NovelToon NovelToon
Kelahiran Kembali, Sang Dewa Maha Tahu

Kelahiran Kembali, Sang Dewa Maha Tahu

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Fantasi / System / Barat / Tamat
Popularitas:50.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mad Kojer

Kelahiran kembali seorang Dewa maha tahu. Yang mana, ia mengetahui segala macam pengetahuan dan hal hal lainnya. Namun, kehidupannya bukanlah sebagaimana ia adalah Dewa.

Dia terus menerus harus menuruti semua permintaan Tuhan pencipta. Dalam perkataan Tuhan pencipta, ''Ini adalah tugas terakhirmu, selamatkan Planet bumi dari Invasi Ras Galgara.''

Namun Sang Dewa Maha Tahu, mengetahui itu hanyalah omong kosong belaka.

haaaahhhhhh.

Menghela nafas berat Sang Dewa Maha Tahu. Akhirnya, ia dikirim menuju Planet Bumi dan berusaha menumpas habis semua Galgara yang ada.

÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷.

Novel tak ada sangkut pautnya dengan keagamaan ataupun tradisi lainnya. kemungkinan, banyak yang sama dan hal sebagainya.

Novel juga, lebih ke Romantisan dan ngak begitu banyak actionnya.

tetap Kalm dan selalu

Coment

Like

Subscribe

vote juga ngak papa.

Untuk Update. Author janjikan up nya hari minggu dan senin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mad Kojer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch.14 Liliana von Alvonia, Sosok Sang Leluhur.

1 jam telah berlalu didunia nyata. Namun, bagi Azra, itu adalah 6.000 tahun tanpa henti penyiksaan yang diberikan oleh Lusty.

Setidaknya, 5.678 pil ledakan gairah telah Azra makan sebagaimana ia dicekoki oleh Lusty. Setiap tiap erangan terdengar menggoda selama 6.000 tanpa henti akibat sudah 10.000 pil obat kuat yang Azra makan.

Ini yang menjadi masalah. Dimana, tulang kelamin sedikit mengalami keretakan dan begitu juga telurnya. Tulang punggung juga patah, dan tulang ekor juga mengalami keretakan.

Saat ini, Azra masihlah dalam dunia hiburan Lusty. Lusty merasa bersalah juga karena mengakibatkan kondisi sayang tercintanya menjadi mengenaskan sekaligus membuat orang orang bisa merasa begitu kasihan.

"Sayang, maaf. Aku terlalu berlebihan." Mulailah, bila sosok wanita melakukan kesalahan pastinya langsung berwajah begitu sedih menyesal. Membuat, pria menjadi merasa paling terburuk karena membuat seorang wanita menangis.

Namun, Azra tak menanggapi penyesalan Lusty. Ia masihlah menggerang kesakitan akibat tubuhnya yang sudah benar benar rusak parah.

"." Seketika, tubuh Azra serasa diputar balikkan waktunya, walau itu memang benar si.

Seluruh tubuhnya yang dalam kondisi mengenaskan berangsur angsur meregenerasi dengan memutarbalikkan waktunya.

Beruntung, sekarang ia berada di dunia yang terisolasi oleh dunia luar. Disini, hukum waktu tidak berlaku dan pemunduruan waktu dilakukan dalam skala besar tanpa mengakibatkan dampak negatif.

3 jam kemudian. Kondisi tubuh dan mental Azra telah membaik. Walau, masihlah tergiang giang waktu 6.000 tahun yang ia jalani hanya dengan Sex* terus menerus dan makan pil obat kuat serta pil ledakan gairah.

Kemudian, Azra menatap Lusty yang masihlah menunduk menyesal akan perbuatannya.

"Kenapa kau masih menunduk?. Ini juga salahku, bagaimanapun juga, aku terlalu serius tentang pekerjaanku sebagai dewa. Sehingga aku tak bisa menerima perasaanmu waktu itu.

Dan untuk yang kali ini. Aku juga salah. 5 tahun pastinya berat bagimu karena, bagaimanapun juga, kau adalah si dosa nafsu. Menahan dan menanggung semua dosa nafsu dalam jagat raya pastinya membuatmu tersiksa karena tak ada yang menemanimu dalam tidurmu dan nafsumu.

Juga... jangan memasang wajah penyesalan seakan aku bakalan tunduk, Lusty. Aku menganut kesetaraan gender, jadi, bila kau menangis menjerit keraspun, aku tak peduli. Karena ini juga salahmu juga."

Azra cuek dan mengalihkan pandangannya kearah meja yang masih ada beberapa pil yang tersisa. Ia tahu beberapa pil yang Lusty ciptakan. Tentunya, itu semua berkaitan dengan Sex* ataupun nafsu seseorang.

