Ditinggalkan tepat dihari pernikahan membuat Elisabeth hidup tak tentu arah. Ia akhirnya bertemu dengan sosok pria tampan yang baik hati. Si pria muslim pengidap anhedonia. Menikah? Kenapa tidak? Toh kami sama sama tak bisa memiliki cinta. Apa bedanya menjadi teman seumur hidup, dalam bingkai sebuah rumah tangga?
Tapi saat benih cinta mulai tumbuh. Bagaimana seorang Elis akan mencintai si anhedonia sedangkan si anhedonia terus tersiksa karena cinta nya terhadap Elis. Berhasil kah mereka? Yuk baca kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IAAM-014
Umar terdiam sejenak. Ucapan putra bungsunya membuat ia tak bisa berkata apa apa lagi.
“Abi akan mengambil istikharah dulu kemudian abi akan bahas ini lagi dengan kalian.” Abi berdiri dari kursinya keluar dari ruangan itu. Setiap dihadapkan dengan masalah pelik Umar pasti akan meminta petunjuk pada yang Maha Kuasa.
Hardian dan Shaleh ikut keluar dari ruangan itu menyusul Umar.
“Kalian duduklah dulu,” ucap Saodah.
“Maaf, apa Elis ke sini pada waktu yang kurang tepat?” tanya Elis.
“Nggak, Elis datang tepat waktu,” ujar Saodah.
“Elis maaf, aku mengambil keputusan sepihak,” ujar Khafi.
“Kalian benar benar serius akan menikah?” tanya Saodah.
“Aku memang memintanya menikah dengan ku, tapi waktu itu Elis sedang dalam pengaruh alkohol. Malah ditanggapi serius,” ujar Elis. Wajahnya sedikit malu.
“Tapi, janji aku waktu itu serius pada Elis. Dari pada menikahi Ariqah?” ucap Khafi.
“Jadi bukan karena kamu menginginkan Elis, hanya karena ingin menghindari pernikahan dengan Ariqah?” tanya Amel tiba tiba dari arah pintu.
Melihat Khafi terdiam berarti ucapan Amel barusan adalah benar.
“Aku sih, jika Elisabeth ingin menikah sok atuh,” gumam Khafi pelan.
Sebuah pukulan pelan mendarat di dahi Khafi.
“Ini pernikahan dek, kalian akan menikah seumur hidup bukan hanya untuk hari ini dan kalian jadikan pernikahan sebagai tempat pelarian masalah kalian. Kenapa harus Elis? Kenapa nggak setuju aja menikah dengan Ariqah?”
“Khafi nggak ingin diremehkan teh, Ariqah itu terlalu sempurna buat Khafi. Dan Khafi tau Khafi nggak akan pernah bisa mencintainya, Khafi nggak akan pernah bisa membahagiakan Ariqah.” Sebuah pengakuan sederhana Khafi akan isi hatinya, mampu meluluhkan hati Amel.
Elisabeth menatap Khafi iba. Jadi karena itu? Padahal dia tidak jelek, dia memiliki background keluarga yang baik, dia juga berpendidikan. Kenapa dia tak ingin menikahi Ariqah. Dan dia memilihku, karena aku tak sempurna?
“Jika kamu menikahi Elis hal yang sama juga akan berlaku dek, kamu nggak akan pernah mencintainya dan sudah pasti kamu nggak bisa membuat Elis bahagia,” ujar Amel.
Saodah terdiam mendengar ucapan putrinya yang kesemuanya adalah benar. Dengan siapa pun Khafi menikah, dia tetap seorang Khafi yang mempunyai penyakit Anhedonia. Penyakit yang membuat Khafi tak bisa merasakan antara perasaan senang, cinta dan semangat.
“Maaf Elis, aku tidak bermaksud membawamu ke dalam masalahku,” ujar Khafi tulus.
“Sudah nak, nggak usah dipikirkan. Sekarang kita tunggu keputusan abi. Bibi yakin abi tak akan memaksa mu menikahi Ariqah. Dan Elis nggak perlu di bawa bawa dalam hal ini,” ujar Saodah.
“Elis bersedia menikah dengannya.” Suara Elis pelan, kepalanya tertunduk. Dalam benaknya tiba tiba ingin menikah dengan pria di sampingnya itu. Jika pria itu tidak mencintai nya sedikitpun maka tidak mengapa, toh Elis merasa dirinya tak akan pernah bisa mencintai pria manapun didunia ini selain Darian. Maka mereka impas.
