kehidupan umi berubah setelah dia di tinggal neneknya, satu persatu orang yang dekat dengan nya pun mulai meninggal kan nya,
umi bertahan hidup dengan bekerja serabutan, demi menyelesaikan sekolah nya, dan cita citanya untuk segera berkumpul lagi dengan adik tercinta, sedangkan ibunya tidak perduli dengan keadaan umi dan adiknya semenjak kehilangan ayahnya ibu umi telah menikah lagi. dan suaminya yang baru tidak menginginkan umi dan adiknya,
di sekolah umi termasuk siswa berprestasi, ia mempunyai seorang sahabat baik , namun saat umi baru merasakan cinta pertamanya pada seorang cowok yang pernah membantunya, umi pun terpaksa harus mengalah demi persahabatanbnya, karena ternyata sahabatnya juga menyukai pria yang sama
bagaimana dengan keseharian umi, mampukah umi menyelesaikan sekolah dan berkumpul lagi bersama adik tercinta , lalu bagaimana dengan cinta pertama umi
***
cerita ini aku buat tentang kisah percintaan anak di era tahun 2000 an , di mana saat itu tidak ada sosial media , dan ini cerita pertama ku , masih berantakan dan aku berharap kritikan dan saran dari pembaca yang baik hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfirzik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
umi pingsan
pagi itu umi berniat untuk pergi ke SMK favorit, ia ingin mendaftar menjadi siswa di sana. tapi baru saja dia menutup pintu, langkah kakinya di hentikan oleh panggilan kakek dari dalam rumah
" umi... kau mau kemana ? " tanya kakek
" umi mau ke sekolah kek, mau mendaftar " jawab umi..
" o, kau boleh pergi . tapi tinggal kan dulu cicin yang kau ambil dari koper ku . " kata kakek
umi kaget dan mengerut kan kening nya,
" maksud kakek cincin yang mana "
" jangan pura pura bodoh umi cepat kembalikan cincin itu sekarang , rupanya sejak di tinggal nenek mu, kau menjadi pencuri ya . " kakek menuduh umi
" tapi kek,... umi tidak tau tentang cincin kakek itu, dan umi tidak mencuri ," tegas umi
" rupanya kau tidak bisa di ajar secara baik baik ya, kalau begitu baiklah "..
kakek membuka ikat pinggang nya, dan menarik tangan umi ke dalam rumah, dan kakek langsung mengayun kan ikat pinggang ya ke umi, ..
" ampun kek, umi tidak mencuri.. umi tidak tau tentang cincin itu . " umi memohon, namun emosi kakek sudah memuncak , cincin kesayangan nya peninggalan almarhumah nenek hilang dari koper nya, kakek memukul umi tanpa ampun, banyak luka di kaki dan tangan umi bekas ikat pinggang , kakek menghentikan pukulan nya, setelah dia melihat umi tak berdaya . kemudian kakek pergi meninggalkan umi sendiri .
mizi pulang untuk makan siang, tapi ia di kejutkan dengan pemandangan mengerikan umi terbaring pingsan di ruang tamu, dengan banyak luka bekas pukulan, mi panik dan memanggil umi,
" umi..., umi bangun dek, apa yang terjadi padamu, dan.. siapa yang tega melakukan ini padamu, "
tolong.... mizi berteriak memanggil tetangga nya, hingga teriakan nya terdengar ke rumah nenek zar ,
" aku seperti mendengar suara minta tolong.. ,
apa aku salah dengar ya,.."
"tolong..... , tolong adek ku pingsan.., suara itu terdengar lagi.."
" ya Allah, itu suara mizi ada apa dengan nya,.."
nenek berlari ke arah suara itu dan dia kaget saat melihat umi memeluk tubuh kecil umi yang penuh luka.