Tersenyum kecut Azra melihat berbagai macam pil yang ada dimeja ini. 'Entah kenapa, akhir akhir ini aku terlalu sering tersenyum kecut dan menghela nafas.' Azra mengingat kembali, waktu waktu ia hidup kali ini sering kali merasa masam dan pahit.

"Lusty, keluarkan aku. Setelah ini aku akan bertanding dengan ibuku." Azra tidaklah bisa berlama lama disini. Walau disini 6.000 namun didunia luar 1 jam. Itu tetaplah membuang waktu tak beeguna.

"Hmm." Lusty hanya mengabgguk dan menjentikkan jarinya.

Ctaak.

Seketika, ia dan Azra sudah keluar dari dunia hiburan dan masih berada di kamar Alvonian's Bar.

Azra dan Lusty berjalan keluar dari kamar menuju ruang utama bar untuk dirinya bertemu dengan Rine. Firasatnya mengatakan bahwa Rine berada di meja bar depan.

Beberapa saat kemudian. Azra telah sampai pada bar depan dan melihat, Rine sedang melamun sembari meminum anggur. Terlihat terlihat Rina sedang menggumamkan sesuatu sembari menatap jendela bar.

"Sedang apa ya saat ini tuan muda?." Bergumam Rine membayangkan tuan mudanya sedang apa.

"Aku dibelakamgmu, bodoh." Sebuah suara mengagetkan Rine yang sedang minum.

''Ahhh, tuan muda, kau mengagetkanku saja. Apa urusanmu sudah selesai?." Tanya Rine sembari melihat kebelakang dan terlihat, sosok Lusty yang cantik jelita sedang murung dan kesal padanya karena berbicara dengan Azra.

"Ya, setelah ini. Kita akan kepusat arena pribadi dan langsung berangkat menuju akademi setelah urusanku di pusat arena studium telah selesai." Azra berjalan keluar dari bar bersama Lusty yang mengikuti dari belakang. Terlihat, Lusty benar benar menatap tak senang dengan kehadiran Rine.

Rine juga mengekor dari belakang Lusty mengikuti Azra yang tujuannya tak ia ketahui.

---'---

20 menit kemudian. Azra, Lusty, dan Rine telah sampai pada pusat Arena Stodium.

Disana tidak ada orang selain satu wanita berambut merah darah berumur 30 tahunan. Memakai mahkota dan stoking serta pakaiaan agak terbuka.

"Bukankah kau terlalu lama, Azra~." Suara menggoda terdengar menggema keseluruh arena.

Azra tak menjawab wanita tersebut. Ia hendak melompat masuk kedalam arena, namun tangannya dihentikan oleh Lusty.

"Ada apa?." Heran Azra dengan tindakan Lusty.

"Kenapa nafsu ibumu ketika kedatangan kamu melonjak begitu besar seakan... gimana ya, uangkapannya... . Ahhh, pokoknya hati hati aja." Kemudian, Lusty melepaskan Azra dan menatap Hina ibunya Azra dengan tatapan memicing serius.

Azra hanya menggelengkan kepala dan melompat masuk kedalam arena.

Tap.

Suara langkah kaki Azra yang mendarat di lantai arena. Ia menatap ibunya dengan rumit dan tak jelas ketika mengingat kembali, bahwa ibunya mencintai dirinya secara berlebihan.

"Aku berubah pikiran... .'' Tiba tiba, Azra bergumam tak jelas.

"Lusty, kemari dan jadilah mode-weapon!." Teriak keras Azra memerintah Lusty.

Sebuah senyuman manis dari Lusty ketika mendengar teriakan Azra. Tiba tiba, tubuh Lusty bercahaya dan berubah menjadi sniper yang melayang di depan Rine.

"Ehhhhhh, ternyata dia adalah Soul Device Weapon." Terkaget Rine melihat Lusty yang berubah menjadi senjata.

Begitu juga Hina. Namun tak seperti Rine, ia hanya menunjukkan sebuah senyuman misterius ketika Lusty atau Sniper tersebut terbang mendekat kearah Azra.

"Nak, apa dua wanita itu adalah calon istrimu?." Secara tiba tiba, Hina menanyakan hal tersebut.

Azra dan Lusty hanya biasa biasa saja. Namun, Rine seakan tersandung dan malu wajahnya.

"Ya, mereka berdua adalah calon istriku. Bu, jangan berfikir aneh aneh mengancam mereka dan menuruti keinginanmu." Ucap Azra mengancam karena merasa, ibunya bukan lagi sosok seorang ibu.

Melainkan, sosok wanita yandere yang siap memenggal siapaun yang mendekati dirinya. Inilah yang Azra hindari untuk bertemu dengan ibunya. Azra merasakan sendiri, aura ibunya sudah benar benar berubah sejak terakhir kali mereka berdua bertemu.

'Auramu, bu. Kau telah dibutakan cinta karena aura dewaku yang keluar, bu. Haaaaahhhh, entah kenapa aku tak bisa tenang dalam kedepannya.' Mengeluh dalam hati, Azra menatap rumit ibunya.

