Menikah dengan seseorang yang dicintainya.
Itu adalah mimpi dari Medisya Laluna. Namun sayangnya Medisya harus mengubur mimpinya dalam-dalam setelah seseorang merenggut kesuciannya secara paksa.
Namanya Alvian Sagara. Pria itu merupakan atasannya di perusahaan tempat Medisya bekerja.
Medisya tidak tau harus bersyukur atau menyalahkan takdir ketika Alvian mau menikahinya. Akankah ia bahagia dengan pernikahannya nanti? Apakah mereka bisa menjalani pernikahan itu layaknya orang yang saling mencintai?
###
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dilara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 USG Trans V
Medisya menatap tangan kiri Alvian di pahanya. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan ke Rumah Sakit Medika untuk memeriksa kandungan Medisya. Tapi sejak tadi Medisya dibuat tidak nyaman karena tangan Alvian tidak mau beranjak. Alvian justru mengelus pahanya bahkan sesekali meremasnya.
"Maas," lirih Medisya sembari berusaha menjauhkan tangan Alvian.
"Apa?" Tanya Alvian pura-pura tidak mengerti.
"Tangan kamu, ih! Aku nggak nyaman," ucap Medisya memberanikan diri.
Ia akhirnya bernafas tenang ketika Alvian mau menurutinya. Namun ia bisa melihat laki-laki itu meliriknya kesal lalu mengalihkan pandangannya.
Kadang Medisya tidak mengerti dengan sikap Alvian. Laki-laki itu bisa saja sangat baik dan perhatian. Tapi terkadang Alvian terlihat menakutkan meskipun hanya menghela nafasnya.
Sikapnya yang tidak stabil membuat Medisya sering merasa ragu dengan keputusan yang ia ambil. Medisya sempat mencoba untuk menerima pernikahannya dengan lapang dada. Tapi Alvian kembali mematahkan kepercayaan diri Medisya dengan bentakannya.
Melihat tatapan dingin Alvian saat ini membuat Medisya teringat pada malam dimana Alvian menyentuhnya. Ia masih menakutkan hingga sekarang.
Clara...
Satu nama itu tiba-tiba terlintas di kepalanya. Wanita itu yang membuat Alvian menyentuhnya. Medisya menggigit bibir bawahnya. Haruskah ia bertanya tentang wanita itu pada Alvian?
"Mas Alvian," panggil Medisya tanpa menatap orang yang ia panggil.
Sedangkan Alvian hanya menjawab dengan gumaman kecil.
"Aku mau tanya sesuatu, apa boleh?"
"Lihat aku!"
"Eh?" Tanya Medisya tidak mengerti.
"Lihat ke arahku lalu katakan yang ingin kamu tanyakan. Suami kamu di sini. Bukan di bawah sana!"
Medisya tersentak mendengar kekesalan Alvian. Bukannya menuruti apa yang dikatakan suaminya, ia justru semakin menunduk dalam.
"Nggak jadi. Maaf," sesalnya.
Alvian menghentikan mobilnya saat lampu merah di trafic light menyala. Ia mengambil botol minumnya lalu meneguknya hingga tandas. Menghadapi Medisya sungguh memerlukan kesabaran lebih.
Tidak ada yang tau bahwa jiwa kasarnya saat ini sedang merayu Alvian untuk menarik rambut Medisya agar ia menatapnya.
Tapi untungnya Alvian masih dapat mengendalikan diri. Ketika lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, Alvian kembali melajukan mobilnya dan menepi di pinggir jalan yang cukup sepi.
"Kenapa?" Tanya Alvian dengan sangat lembut. Tangannya terangkat guna menyelipkan rambut Medisya yang menutupi wajahnya saat ini.
"Apa yang ingin kamu tanyakan, hm?"
Netra Medisya terpejam erat. Ia sangat takut untuk menanyakan isi pikirannya. Tapi Medisya juga tidak ingin melewatkan kesempatan ini.
"Clara," sebutnya hampir tanpa suara. "Siapa wanita itu?"
Alvian mematung mendengar nama Clara dari mulut Medisya. Tangannya yang tadi mengusap rambut istrinya, sekarang beralih mencengkram kuat stir mobilnya.
Keterdiaman Alvian membuat Medisya mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Ia menghembuskan nafas pelan karena sejak tadi ia menahan nafasnya.
"Dia hanya mantan tunanganku," balas Alvian dingin sembari melajukan mobilnya kembali.
"Kenapa kamu menanyakannya?"
"A-- aku hanya ingin tau."
Terjadi keheningan di antara mereka. Baik Alvian maupun Medisya hanya diam. Medisya menyesali rasa penasarannya yang tidak bisa diabaikan. Sedangkan Alvian merasa emosi karena Medisya mengingatkan Alvian pada Clara. Padahal sejak kemarin ia sudah lupa akan wanita itu.
"Mas Alvian marah?" Tanya Medisya. Ia mengangkat wajahnya, memandang Alvian dengan mata yang berkaca-kaca.
"Hanya sedikit emosi," jawab Alvian.
Saat itu juga air mata Medisya tidak dapat terbendung lagi. Sedikit emosi itu sama saja dengan marah. Alvian sengaja memainkan kata-katanya agar Medisya merasa tenang.
