Demi perdamaian Crymane, terbentuklah sebuah tradisi mencari Tujuh Kristal Kehidupan beserta pengendalinya, dan yang mengadakannya ialah adidaya Crymane, Kerajaan Woerlt.
Yula Athhra, putri bungsu Kerajaan Hearthose yang berusia 12 tahun, terpilih menjadi rekan pertama Putri Kerajaan Woert, Lacus Wallt, untuk menemukan ketujuh kristal kehidupan tersebut.
Bagaimana perjalanan Yula dalam mengumpulkan ketujuh kristal kehidupan tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koibumi Alana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 : Pangeran Esha
“Malam ini, bulannya terlihat jelas, ya? Sangat indah!”
Esha membalikkan badan, ia kaget dengan suara dari orang yang tak dikenalinya. Matanya menatap seseorang di belakangnya, tatapan curiga diberikan pada gadis yang ia perkirakan umurnya tak jauh beda dengannya. Dalam pikirannya, kenapa dia ada di sini? Apa ia sengaja datang ke taman untuk menemuinya? Meski sorotan matanya begitu tajam tapi gadis itu tetap tersenyum padanya.
Gadis itu mencoba mendekat, Esha tetap bergeming dari tempatnya duduk.
“Apa karena pemandangan ini membuatmu tidak tidur?” tanya gadis itu dengan akrabnya.
Esha tak membalas satu kata pun, tapi gadis itu tetap mencoba membuat Esha agar bicara dengannya.
“Memang sayang dilewatkan pemandangan seperti ini. Tak ada awan yang menutupi penampakan bulan penuh. Sangat jarang sekali lho ada yang menyadarinya? Menurutku orang-orang yang dapat melihatnya adalah orang-orang yang beruntung.”
Gadis itu kini telah berdiri di sampingnya, menunggu respon dari Esha yang tetap tak mau bicara. Akan tetapi pemuda itu memutuskan untuk tidak membalas percakapan.
.
.
.
Dia tak mungkin bisu, kan?, gumam Yula dalam hati heran.
“Namamu Esha, bukan? Namaku Yula! Salam kenal!” Yula pun memperkenalkan diri. “Kamu tahu, bukan? Aku yang ikut bersama Putri Woerlt, Putri Lacus.”
“Lalu apa hubungannya denganku?” kesal Esha yang akhirnya merespon tanpa membalas pandangan lawan bicaranya.
“Ada! Mungkin,” jawab Yula tersenyum senang. Hore! Akhirnya dia bicara juga!
Sekilas Esha melihat ke arah Yula, lalu kembali memandang lurus ke arah kolam. “Apa yang membuatmu datang ke sini?” tanya Esha mulai ramah, namun tak seutuhnya ramah hanya karena suaranya melunak.
“Tugas!” jawab Yula singkat.
“Tugas? Oh, apa kau tengah memainkan peran mata-mata, Tuan Putri?” ejeknya. “Mengorek segala informasi di mana kau berada.”
“Maunya seperti itu, tapi... Kerajaan Durasec sangatlah hebat dalam menjaga rahasia. Karena misterius itulah yang membuatku bertambah penasaran!”
“Kau tak akan menemukan rahasia itu,” kata Esha seakan memperingatkan. “Tak satu pun kecuali raja. Aku sendiri juga ingin tahu semuanya.”
Tiba-tiba suara Esha terdengar sedih di telinga Yula. Suara yang tegas itu terdengar agak lemah tapi tidaklah serak akan menahan kesedihan.
Yula paling bisa menebak perasaan dan ekspresi orang lain, terutama yang sedang bicara dengannya, walau ia masih bersikap polos soal cinta. Melihat ekspresi Esha, ia tak mau melontarkan kata-kata yang menyinggung, ia akan langsung mengungkapkan alasan ia menemui laki-laki itu.
“Kenapa kamu tak hadir makan malam tadi?” Yula tahu pemuda itu tak akan menjawab pertanyaannya. Ia kembali melanjutkan bicaranya, “Padahal, ada rapat penting. Pastinya kamu sudah tahu bahwa Putri Woerlt melakukan perjalanan dan membutuhkan rekan yang diwakili setiap kerajaan yang telah diundang oleh Kerajaan Woerlt. Aku menganggap kamu sudah tahu, tapi kamu malah menghindarinya. Aku tak tahu apa masalahmu dengan Yang Mulia Raja, tapi setidaknya ada sedikit keinginan untuk perjalanan ini. Siapa tahu?”
Esha masih diam, tak mau bicara, Yula melanjutkan kalimatnya.
“Perjalanan mencari kristal itu menyenangkan lho! Bertemu orang-orang baru, makanan, minuman, budaya yang berbagai macam dari tiap desa dan kerajaan, permainan, pertemanan, dan yang paling penting bisa mengasah magica yang kita punya. Saat ibundaku menceritakan perjalanan pencarian batu kristal, aku begitu tertarik dan sangat senang dipilih oleh kak—maksudku Putri Lacus.”
