"Bagaimana rasanya ketika terbangun dari koma panjang, hanya untuk menemukan bahwa dirimu sudah bertunangan dengan seorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya?"
Itulah yang di alami Kayna Ramida. Begitu membuka mata setelah koma hampir satu bulan lamanya, ia langsung di sambut dengan senyuman seorang pria asing yang mengaku sebagai tunangannya. Damara Lexander Veldens.
"Kenapa menatapku seolah aku ini orang asing, Sayang? Aku adalah pria yang paling kau cintai, ingat?" Mara berbisik lembut.
"Kalau aku memang sangat mencintaimu...kenapa setiap sentuhanmu justru membuatku merasa seperti seekor mangsa yang sedang diincar di tengah kegelapan?"
"Karena kau adalah milikku, Kayna. Dan aku akan melakukan segalanya agar kau tidak akan pernah lari dari sisiku lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Getaran aneh
Mansion Veldens tidak pernah terasa sesunyi ini, meskipun beberapa pelayan berlalu-lalang dengan langkah kaki yang nyaris tak bersuara. Di dalam kamar utama yang luas, Kayna berdiri terpaku di depan cermin besar berbingkai ukiran emas .
Kamar itu adalah wujud nyata dari kemewahan yang tak masuk akal. Lantai marmer yang dingin dilapisi karpet bulu domba impor yang lembut, sementara ranjang berukuran queen-size di sudut ruangan dihiasi kelambu sutra terbaik. Di atas meja rias, berkotak-kotak perhiasan berkilau di bawah temaram lampu kristal.
Sejak keluar dari rumah sakit pasca koma, Kayna diboyong ke sini. Mara memperlakukannya layaknya seorang ratu. Pelayan-pelayan membungkuk hormat setiap kali ia lewat, mengindahkan setiap titah kasarnya seolah ia adalah penguasa mutlak mansion ini.
Namun, di balik semua jeruji sutra dan kemewahan yang melimpah ini, dada Kayna terasa sesak. Ada sesuatu yang salah. Sangat salah.
"Dua minggu..." gumam Kayna, jemarinya yang lentik menyentuh undangan pernikahan mewah berpita satin hijau zamrud yang terletak di atas meja.
Pernikahan mereka dipercepat. Dari jadwal semula yang seharusnya beberapa bulan lagi, Mara tiba-tiba memangkas waktunya menjadi hanya dua minggu dari sekarang. Alibinya selalu terdengar begitu romantis dan protektif di telinga kedua orang tua Kayna: “Aku tidak ingin kehilangan Kayna lagi. Kecelakaan kemarin hampir merenggut nyawanya, dan aku tidak akan tenang sebelum dia resmi menjadi istriku.”
Erick dan Liliana tentu saja menyetujuinya dengan air mata haru. Bagi mereka, Mara adalah penyelamat dan sangat mencintai putri mereka. Tapi bagi Kayna, yang terbangun dengan kepala kosong tanpa ingatan satu pun tentang siapa dirinya dan siapa pria bernama Damara itu, segalanya terasa begitu cepat. Terlalu cepat hingga membuatnya pusing.
"Kenapa aku merasa seperti seekor burung yang sedang digiring masuk ke dalam sangkar emas?" batin Kayna, menatap pantulan dirinya di cermin.
Hari ini ia mengenakan gaun satin berwarna hijau zamrud, gaun yang dikirimkan Mara khusus untuknya. Rambut panjang gelapnya dibiarkan tergerai indah membingkai wajahnya yang pucat. Di cermin, ia tampak cantik. Namun, matanya terlihat dingin, kosong, dan dipenuhi oleh keraguan yang mendalam.
Cklek.
Suara pintu yang terbuka memecah keheningan kamar. Dari pantulan cermin, Kayna melihat sosok itu melangkah masuk.
Mara.
Pria itu tampak luar biasa tampan dengan setelan hitam premium yang melekat sempurna pada tubuh tegapnya. Garis rahangnya yang tajam, hidung mancung, serta sepasang mata abu-abu yang dingin namun memikat.
"Kau terlihat sangat cantik, sayang," bisik Mara. suaranya yang berat dan serak basah bergema di ruangan yang sunyi itu.
Mara berjalan mendekat, memperkecil jarak di antara mereka hingga Kayna bisa mencium aroma parfum maskulin cendana bercampur tembakau mahal yang menguar dari tubuh pria itu. Mara berdiri tepat di belakang Kayna, menatap pantulan gadis itu di cermin dengan tatapan mata abu-abu yang penuh dengan obsesi tak berdasar.
Perlahan, kedua tangan kokoh Mara bergerak naik, melingkari pinggang ramping Kayna dengan protektif dari belakang.
Deg!
Seketika itu juga, tubuh Kayna menegang kaku.
Udara di sekitarnya seolah mendadak lenyap. Detik berikutnya, sebuah getaran hebat menjalar dari titik sentuhan tangan Mara di pinggangnya, merambat naik ke tulang belakangnya, dan membuat seluruh bulu kuduk di lengannya berdiri tegak.
Tubuh Kayna meremang ketakutan. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena debaran manis jatuh cinta, melainkan karena alarm bahaya yang berdering nyaring di dalam kepalanya.
Kayna menggigit bibir dalamnya, berusaha keras menahan napasnya agar tidak terdengar memburu. Ia mencoba merilekskan bahunya yang tegang, namun tubuhnya menolak untuk patuh. Setiap inci dari kulitnya yang bersentuhan dengan Mara terasa seperti terbakar.