Tepat setelah Sniper berada ditangan Azra. Azra langsung menembakkannya kearah Hina tanpa ragu ragu.

Booom.

Suara ledakan terdengar dari Hina dan bekasan residu peluru terlihat. Sedikit keterkejutan di wajah Hina ketika melihat kecepatan tembak dari Sniper yang ditembakkan.

Namun, itu semua langsung berubah menjadi senyuman misterius. "Bukankah kau terlalu kejam tanpa ragu ragu meliukai ibumu sendiri, anakku?." Memasang wajah sedih palsu, Hina mengeluh kepada anaknya.

"Aku melakukan ini karena kau sudah keterlaluan, bu. Apa apaan coba, aku tak bisa menjadi pasangan hidupmu karena aku adalah anakmu, Bu. Jadi, tolong hilangkan niatmu yang ingin membuatku jatuh cinta padamu." Terlihat sedikit kecewa Azra kepada ibunya.

Rine dan Lusty terlihat begitu kaget. Rine wajahnya kaget dan Lusty bergetar hebat dalam wujud Snipernya.

"Lalu, apa itu masalah?. Bukanka... ."

"Ya masalah lah!. Bagaimana nanti aku harus bertemu dengan ayah bila anaknya sendiri menikung bapaknya. Aku tak tenang nanti dialam baka sana." Azra menyela pertanyaan bodoh dari ibunya dengan wajah yang masam dan senyuman kecut.

"Lalu, kenapa kau memikirkan sosok ayah yang tak pernah kau lihat, Nak." Secara tiba tiba dan begitu cepat, Hina sudah berada didepan Azra.

Mata Azra membelak. Ia ingin menjauh namun, seberapa cepatpun dirinya. Sebuah pukulan mengarah keperut tak dapat dirinya hindari.

Booom.

Craaak.

Menabrak dinding arena dan membuat retakan besar, Azra terlempar berkat pukulan ibunya.

Uhuk uhuk.

Batuk darah Azra sembari menatap ibunya dengan sedikit pusing.

Tap tap tap.

Suara langkah kaki mendekat terdengar bagi Azra adalah mimpi buruk. Sedikit kabur, melihat ibunya menyeringai penuh cinta dan kerakusan terhadap dirinya.

Ketika jarak Azra dan Hina hanya 5 langkah. Suara gumaman Azra terdengar nyaring bagi Hina.

"."

Seketika, semuanya yang berada dalam arena membeku entah itu kenyataan ataupun maya, ruang dan waktu, serta dimensi.

Hanya kesadaran yang dapat bergerak dan hanya Azra lah, yang dapat bergerak dengan bebas.

Azra tak bisa bersantai santai. Langsung saja, ia pergi menjauh dari Hina dan mengarahkan tangan kanannya menuju Hina.

Terlihat, jari jari tangan Azra ingin meremukkan sesuatu padalah hanya kosong. Namun, target Azra adalah tangan kanan Hina.

Pada tangan kanan Hina, terlihat tangannya seakan diremukkan oleh sesuatu namun tak kunjung remuk remuk juga.

"Bukankah tangannya terlalu keras." Mengeluh berat Azra tak dapat menghancurkan tangan kanan ibunya sendiri.

"Nak, bukankah, kau terlalu kasar. Hingga berniat menghancurkan tangan ibumu sendiri. Dan juga, kupuji dirimu telah sapai pada tahap {perluasan domain}."

Tiba tiba, terdengar suara ibunya dari belakang Azra. Azra diam tak bisa bergerak seakan memang ada yang mengikatnya dan memerintahkan dirinya untuk tak bergerak.

"." Suara Hina menggema di ruang domain Azra.

Perluasan domain yang dimiliki Azra seketika harus hancur dan gagal digantikan dengan perluasan domain milik ibunya.

Karena kekuatan Hina lebih kuat dibanding dengan Azra, dan itupun puluhan kali lebih kuat. Maka, ruang domain Azra harus hancur dan kalah dengan ruang domain Hina. Walaupun masih ada syarat yaitu kecocokan masing masing elemen, namun dengan tingkat kekuatan Hina yang terlampau jauh dari Azra. Maka syarat kecocokan tidaklah menghalangi hancurnya domain Azra.

'Sial, aroma ini terlalu memabukkan dan membuat aku ingin pingsan.' Mengumpat Azra dengan aroma bunga mawar berwarna merah dan biru yang berterbangan disana sini.

Tubuh Azra tersayat sayat oleh kelopak bunga mawar yang berterbangan. Bersamaan dengan itu,ketika luka terbuka, kelopak bunga selanjutnya akan menyembuhkan luka tersebut.

Perpaduan merah yang menyebabkan luka dan biru yang menyembuhkan luka, serta aroma mawar yang menyebabkan Azra kehilangan konsentrasinya. Azra benar benar hampir saja kalah akibat serangan ibunya yang tiada henti dan menyembuhkannya.