“What?” ucap Amel dengan mata melotot. “Apa kalian sedang main main? Kalian tidak memikirkan hal lain selain diri kalian sendiri? Elis kamu seorang kristen. Bagaimana dengan keluarga mu? Mereka pasti nggak setuju.”
Elis menatap wajah Khafi yang kebingungan sembari menggaruk kepalanya.
“Sekarang kita tenangkan pikiran dulu, Elis kembalilah dulu ke asrama. Dan Khafi ambil wudhu, sebentar lagi maghrib. Saat pikiran kalian jernih baru kita bahas kembali hal ini,” ucap Saodah lembut.
“Elis permisi duluan, Assalamualaikum.” Elis pun pergi dari ruangan itu.
“Kamu yakin akan menikahi Elis?” tanya Amel penasaran sepeninggal Elis dari situ.
“Jika Elis nggak keberatan. Toh Khafi tetep harus menikah. Yang pastinya tidak dengan Ariqah!” Khafi pun meninggalkan ruangan itu menuju ke kamarnya.
“Huufffttt.” Amel menarik nafas dan membuangnya kasar. “Aku kasihan dengan mereka berdua. Mereka seperti sedang menghukum diri mereka masing masing,” ujar Amel.
“Kamu berikan pengertian pada Elis, biar mama yang bicara lagi denga Khafi. Jika tekat mereka memang sudah bulat, ya mama hanya bisa membantu mereka dalam doa. Semoga Allah melancarkan segalanya.”
“Iya ma, kalau gitu Amel balik dulu. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Saodah masih berdiri diruangan itu. Usai solat maghrib, Saodah masih harus menyiapkan makanan untuk para tamu kakaknya yang sebentar lagi akan tiba.
....
“Elis?” Suara Amel besar mencari cari di seluruh ruangan.
“Teh?” Panggil Elis.
“Ngapain kamu disitu?” tanya Amel.
“Elis lagi ganti lampu lah teh. Nggak mungkin kan Elis menggantung disini gada sebab,” sahut Elis yang tengah sibuk memasang bohlam pada fitting lampu.
“Panggil mang Urip lah, nanti kamu jatuh,” ujar Amel bergegas menahan kursi pijakan Elis agar tak jatuh.
“Elis sudah biasa teh, sejak kecil Elis sudah biasa hidup mandiri,” ucap Elis yang berhasil turun setelah melompat dari atas kursi plastik yang telah ditumpuk menjadi 8 susun.
“Mana anak anak yang lain? Kok gak ada yang bantuin kamu?” tanya Amel.
“Solat magrib, teteh kenapa nggak solat?” Elis kembali memindahkan kursi satu persatu ke tempat semula.
Anak ini, jika saja dia beragama Islam. Aku pasti akan mendukung 100% hubungannya dengan adik sepupuku. Dia rajin, sopan, baik hati dan cantik. Dia wanita yang paling cocok buat si manja Khafi.
Amel membatin sembari mulai membantu Elisabeth memindahkan kursi satu persatu ke tempat semula.
“Teteh lagi halangan. Oh ya, mama menyuruh teteh bicara dengan kamu.” Wajah Amel sedikit datar.
“Pasti masalah yang tadi,” tebak Elis.
“Yuk, kita ke kamar teteh,” ajak Amel.
Elis mengukuti Amelia menuju kamarnya yang berada dilantai dasar.
“Kamar teh Amel sekecil ini? Hanya ada sebuah ranjang dan lemari kecil,” ucap Elis begitu memasuki kamar sempit berukuran 3x3 meter.
“Teteh nggak butuh barang banyak, toh rumah teteh nggak jauh dari sini. Hanya butuh lima menit berkendara. Jadi jika teteh butuh sesuatu teteh akan pulang mengambilnya.”
“Hmmm pantesan.” Elis mengambil tempat duduk satu satunya yang diruangan itu. Sebuah kursi plastik berwarna hijau.
“Elis serius bersedia menikahi Khafi?” tanya Amel memulai pembicaraan dan dijawab anggukan kepala oleh Elis.
“Elis menyukai Khafi? Naksir, tertarik atau semacamnya?” lanjut tanya Amel.
Elis menggeleng. “Apa harus punya dasar seperti itu baru seseorang bisa menikah. Khafi butuh teman hidup begitu juga Elis. Jika tujuan kami sama kenapa nggak?” ujar Elis.
