Ayla Prameswari, instruktur latihan keras dengan nama sandi Mamba di Pulau Seraya, terpaksa kembali ke Jakarta setelah sinyal misterius Berkas 531 muncul dekat keluarga kandungnya. Di rumah mewah Prameswari, ia berhadapan dengan orang tua yang lebih menyayangi Alina, anak angkat yang pandai bersandiwara lembut. Ternyata yayasan amal keluarga menyembunyikan jalur obat eksperimen ilegal berdarah. Saat Ayla menyelidiki, Arga Wiratama, penyidik khusus yang pernah ia tembak tiga tahun lalu, datang menawarkan kerja sama. Antara dendam masa lalu, rahasia keluarga, dan kasus mematikan—siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik topeng baik hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14 - Yayasan Anak Hilang
Kantor Prameswari Foundation terletak di gedung kecil tiga lantai di Kemang.
Dari luar, tempat itu tampak hangat. Dinding putih, tanaman hijau di pintu masuk, foto anak-anak tersenyum di ruang tunggu, dan slogan besar:
Setiap Anak Berhak Pulang.
Ayla berdiri di depan slogan itu selama beberapa detik.
Ironi kadang tidak perlu dibuat. Ia tumbuh sendiri.
Resepsionis mengangkat wajah. “Selamat sore, ada yang bisa dibantu?”
Ayla melepas kacamata hitam. “Saya Ayla Prameswari.”
Nama itu bekerja lebih cepat daripada kartu akses.
Resepsionis langsung berdiri. “Oh, Non Ayla. Sebentar, saya hubungi—”
“Tidak perlu.”
Ayla berjalan melewati meja.
“Non, tunggu. Ibu Ratna tidak ada jadwal—”
“Bagus. Aku juga tidak.”
Resepsionis panik mengikuti. Beberapa staf menoleh. Sebagian mengenali wajah Ayla dari unggahan kampus yang viral. Bisikan kecil langsung muncul.
Anak keluarga Prameswari yang itu?
Yang ribut sama Kak Alina?
Ayla naik tangga, bukan lift. Di lantai dua, ada ruang administrasi dengan enam meja kerja. Di dinding tergantung foto Ratna dan Alina bersama anak-anak panti. Alina tampak seperti malaikat sosial dalam balutan kebaya modern.
Maya pernah bilang, orang yang terlalu sering berfoto saat berbuat baik biasanya lebih peduli pada kamera daripada kebaikan.
Ayla mulai percaya.
Seorang pria berusia empat puluhan keluar dari ruang kaca di ujung. Rambutnya rapi, kemejanya mahal, senyumnya profesional.
Raka Mahendra.
Dia berhenti saat melihat Ayla. Hanya sepersekian detik, tetapi cukup.
“Non Ayla,” katanya hangat. “Saya Raka. Penasihat operasional yayasan. Sayang sekali kita baru bertemu sekarang.”
Ayla menatapnya. “Saya juga merasa sayang.”
Raka tertawa kecil. “Ibu Ratna tidak memberi tahu Anda akan datang.”
“Karena saya tidak memberi tahu Ibu Ratna.”
“Begitu. Ada yang bisa saya bantu?”
Ayla melihat ruangannya. “Bisa. Saya ingin lihat laporan donasi dan pengeluaran tiga bulan terakhir.”
Senyum Raka tidak berubah. “Tentu. Tapi prosedurnya harus melalui persetujuan ketua yayasan.”
“Ketua yayasan ibu saya.”
“Betul.”
“Saya anaknya.”
“Saya tahu.”
“Maka permudah.”
Raka menurunkan suara, tetap ramah. “Non Ayla, yayasan ini punya tata kelola. Sekalipun Anda keluarga, data donatur dan korban anak dilindungi. Kami tidak bisa membuka sembarangan.”
Ayla mengangguk pelan. “Kalimat bagus. Sudah sering dipakai?”
Senyum Raka sedikit mengeras.
Staf di sekitar pura-pura sibuk, tetapi telinga mereka jelas bekerja keras.