Beberapa menit kemudian. Serangan kelopak mulai mereda. Namun, Azra semakin meningkatkan kewaspadaannya pada lingkungan sekitar.

Hanya saja, karena keenam indra Azra sedikit bermasalah dan konsentrasinya juga. Sebuah tangkai bunga mawar mengikat dirinya dengan duri duri batang bunga mawar yang menusuk kedalam tubuh Azra.

Ughh.

Sedikit menggerang Azra menerima serangan mendadak ini. Ia tak bisa berkonsentrasi kembali karena rasa sakit serta penyembuhan dilakukan terus menerus tanpa henti.

"Azra, pasrahlah dan datanglah pada pelukanku. Tenang saja, kau akan merasakan kenyamana tak terbatas bila kau menyerahkan dirimu padaku." Suara Hina terdengar tenang dan lembut serta menggoda hati dan pikiran Azra.

Namun, tatapan mata Azra dipenuhi tekad dan keheranan akan kegilaan ibunya sendiri.

"Bu, selama kau mencintaiku, aku tak masalah. Jujur saja, selama waktu kecil aku memang mencintaimu. Namun, lambat laun aku sadar dengan apa perbuatanku.

Aku anakmu!. Selama darah dagingku berasal darimu, aku.... aku tak sekurang ajar itu kepada orang tuaku sendiri, Bu!." Azra tak buta akibat cinta hingga melupan Hina adalah sosok Ibunya. Maka dari itu, ia menolak keras perasaan ibunya kepada dirinya.

Tap tap tap.

Suara langkah kaki anggun dari Hina terdengar mendekat ke Azra.

"Namun, aku tak menganggap kau berlaku tak sopan kepadaku, Azra. Malahan, aku berharap kau tetap mencintaiku seperti waktu kau kecil dahulu." Hina dengan entengnya mengatakan hal tersebut, tanpa tau, perasaan campur aduk di dalam hati anaknya.

Ketika Hina telah sampai pada depan Azra. Ia membelai wajah Azra yang Tampan namun sekilas sedikit feminim bila diperhatikan baik baik.

"Kau hanya tak ada bedanya dengan bayi kecil ku, nak. Selama kau masih dalam jangkauanku, maka jangan berharap bisa lepas dari genggamanku." Seringai kecil terlihat dibibir Hina.

Kemudian, tiba tiba Hina mencium bibir Azra dengan ganas sembari memasukkan lidahnya kedalam mulut Azra.

Azra tak menolak, namun bukan berarti ia tak menolak kelakuan ibunya. Tubuhnya tak bisa Azra kontrol karena duri duri tangkai mawar yang menancap masuk kedalam tubuh dapat mengontrol setiap saraf dan hal lainnya dalam tubuh dirinya.

Sebuah perasaan asing terdengar dalam hati Azra. Perasaan tersebut membawa suara Hina yang masih menciumnya dengan ganas dan panas.

'Bukankah ini nikmat. Ini adalah yang kuinginkan, nak. Cinta mati, ini tak seperti yang kurasakan pada ayahmu, Alex. Ayahmu dahulu hanya lelaki yang kuat dan pintar. Namun, tak pernah sekalipun dia membuatku merasakan cinta mati seperti ini. Aku tak ingin mendengar penolakanmu karena aku baru saja merasakan apa yang namanya cinta mati. Bila kau menolak.... aku tak tau harus bagaimana nantinya. Pastinya kau tau, ibu juga wanita lemah yang pura pura kuat saja. Jadi....'

Terhenti dan ciuman penuh nafsu penuh gairah dari Hina mulai mereda digantikan dengan sebuah ciuman penuh cinta mengharapkan sebuah balasan menerima cintanya.

Azra diam mematung dan belumlah membalas ciuman penuh cinta dari ibunya. Ia merasakan duri yang mengontrol tubuhnya mulai melepaskan kendali dan tubuhnya sudah dapat ia kontrol dengan baik.

Namun, Azra masihlah tak bergerak sama sekali.

Beberapa saat kemudian. Kedua tangan Azra mulai bergerak dan memegang pundak ibunya. Kemudian, dengan perlahan dan wajah menunduk, Azra mendorong Hina untuk melepaskan ciumannya.

Terlihat keterkejutan dan rasa sedih kecewa di wajah Hina.

"Bu, maaf. Aku tak bisa membalas perasaanmu. Cukup sebelah tangan saja, perasaan ku dan perasaanmu, bu. Namun, setidaknya kau boleh melakukan apapun kepada diriku sebagai bentuk aku tak bisa membalas cintamu padaku." Azra, mengucapkan apa yang hati nuraninya katakan.

'Ini.... Yang terbaikkan.' Membatin, Azra dengan kepala menunduk tak sanggup menatap ibunya.

