Betty Thompson, merupakan murid baru di Richlands High School. Ia pindah ke Virginia setelah sebelumnya tinggal di California. Betty terbiasa berpindah-pindah tempat tinggal bersama ibunya.
Betty memiliki kepribadian tertutup, tidak banyak bicara dan menolak terlibat dengan banyak orang.
Di Virginia, Betty bertemu dengan orang-orang tak terduga yang perlahan memasuki hatinya.
Menceritakan romansa diantara Betty Thompson dan Daniel McKnight. Daniel merupakan cowok paling hot di sekolah. Entah sejak kapan ia mulai menyukai Betty , tetangga barunya.
Juga menceritakan lingkaran pertemanan baru Betty dengan Inez Robinson, Laura Roberts, Alicia Brook dan Jared James.
...
"Aku bisa mengurus diriku sendiri." —Betty Thompson.
".... Kau harus berhenti bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja, Beth ...." —Daniel McKnight.
Note: Semoga kalian semua suka dengan ceritanya 😊☺. Terima kasih semua yang sudah mau membaca cerita ini 😊😘
This story inspired from Betty by Taylor Swift.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sin Cera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14: Snickerdoodle Cookies
Betty berbaring di atas kasurnya. Ini hal bagus. Karena ia di skors, ia bisa menghabiskan hari ini untuk beristirahat. Perjalanan enam jam, dari Carolina selatan ke Virginia cukup menguras tenaganya.
Ibunya sudah pergi berkerja sejak tadi pagi. Ini sebenarnya merupakan hal yang canggung untuknya. Dimana ia harus menganggur di hari senin tanpa pergi ke sekolah. Meskipun bukan termasuk jajaran murid pintar di kelas, Betty juga bukan murid yang bodoh dan pemalas. Ia juga belum pernah membolos seumur hidupnya.
Betty berpikir untuk melakukan suatu kegiatan hari ini, untuk membunuh waktu. Apapun itu.
"Sudahlah, aku tidur saja," batinya. Bukankah tidur juga merupakan suatu kegiatan?
....
Betty bangun di siang hari. Ia pergi ke dapur untuk mengambil segelas air, karena tenggorokkannya yang kering. Sudut matanya menangkap cinnamon sugar (gula kayu manis) kemudian, tercetus ide di benaknya.
"Baiklah, aku akan memanggang cookies saja," Betty bergumam dalam hati.
Beberapa jam kemudian. Dua toples snickerdoodles cookies sudah berjejer rapi di atas mejanya. "Apa yang harus kulakukan dengan cookies sebanyak ini?" gumamnya dalam hati.
....
Hari sudah sore, saat Betty memutuskan untuk berlari. Ia mengganti baju kaosnya dengan tank top dan celana olahraga. Sebelum memulai larinya, ia menatap rumah keluarga McKnight di hadapannya.
"Apa aku perlu memberikan cookies-cookies tadi kepada mereka?" batin Betty.
Betty menggelengkan kepalanya pelan. "Kurasa tidak perlu." Betty segera berlari menelusuri rute seperti biasa.
"Berikan saja. Atau tidak?" gumam Betty pelan sambil berlari.
"Kurasa tidak perlu," katanya sambil mengangguk. "Tapi, kita tetangga. Wajar saja bukan jika saling memberi," imbuhnya, masih bergumam untuk dirinya sendiri.
Betty masih terus berlari sambil berpikir tentang cookies-cookiesnya. "Apa kuberikan saja, ya?"
"Apa yang ingin kau berikan?" terdengar suara cowok yang tak asing di telinganya.
Betty terhenyak kaget, dan dengan refleks memutar tubuhnya cepat. Hal tersebut membuatnya tersandung kakinya sendiri, dan hampir terjatuh. Untungnya, Daniel memegang tangannya hingga membuat mereka berdiri berhadapan dengan posisi sangat dekat.
Betty terdiam dalam dua detik yang panjang. Ia hendak melangkahkan kakinya mundur, untuk menjauhi Daniel, ketika Daniel memajukan wajahnya mendekat ke arah Betty.
Tubuh Betty membeku. Jantungnya bergemuruh. Ia melirik Daniel dari balik bulu matanya. Semakin dekat wajah Daniel, semakin kencang juga jantungnya berdegub.
"Sebenarnya, apa yang orang ini ingin lakukan kepadaku?" batin Betty yang masih tak sanggup menahan laju detak jantungnya.
Betty hampir memejamkan matanya saat wajah Daniel melewati wajahnya. Sekarang, wajah Daniel berada tepat di samping kepalanya.
Secepat Daniel mendekatkan wajahnya, secepat itu pula Daniel menjauhkan wajahnya dari Betty. "Kau memanggang kue?" Daniel melangkah mundur, sementara Betty membuang ke samping, wajahnya yang sekarang sudah memerah. Jantungnya masih tak beraturan.
"Ya ... aku ... cookies," jawab Betty tak jelas. "Apasih, yang kau katakan, Beth!" rutuk Betty dalam hati sambil memejamkan matanya sejenak.
Daniel menggangukkan kepalanya mengerti, walau ucapan Betty tak beraturan. "Oh, kau membuat cookies, lagi? Apa kau akan memberikannya kepadaku lagi?"
