung Jeviza hampir saja lepas dari tempatnya saat menyadari jarak keduanya yang begitu dekat, sorot matanya tepat pada dada bidang Kean, lalu mendongak, mengamati rahang tegas Kean yang berada di atasnya, butuh beberapa detik bagi Jeviza untuk mengedipkan matanya, ia melirik otot lengan Kean yang jaraknya sangat dekat dengan dirinya, tubuhnya seketika memanas dengan desiran aneh di setiap pembuluh darah. Aroma tubuh Kean dan jarak mereka sekarang ini membuat bayangan tadi malam langsung berputar di otak Jeviza, dimana untuk pertama kalinya Jeviza melihat bagian tubuh paling inti milik seorang laki-laki secara langsung, bukan hanya melihat, tetapi juga memegang dan bahkan merasakan dengan mulutnya.
Sialan, membayangkannya lagi membuat dada Jeviza rasanya mau meledak. Wajahnya sudah memerah membayangkan kejadian liar tadi malam. Jantungnya sudah berdetak dengan sangat cepat, ia sampai menahan napas saat Kean berhasil mengambil 2 bungkus mie instan. Lalu menyodorkan pada Jeviza.
"Je."
Jeviza menelan ludahnya kasar, menatap Kean dengan pandangan nanar. Mengambil 2 bungkus mie instan tadi lalu membalikan tubuhnya.
"Gue mandi bentar ya? Kalau ada apa-apa masuk aja."
Rasanya Jeviza tidak mampu lagi untuk menjawab dengan kata-kata. Ia menganggukan kepalanya. Sedikit meremas bungkusan mie instan di tangannya sampai berbunyi krek.
Meski dengan perasaan masih campur aduk, tetapi ia berusaha untuk fokus dengan air yang sudah mendidih, membuka kulkas lagi, mengambil sayur dan juga 2 butir telur untuk ia masak dengan mie instan. Tidak butuh waktu lama sampai mie matang dan siap dihidangkan, tetapi belum ada tanda-tanda Kean datang. Setelah menaruh mangkok berisi mie yang baru saja dibuat olehnya. Jeviza dengan langkah pelan menuju ke kamar Kean yang berada di bengkel, berdiri dengan ragu di depan pintu.
Baru saja akan mengetuk, pintu di kamar sebelah terbuka, menampilkan Bian yang keluar dengan muka bantalnya, sepertinya Bian baru saja bangun tidur. Untuk beberapa saat keduanya sama-sama saling diam, sebelum akhirnya suara Bian terdengar.
"Masuk aja, itu kamar pribadi Kean."
Jeviza mengangguk beberapa kali. "O-oh, iya kak," balasnya sopan.
Jeviza gemetar sendiri bertemu langsung dengan salah satu teman Kean, selain jarang berkumpul dengan anggota BEM, Bian juga termasuk yang jarak berbicara.
Cakep banget
Ekor mata Jeviza masih melirik ke arah Bian yang sedang mengambil air minum, lalu duduk di meja makan. Menatap semangkok mie buatannya tadi.
Jangan dimakan, itu buat suami gue
Batin Jeviza saat melihat Bian cukup lama menatap mie buatannya, lalu terkekeh dan menggelengkan kepalanya. Jeviza menyipitkan matanya, merasa aneh dengan reaksi Bian barusan, tetapi ia tidak berani bertanya.
Pintu kamar di depannya terbuka. Kean dengan kaos polos hitam dan celana sweat pants berwarna gray berdiri di depannya. Jeviza terpaku beberapa saat, lalu mendongak pada Kean, dimana cowok itu sedang menaikan sebelah alisnya.
Holy moly, kak Bian nggak ada apa-apanya
Jeviza meralat ucapannya yang tadi sempat memuji ketampanan Bian, tetapi setelah melihat sosok laki-laki tinggi di depannya, benar kata teman-temannya. Keandra memang se-maha dahsyat itu. Tanpa disadari Jeviza sampai menelan ludahnya kasar, berusaha untuk terlihat normal dan tidak gugup.
"U-udah jadi kak."
pake nanya mau ngapain
MANDI sonoo🤣🤣🤣
bahaya ikii
calon " ulet bulu nih pasti 🤣
hareudang kak🤭😍🤭🤭🤭
lanjut maljum😁