"Mengapa tubuhmu selalu sekaku ini setiap kali aku menyentuhmu, hmm?" Mara berbisik, mendekatkan wajahnya ke leher jenjang Kayna. Napas hangatnya menyapu kulit sensitif gadis itu, mengirimkan gelombang ngeri yang membuat Kayna ingin berteriak dan berlari menjauh.
"Aku... aku hanya belum terbiasa, Mara," jawab Kayna dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha menyembunyikan kepanikannya di balik senyum tipis yang dipaksakan. "Efek dari kecelakaan itu... kurasa saraf-sarafku masih sedikit sensitif."
Mara tidak melepaskan cengkeramannya. Alih-alih melonggar, lengannya justru semakin mengetat di pinggang Kayna, menarik tubuh molek gadis itu hingga menempel tanpa celah pada dada bidangnya. Di dalam cermin, kontras antara keduanya terlihat begitu dramatis—seorang pria yang mendominasi dengan posesif, dan seorang wanita yang tampak terperangkap namun mencoba bertahan.
"Kau tidak perlu takut pada calon suamimu sendiri, Kayna," gumam Mara lembut, namun nada suaranya membawa ketegasan yang tak terbantah. Jemarinya bergerak perlahan naik ke leher Kayna, mengelus rahang gadis itu dengan ibu jarinya. "Dulu, sebelum kecelakaan sialan itu terjadi, kau selalu menyukai pelukanku. Kau selalu bermanja di pelukanku."
Kebohongan itu meluncur begitu mulus dari bibir Mara. begitu sempurna. Mara membuat Kayna percaya bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang saling memuja, padahal kenyataannya Kayna sangat membenci keangkuhan dan sikap diktator pria itu sebelum kecelakaan merenggut memorinya.
Kayna memejamkan matanya erat-erat saat bibir Mara mengecup lembut bahunya yang terbuka. Sentuhan itu terasa dingin, mengirimkan sensasi merinding yang membuatnya ingin menangis tanpa alasan yang jelas.
"Kenapa?" batin Kayna menjerit frustrasi. "Jika kami memang saling mencintai, mengapa tubuhku bereaksi seperti ini? Mengapa jiwaku merasa terancam setiap kali dia tersenyum padaku?"
Mara mengambil sebuah kotak beludru hitam kecil yang terletak di meja rias. Dengan gerakan perlahan, ia membukanya, menampilkan seuntai kalung platinum dengan liontin zamrud hijau yang berkilau mewah, senada dengan gaun yang dikenakan Kayna.
"Hadiah untuk calon pengantinku," kata Mara, mengangkat kalung itu dan memasangkannya di leher Kayna.
Sentuhan jemari dingin Mara di kulit lehernya membuat Kayna sekali lagi meremang, menahan napasnya dalam-dalam. Kalung itu terasa berat di lehernya, bagaikan sebuah borgol tak kasat mata yang menandai kepemilikan mutlak Damara Lexander Veldens atas dirinya.
"Dua minggu lagi, Kayna," bisik Mara di telinganya, matanya yang kelabu menatap tajam pantulan mata Kayna di cermin, mengunci fokus gadis itu sepenuhnya. "Dua minggu lagi, dan kau akan menjadi milikku sepenuhnya. Tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan kita. Bahkan ingatanmu yang hilang sekalipun tidak akan bisa menjauhkanmu dariku."
Kata-kata itu terdengar seperti janji suci, namun di telinga Kayna, itu terdengar seperti ancaman yang dikemas dengan sangat indah. Konflik batin di dalam dadanya semakin bergemuruh hebat.
Logikanya mengatakan ia harus mempercayai pria di hadapannya ini—pria yang menyediakan segalanya untuknya dan keluarganya. Namun, instingnya, seluruh sel di dalam tubuhnya, terus berteriak bahwa ia sedang berjalan masuk ke dalam jebakan maut yang mematikan.
Kayna memberanikan diri untuk berbalik, menatap langsung ke dalam manik mata abu-abu Mara yang gelap gulita tanpa kehangatan asli di dalamnya. Ia menelan ludah, mencoba mencari celah di balik topeng sempurna pria itu.
"Mara..." panggil Kayna pelan, suaranya nyaris berbisik di antara jarak wajah mereka yang begitu dekat.
"Ya, sayang?" sahut Mara, seringai tipis yang sarat akan manipulasi terukir di sudut bibirnya.
Kayna mengepalkan tangannya di balik lipatan gaun satin hijaunya, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya untuk menanyakan satu hal yang terus mengikis ketenangannya selama tinggal di mansion ini.
"Bagaimana jika... suatu hari nanti, ingatanku kembali?" tanya Kayna, menatap lekat mata abu-abu Mara. "Bagaimana jika aku mengingat sesuatu yang... yang mungkin kau tidak ingin aku mengingatnya?"
Keheningan seketika membekukan ruangan itu. Tatapan mata Mara yang semula tampak posesif penuh kasih sayang, dalam sekejap berubah menjadi sangat dingin, gelap, dan tanpa ampun—menampilkan sekilas sosok asli. Cengkeramannya di pinggang Kayna mengencang, membuat Kayna menahan rintihan pelan karena rasa sakit.
Mara mendekatkan wajahnya, hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. Senyumannya kini terasa begitu mengerikan, membuat seluruh tubuh Kayna gemetar ketakutan di dalam jeruji sutra miliknya.
"Kalau itu terjadi, sayang..." desis Mara dengan nada suara yang sangat tenang namun sanggup menghentikan detak jantung Kayna seketika. "...aku tidak peduli, karena kau tetap milikku."
...●Bersambung●...