Sebuah hembusan angin kuat terasa memutar disekitar Azra dan Hina.

Tiba tiba, tumbuh bunga mawar merah dan biru namun pada batang mawar tidak ada duri sama sekali.

Tubuh Azra didorong paksa oleh Hina untuk dirinya jatuh dalam tindihan Hina diatasnya. Muka Hina menggelap, namun isak tangis terdengar kecil dan sendu.

Bibir Hina yang mulanya tertutup, mulai terbuka. Namun, anehnya, gigi taring Hina memanjang layaknya Vampir.

Azra bingung dengan perubahan ibunya, hendak bertanya kepada sistem. Sistem terlebih dahulu menjawabnya.

[{Fragmen Khusus Yin} dalam tubuh ibu anda mulai terbangkit dan menyatu dengan sempurna pada tubuhnya. Akan terjadi perubahan kepribadian dalam waktu kedepannya karena fragmen tersebut, terutama kepribadian tentang emosi terkuatnya yang membangkitkan {Fragmen Khusus Yin.}. Kekuatan Nyonya akan meningkat seratus kali lipat, berarti 300 juta poin kekuatan Nyonya saat ini. Evaluasi Sistem, harap tuan bisa menenangkan hati Nyonya dari cinta tak terbalasnya agar nantinya Nyonya tak menjadi semakin bermasalah dan merepotkan Tuan.]

Tak percaya.

Dua kata tersebut menjadikan Azra membelak matanya tanpa bisa berkedip dari wajah Ibunya yang masih menggelap.

Bagian Rambut merah darah Hina, pada ujungnya mulai menjadi hitam. Menyebabkan keserasian warna merah dan hitam secara bersamaan.

Pakaiannya juga mulai menghitam layaknya diwarnai secara langsung.

Bunga mawar yang berada didalam domain Hina. Juga mulai sedikit gelap. Warna mawar merah darah menjadi agak kehitaman dan mawar biru muda, menjadi biru tua namun sedikit gelap.

Ketika Azra hendak bergerak. Tubuhnya langsung terkunci tak dapat digerakkan kembali. Rupanya, satu duri menancap masuk kedalam tubuhnya.

"Jadi, apa kau masihlah Ibuku, atau sosok gelap dari Hina?." Azra berbicara, seolah dideapnnya yang menindih dirinya adalah orang lain.

"Hoo, tak kusangka kau memang mengetahuiku, ya anakku. Memang, seorang reinkarnasi dewa bukanlah sosok bualan semata." Suara Hina yang tadinya lembut penuh kasih sayang, sekarang berubah menjadi sedingin es dan penuh teror dalam setiap perkataannya.

Ketika kepala Hina terangkat dan tak menggelap lagi. Mata merah darah dari Hina, berubah menjadi hitam pekat penuh kekejaman dan keputusasaan dalam mata tersebut.

"Hmm, jadi, kau juga mengetahui identitas sebenarku, leluhur keluargaku."

Terlihat sedikit keterkejutan diwajah Hina. Namun, tak berselang lama, itu berubah menjadi sebuah seringai lebar mengerikan. Bersamaan dengan terbentuknya seringai, bibir merah cerry Hina, berubah menjadi hitam pekat seakaan membusuk dan mempertahankan wujudnya.

"Memang sungguh, sosok dewa begitu merepotkan, bahkan mengetahui identitasku juga, fufufu~." Tertawa misterius dengan senyuman manis namun mengerikan dan tidak ada lagi seringaian.

****

Tepat 6 tahun yang lalu. Dimana, Azra menemukan sebuah hal yang menarik dalam {Fragmen Khusus Yin} di tubuh keluarga Alvonia.

Setiap esensi fragmen, akan mengandung sebuah energi yang membuat penambahan {Energy} dalam tubuh meningkat drastis.

Dan kenyataan dari Keluarga Alvonia yang hanya melahirkan sosok keturunan wanita saja juga menarik perhatian Azra.

Leluhur, atau pendiri keluarga Alvonia, dahulunya adalah sosok Vampir suci dan paling suci diantara semua mahluk yang ada. Keunikan Vampir adalah, ras tersebut memiliki dua elemen utama, yang mana adalah elemen paling normal dan wajar.

Yaitu kegelapan dan elemen lanjutan, Elemen Darah.

Beberapa juga memiliki lebih dari dua elemen utama dalam tubuh mereka. Namun, yang pasti tidak ada elemen Cahaya ataupun suci yang bisa Vampir gunakan.

Hanya saja, terjadi perbedaan paling mustahil dan tak mungkin. Dimana, sosok leluhur keluarga Alvonia memiliki 3 element utama paling menentang dan mustahil dimiliki ras Vampir.

Yaitu, elemen suci, cahaya, dan air suci.

