Dhanil anak yatim piatu yang mencoba untuk menggapai cita cita, selesai SMA bersama dengan beberapa teman akrabnya, Dhanil juga meneruskan studinya di salahsatu perguruan tinggi swasta di Ibukota Sumatera Utara. Dhanil punya pacar bernama Yani, yang sudah memiliki hubungan spesial sejak dari SMA, akan tetapi hubungan mereka ditantang oleh orang tua Yani, karena Dhanil dipandang bukan orang yang tepat karena alasan harta dan kedudukan, akan tetapi keduanya dengan segala konsekuensinya tetap menikah setelah meraih gelar Sarjana, dan memutuskan kembali ke kampung halaman mereka, Kota Sibolga.
Hubungan yang baru sebentar dirasakan manisnya akhirnya bubar, mereka kalah oleh trik yang dilakukan Ibu Yani. Disinilah kisah Dhanil bergulir dan mengalir berubah ubah, mulai dari keputusannya meninggalkan kota tempat dia dibesarkan menuju tanah peninggalan almarhum ayahnya, kehidupan berliku membuat Dhanil menemukan saudara kandung ayahnya dan kakak kandungnya yang sudah lama terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syamsuddahri Pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Bisa Dihubungi
Dhanil kembali menunduk. Apa yang dikatakan Fadli memang benar, kalaupun Dhanil punya tabungan, tapi itu tidak seberapa besar, Dhanil butuh akan uang itu mulai dari pengurusan NA, tidak mungkin Dhanil tak memberikan apa apa, bahkan bisa jadi si pengurus pasang tarif yang tidak bisa ditawar, juga yang berkaitan dengan Ustadz dan lain lain, pasti juga akan menimbulkan cost yang angkanya tidak bisa dipastikan.
“Kira kira berapa itu Fad ?”.
Fadli tentu menggeleng. “Mana aku tahu. Macam udah pernah aja”.
Dhanil akhirnya senyum tipis. “Iya juga ya”.
“Tapi coba tanya Irfan, mana tahu dia bisa perkirakan”.
“Mungkin juga”.
Fadli ikut buang nafas berat. Fadli memandangi Dhanil lebih lama lagi. Ada rasa khawatir baru yang muncul dibenak Fadli. Ada kemungkinan kemungkinan lain yang jadi penghalang besar. Tidak hanya pada posisi keluarga Yani yang tak beri sinyal sejutu, tapi juga kondisi Dhanil yang masih dalam tahap pra sejahtera luar biasa.
“Dan. Kau pikir ulang ajalah dulu”.
Dhanil melirik Fadli lagi. “Entahlah. Tapi aku takut juga kalau Yani jadi kecewa kalo begitu”.
“Lantas kecewa Yani lebih perlu”.
“Bukan begitu Fad”.
“Jadi apa ?”.
Dhanil tak punya jawaban lagi. Dhanil hanya bisa memainkan sendok yang ada ditangannya. Dhanil akhirnya berdiri dan menuju kamar, Fadli hanya memperhatikan saja saat Dhanil kembali lagi kedapur tapi langsung kekamar mandi. Fadli kembali menambah air minumnya dan tak lagi memperhatikan saat Dhanil keluar kamar mandi menuju kamar lagi dan kini kembali berdiri disampingnya dengan pakaian yang rapi.
“Aku mau keluar bentar Fad”.
Fadli menoleh. “Kemana ?”.
“Ke kantor lurah Polonia itu. Mau menemui abang yang dimaksud Irfan”.
“Ngurus NA ?”.
Dhanil mengangguk. “Insya Allah”.
Fadli tak banyak bicara lagi. Fadli membiarkan saja Dhanil melangkah pergi dengan hanya memandangi selintas saja. Sejurus Fadli kian berfikir, apa yang mebuat Dhanil begitu memaksakan diri dalam setuasi ini.
OO oo OO
Ini hari ketiga Dhanil kehilangan selera keluar rumah. Kerjanya lebih sering kembali membuka buka NA miliknya yang tak disangka selesai secepat itu. Dhanil hanya beberapa jam saja menunggu dan NA yang menjadi perbincangan lamanya dengan Fadli dan Irfan sudah sampai ketangannya. Dan baiknya orang kelurahan kenalan Irfan cukup membantu, malah ia tak menerima sodoran rupiah yang diberikan Dhanil.
Irfan juga sudah mempertemukan Dhanil dengan Pak Ustdaz kenalannya yang siap membantu. Justru kini yang jadi dilema adalah Dhanil seperti putus hubungan komunkasi dengan Yani. Sudah dua hari ini Dhanil menelphon, hp Yani tak bisa dihubungi, ini yang kemudian membuat Dhanil jadi gundah gulana. Fadli dan Irfan juga sudah beberapa kali mencoba hubungi Yani, hasilnya sama dengan apa yang dialami Dhanil, hp Yani memang benar benar tak bisa dihubungi. Operator seluler jelas mengatakan “Nomor tidak bisa dihubungi”.
“Gimana Dan ?”.
Dhanil menatap Fadli. “Apanya ?”.
“Yani”.
Dhanil geleng kepala. “Tidak bisa dihubungi”.
Fadli ikut geleng kepala dan sama sama memandang langit langit kamar yang banyak sarang laba labanya. Kini Fadli mencoba pahami apa yang ada dalam pikiran Dhanil. Fadli yakin kalau Dhanil benar benar terluka dengan keadaan ini. Saat ia sudah menyiapkan semuanya, Yani yang menjadi objek masalah kehilangan jejak komunikasi.
