Anna tau bahwa ayahnya adalah orang kaya, dan semua kakaknya tampan tapi ia tak pernah menyangka jika keluarganya cukup populer bahkan ia di sebut-sebut sebagai putri yang di sembunyikan sampai ia pindah ke sekolah baru yang terkenal.
Bukan hanya itu saja, ia juga baru tahu bahwa dia bukan manusia biasa dan cinta pertamanya juga bukanlah manusia.
Siapakah keluarga Anna sesungguhnya?
Misteri apa saja yang baru di ketahui Anna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Teng Teng Teng
" Ah akhirnya selesai juga, otak ku sudah letih sekali sedari tadi di pakai berpikir " ujar Mina sambil menggeliat di tempat duduknya.
Begitu bel berbunyi separuh isi kelas sudah kosong, sama halnya dengan Mina mereka sangat letih dan ingin segera pulang agar bisa istirahat dengan nyaman.
" Ayo pulang " ucap Anna bangkit.
" Baiklah tunggu aku! " jawab Mina.
Kedua sahabat itu berjalan keluar kelas, meski baru saja bilang lelah tapi Mina tetap tak merasa kelelahan untuk berceloteh seperti biasanya. Anna yang sudah terbiasa mendengarkan sambil terus berjalan ke arah gerbang sekolah.
" Mina lihat itu! " ujar Anna menunjuk ke arah tempat parkir.
Mina mengikuti arah Anna menunjuk, seketika jantungnya kembali berdegup kencang. Colt di sana membelakangi mereka berjalan santai menuju mobilnya.
" Ayo pergi! " tutur Anna tanpa basa basi lagi menarik tangan Mina berjalan mendekati Colt.
" Tunggu, tunggu Anna " ujar Mina gugup.
" Tunggu apa lagi, bukankah ini kesempatan baik? "
" Iya aku tahu tapi... tunggu sebentar " ujar Mina menghentikan langkahnya.
Dengan susah payah Mina mengatur nafasnya yang terasa tersenggal-senggal, meraba dadanya dimana jantung itu terasa semakin kencang berdetak seolah ia akan loncat keluar.
" Ada apa lagi? " tanya Anna tak sabar.
" Aku.... aku tidak berani mendekatinya " jawab Mina jujur.
" Hah? kenapa? "
" Entahlah, aku gugup sekali. Aku takut tidak bisa bicara dengan benar ".
Hhhhhhhh
Anna membuang nafas dengan malas, merangkul pundak Mina yang sudah mulai gemetar dan berkata.
" Dengar Mina, kau punya mimpi ingin memilikinya tapi tidak berani untuk mendekatinya bahkan bicara padanya. Jika kau menginginkannya kau harus berani mengambil langkah, atau lupakan dia selamanya karena seperti yang kau tahu aku tidak suka padanya. Jadi, kau akan pilih yang mana? mencoba mengambil langkah pertama mu atau melupakannya "
Hening, sulit untuk memutuskan. Di satu sisi ia ingin mencoba peruntunganya, tapi di satu sisi yang lain ia tak mampu mengendalikan kegugupannya.
" Ah sudahlah sebaiknya kau lupakan dia, ini hanya buang-buang waktu saja " ujar Anna berbalik ke arah gerbang.
" Eh tunggu sebentar, baiklah kau tunggu di sini dan lihat aku akan memberikan kadonya " sergah Mina.
Dengan menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan Mina mengambil langkah pertama nya yang di saksikan oleh sahabatnya sendiri.
Colt tengah sendiri tanpa kehadiran teman-temannya, tentu dia tak akan mendapat perlakuan kasar dari teman-temannya Colt jadi harusnya ini adalah waktu yang sangat pas. Siapa tahu Colt justru senang dengan hadiah dari Mina.
" Mmm permisi.... " ucap Mina pelan.
Colt yang hendak masuk ke dalam mobilnya berbalik dan melihat Mina yang berdiri di hadapannya sambil menunduk.
" Ada apa? " tanya Colt dingin.
" Aku... aku... ada sesuatu.. " ucapan Mina tersekat di tenggorokannya, keringat dingin mulai membasahi keningnya.
" Ada apa? cepatlah katakan, aku tidak punya waktu banyak " ujar Colt tak sabar.
" Maaf, aku ada sesuatu untuk mu " ujar Mina cepat sembari menyodorkan kado kecil di tangannya.
" Apa ini? "
" Ini... ini aku beli sengaja untuk mu, aku harap kau suka " jawab Mina mencoba mengendalikan diri meski masih tak mampu melihat langsung ke wajah Colt.