Tentunya, ini menjadi pertanyaan paling penting bagi seluruh ras yang ada di bumi. Akhirnya, Sang Leluhur diasingkan oleh semua Ras yang ada di bumi tanpa pengecualian.

Ras iblis yang mana terdiri dari Iblis asli, Vampir, Succubus. Tak menerima dan membuang jauh jauh bahkan berniat membunuh Sang Leluhur karena memiliki elemen suci sebagaimana adalah musuh alami mereka.

Ras malaikat yang terdiri dari malaikat asli, snow Elf, dan roh atau spirit. Menolak dan berniat membunuh juga kepada Sang Leluhur karena dianggap mencemari nama dewa mereka karena memiliki elemen suci dalam tubuh Vampir yang menurut mereka juga adalah musuh alami.

Dan untuk Ras manusia yang terdiri dari manusia asli, setengah ras lain, dan demi human. Memiliku tiga sikap mereka kepada Sang Leluhur. Menolak, netral, dan menerima. Untuk Ras manusia yang menerima Sang Leluhur, hanya begitu sedikit dan juga terpencar dimana mana. Sehingga, Leluhur kesulitan mencari Ras manusia yang mau menerimanya dengan senang hati.

Dan Ras manusia yang Netral dan menolak sang leluhur. Ada orang yang menginginkan tubuh Sang Leluhur agar memuaskan nafsu mereka. Ketamakan dan nafsu ras manusia benar benar membuat Sang Leluhur haruslah mewaspadai Ras ini.

Bertahun tahun sang leluhur hidup menyendiri dan selalu menyembunyikan identitasnya dengan menutupi seluruh tubuhnya disaat membutuhkan berkomunikasi dengan orang orang.

Kerja keras, tekad kuat, dan semangat untuk menjalani hidup dan mencari kekuatan demi bertahan hidup didunia dimana, hanya sedikit orang yang menerimanya.

Kekuatan hasil kerja keras serta taruhan nyawanya terbayar memuaskan Sang Leluhur. 100 triliun poin kekuatan telah sang leluhur capai dalam waktu 200 tahun. Tentunya, peluh keringat menetes tak terhitung jumlahnya bagi Sang Leluhur untuk mencapai kekuatan setingkat itu.

Hingga, suatu hari sang leluhur menemukan sosok manusia yang mau menerimanya dengan senang hati. Sosok laki laki berambut merah darah dan iris matanya juga merah darah.

Sosok tampan yang ketampanannya tak bisa dipungkiri melelehkan hati sang Leluhur.

---'---

Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Rasa Cinta yang Sang Leluhur pendam pada sosok laki laki berambut merah darah tersebut, sudah tidak dapat ia pendam lagi.

Akhirnya, Sang Leluhur menyatakan cintanya dan berakhir, mereka berdua hidup bersama saling mencintai. Sosok laki laki berkata ia tak akan mencari wanita lain dan hanya mencintaimu seorang saja.

Tentunya, Sang Leluhur yang sudah cinta mati begitu senang dengan ungkapan kekasih barunya.

Beberapa tahun kemudian. Sang Leluhur dan Sosok laki laki berambut merah hidup bahagia dengan Sang leluhur mengandung anak mereka.

Ketika sang leluhur sedang beberbelanja setelah pulang dari kerje kerasnya mencapai kekuatan besar. Ia pulang kerumah dimana tempat mereka tingga sedikit terisolasi dari penduduk karena tak ingin, Sang leluhur menjadi incaran oleh orang orang yang tak menerimanya.

Namun, sebuah kenyataan pahit terjadi kepada Sang Leluhur.

Dimana, sosok suaminya sekarang sedang meniduri 5 wanita dibalik pintu masuk rumahnya. Terlihat juga, sosok wanitanya begitu senang dengan permainan sosok laki laki berambut merah darah tersebut.

Kejadian NTR dari sang suami sendiri, membuat sesuatu dalam alam bawah sadar Sang Leluhur ada yang bangkit.

"Hoo, kau sudah pulang, ya sayang. Maaf, aku harus mengingkari janjimu dulu. Sekarang aku meminta kita cerai dan matilah untukku, hahahahahahahaha." Tertawa jahat sang suami Leluhur sembari memainkan 5 wanitanya semakin kasar dan nikmat.

Ahh~

Uhhh~

Ahh~

Suara dari lima wanita yang dipermainkan laki laki berambut merah darah tersebut seakaan adalah nyanyin paling membuat hati Sang Leluhur begitu hancur dan hancur.

"Kenapa...?." Secara spontan, Sang Leluhur mengatakan hal tersebut.

"Karna aku akan mendapatkan kekayaan dan kekuasaan sebesar kekaisaran!!. Dengan membunuhmu dan membawa kepalamu kepada 'orang itu', aku akan mendapatkan semua itu. Jadi, matilah untuk kekuasaan dan kekayaan yang akan kudapatkan nanti, Hahahahahahahah."