Yula semakin patah semangat karena lawan bicaranya tak meresponnya sama sekali. Apa aku kebanyakan ngomong, ya?, gumamnya sedih dalam hati. Ia menjadi lemas dan memasang wajah cemberut. Namun sedetik kemudian ia teringat perintah Lacus dan ia pun kembali semangat untuk tetap memprovokasi Esha agar bisa ikut duel besok.
Yula memberanikan diri untuk berdiri lebih dekat di depan Esha hingga membuatnya kaget. Kemudian ia mengeluarkan sebuah cahaya di kedua tangan yang ditengadah. Semakin lama cahaya yang menyilaukan itu meredup diganti dengan sebuah batu yang berkilat karena pantulan cahaya bulan. Esha terkagum melihat batu bening itu. Yula senang saat tahu Esha menjadi tertarik dengan batu kristalnya.
“Inilah yang kita cari, Batu Kristal Kehidupan! Batu kristal yang kupegang ini memiliki elemen magica yang sama denganku, angin. Sedangkan kak—aduh! Maksudku Putri Lacus juga sudah memiliki batu kristal dengan elemen air, warnanya biru laut, sangat cantik! Masih ada lima batu kristal lagi yang harus kita kumpulkan, berarti kami butuh lima pengendali lagi.”
Esha kembali duduk dengan kalem dan melipat tangan. “Aku tak akan pergi kemana-mana.”
Yula tak mengharapkan jawaban itu. “Aku tak memaksakan apapun. Hanya saja....” Yula mengutak pikirannya untuk merangkai kata. “Hanya saja....” Tapi ia masih bingung untuk melanjutkannya. Ia menyimpan kembali batu kristalnya dengan mengatup kedua tangannya dan batu itu menghilang, menyatu dalam tubuhnya.
“Aku tak ahli dalam mengajak orang dengan kata-kata, meyakinkan dengan kalimat-kalimat menarik atau merayu. Yah, maksudku, aku hanya bisa merusuh, tapi bukan berarti aku ingin menantangmu.” Kalimat Yula menjadi kacau, ia tahu dan membuatnya menggigit bibirnya.
“Satu hal yang ingin kukatakan, walau sebenarnya kak—Putri Lacus tak membolehkanku mengatakannya. Saat ia bertemu denganmu pertama kali di lorong tadi, ia tertarik denganmu dan magica-mu. Putri Lacus secara pribadi menginginkan kamu sebagai pengendali magica elemen api. Tapi ia sudah terlanjur mengutarakan penyeleksian dengan duel esok hari. Jika kamu berminat, datanglah besok di tempat latihan di belakang istana. Dan buktikan kalau pilihan Tuan Putri tidak salah.”
“Tunggu! Dari mana kamu tahu elemen magica-ku api?” heran Esha dengan nada kesal.
Yula menutup mulutnya. Ia benar-benar ceroboh dalam berbicara. Matanya melirik kiri-kanan, mencari sebuah alasan. “Itu... aku, tahu dari orang-orang.”
“Kau memang hebat menjadi mata-mata!” kesalnya. “Dengan mengorek-ngorek informasi pribadi orang lain!” Walau tenang, Esha meninggikan suaranya dan memandang Yula rendah.
Hal itu Yula sangat kesal. Ia pun beranjak pergi. Kemudian berhenti sebentar, berbalik badan. “Kenapa hal itu membuatmu kesal?” heran Yula. “Aku datang menemuimu dengan maksud baik, tapi kau... ukh!”
Ia pun beranjak pergi, namun selangkah kemudian ia membalikkan badan. “Bagiku siapa pun yang terpilih tak masalah! Tapi aku tak suka membuat Kak Lacus kecewa dengan pilihannya!” kesal Yula dengan nada meluap, namun tetap menahan amarah dalam dadanya. Ia tak ingin membangunkan seluruh keluarga kerajaan karena suaranya. Suara marahnya bisa membuat angin ribut!
“Siapa sih? Gadis aneh,” gumam Esha.
.
.
.
Yula kembali melangkahkan kakinya pergi dari taman. Ia tak akan melewati lorong untuk kembali ke ruang tidurnya, ia memanfaatkan udara dan sedikit magica anginnya untuk menerbangkan tubuhnya menuju lantai dua. Tubuhnya seakan seringan kertas, menginjak atap tanpa suara dan tak lama ia tiba di jendela kamarnya.
Lacus telah menunggunya kembali. Dilihatnya wajah Yula yang tak bersemangat, Lacus menebak hasil percakapan gadis kecil itu dengan Esha seperti apa. Tak sesuai dengan yang diharapkan. Walau begitu Lacus tetap tersenyum pada Yula, merangkul anak itu dan membawanya ke tempat tidur.
“Lihat saja esok hari,” hibur Lacus.
“Apa Kak Lacus yakin dengan anak itu? Ia.... Ia sangat tak bersahabat!” kesal Yula.
“Apa pun sifatnya, aku tak peduli. Yang kutahu, dialah orangnya, sang pengendali magica api,” jelas Lacus tegas.
Yula tak bisa membantah titah Sang Tuan Putri. Ia tak mau mengingat tentang anak laki-laki yang bermulut tajam itu. Ia terlalu lelah hingga membuatnya cepat tertidur dan melupakan percakapannya dengan Esha.