Raka berkata, “Mungkin kita bicara di ruangan saya.”
“Boleh.”
Ayla masuk ke ruang kaca. Raka menutup pintu, tetapi tirai tetap terbuka. Orang seperti dia ingin terlihat tidak menyembunyikan apa-apa.
Di dalam, semuanya rapi. Terlalu rapi. Meja bersih, laptop tertutup, lemari dokumen terkunci, diffuser beraroma lavender. Di sudut ada foto Raka bersama Ratna dan Alina di acara amal.
Ayla duduk tanpa diminta.
Raka duduk di seberangnya.
“Saya dengar Anda baru kembali ke keluarga,” katanya.
“Banyak orang mendengar itu.”
“Saya turut senang.”
“Jangan. Nanti capek pura-pura.”
Raka tertawa tipis. “Anda sangat terus terang.”
“Anda sangat berputar.”
“Baik. Apa yang sebenarnya Anda cari?”
Ayla menyandarkan punggung. “Obat.”
Senyum Raka akhirnya hilang sedikit.
“Obat?”
“Empat mayat. Kotak produksi palsu. Jalur uang yayasan. Akun Alina.”
Raka diam.
Ayla menunggu.
Orang bersalah punya dua jenis reaksi. Terlalu banyak bicara, atau terlalu sedikit. Raka memilih yang kedua.
“Itu tuduhan serius,” katanya akhirnya.
“Aku belum menuduh. Aku menyebut daftar belanja.”
“Non Ayla, saya sarankan Anda berhati-hati. Kasus seperti ini bisa merusak nama baik keluarga.”
Ayla tersenyum.
“Kalian semua suka sekali nama baik.”
“Karena nama baik sulit dibangun.”
“Lebih sulit daripada nyawa?”
Raka menatapnya.
Ada sesuatu yang dingin lewat di matanya.
“Anda masih muda. Kadang idealisme membuat orang tidak melihat gambaran besar.”
“Gambaran besar seperti apa? Orang kaya takut mati, orang miskin jadi uji coba?”
Kali ini Raka benar-benar diam.
Ayla berdiri dan berjalan ke rak foto. Dia mengambil salah satu foto Alina bersama anak-anak kecil.
“Alina tahu berapa banyak?”
“Nona Alina hanya wajah yayasan. Dia tidak terlibat operasional teknis.”
“Jawaban cepat.”
“Karena benar.”
“Atau karena sudah dilatih.”
Raka berdiri. “Saya rasa pertemuan ini tidak produktif.”
“Baru mulai.”
“Kalau Anda ingin data, minta secara resmi melalui keluarga atau pengacara. Kalau tidak, saya harus meminta keamanan mengantar Anda keluar.”
Ayla meletakkan foto kembali.
“Keamanan?”
Raka menekan tombol di interkom. “Tolong ke ruangan saya.”
Beberapa detik kemudian, dua petugas keamanan masuk. Tubuh mereka besar, wajah mereka datar. Bukan satpam biasa. Minimal mantan bodyguard.
Ayla melihat mereka, lalu melihat Raka.
“Ini kantor yayasan anak hilang atau gudang pelabuhan?”
Raka berkata dingin, “Antar Non Ayla keluar.”
Salah satu petugas mendekat. “Mari, Non.”
Tangannya hendak menyentuh lengan Ayla.
Ayla menatap tangannya.
Petugas itu berhenti.
Naluri bertahan hidupnya lebih baik daripada teman-teman Vira.
Ponsel Ayla berbunyi.
Arga.
Ayla mengangkat. “Pak Arga.”
Suara Arga terdengar terlalu tenang. “Kamu di mana?”
Ayla melihat Raka. “Sedang wisata edukasi.”
“Ayla.”
“Kantor yayasan.”
Hening satu detik.
“Saya bilang jangan pergi.”
“Aku minta definisi koordinasi. Kamu tidak memberi.”
Raka menegang mendengar nama Arga, meski berusaha menutupinya.
Ayla mengaktifkan speaker.
“Pak Arga, di sini Pak Raka ingin memakai keamanan untuk mengantarku keluar. Boleh?”