Sudah tiada hati lagi dalam diri Sang Leluhur. Namun, setitik cahaya menerangi kegelapan diri Sabg leluhur. Sang leluhur kemudian mengelus lembut perutnya dan sedikit isak tangis terdengar.

'Aku tak bisa melibatkan anakku. Dia bukan lagi sosok ayahmu, nak. Dan, setiap keturunanku akan kubuat hanya berisikan anak perempuan dan tak akan pernah ada keturunan anak laki laki.

Bila memang terlahir laki laki, maka akan kuberi dia berkah agar nantinya dapat memimpin keluarga dan keturunan kita semakin baik dan harmonis, tak seperti nasib ibumu ini.' Setelah meratapi apa yang terjadi padanya.

Sang Leluhur menatap sosok suaminya yang masihlah bermain dengan lima wanita dengan gembira. Kemudian, sebuah tindakan dimana, sosok laki laki yang Sang Leluhur cintai menghunuskan sebuah pedang mengarah kelehernya.

Namun

Booooooooooooommmmmmmmmm.

Sebuah ledakan dahsyat menghancurkan 500 km membentuk lingkaran dari Sang Leluhur sebagai pusatnya.

Korban meninggal dipastikan berjumlah 2,5 juta berkat ledakan kemarahan sekaligus kekecewaan dari Sang Leluhur kepada suami yang ia kira mencintainya.

Di tanah tandus dan tak bernyawa. Hanya sosok Sang Leluhur saja yang masih hidup di tengah tengah tanah tandus tersebut.

"Tetap saja, ketamakan dan kerakusan seseorang membuat kita buta dan melupakan serta mengabaikan ada yang mencintai mereka dengan tulus."

Itu adalah kata kata terakhir sang leluhur dan pergi menghilang dari sana dan kabarnya yang sudah tidak bisa diketahui lagi apakah masih hidup atau tidak.

*****

"Yah, sungguh ironis, bukan, wahai cucuku. Sungguh cerita NTR yang paling aku beci, dimana itu adalah aku sendiri." Ujar Sang Leluhur Keluarga Alvonia menceritakan kisah dirinya dimasa lalu.

"Ya, aku tau itu adalah kisah paling kelam untuk sejarah berdirinya keluarga ini. Namun,... bisakah kau menyingkir?. Tubuhku kram dari tadi menahan bobot tubuh ibuku yang berat tau?." Azra sedari tadi mencoba menahan rasa kram pada bagian selangk*ngannya berkat tertindih oleh Hina/Sang Leluhur selama bercerita.

"Namun, hati ibumu menyuruhku untuk melakukan hal ini terlebih dahulu. Ia berkata, 'hamba ingin menenagkan hati hamba terlebih dahulu, leluhur. Setidaknya, sampai hamba benar benar menerima apa yang anak hamba katakan.' Gitu kalo ngak salah ibumu mengatakan kepadaku." Ekspresi bingung sekaligus mengingat dengan cara yang bodoh sang leluhur yang menempati tubuh Hina.

"Yah, sebenarnya, aku tak peduli, sih. Dengan hubungan kalian berdua yang begitu rumit dan bermasalah. Hanya ibumu lah, yang berhasil membangkitkan Fragmen yang ku tinggalkan. Itu membuat beberapa jiwaku sudah bangkit di beberapa keturunan." Sekarang, wajah bodoh yang berusaha mengingat ingat langsung berubah menjadi seringai menatap mata Azra dengan menjilat bibir hitamnya.

Azra memncingkan mata menatap tajam kepada Sang Leluhur yang memakai tubuh ibunya. Tindakan sang leluhur seakan sulit untuk dirinya prediksi. Jadi, dia bernar benar waspada akan setiap tindakan sang leluhurnya.

"Sebenarnya, apa maksud kemunculanmu yang mendadak ini?." Azra benar benar tak tahan dengan rasa penasaran yang menyelimuti hatinya akan tindakan sang leluhur ini.

"Setiap Fragmen yang ada dalam tubuh keturunanku. Itu akan menjadi pedang bermata dua, bagi Keluarga Alvonia. Dimana, setiap Fragmen akan terus diwaris mewariskan kepada keturunan selanjutnya tanpa mereka sadari.

Fragmen ini mengandung kesadaran serta kepingan jiwa yang kumiliki. Dan nantinya, aku akan menuruti setiap kemauan terbesar mereka. Dan untuk pedang bermata dua, bila ada keturunan yang membangkitkan fragmen karena melakukan atau mencintai sampai mati orang yang berniat menghancurkan keluarga Alvonia. Maka, aku sebagai kepingan fragmen akan memberikan kekuatan yang besar serta mengendalikan tubuh mereka untuk melaksanakan kemauan terbesar pada mereka atau keturunanku.

