Aku adalah seorang pemuda tampan. Hidup di keluarga sederhana yang sebenarnya keturunan bangsawan.
Dengan dukungan orang terkasih aku akan menghentikan peperangan di negeriku tercinta.
Meraih kekuatan setinggi-tingginya sampai titik darah penghabisan. Ditemani sebilah pedang nan agung yang sangat dahsyat. Aku akan membunuh siapapun yang aku anggap salah.
Hingga takdir menentukan jalanku sebenarnya. Sungguh aku tidak menyangka jika aku akan menjadi!...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulia Puja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Iblis yang melebihi iblis
Ming meneguk air liurnya sendiri, dan mengusap-ngusapkan matanya, siapa tau saja cuma mimpi pikir Ming wkwk.
Dan alhasil yang ia lihat memang nyata, bahwa Lhay yang selama ini sulit ia hadapi bisa di lenyapakan dengan mudah seperti membolak balikan telapak tangan bagi pemuda di hadapannya yang tak lain adalah Xiang Huo.
"Apa kau ingin bernasib sama seperti rekanmu ini?" ucap Xiang Huo sambil memasukan kembali pedangnya ke dalam sarungnya.
"Ti tidak anak muda," Ming
"Bagus, sekarang aku mau kau menjawab pertanyaan ku yang tadi." ucap Xiang Huo tersenyum manis
"ternyata bocah ini terlihat tampan kalau tersenyum, jadi ingat masa mudaku dulu hahaha" benak Ming
"Heii, apa yang kau pikirkan?" Xiang Huo mengerutkan dahi
"Ah tidak, bukan apa-apa. Oh ya, soal tadi waktu di desa. Kami di suruh untuk membunuh kepala desa ini." jawabnya jujur.
"Memangnya itu menguntungkan jika hanya membunuh kepala desa ini?" tanya Xiang Huo heran
"Tentu, karena kepala desa ini adalah putra dari keluarga bangsawan yang berarti pewaris utama kekayaan marga Yin"
"Lalu, apa manfaatnya jika kalian membunuhnya?" Xiang Huo antusias
"Jika kami membunuhnya, otomatis kekuatan keluarga Yin berkurang karena Zen Tei Yin atau kepala desa ini adalah orang terkuat di kelurga bangsawan tersebut. Dengan begitu akan sangat mudah bagi kami menyerang kediaman keluarga Yin disaat mereka lagi sibuk mengenang putra mereka."
"Hmm. Menarik, lalu?" Xiang Huo tersenyum tipis.
"Hanya itu rencana kami,"
"Cukup, aku sudah puas dengan ceritamu. Dan satu lagi yang ingin aku tau, kalian berdua berasal dari sakte mana?"
"Kami dari sakte Teratai Hitam" jawab Ming jujur.
Mendengar jawaban Ming, membuat Xiang Huo mendadak marah. Kilatan api telah terlihat di matanya, kini wajahnya yang amat tampan pun terlihat seperti iblis bahkan lebih menyeramkan dari iblis.
Melihat Xiang Huo yang seperti itu, mendadak bulu kuduk Ming merinding.
"aduh, apa aku salah bicara" benak Ming ketakutan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Dimana tempat persembunyian sakte kalian?" ucap Xiang Huo mencengkram leher Ming
"uhuk uhuk,, to lo ng le pas kan du lu, aku ti dak da pat bi ca ra uhuk uhuk.." Ming memegang pergelangan tangan Xiang Huo yang mencengkram lehernya dengan sangat kuat.
Akhirnya Xiang Huo pun melepaskannya, dan ia kembali duduk berhadapan dengan Ming yang tengah berlutut.
"Cepat katakan" bentak Xiang Huo,
Kali ini Xiang Huo sudah meredakan sedikit emosinya.
"Persembunyian sakte kami jauh dari sini, perlu puluhan hari untuk kesana, karena sakte kami berada di ujung kekuasaan Tang di bagian Timur" Ming
"Aku mau kau mengantarkan ku kesana. Jika tidak, habislah kau sekarang" ucap Xiang Huo
"Ba baiklah, terima kasih karna tidak membunuhku" Ming
"Ya, aku tidak akan membunuhmu karna aku telah berjanji" Xiang Huo
"Anak muda, boleh kah aku meminta 1 permintann?" ucap Ming berlutut sambil menundukan kepalanya
"Apa kau tidak bersyukur sudah aku beri kesempatan untuk hidup?" Xiang Huo tersenyum sinis.
"Bukan begitu, maaf kan aku sudah lancang" ucap Ming ketakutan.
"Baiklah, karena aku sedang berbaik hati, aku akan mengabulkan permintaanmu. Katakan?"
"Aku ingin menjadi pengikutmu, kalau boleh aku berkata jujur, sebenarnya aku sangat terpaksa menjadi pengikut sakte teratai hitam" ucap Ming menundukan wajahnya dengan raut yang terlihat sedih, dan ada kejujuran di matanya, Xiang Huo bisa melihat itu.
"Baiklah, tapi aku mau mengikatmu dengan darah." ucao Xiang Huo
"Baiklah," Ming
srett,
Xiang Huo melukai sedikit jarinya. Ketika darahnya keluar, ia pun menyuruh Ming membuka mulutnya.
Dengan begitu terjadilah ikatan darah tersebut.
Xiang Huo pun kembali ke penginapan bersama dengan Ming yang membututinya.
"Kau tidurlah di situ, aku tidak bisa tidur dengan orang lain" ucap Xiang Huo sambil menunjuk lantai dekat pintu sambil menyerahkan bantal dan buntelan kain kepada Ming.
"Ya, tidak masalah bagiku. Terima kasih" ucap Ming tersenyum.
"ternyata bocah ini tidak sekejam yang ku pikirkan, dia masih mempunyai hati nurani haha" benak Ming sambil tersenyum
.........
Pagi pun tiba, Xiang Huo sudah bangun tapi ia masih duduk di tepi ranjang sambil memikirkan sesuatu.
Tak beberapa lama ada seseorang yang menegurnya.
"Hei anak muda, apa kau sudah bangun?" sapa Ming senyum.
"Ya" ucap Xiang Huo dingin.
"dingin sekali bocah ini, seandainya dia adikku sudah ku jitak kepalanya" benak Ming.
"ah guru, kenapa aku melupakannya huhh" pikir Xiang Huo yang tiba-tiba mengingat gurunya.