Di tengah kegalauannya karena belum dikaruniai anak, Zora melakukan yang seharusnya tidak dilakukannya.
Akhirnya Zora melahirkan Agni, ada beberapa versi cerita beredar di sekitar mereka tentang identitas Agni, tidak ada satupun yang pasti tahu siapa ayah dari Agni, hanya Zora yang tahu. Namun Zora mengalami musibah dan rahasia itu hampir tidak akan mungkin terungkap.
Agni tumbuh jadi anak yang pintar dan cantik. Sampai dia terjerumus ke dunia hitam, dia belum juga menemukan apa yang dia cari. Akankah Agni akan tahu siapa ayah biologisnya?
Ikuti kisahnya dalam cerita "Zora's Scandal" - Skandal Zora. Skandal itu melahirkan banyak rahasia di dalam rumah tangga Zora dan Aditya. Mohon jangan galau setelah baca novel ini.
NB: Visual ada di episode 73 Pembuktian!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zora Masih Merasa Bersalah
Jono terbangun dengan keadaan segar bugar. Dia kaget melihat celananya basah. Kemudian dia mengingat-ingat lagi. "Ah, mimpi basah lagi." Jono berbisik di dalam hatinya. Dia baru ingat mimpinya tadi malam. Zora datang ke kosannya, dia mengatakan dalam mimpi Jono jika dia kesepian. "Ah, dasar, bujang lapuk. Mimpinya aneh-aneh." Dia malu pada dirinya sendiri. Dia bergegas menuju kamar mandi. Waktu itu jam menunjukkan pukul 04.50 pagi. Dia terbangun 5 menit dari alarm yang sudah diaturnya tadi malam.
Setelah mandi pagi dia langsung memakai kaos dan menyemprotkan parfum ke leher, lengan dan bajunya sambil memesan ojek online. Tidak berapa lama, ojeknya tiba dan Jono menuju rumah bosnya.
Sementara Zora baru selesai mandi, dia melihat Jono sudah tiba di depan gerbangnya, dia langsung menuju pintu depan untuk membukanya dan memberikan kunci mobil kepada Jono.
“Pagi Jon! Sapa Zora setelah membuka pintu. “Ini kuncinya, mobilnya dipanasi dulu, saya siap-siap sebentar ya!” Lanjutnya memerintah Jono.
“Baik, bu!” Jawab Jono pelan. Namun dia tidak mau menatap mata Zora.
“Panggil Zora aja, Jon. Aditya sedang tidak ada. Bersikaplah lebih luwes!” Zora menyadari jika Jono berusaha berpura-pura bersikap lebih profesional.
“Jangan bu, di sini atau tidak bapak, ibu adalah bosku, saya harus membiasakan diri, jangan sampai suatu saat saya khilaf dan berlaku tidak profesional di hadapan bapak.” Jawab Jono sambil menunduk, dia tidak mau melihat ke wajah Zora.
Hati Zora tersayat-sayat mendengar itu. Namun dia tidak mau melanjutkan membahas hal itu. Perasaan bersalah terhadap Jono muncul lagi.
“Ya sudah, jika itu yang kamu mau. Saya tidak akan memaksa. Saya ke dalam dulu!” Zora meninggalkan Jono yang masih menunduk di depannya. Sepeninggal Zora, Jono pergi ke garasi untuk menghidupkan mobil.
Tidak lama setelah itu, Zora muncul lagi di depan rumah dengan penampilan yang seadanya tapi kelihatan sangat anggun, dia mengunci rumah dan melambaikan tangannya ke arah Jono yang sudah menunggu di mobil dan telah siap sedia menuju Zora setelah melihat Zora mengunci rumah. Mobil mendekat ke arah Zora dan dia membuka pintu depan mobil.
“Bukannya ibu lebih baik duduk di belakang saja?” Jono mengingatkan Zora.
“Tidak apa-apa Jon, saya duduk di sini saja.” Zora bersikeras tidak mau pindah ke belakang.
Jono melirik sebentar ke arah Zora. Zora masih menatap ke arah depan namun dia tahu jika saat itu Jono sedang curi-curi melihat ke arahnya.
“Ayo Jon, jangan bengong terus!” Setengah berteriak Zora mengingatkan Jono untuk segera berangkat.
“Baik, bu.” Jono menjawab pelan, kemudian mobil mereka meninggalkan rumah mewah itu menuju Pasar Jaya di sekitar Jakarta Selatan. Zora lebih senang belanja di Pasar Jaya, sudah terlanjur biasa, bukan tidak bisa dia belanja di Pasar Modern, tapi menurutnya, apa yang ada di Pasar Jaya itu jauh lebih segar dan sehat dibanding yang ada di mall dan pusat-pusat perbelanjaan yang lebih modern. Apalagi jika belanjanya pagi-pagi, barang-barang baru seperti sayur dan buah-buahan baru tiba dari Jawa Barat, Banten dan Lampung.
Sementara Jono menunggu Zora berbelanja, di parkiran dia membuka ponselnya. Membaca lagi pesan dari perempuan yang tidak dikenlnya malam tadi. Dia kemudian menelepon nomor itu, sekali dua kali, sampai tiga kali, tidak ada jawaban. ‘Ah mungkin dia masih tidur.’ Jono berbicara pada diri sendiri. Kemudian dia membuka aplikasi game kesukaannya. Tidak berapa lama rasanya Zora sudah tiba di samping mobil dan mengetuk mobil itu agar Jono segera membuka pintu.