Namun, kasus dimana ibumu mencintai dirimu yang berlebihan berbeda. Ibumu juga membangkitkan jiwa jiwa dan kesadaranku yang lain pada tubuh keturunanku. Ini menjadikan sebagai peluang menyingkirkan pedang bermata dua tersebut agar nantinya tak membahayakan keluarga yang kudirikan ini.

Nah, ini yang ingin ku bicarakan, dewa. Bila kau membantu membentuk atau menciptakan sebuah tubuh lengkap untukku. Maka, permasalahan ibumu yang mencintaimu secara berlebihan aku bisa mengatasinya.

Aku mengetahui tentang rahasia sosok dewa. Dimana, mereka tidaklah boleh dilihat oleh mahluk fana seperti kami. Karena, mahluk fana yang melihat dan merasakan sosok dewa sebenarnya, akan mengorbankan segala galanya demi sang dewa maupun sang dewi tersebut. Entah itu demi cinta maupun menghormati.

Hanya saja. Aku tak bisa menghilangkan perasaan ibumu yang bila nantinya memang ibumu benar benar tulus mencintaimu bukan karena efek kau adalah seorang dewa.

Cinta itu buta. Seperti yang kualami dahulu.

Jadi, bagaimana?. Apa kau mau menyetujui kesepakatanku?. Bila kau membentukkan tubuh untukku dan mengambil semua fragmen fragmen yang tersebar, maka aku akan menghilangkan perasaan cinta dari ibumu karena efek aura dewa mu, hanya saja seperti yang ku bilang tadi. Dimana, bila memang ibumu mencintai dirimu secara tulus, maka aku tak bisa menghilangkan perasaan itu.

Dan, bila kau menolak kesepakatanku. Maka, aku sebagaimana sosok fragmen yang akan memenuhi keinginan terbesar ibumu, yaitu mewujudkan cintanya padamu agar nantinya terbalaskan dengan kau menerimanya."

Kebimbangan menyelimuti hati Azra.

Namun satu yang Azra pahami dengan ucapan panjang lebar dari leluhurnya.

'Mau menerima kesepakatan atau tidak. Bila ibu memang mencintaiku dengan tulus, maka tetap akan percuma, kah.' Tersenyum kecut Azra memikirkan hal tersebut.

"Baiklah kuterima kesepakatanmu. Sebelum itu, siapa namamu?. Dari dulu hingga sekarang, aku tak mengetahui nama leluhurku sendiri." Tersenyum bodoh memalingkan wajah, Azra bertanya seperti itu.

Sang Leluhur juga menjadi kecut ekspresinya. "Namaku, Liliana von Alvonia." Kemudian, Liliana bangkit dari duduknya yang menduduki Azra.

Ketika Azra hendak menggerakkan tubuhnya. Seketika, bagain kedua pahanya kesemutan. Ia terheran dengan bobot ibunya itu berapa hingga membuatnya menjadi kesemutan seperti ini.

"Baiklah, sekarang kau lebih baik mengumpulkan semua fragmen dan jiwa jiwamu yang tersebar. Aku akan membuatkan tubuh untukmu selagi kau mengumpulkan fragmen."

*.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.**.*.*.*.*.*.*.*.*

Ras dalam planet bumi.

Manusia.

- Manusia Murni

- Setengah manusia setengah (setiap Ras yang ada.)

- Demi Human.

Iblis.

- Iblis murni

- Vampir

- Succubus.

Malaikat.

- Malaikat Murni

- Snow Elf.

- Roh atau Spirit.

Di planet bumi, tidak ada ras monster. Hanya ketiga ras utama tersebut yang ada di Bumi.

1
Seizurann
kan ada sistem unlimited masa udh 12 tahun masih aja segitu kekuatannya
Seizurann
kuatin napa mcnyan
Seizurann
tp ktanya dewa tp kok lemah banget
Seizurann
pdhal menarik lo ceritanya
Seizurann
udh 12 tahun masih aja lemah
Seizurann
mcnya kyknya lemah banget dh
Seizurann
kok nyegel kekuatan pake koin thor?, udh gitu mahal lagi
AlfianX Gaming
upp
Seven Deadly Sins•﹏•
(*^o^*)
zhanshen
kya sniper locus dri codm😁😁😁
❖⍣⃟️⃢🅟𝐑𝐘𝐔ᶯᵃʳᵃN🍡🎮ᵐᶥ⃟
ga papa ko asal jangan hiatus aja
jadi semangt terus ya
Seven Deadly Sins•﹏•
ヾ(*´∀`*)ノ
GOD KING HEAVEN
lanjutin thor sumpah keren bangetttttt
Seven Deadly Sins•﹏•
(*^o^*)
ArJunazx
wes jawa
Izuna Zhein
Lanjut Thor Keren
Izuna Zhein
Up Up Up Up Up Up
Seven Deadly Sins•﹏•
ヾ(*´∀`*)ノ
Juan
ey yo wtf
(📀. ORION .⭐)
is a good😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!