" zi, ada apa dengan umi, apa yang terjadi padanya. " tanya nenek zar
" mizi juga gak tau nek, pas pulang mizi sudah melihat umi begini, " kata bang mizi
" ambil minyak angin di rumah , kau minta sama om budi, dan sekalian kau suruh om bidi ke sini, " kata nenek . mizi pun segera berlari ke rumah nenek zar meminta minyak angin dan memanggil om budi
" ada apa mak, memanggil ku, .. " kata om budi
tapi belum sempat nenek menjawab om budi pun berteriak kaget, Astaufirullah , aada apa dengan nya bu, .."
" kita harus membawanya ke rumah sakit tubuh nya banyak luka, aku akan mengambil motor dulu " kata om budi
nenek mengusapkan minyak angin di hidung umi ,
" zi coba kau ambil air minum buat adik mu," kata nek zar
Umi akhirnya membuka matanya nya, sesaat dia bingung, " kenapa ada nenek dan bang mizi , ada apa ? . kata hati umi
umi menggerakkan tubuhnya, dan.. " ah... sakit " umi merintih sakit dan menyadari banyak luka di tubuhnya . ia mulai mendapat kan kesadaran nya kembali.
" mi.., apa yang terjadi , siapa yang tega memukulmu seperti ini. " tanya nenek
" umi...," umi terdiam ia mengingat kejadian tadi, tak tau apa yang terjadi tiba tiba kakek menuduh nya mencuri dan memukul nya tanpa ampun, umi menangis histeris di pangkuan nenek zar .
" nek.. umi tidak mencuri nek.. hik hik hik.. umi tidak mencuri, dan umi tidak akan pernah mencuri nek,.. percaya lah sama umi nek...," tangis umi pilu
"umi.., minum lah dulu, .." pinta nenek
umi meminum air putih dari tangan nenek, kemudian umi mulai terasa tenang ,
" sekarang , coba kau jelaskan apa yang terjadi, dan siapa yang memukul mu . "
umi menatap nenek dan, mulai menceritakan semua yang di alaminya sambil sesekali umi terisak..
" dasar orang tua gila.." guman nenek tapi masih di dengar oleh umi dan mizi, " aku yakin cincin itu sudah di ambil oleh istri mudanya, dan kau di jadikan kambing hitam, atau .. jangan jangan dia sendiri yang telah memberikan nya pada istri muda nya itu, dan menuduh kau mencurinya, karena dia malu pada etek mu, dan tidak punya alasan untuk menjelaskan pada etek mu, tapi... tunggu dulu, kenapa cincin itu ada pada kakek mu, bukan nya cincin itu seharusnya ada pada enin, " kata nenek zar penuh tanda tanya
om budi sudah berdiri di depan pintu , dia mendengarkan cerita umi .dan dia seperti teringat sesuatu ....
" tunggu dulu, sejak kapan kakek kalian kembli ke rumah ini , ".. tanya om budi
" dari kemaren om, .."
" apa kemaren sore ?..." tanya nya dengan nada menyelidik
" pagi menjelang siang om,..sekitar jam 10 an, " kata umi lagi .
" itu berarti sore kemaren kakek mu ada di rumah sekita jam 3 sore" tanya om budi
" umi tidak begitu yakin om solanya kemaren sore umi ke rumah etek ita, memang nya kenapa om, " tanya umi
" begini, ..kemaren sore om lihat anak tiri kakek mu itu, keluar dari rumah ini, dari gelagat nya om curiga dia melakukan sesuatu, atau jangan jangan dia yang mencuri cincin itu
om budi pun menceritakan apa yang di lihat nya ke maren sore
***
om budi hendak ke rumah ibunya tapi dia mampir dulu di warung yang tidak begitu jauh dari rumah nenek umi. tiba tiba dia melihat yono keluar dari rumah sambil melihat ke kiri dan ke kanan dan dia tersenyum . senyum yang sedikit aneh menurut om budi, seperti nya dia sangat senang
" yon,... yono..., om budi memanggil yono, . "
"hah.. eh.. iya bang, kata yono sedikit gugup takut ketahuan oleh om budi, ada apa bang ? om yono berusaha menyembunyikan rasa gugup nya, .