" Astaga, ada-ada saja " ujar Colt mengambil kado kecil itu.
Mina terperangah, tak menyangka Colt akan menerima kado itu bahkan tak sengaja tangan mereka sempat bersentuhan. Karena hal itu Mina mendongak menatap wajah Colt yang tampan.
" Baiklah, terimakasih " ujar Colt dengan sedikit tersenyum.
" I-iya... " jawab Mina kembali terpesona akan ketampanan itu.
" Baiklah aku pulang duluan, selamat tinggal ".
Colt masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin dan melaju meninggalkan Mina yang mematung. Setelah kepergian Colt Anna berlari menghampiri Mina, menyadarkannya agar kembali ke dunia nyata.
" Kau.. lihatkan? Colt menerima nya.. " ujar Mina masih terbayang senyuman Colt.
" Iya, aku melihatnya "
" Kalau begitu berarti aku yg menang, iya kan? "
" Terserah kau saja " jawab Anna yang masih tak percaya 100% bahwa Colt itu pria baik.
* * *
Pada jam makan malam satu kursi kosong tak terisi, Shigima tak ada di sana. Meski pada saat makan dia satu-satunya orang yang paling tenang, tak banyak bicara tapi tetap saja ketidakhadiran nya membuat makan malam itu terasa kurang.
Tugas sekolah yang menumpuk membuat Anna kembali ke kamarnya selesai makan malam, selama dua jam ia berkutat dengan buku-buku dan pensil. Hingga akhirnya sakit punggung membuatnya menyerah.
" Sepertinya aku butuh istirahat " gumamnya menarik diri dari meja belajar.
Jam dinding menunjukkan pukul 09.00 malam, Anna keluar dari kamar dan sadar tak ada seorang pun di luar kamarnya. Ia hendak pergi ke dapur untuk mengambil segelas susu hangat saat tanpa sengaja melewati kamar Ryu dan melihat pintu kamar itu terbuka sedikit.
Rasa penasaran membuatnya mengetuk pintu dan membukanya secara bersamaan. Nampak Ryu tengah duduk di ranjang sambil melihat-lihat sebuah album foto.
" Kak Ryu " panggilnya.
" Hai Anna, masuklah " jawabnya.
Anna menurut dan duduk di samping Ryu, ikut melihat foto-foto yang sebagian berserakan.
" Apa yang sedang kakak lakukan? "
" Membereskan foto, aku baru mencuci foto kak Ken di kafenya jadi baru mau aku taruh di album "
" Ohh ".
Perhatian Anna tertarik pada sebuah foto seorang anak kecil yang berdiri di depan pintu utama kastil, di lihat dari wajahnya ia yakin itu adalah Reinner tapi untuk memastikan Anna bertanya.
" Ini Rei kan? "
" Iya itu Reinner saat kecil "
" Dia terlihat menggemaskan " akui Anna meneliti wajah polos itu.
" Kau benar, di rumah ini dia adalah satu-satunya anak yang paling di perhatikan dan paling sering di ambil fotonya saat masih kecil "
Tiba-tiba Anna teringat pada mendiang ibunya Reinner, saat Anna SMP dia baru tahu bahwa semua kakaknya berbeda ibu dengannya.
" Kakak, apa kakak mau menceritakan sebuah kisah untuk ku? " tanya Anna.
" Kau ingin mendengar sebuah dongeng? baiklah bagaimana kalau cerita tentang puteri salju dan tujuh kurcaci? " jawab Ryu antusias.
" Berhenti bercanda kak, aku sudah besar dan sudah ribuan kali mendengar dongeng itu " ujar Anna kesal.
" Tadi kau bilang ingin mendengarkan sebuah cerita "
" Maksud ku, aku ingin mendengar kisah tentang keluarga kita. Aku di besarkan oleh ibu begitu juga dengan kak Shigima, kak Ken, kak Ryu dan Rei. Kita di besarkan oleh ibu kita masing-masing tapi harus tinggal bersama ayah setelah usia lima belas tahun. Aku tidak mengerti peraturan keluarga kita "
" Aku mengerti perasaan mu " ujar Ryu menepuk lembut punggung Anna.
" Aku ingin tahu, kenapa ayah harus menikahi tiga orang istri? kenapa peraturan ini di buat? ".
Untuk sejenak Ryu terdiam, menimbang apakah Anna sudah cukup besar untuk memahami hal yang rumit. Apakah ia bisa menerima hal tak masuk akal?.
Two Worlds