Arga terdengar menahan napas. “Pak Raka Mahendra ada di sana?”
Raka cepat berkata, “Pak Arga, selamat sore. Ini kesalahpahaman keluarga. Non Ayla datang tanpa jadwal dan meminta data sensitif.”
Arga menjawab, “Jangan biarkan siapa pun meninggalkan gedung.”
Wajah Raka berubah.
Ayla tersenyum.
“Wah.”
Arga melanjutkan, “Tim saya dua menit lagi sampai.”
Raka menatap Ayla dengan mata yang akhirnya tidak lagi ramah.
“Non Ayla, Anda tidak tahu apa yang sedang Anda rusak.”
Ayla mematikan speaker tapi tidak memutus panggilan. “Pak Raka, kalimat seperti itu biasanya diucapkan orang yang sudah kehabisan bukti moral.”
Petugas keamanan bergerak.
Kali ini bukan untuk mengantar.
Yang kanan mencoba mengunci pintu. Yang kiri meraih Ayla.
Ayla melempar ponselnya ke sofa agar Arga tetap mendengar, lalu bergerak.
Petugas kiri jatuh lebih dulu. Lututnya disapu, pergelangannya diputar, tubuhnya membentur karpet dengan suara berat. Petugas kanan mencoba mengambil tongkat lipat dari balik jas. Ayla menendang kursi ke arahnya, membuatnya tersandung, lalu memukul titik saraf di lengannya.
Tongkat jatuh.
Raka mundur ke meja.
Di luar ruang kaca, staf menjerit. Beberapa berlari. Beberapa membeku.
Ayla mengambil tongkat lipat, memutarnya sekali, lalu menunjuk Raka.
“Duduk.”
Raka tidak bergerak.
“Pak Raka, saya sedang berusaha menghormati hukum. Jangan bikin saya kreatif.”
Raka duduk.
Dua menit kemudian, Arga masuk bersama Bima, Lestari, dan tim kecil. Wajahnya dingin sekali ketika melihat dua petugas keamanan di lantai dan Ayla berdiri memegang tongkat.
“Ayla.”
“Aku tidak mulai.”
Bima melihat ruangan. “Ini hasil tidak mulai?”
Ayla menunjuk petugas. “Mereka jatuh sendiri setelah berniat buruk.”
Lestari menutup mulut menahan tawa.
Arga mengambil tongkat dari tangan Ayla. “Duduk.”
“Aku juga?”
“Ya.”
Ayla duduk di sofa, mengambil ponselnya. Panggilan masih tersambung selama tadi. Dia menatap layar.
“Rekaman suara lengkap. Sama-sama.”
Arga menatapnya beberapa detik.
Marah.
Tetapi juga, sayangnya, terkesan.
Bima dan tim mulai mengamankan komputer serta dokumen. Raka berusaha protes soal surat perintah, tetapi Arga menunjukkan dokumen digital dan izin operasi yang sudah disiapkan.
Ternyata pria itu memang datang bukan cuma karena mengejar Ayla.
Dia sudah bergerak.
Saat Bima membuka laptop Raka, Lestari berseru, “Pak, ada transfer terjadwal malam ini.”
Arga mendekat. “Ke mana?”
Lestari membaca layar. “Gudang logistik di Tanjung Priok. Kode barang sama dengan kasus obat.”
Raka menutup mata.
Ayla berdiri. “Aku ikut.”
Arga langsung berkata, “Tidak.”
“Pak Arga.”
“Tidak.”
“Kalau aku bilang tolong?”
“Tetap tidak.”
Ayla menatapnya.
Arga membalas tatapannya. “Kamu sudah cukup membuat kekacauan hari ini.”
Ayla tersenyum pelan.
“Belum.”
Di layar laptop, jadwal pengiriman menunjukkan waktu: pukul 21.30 malam ini.
Artinya mereka punya kurang dari lima jam.
Dan jika Raka hanya pintu, maka di gudang itu seseorang yang lebih besar sedang menunggu barangnya bergerak.