" sedang apa aku di sana." ? kata om budi
" ohh itu , aku mencari ayah bang, tapi beliau tidak ada jadi aku mau pulang saja. " kata yono berusaha tenang
" oh.. memang nya ada apa kau mencari pak tuo, ( panggilan om budi ke kakek ) "
" oh.. itu bang , ayah sedang ngambek sama ibu, jadi ibu menyuruh ku menjemput nya, maklum lah bang kadang orang tua suka seperti anak anak, ribut sedikit ngambek " kata yono lagi
" ya sudah bang aku pulang dulu yah, nanti takut ibu kelamaan nunggu " kata yono
"ya sudah, kalau begitu ." om budi pun melanjutkan ke rumah nenek zar, sedangkan yono berusaha berjalan secepat mungkin meninggalkan rumah nenek
****
umi , mizi dan nenek zar mendengarkan cerita om budi dengan serius,
" apa mungkin dia yang mencurinya om, " kata mizi
" om tidak berani menuduh tapi.., kalau om lihat gelagat nya waktu itu, dan kejadian kejadian hari ini nya, om curiga sama dia . "
" tapi.. kenapa kakek bisa menuduh umi..? . kata om budi
" mungkin kakek mu panik cincin itu hilang, dan waktu itu hanya ada umi di rumah, dan bisa jadi kakek baru sadar kalau cincin itu hilang, " kata nenek zar,
" ya sudah sekarang sebaiknya kau anter dulu umi berobat bud, takutnya nanti luka luka ini nanti jadi infeksi, " kata nenek zar
" tidak usah nek, umi baik baik saja, " jawab umi
" tapi luka luka di tubuh mu ini , sangat parah umi, menurut lah sama nenek "
" umi tidak apa apa nek, nanti umi akan kompres pakai air hangat dan umi kasih obat merah, pasti besok akan. membaik " umi berusaha meyakinkan nenek. " umi tidak ingin merepotkan nenek dan bang mizi, berobat pasti akan memakan uang yang banyak, jadi lebih baik umi menahan rasa sakitnya,
" baiklah, kalau begitu . " kata neneek lagi, di dalam hatinya nenek sangat khawatir sama umi . tapi nenek juga tidak bisa membantu banyak
umi berusaha bangun dari duduknya,.. ia ingin memanaskan air untuk mengompres lukanya tapi, dia kembali merasakan nyeri di seluruh tubuhnya, hik...hik...hik.. umi menangis menahan rasa sakit nya, ..
" kenapa nasib umi dan ica jadi seperti ini nek, umi memeluk nenek zar, .."
" bersabar lah mi, kau harus ingat semua ini sudah jalan dari yang maha kuasa, kau harus kuat, suatu saat nanti Allah akan membalas kesabaran mu, dengan hadiah yang sangat indah.." nenek berusaha menenangkan umi lagi.
" umi rasanya sudah tidak kuat lagi nek, semenjak nenek umi meninggal hidup kami sangat menderita, ica tinggal dengan tante dan di jadikan pembantu , dan tempat dia melampiaskan emosinya, .. umi gak sanggup saat melihat luka lebam di tubuh ica nek, umi sudah meminta mak dang agar ica ikut dengan umi, tapi mak dang tidak mengizinkan nya, hik.. hik.. hik.." kenapa semua ini terjadi nek, sangat tidak adil nek..
nenek zar kaget mendengar cerita umi, ia menatap umi, dan bertanya " apa maksud mu, ada apa dengan ica..dan luka apa yang kau katakan tadi..?" nenek zar mencerca umi dengan pertanyaan
umi menatap mizi, seakan meminta persetujuan mizi, dan mizi mengangguk kan kepalanya memberi kode ke umi, umi pun menceritakan tentang kepergian mereka ke rumah tante, dan tentang luka luka di tubuh ica, dan umi juga menceritakan tentang makdang yang tidak percaya pada mizi dan umi .