"Ya .... Tidak," jawab Betty.
Daniel mengangkat alisnya. "Jadi, ya atau tidak?" tanyanya.
Betty berpikir sejenak.
Daniel terkekeh kecil. "Hei, aku tidak berusaha merampokmu. Jika kau tidak—"
"Aku akan memberikannya," Betty memotong ucapan Daniel.
Daniel tersenyum lebar. "Aku akan senang kalau begitu."
....
Daniel melirik Betty yang berjalan dalam diam."Apa aku harus mengatakannya sekarang?" pikir Daniel sambil berjalan di samping Betty. Mereka sedang berjalan menuju jalan pulang. Daniel sedang mempertimbangkan untuk memperingatkan Betty agar menjauh dari teman-temannya. Karena, ia takut teman-temannya benar-benar akan melaksanakan taruhan tersebut.
"Apa?" Betty tiba-tiba menoleh ke arah Daniel yang sedang memperhatikannya.
Daniel mengalihkan pandangannya, cepat. "Tidak ada."
Betty hanya menganggukkan kepalanya.
"Tunggulah disini, aku akan membawakan cookiesnya," kata Betty, saat mereka sampai di jalanan depan rumah mereka.
Daniel bertanya ragu, " em ... bisakah aku ikut masuk denganmu? Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu."
Betty mengerutkan keningnya samar. "Apa yang ingin kau bicarakan?"
Daniel menggosok tengkuknya, lalu pandangannya lurus menatap ke arah Betty. "Aku tidak bisa mengatakannya disini," kata Daniel lalu mengedarkan pandangannya ke sekitar, seolah-olah memberi tau Betty bahwa hal ini tak bisa dibicarakan di tempat umum.
Betty berpikir sejenak. "Apakah sepenting itu?" tanyanya kepada Daniel yang hanya menganggukkan kepalanya.
"Baiklah," kata Betty.
....
Daniel duduk di kursi depan pantry, sementara Betty sibuk mengambil setoples cookies yang ia buat.
"Mau minum?" tanya Betty sambil meletakkan setoples penuh cookies di hadapan Daniel.
Daniel menganggukkan kepalanya sambil membuka toples di hadapannya dengan antusias. "Ya, jika tidak keberatan. Air mineral saja, ngomong-ngomong."
Daniel mengamati cookies yang terjepit di antara ibu jari dan jari telunjuknya. "Aku baru melihat cookies seperti ini," katanya, lalu memasukkan potongan kecil cookies ke mulutnya.
"Seriously, Daniel?"
Daniel menaikkan satu alisnya, dengan tatapan bertanya. "Ada apa?"
"Kau belum pernah melihat snickerdoodle?" tanya Betty heran.
"Ya. Apa itu suatu hal yang aneh?" Daniel balas bertanya, heran.
"Tentu saja! Kau tinggal di USA (United State of America) tetapi tidak pernah memakannya." Betty meletakkan segelas air mineral di hadapan Daniel. "Hanya sekedar informasi untukmu. Cookies ini sangat populer di sini," imbuh Betty.
Daniel mengangkat bahunya acuh. "Mungkin karena aku baru tinggal di sini selama setahun. Jadi, wajar saja jika aku tidak tau." Daniel memasukkan potongan terakhir cookies di tangannya, ke mulutnya. "Ngomong-ngomong, kau menggunakan cinnamon sugar ?" tanya Daniel, lalu menegak air mineral di hadapannya.
Betty menganggukkan kepalanya. "Lupakan tentang cookies. Jadi, apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Betty sambil menyandarkan sebagian tubuhnya di pantry.
"Ah, itu ...," Daniel nampak berpikir sejenak. "Apa kau mengenal Lucas dari tim Football ?"
"Tidak," jawab Betty singkat.
"Jangkung. Berkulit pucat. Rambut pirang kecoklatan," Daniel menjelaskan ciri-ciri Lucas.
"Tidak. Apa aku harus mengenalnya?" tanya Betty.
"Tidak. Jangan," jawab Daniel cepat.
Betty mengerutkan keningnya.
"Maksudku, aku hanya ingin kau menjauhinya. Jangan terlibat dengannya. Apalagi sampai berpacaran dengannya?" lanjut Daniel.
Betty tersenyum tipis. "Aku bahkan hampir tidak mengenal tetanggaku sendiri. Bagaimana bisa aku berurusan dengan orang yang wajahnya saja aku tidak tau," kata Betty sambil melambaikan tangannya di depan wajah.
"Pokoknya jangan berurusan dengannya," tegas Daniel.
"Kau hanya ingin mengatakan hal itu? Well, terima kasih, informasi yang sangat berguna untukku," kata Betty sambil meluruskan tubuhnya yang tadi bersandar di pantry.
"Ngomong-ngomong, Daniel. Kenapa kau melarangku berurusan bahkan sampai berpacaran dengan Lucas. Kita bahkan bukan teman," kata Betty. Ia lalu tersenyum jenaka. "Apa kau menyukaiku?"
Daniel mengangkat kedua bahunya. "Mungkin saja."
Kalimat yang dilontarkan Daniel membuat senyum di bibir Betty perlahan hilang. "Apa-apaan?"