"Aku bukan dalang dari kematian orang tuamu"
Diasuh oleh kedua orang tua orang lain sejak kecil karena kematian orang tuanya, namun anak dari orang tua asuhnya mencintainya sehingga mereka menjadi sepasang kekasih, hubungannya mereka sempurna karena mendapatkan restu dari orang tuanya.
Namun, hal buruk menimpa keluarganya, tiba-tiba seseorang datang ke rumahnya dan membunuh kedua orang tuanya, dan mengatakan kalau ini adalah Siska, salah satu anak angkatnya.
Hal ini membuat Devan (anak kandungnya +kekasih Siska sendiri) menjadi membencinya, sudah berulang kali Siska katakan bulan dia pelakunya namun Devan tak pernah percaya.
Penuh misteri, apakah kebenarannya akan terungkap, siapakah pembunuh yang sebenarnya?
Akankah Devan terlambat?
Mampukah Siska tetap bertahan di sisi Devan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naaaaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Maumu?
Sementara itu di dalam kamar Devan............
"siapa yang menyuruh mu tidur bersama ku?" tanya Devan sambil membentak perempuan itu.
"kenapa Dev?"
"apa itu salah?"
"dan siapa perempuan itu?"
tanya perempuan itu yang juga heran dengan kehadiran Siska.
"Bukan siapa-siapa , jangan bahas itu lagi!"
"jadi,apa kau marah?"
"kemarin kau yang menyuruh ku datang untuk menemani mu"
"aku lupa!"
"diamlah dan ingat jangan pernah tidur bersama ku lagi!" kata Devan lalu beranjak ke kamar mandi.
Sementara itu diluar.........
Siska menangis,kini dia benar-benar yakin kalau Devan sudah membencinya.
"Sungguh aku masih mencintaimu Dev"
"aku mohon mengerti lah dan kembali lagi padaku" kata Siska dalam hati.
Bibi dan Anton datang, betapa terkejutnya mereka melihat Siska berada di depan pintu kamar Devan dengan menangis.
Sudah dapat di duga Siska sudah mengetahuinya,namun belum sempat bibi menghampiri Siska Devan sudah keluar dari kamarnya.
"apa maumu ha?" tanya Devan
Siska melihat Devan dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"aku minta maaf, aku tidak mau apapun" kata Siska sambil tersenyum walaupun hatinya benar-benar sakit tapi dia sadar Devan tak mungkin kembali padanya.
dia sudah benar-benar marah pada Siska,kesalah pahaman ini kini menjadi jarak bagi Siska dan Devan.
Devan yang hanya menduga-duga saja bahwa semua yang kini terjadi karena ulah Siska, sekarang sudah ia anggap sebagai sebuah fakta.
Begitu juga Siska yang tau dirinya tidak bersalah sama sekali tapi tidak dapat menjelaskannya.
"minggir lah dari sini!" kata Devan membentak
"dan satu lagi cari sendiri pekerjaan,aku tak mau menanggung semua biaya hidup mu itu!"
"kau dipecat dari kantor ku" kata Devan memberitahu Siska.
"baiklah Dev tapi aku mohon maafkan aku"
"jangan panggil namaku!"
"aku tuanmu mulai hari ini!"
"dan apa tadi kau bilang?,maaf?" kata Devan sambil menjambak rambut Siska.
"akh.....sakit Dev"
"ku mohon lepaskan"
"dengar aku baik-baik…!"
"aku akan memaafkan mu jika kamu bisa mengembangkan ke dua orang tuaku!"
"DENGAR ITU!"
"DAN UNTUK SEMUA ORANG DISINI"
"JANGAN ADA YANG MEMBANTU PEREMPUAN INI ATAU JIKA ITU TERJADI AKU AKAN MEMBUNUH PEREMPUAN INI!"
"DAN JANGAN PERNAH BIARKAN PEREMPUAN INI MEMAKAI FASILITAS KU DAN JANGAN BIARKAN DIA MENYENTUH APAPUN YANG ADA DI RUMAH INI!" Devan berteriak menginginkan penghuni rumah.
suaranya terdengar keras dan nyaring, satu rumah hanya terdengar suara Devan saja seorang.
bibi dan Anton yang mendengar nya mengurungkan niatnya untuk menghampiri Siska . mereka tidak ingin gara-gara mereka Siska akan semakin menderita karena ulah tuan mudanya.
"dan kau!"
"jangan pernah mengganggu wanita ku!" setelah itu Devan melepaskan tangannya dari rambut Siska lalu pergi menuju ruang makan.
"semuanya kembali bekerja!" perintah Devan
Siska yang sedari tadi diam sambil mendengarkan perkataan Devan dan rasa sakit di hatinya ketika mendengar kata 'wanita ku' dari mulut Devan kini beranjak pergi sambil menahan tangisnya.
Siska kembali ke kamarnya,entah senyenyak apa tidurnya kemarin hingga bisa membiarkan tuhan menghancurkan paginya ini.
Di kamar Siska menenangkan dirinya,dia masuk ke dalam kamar mandi untuk bersiap-siap mencari pekerjaan baru.
Seperti yang sudah dia tau kini semuanya bahkan hidupnya kini hanya tergantung pada dirinya sendiri.
Dia hanya berharap suatu hari nanti Devan mendapatkan kebenaran dan itu waktu yang belum terlambat utuk memulai kebersamaan dari awal lagi.