nenek zar diam tak bergeming, cairan bening keluar dari kedua pelupuk mata tuanya, di tatap nya umi iba, dia tidak tau harus berbuat apa,
dan beberapa menit kemudian,
" mizi kau harus mengirimkan surat pada teknin mu, kau harus menceritakan semua nya, dia harus kembali . dia harus menjaga kalian di sini . kata nenek pada bang mizi
" tidak nek, mizi tidak ingin teknin tau , kasian tek nin nek, dia pasti akan kepikiran dan memutuskan untuk kembali . mizi tidak mau teknin nanti bertengkar dengan suaminya gara gara ini nek, mizi akan mencari cara untuk membawa ica kembali tapi tidak dengan merepotkan teknin, " jawab mizi
" yah.. kau memang benar, nin sudah ada kehidupan nya sendiri dan seharusnya umi dan ica adalah tanggung jawab wati, tapi...." nenek nin menggantung kata katanya, lalu menatap umi dan mizi bergantian
" yah.. nenek baru ingat , kenapa kau tidak menelpon wati saja , dia pasti akan pulang jika mendengar kalian menderita begini, atau. kau bisa pindah ke kota J . dan bersekolah di sana." kata nenek zar
umi hanya diam, dia tak ingin membahas tentang ibunya, wanita yang telah melupakan nya dan adiknya, dia sangat membenci wanita itu.
" umi bisa menjaga diri umi dan ica nek,umi tidak perlu wanita itu," kata umi datar
" umi.. kau tidak bisa keras kepala seperti ini, kalian butuh orang dewasa yang menjaga kalian, dan itu adalah tanggung jawab ibu kalian, kau tidak tau apa yang terjadi pada ibumu, dan kau juga belum tau apa alasan nya untuk tidak pernah mengunjungi kalian,..
sebaiknya kau memaafkan nya, . dan cobalah untuk meneriman,ya nak," nasehat nenek zar ,
umi tidak bergeming walau dia sangat membenci ibunya, tapi jauh di lubuk hatinya dia sangat merindukan nya,di ingin sekali memeluk ibunya dan melepaskan kerinduan nya, tapi rasa bencinya pada ibunya telah menutupi semua itu, apa lagi umi mendengar cerita dari orang orang ibunya tidak mengakui keberadaan umi dan ica pada ayah tirinya. itu membuat rasa benci umi bertambah pada ibunya .
" dengar nak, tidak ada orang tua yang akan dengan sengaja menelantarkan anak nya, ibumu pasti punya alasan untuk itu, pikirkan lah ica, baiklah nenek pulang dulu, jangan lupa kompres luka mu, dan pakaikan obat merah, jika kakek mu pulang nanti nenek akan kesini lagi, dan jangan lupa pikirkan lagi kata kata nenek tadi . " nenek zar pun mengajak om budi meninggal kan umi, ia sengaja memberikan ruang untuk umi berfikir jernih
" mi, kau tidak apa kan kalau abng tinggal , abang harus kembali bekerja . kata bang mizi
" ia bang umi gak apa apa kata umi , " dan mizi pun pergi ke tempat kerjanya kembali .
****
umi tidak bisa tidur dengan nyenyak rasa sakit di seluruh tubuhnya sangat menyiksanya, belum lagi kata kata nenek zar yang selaku terngiang di telinganya, ..
" yah, nenek benar aku harus menahan egoku, setidaknya ica akan lebih baik kalau bersama ibu, ia tidak akan menderita lagi, tapi...bagai mana dengan suaminya, apa dia bisa menerima ica,.. ah . tidak , bagaimana kalau dia membenci ica dan menganiaya ica,.. ohhhh , aku benar benar bingung, apa yang harus hamba lakukan ya Allah " batin umi
****
apa yang akan di lakukan umi untuk menyelamat kan hidupnya dan ica, akan kah umi menemui ibu kandung nya,
tinggal kan kritik dan saran di kolam komntar ya sahabat,