Aditya adalah seorang pewaris tunggal dari perusahaan terkenal dan terbesar di Indonesia, suatu hari Aditya di pinta kedua orang tuanya untuk menikah karena usianya sudah mendekati kepala tiga, Aditya terus di desak agar cepat menikah oleh kedua orang tuanya. sampai akhirnya Aditya menjalankan penyamarannya dan bertemu dengan seorang gadis sederhana dan cantik yang menolongnya memberikan makanan dan minuman pada saat masa penyamarannya mencari pendamping hidup yang benar-benar mencintai dan menerima dia apa adanya tidak hanya memandang kemewahan dan kekayaan.
Apakah gadis cantik tersebut adalah pilihan Aditya? atau Aditya lebih memilih gadis cantik yang lain?
yuk kepo-in novel saya yang kedua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sischa cintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ACS 14
"Dit ada apa sih, kok kamu melihat cewek itu kayak ketemu bidadari yang baru turun dari kayangan aja" ujar Yoga penasaran pada Aditya dan sosok waiterss tersebut.
Aditya hanya diam tidak menjawab pertanyaan Yoga kemudian Yoga mendekatkan mulutnya ke telinga Aditya
" woi ... ! dengar aku nggak..!" Ucapnya tersenyum.
Aditya langsung kaget...
"Astaghfirullahaladzim... Kalau ngomong itu jangan teriak-teriak" kata Aditya sambil menggosok-gosok telinga nya dengan tangannya karena kekerasan suara Yoga.
"Lagian kamu juga plengok plengo, ditanya nggak jawab, setelah melihat wanita tadi, kamu udah jatuh cinta sama wanita itu?" Ucap Yoga.
Aditya langsung menoleh dengan muka merah merona..
"Ayo dong cerita dit, ada apa dengan wanita itu? Ku akui cantik banget cewek itu, " ucap Yoga.
Mendengar yoga mengucapkan cantik pada wanita lain, ada rasa perasaan tidak nyaman di hati Rara.
Rara kemudian menunduk, dan terdiam.
" Ada apa dengan aku? Kenapa ada rasa sakit setelah pak yoga mengatakan cantik pada wanita tersebut." Gumamnya.
Yoga melirik Rara, yang langsung menunduk.
" Ya Tuhan...! apa yang kulakukan? Kenapa aku memuji wanita lain di hadapan belahan jiwaku" gumamnya.
Aditya langsung mengawasi kedua orang yang ada di samping dan di depannya.
" Oh...ya pak, saya permisi dulu, tadi dapat telpon dari ibu, mau mengantarkan beliau sebentar" ujar Rara pura pura karena dia merasa tidak nyaman berada bersama mereka.
" Tapi, Ra? Bagaimana dengan makanan mu ini?" Ucap Aditya.
" Udah saya cicipi sedikit tadi, maaf ya pak saya permisi dulu" ucapnya sambil berdiri dan langsung meninggalkan mereka berdua.
" Ada apa sama Rara?" Ucap Aditya.
" Perasaan dari tadi dia nggak mengotak atik ponsel deh" ucapnya.
Yoga sepertinya tahu kalau Rara merasa sakit hatinya, karena dirinya memuji gadis lain di hadapannya.
Setelah berhasil memberhentikan taksi, Rara meminta sopir taksi tersebut mengantar Dia kerumahnya langsung.
" Kenapa dengan diriku? Ada apa? kenapa ini sangat sakit rasanya di saat dirinya memuji kecantikan orang lain di depan ku?, Apakah aku cemburu? Jangan...Rara..! Jangan mencintai suami orang lain" batinnya berkecamuk seiring berjalannya taksi yang dia tumpangi menuju kerumahnya.
Setelah kepergian Rara yoga merutuki dirinya.
"Dasar dodol kamu Yoga, dodol ...! Kenapa juga kamu memuji kecantikan orang lain didepan gadis yang kamu taksir, dasar dodol ... Dodol ..." Ucapnya pelan sambil kedua tangan nya memegang kepalanya yang menunduk.
"Kenapa kamu ga? Kok kelihatan gelisah sih?" Tanya Aditya, saat melihat Yoga terlihat sangat menyesal.
" Nggak ada apa apa kok dit, karena aku merasa lapar aja" ucapnya berbohong padahal dia memikirkan si Rara.
" Jangan bohong padaku ga, aku tahu pasti karena kepergian Rara kan?" Ucap Aditya.
Yoga menarik nafasnya dengan pelan dan melepas kan nya.
" Iya dit, aku tidak sengaja kalau aku bilang bahwa waitress tadi cantik di depan dia, " ucap Yoga.
" Nah..! Itu berarti Rara juga menyukai mu, dia pasti cemburu, kalau dia cemburu seperti itu, berarti sudah ada tanda tanda nya kalau dia juga menyukaimu." Ucap Aditya terkekeh.
" Kalau gitu langsung aja dekati si Rara, katakan kalau kamu mencintainya, sebelum terlambat." Ucap Aditya lagi.
" Iya juga yah, kalau gitu nanti aku akan menemuinya" ucap Yoga bersemangat.
" Ya udah ayo kita makan, Ntar dingin nggak enak lagi" ucap Aditya.
Kemudian Aditya dan Yoga menikmati makananya, tidak ada suara diantara mereka berdua, yang hanya terdengar suara sendok dan garpu saling bersahutan dan juga terdengar suara orang orang yang berdatangan karena memang waktunya makan siang.