“Ya betul. Teteh ingin memberitahu ini agar bisa Elis pertimbangkan lagi rencana Elis ini. Suatu hari, entah itu sebulan atau setahun setelah kalian menikah, kemudian mulai tumbuh rasa cinta dihati Elis. Dan Elis mulai membutuhkan balasan perasaan cinta dari Khafi tapi Elis tak bisa mendapatkannya. Apa Elis akan kecewa?” tanya Amel hati hati.
Lagi lagi Elis menggelengkan kepalanya.
“Elis nggak butuh cinta. Sepertinya Elis juga hanya butuh teman. Elis nggak ingin mencintai atau dicintai lagi!” sahut Elis datar dan menjawab tanpa berpikir terlebih dahulu.
Amel menggaruk kepalanya bingung entah harus bilang apa lagi.
Ini dua anak apa penyakitnya sama ya? Mereka nggak butuh cinta. Nggak perlu cinta, yang penting menikah. Aku harus jelaskan seperti apa agar Elis paham.
“Oh ya, bagaimana dengan ayah Elis. Apa dia akan setuju?” tanya Amel.
Elis mengangguk. “Bisa jadi papa nggak akan peduli. Hidup Elis tidak pernah menjadi urusannya, pasti papa nggak akan protes.”
Malahan papa semakin senang jika Elis menikah semakin jauh. Seperti pria Papua yang pernah papa kenalkan ke Elis, niat papa agar Elis tinggal di Papua. Elis di ujung timur Indonesia dan papa di ujung barat Indonesia. Nggak pernah bertemu selamanya.
“Elis, sebenarnya Khafi mengidap Unhedonia. Ketidakmampuan untuk merasa senang dalam suatu kegiatan yang biasanya dianggap menyenangkan. Termasuk senang dan bahagia dalam berumah tangga, berpacaran, dan lain lain. Teteh harap Elis bisa memaklumi keadaan Khafi saat dia sudah menjadi suami kamu nanti,” jelas Amel.
“Apa itu sebuah penyakit?” tanya Elis.
“Ya. Penyakit traumatik, sejak kematian umi, Khafi menjadi seperti itu. Teteh nggak ingin kamu hidup nggak bahagia karena sikap Khafi. Saat dia mulai merasa gembira dan bahagia dia akan mulai depresi. Alam bawah sadarnya menolak segala bentuk kebahagiaan dalam hatinya,” jelas Amel.
Apa ada penyakit seperti itu? Terdengar seperti penyakit penyakit yang ada dalam drama Korea. Tapi live must go on. Hidup harus terus berjalan walaupun tanpa cinta. Tak ada cinta bukan berarti tak bahagia. Ya aku juga nggak butuh kebahagiaan, aku hanya perlu bertahan hidup dan menjauh dari bayang bayang Darian seumur hidupku.
“Elis mengerti,” jawab Elis singkat setelah berpikir cukup lama.
“Apa yang kamu mengerti?” tanya Amel heran.
“Kami hanya harus hidup tak berbahagia. Itu kan maksud teteh.”
Amel hanya bisa manyun menatap bingung sekaligus dongkol akan tanggapan Elis saat itu. Entahlah Elis mungkin menderita penyakit yang sama dengan Khafi. Keduanya memang tak punya perasaan.
“Jika keputusan kalian seperti itu ya teteh hanya bisa berharap semoga kalian akur hingga tua nanti.” Amel berdiri bangkit dari posisi duduknya. “Baiklah, teteh memutuskan mulai saat ini teteh Amel akan mendukung hubungan kalian,” ucap Amel penuh semangat.
Melihat wajah Amel yang penuh antusias, entah lah Elis harus berterimakasih atau bahagia menanggapinya.
“Oh ya, teteh akan ke rumah Syekh membantu ibu. Mungkin kedua orang tua Ariqah sudah tiba. Yuk?”
*Next **🔜*
g ky khafi...
bkn nya g boleh y mengucapkan salam kpd non muslim 🙏
klo hanya dr pakaian kan,blm bs mnntukan seseorang itu muslim atau tidak🙏
pi bngung cz da yg menyangkut agama, dri awal dgreja trus da rang azan n dia nyebut allah, agama si cewek sbnernya apa?
saran j.. jka begronny brat y brat n pergaulan bbasny j jngn bwa2 agama🙏🙏🙏
saya baca sambil belajar logat batak lho kak😁😁