"Maaf,,, hiks."
Isakan Medisya membuat Alvian mengusap wajahnya pelan. Ia membuka jendela mobil untuk mengambil tiket parkir rumah sakit kemudian mencari lahan parkir yang kosong.
"Kenapa menangis?" Tanya Alvian setelah melepaskan sabuk pengamannya.
Medisya menggelengkan kepalanya. Jika bisa ia ingin mengatakan bahwa selama ini Medisya sangat ingin tau siapa itu Clara.
Wanita itu pasti sangat dicintai oleh Alvian. Sampai-sampai Alvian mabuk karena patah hati yang disebabkan oleh wanita itu. Lalu melampiaskan amarahnya pada Medisya.
Setiap hari Medisya selalu merasa hina. Karena ia menikah dengan pria yang mencintai orang lain. Apalagi Alvian menikahinya hanya karena rasa kasihan setelah merebut kehormatan Medisya dan juga rasa tanggungjawab terhadap anak yang ia kandung.
Satu hal yang harus Medisya syukuri. Yaitu, Alvian tidak mengajukan surat kontrak pernikahan seperti apa yang dipikirkan Medisya. Itu artinya Alvian tidak mempermainkan pernikahan ini. Tapi bukan berarti Alvian akan selamanya di samping Medisya.
"Maaf membuat kamu takut. Aku hanya kesal karena kembali mengingat wanita yang sudah membuatku menyakitimu," jelas Alvian.
###
Alvian menatap layar yang menampakan gambar abstrak berwarna hitam putih. Jemarinya yang sejak tadi mengusap puncak kepala Medisya sekarang terhenti.
Ya, saat ini dokter tengah melakukan USG transvaginal pada Medisya. Sebenarnya perempuan itu sempat menolak. Namun dengan paksaan Alvian, akhirnya Medisya hanya bisa pasrah saat dokter memasukan tongkat USG ke dalam kewanitaannya.
"Kalian bisa melihatnya?" Tanya Dokter Tara. Telunjuknya mengarah pada lingkaran yang sangat kecil di layar. "Di sini, kantung janinnya sudah terbentuk."
Alvian menatap layar itu dengan mata memincing. Lalu ia menatap Dokter Tara dengan satu alis terangkat.
"Itu kecil sekali. Anda yakin anak saya tumbuh di sana?" Tanya Alvian polos. Membuat Dokter Tara terkekeh kecil.
Menurutnya reaksi Alvian ini sangat menggemaskan. Namun itu tidak menghilangkan sisi maskulinnya.
"Tentu saja. Di dalam kantung janin itu, terdapat embrio yang akan tumbuh sebagai janin. Dia akan membesar sejalan dengan waktu, Pak Alvian," jelas Dokter Tara.
Berbeda dengan Alvian yang mendengarkan penjelasan dokter dengan seksama. Medisya justru diam-diam memandang Alvian. Ia merasa tersentuh mengetahui Alvian sangat peduli terhadap kandungannya.
Setelah Dokter Tara melepas seluruh peralatan yang menempel di tubuh Medisya. Alvian segera membantu Medisya untuk duduk. Ia membantu merapikan rambut istrinya dan mengecupnya singkat.
"Tidak sakit, kan?" Tanya Alvian lembut.
Medisya menggeleng singkat. Ia turun dari ranjang kecil itu. Lalu mereka duduk kembali di hadapan Dokter Tara.
"Kondisi kandungan istri saya bagaimana, dok? Tidak ada masalah, kan?"
"Tidak. Kondisi janinnya baik-baik saja. Ibu Medisya hanya perlu menjaga pola makannya agar janin di dalam perutnya tidak kekurangan asupan nutrisi. Saya akan memberikan vitamin untuknya," balas Dokter Tara.
Setelah menerima secarik kertas dan pamit undur diri, Alvian menuntun Medisya ke bagian farmasi untuk mengambil vitamin itu.
"Kamu dengar kata dokter tadi?"
Medisya mengangkat kedua alisnya dengan mulut sedikit terbuka. Ia merasa terkejut karena Alvian tiba-tiba merangkul dan mengelus lengannya setelah mengambil antrian.
"Iya."
"Iya apa?" Tanya Alvian menuntut. Ia merasa tidak puas dengan jawaban Medisya.
"Emm,, anak kita baik-baik saja," ucap Medisya kaku. Wajahnya mendongak, ingin melihat reaksi Alvian saat ia mengatakan anak kita.
Dan Alvian tersenyum kecil karenanya. "Lalu?"
"Harus jaga pola makan." Medisya memberi sentuhan kecil pada perutnya. "Aku dengar semuanya kok, mas."
"Aku pikir kamu tidak peduli dengan kandungan kamu," tuduh Alvian membuat Medisya menggigit bibirnya. Membuat Alvian gemas akan tingkahnya itu.
Memang awalnya Medisya tidak peduli pada anak di kandungannya. Tapi melihat sikap Alvian yang begitu perhatian pada janin di dalam perutnya membuat Medisya sedikit menurunkan egonya agar bisa menerima kehamilannya dengan ikhlas.
###