Jono segera meletakkan ponselnya dan keluar membantu Zora meletakkan barang belanjaan di bagasi belakang mobil. Setelah semuanya beres, mereka duduk di depan dan mobil melaju menuju rumah lagi.
Sebelum memasuki halaman rumah megah itu, Zora megang tangan kiri Jono. Jono yang tidak menyangka hal itu terjadi menjadi terkejut setengah mati namun setir yang dipegangnya masih terkendali.
“Jon, maafkan atas semua yang sudah terjadi. Maafkan keegoisanku, aku berdoa agar kau mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dari aku.” Zora dengan perasaan bersalahnya mohon maaf kepada Jono, dia tahu Jono belum ikhlas dengan semua keputusan yang sudah mereka ambil.
“Iya, bu. Saya sudah maafkan. Ibu tenang saja. Saya tidak akan kasih tahu ke siapapun perihal anak itu. Terima kasih atas doanya juga.” Jono menjawab Zora dingin sekali. Di dalam hatinya paling dalam ingin sekali dia memeluk dan mencium Zora saat itu, tapi dia lagi-lagi menahan hasratnya.
Mobil sudah berhenti di depan rumah. Namun Zora dan Jono tidak segera keluar. “Jon, terima kasih atas semua pengertianmu. Saya benar-benar tulus mendoakan yang terbaik bagimu.” Zora masih saja merasa kasihan akan apa yang dialami Jono.
Jono tidak menanggapi lagi. Dia hanya menunggu tangan Zora diangkat dari tangan kirinya. Dia ingin teriak sebenarnya. "Zora, yang terbaik bagiku adalah hidup bersamamu Zora." Jono berbicara di dalam hati, semuanya itu tidak ingin dikeluarkannya lagi di hadapan Zora. "Biarlah aku mencumbumu hanya di dalam mimpi saja." Jono melanjutkan kalimat itu di dalam hatinya.
Zora melepas genggamannya dari tangan Jono yang tidak bereaksi itu, dia tahu Jono tidak akan melihat ke arahnya kemudian turun mendahului Jono. Setelah Zora turun, Jono mengikutinya hendak mengangkat barang-barang belanjaan ke dalam rumah.
Setelah semua masuk ke dalam rumah. Jono menunggu di luar, dia tidak segera pulang. Karena melihat Jono masih duduk di teras, Zora segera ke luar dan hendak menanyakan mengapa Jono belum pulang.
Melihat Zora datang menghampirinya, sebelum Zora mulai berbicara, Jono menyampaikan pertanyaannya. “Apakah saya bisa menerima gaji saya hari ini, bu?” Jono menanyakan perihal gajinya.
“Iya Jon, gajimu mungkin akan masuk sebentar lagi, aku sudah membuat auto debit tiap tanggal 1 untuk mentransfer gajimu. Kamu lagi butuh uang secepatnya ya? Kalau butuh, saya bisa transfer sekarang.” Zora menawarkan bantuan ke Jono.
“Oh, tidak bu, maaf, saya kira ibu lupa, kalau begitu saya saya pamit dulu.” Jono menolak tawaran dari Zora.
“Gak apa-apa, Jon. Sebentar saya transfer 1 juta ya, mana tahu kamu lagi butuh.” Zora menawarkan lagi.
“Nggak usah, bu, gak apa-apa, saya tunggu aja.” Jono menolak lagi. Dia langsung memesan ojek online untuk kembali ke kosannya.
“Gak apa-apa, Jon. Hitung-hitung bonuslah, karena kamu tidak pernah datang terlambat.” Zora sedikit memaksa dan mencari-cari alasan untuk mentransfer uang ke rekening Jono.
“Gak usah, bu.” Tiba-tiba ada ojek online berhenti tepat di depan gerbang rumah. Jono langsung pamit ke Zora dan buru-buru menuju ojek yang sudah menunggunya di depan. “Baik bu, saya pamit dulu ya, kalau ada-apa, ibu bisa langsung telepon saya. Saya akan segera datang.” Lanjut Jono sambil meninggalkan Zora.
Zora tertegun dengan kerasnya hati Jono. Dia tidak pernah meminta kenaikan gaji, dia tidak pernah meminta macam-macam. Kali ini, saat Zora menawarkan untuk memberi bonus Jono juga menolak. Setelah dia melihat Jono pergi dengan ojeknya, dia memencet tombol remote untuk menutup gerbang. Zora masuk ke dalam rumah dan meraih ponselnya kemudian mentransfer 1 juta ke nomor rekening Jono. Setelah itu dia mengirim pesan ke Jono jika dia sudah mentransfer uang bonus ke rekeningnya.
Setelah itu mengirim pesan juga kepada Aditya, suaminya, bahwa dia memberikan bonus kepada Jono karena dia sudah bekerja dengan baik.
Jangan lupa tinggalkan jejak sebelum lanjut...😉 Jangan lupa vote, like, dan komentarnya. Bang Otom love you all! 💛💛💛
Era Berdarah Manusia
I Firmo
🌹🌹🌹💐💐💐
Ukir karya
Raih segala asa
Sukses selalu buat Author
👍👍👍👏👏👏
⭐⭐⭐⭐⭐
Era Berdarah Manusia
I Firmo
⭐⭐⭐⭐⭐
🌹🌹🌹🌹🌹
⭐⭐⭐⭐⭐
nambah dukungan ya
🌹🌹🌹🌹🌹🌹💐💐💐💐💐💐
bikin ngeri 😂😂😂