Irfan yang baru pulang setelah sore juga hanya berani berbisik pada Fadli. Melihat warna muka Dhanil yang cukup kelam membuat Irfan yakin kalau apa yang terjadi dua hari ini masih berlanjut hari ini. Ada juga rasa khawatir bercampur kasihan dalam hati Irfan melihat Dhanil yang terus menerus lebih banyak menekuk pandangannya kebawah.
“Apa Yani ingkar atau semacamnya ya Fan”.
Irfan geleng kepala. “Mana kita bisa tebak soal itu Fad”.
“Jadi apa dong ?”.
“Kita hanya bisa menunggu dan menunggu, tapi kita juga harus pasang waktu, nggak mungkin menunggu terlalu lama kan ?”.
Fadli anggukkan kepala. “Sampai kapan ?”.
Irfan geleng kepala. “Kalo itu aku juga kurang tahu”.
Fadli dan Irfan sama sama geleng kepala, dan terus memandangi Dhanil yang belum juga mampu menemukan rasa gembiranya. Tapi entah kenapa Irfan merasa kalau itu adalah bagian lain yang tak perlu jadi keresahan yang dalam. Entah kenapa Irfan sangat yakin kalau dalam waktu dekat Yani akan muncul juga sesuai kesepakatannya dengan Dhanil sehingga Irfan masih seperti biasanya beraktivitas, terus mengurusi persiapan wisudanya dan meluangkan waktu yang cukup banyak dengan wanita tercantik versi dia Lilis Hariska. Sedang Fadli terus berusaha semaksimal mungkin memberikan kekuatan pada Dhanil, tapi yang namanya Dhanil memang sudah hampir kaku. Untuk makan saja Dhanil sudah seperti anak kecil, berkali kali disuruh baru mau bergerak. Fadli terus berusaha sabar dengan apa yang dihadapinya.
Hari belum begitu siang. Fadli juga baru habis sarapan bersama Dhanil, tapi Irfan sudah hampir setengah pergi menuju kampusnya. Fadli yang berdiri saat ada yang ucapkan salam dipintu. Fadli menyuruh masuk karena yang datang adalah asisten dosen mereka sendiri.
“Masuk Pak”.
“Dhanil ada Fad ?”.
“Ada Pak”.
Pak Andi masuk dan menyalami Dhanil yang juga menghampiri pintu, kemudian bertiga mereka kembali duduk. Fadli berdiri menuju dapur dan kembali dengan tiga botol teh kemasan.
“Ada apa Pak ?”.
Pak Andi menoleh ke Dhanil. “Pak Riswan mau minta tolong ke kamu Dan, ada sedikit”.
Dhanil anggukkan kepala. “Ada apa Pak ?”.
“Nggak tau. Tapi kata Pak Riswan kamu bawa baju ganti, karena pulangnya mungkin besok atau lusa”.
Dhanil saling pandang dengan Fadli. Jelas Pak Andi maupun Pak Riswan tidak tahu hal ikhwal Dhanil sekarang ini, keduanya juga dapat dipastikan tidak mengenal Yani. Dan sepertinya Fadli dan Dhanil seperti sepakat kalau hal itu tidak perlu disampaikan. Sekilas Fadli berfikir itu akan cukup baik bagi Dhanil, dengan pergi bersama Pak Riswan, Dhanil setidaknya dapat membuka pikiran baru dan sedikit melupakan Yani. Dhanil sebenarnya tak punya pikiran seperti pikiran Fadli, tapi Dhanil tak punya pilihan lain kecuali ikut, Dhanil merasa tak ada alasan yang cukup baginya untuk mengatakan tidak.
Fadli hanya memandangi saat Pak Andi dan Dhanil beranjak keluar dan pergi. Fadli menggeliatkan badannya seakan baru saja selesai mengerjakan sesuatu yang melelahkan. Fadli merasa cukup letih, ternyata berfikir saja juga membuat badan penat, apalagi bagi Fadli, seandainya tak ada cerita Dhanil yang semacam ini Fadli sudah berada di kampung halamannya, Fadli sudah bisa berleha leha disana, bermain main dengan keponakan keponakannya yang masih kecil kecil, tapi apa boleh buat, Fadli terpaksa menahan diri dulu. Dan merasa tak punya pilihan, selesai makan siang Fadli memilih untuk tidur.
Fadli menggeliat karena goyangan tangan Irfan ketubuhnya. Fadli membuka mata juga dan duduk. Tangan Fadli menerima sodoran pelastik berisi nasi bungkus dari tangan Irfan. Fadli membawanya kedapur, meletakkan di meja dan cucu muka terlebih dahulu ke kamar mandi, baru makan.
“Dhanil mana Fad ?”. Irfan sudah disampingnya.
“Pergi”.
“Kemana ?”.
“Tadi sama Pak Iwan, asisten dosen kami kemarin. Dosen Pak Riswan ngajak Dhanil jalan, tapi nggak tau entah kemana ?”.
“Biasanya paling karena ada acara. Dhanil jadi moderator. Pak Riswan sudah biasa membawa Dhanil, bahkan sampai ke Pekan Baru juga dibawa”.
Irfan anggukkan kepala. “Kalau begitu ini tambu”.
“Tambu apaan ?”.
“Udah. Makan nasi dua bungkus kan kau bisa”.
Fadli geleng kepala tapi sambil tertawa lumayan ngekeh. Tapi memang sering kok seperti itu, Fadli makan nasi sampai dua bungkus, karena memang porsi nasi bungkus tak begitu banyak, hingga bisa dimakan sekaligus.
“Yani gimana ?”.
“Maksudmu ?”.
“Udah bisa dihubungi ?”.
Fadli geleng kepala. “Belum. Masih kabur gambar”.
kebaikab selalu menemukan jalan untuk meraih bahagia.. syukurlah Anggi akhirnya terbuka hatinya