NovelToon NovelToon
JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:837
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Di Lembah Shrouded yang selalu dikepung oleh kabut magis beracun, Mayang, seorang gadis desa dengan kecantikan memikat namun menyimpan rahasia darah kuno, terpaksa melanggar aturan malam demi mencari obat untuk ibunya. Di tengah pekatnya kabut, ia tersesat dan diselamatkan oleh Dion, seorang pemburu bayaran tangguh yang ditakuti karena memiliki kekuatan mengendalikan kabut.
Pertemuan di pondok terisolasi malam itu menyalakan api gairah yang tak tertahankan di antara keduanya. Namun, hubungan mereka bukan sekadar romansa biasa. Ada misteri besar yang menyelimuti asal-usul mereka: kutukan kabut yang perlahan mulai memakan korban di lembah ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Dion yang kelam dan kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Mayang.
Unsur-Unsur Utama dalam Cerita:
Sisi Fantasi: Keberadaan Lembah Shrouded, makhluk-makhluk mistis yang bersembunyi di balik kabut, klan kabut kuno, serta sihir elemental yang dimiliki oleh Dion dan kekuatan penyembuhan/mistis dari Mayang.
Sisi Misteri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: PENGHAKIMAN MASSA DAN PERISAI KECIL YANG MISTERIUS

Langit di atas Desa Shrouded tidak lagi menyisakan warna biru fajar yang indah. Harapan palsu yang sempat mekar kemarin siang kini telah terkubur dalam-dalam di bawah hamparan kabut hitam pekat yang melayang rendah di sela-sela atap rumah panggung warga. Hawa dingin yang dibawa oleh kabut jelaga ini jauh lebih menyengat, meninggalkan lapisan es tipis di atas permukaan tanah dan membuat napas setiap orang menguar menjadi uap putih yang pekat. Suasana suka ria pesta desa berubah drastis menjadi keputusasaan yang mencekam. Ketakutan yang amat sangat kembali mencengkeram jiwa penduduk desa, dan seperti biasa, ketakutan yang buta selalu menuntut tumbal untuk disalahkan.

Di dalam rumah kayunya yang kini terasa sedingin liang kubur, Mayang duduk bersimpuh di lantai kamar. Tubuhnya yang mungil tampak begitu rapuh, dibalut oleh jubah beludru merah tuanya yang kini kotor dan robek di bagian ujungnya. Rambut hitam bergelombangnya terurai berantakan, menutupi sebagian wajah cantiknya yang kini pucat pasi dengan sepasang mata jernih yang telah membengkak dan memerah karena tangis yang tak kunjung usai sepanjang malam.

Dunia Mayang telah runtuh sepenuhnya. Setiap kali ia memejamkan mata, memori keintiman fajar yang penuh gairah dan kehangatan bersama Dion kembali terbayang, namun detik berikutnya, memori itu langsung terdistorsi oleh bayangan punggung kokoh Dion yang berjalan pergi meninggalkannya masuk ke dalam kabut hitam tanpa sepatah kata pun. Keheningan Dion hari itu terasa jauh lebih kejam daripada cakar monster mana pun. Mayang merasa jiwanya telah diperkosa oleh kebohongan; ia mengira seluruh kepasrahan raga dan cinta yang ia serahkan di atas ranjang fajar hanyalah bagian dari taktik busuk sang pemburu untuk memperalat kekuatan cahayanya demi meruntuhkan segel Tetua Gidion.

"Mengapa kau melakukan ini padaku, Dion...?" rintih Mayang dengan suara yang nyaris habis, air matanya kembali menetes membasahi lantai kayu. Rasa sakit akibat dikhianati oleh pria yang terlanjur menjerat gairahnya ini benar-benar membuat Mayang kehilangan seluruh hasrat untuk hidup. Ia merasa hampa, kosong, dan hancur dalam keputusasaan yang tak berdasar.

BRAKKK! BRAKKK!

"Keluar kau, penyihir sialan! Keluar dari desamu!"

Suara gedoran kasar di pintu depan rumahnya seketika memecah keheningan kamar. Bukan hanya satu suara, melainkan riuh rendah teriakan amarah dari ratusan penduduk desa bergema di luar halaman rumahnya. Suasana mendadak menjadi sangat bising oleh denting senjata, obor yang dinyalakan di tengah siang yang gelap, dan makian yang saling bersahutan.

Marta, ibu Mayang yang belum sepenuhnya pulih, mencoba menahan pintu depan dengan tubuh kurusnya yang gemetar. "Tolong tenang, semuanya! Anakku bukan pembawa malapetaka! Dia yang menyelamatkan nyawaku!" teriak Marta dengan suara yang parau, mencoba membela putrinya di depan massa yang kian beringas.

Namun, amarah warga desa yang sudah terlanjur frustrasi tidak bisa lagi dibendung oleh ucapan seorang wanita tua. Dengan satu dorongan kuat, pintu rumah Mayang didobrak paksa hingga engselnya patah. Tiga pria paruh baya yang kemarin lusa ikut menari di pesta, kini merangsek masuk dengan wajah yang dipenuhi kebencian buta. Mereka mencengkeram kedua lengan Mayang dengan kasar, menyeret tubuh mungil gadis itu keluar dari dalam kamar, melewati ruang tamu yang berantakan, hingga akhirnya melempar Mayang ke atas tanah berlumpur di tengah alun-alun desa.

Mayang tersungkur, jubah merahnya berlumuran lumpur hitam yang dingin. Ketika ia mendongak, ia mendapati dirinya telah dikepung oleh lautan manusia yang memandangnya dengan tatapan penuh permusuhan dan kebencian yang mendalam. Warga desa yang sebelumnya mengelu-elukannya sebagai penyelamat, kini berbalik arah sepenuhnya setelah melihat kabut hitam yang kian pekat mengurung wilayah mereka.

"Lihat wanita pelacur ini! Dialah yang membawa iblis kabut itu ke desa kita!" teriak seorang pria bertubuh kekar sambil mengacungkan obor apinya ke arah wajah Mayang. "Gidion benar! Mayang telah menyerahkan kesuciannya pada pemburu kabut sesat itu untuk meruntuhkan segel pelindung desa kita! Sekarang, lihat apa yang terjadi! Kabut hitam ini akan membunuh anak-cucu kita semua!"

"Iya! Bakar saja dia! Dia adalah mata-mata klan kabut! Tumbalkan dia ke dalam kobaran api agar dewa lembah memaafkan dosa desa ini!" sahut warga yang lain, memicu gelombang persetujuan massa yang kian liar. Beberapa pria mulai mengumpulkan tumpukan kayu kering di tengah alun-alun, bersiap untuk mendirikan tiang penghakiman bagi Mayang.

Mayang hanya bisa diam terpaku di atas tanah berlumpur. Keputusasaan yang teramat dalam membuat ia tidak memiliki kekuatan lagi untuk membela diri. Akal sehatnya telah lumpuh oleh rasa sakit hati kepada Dion, hingga mengira bahwa kematian di atas tumpukan kayu bakar mungkin adalah jalan terbaik untuk mengakhiri siksaan batin yang menderanya. Ia memejamkan mata jernihnya, bersiap menerima takdir kejam yang akan segera membakar kulitnya.

"Ikat dia ke tiang!" perintah sang pemimpin massa dengan nada suara yang mutlak. Dua orang algojo desa melangkah maju membawa tali tambang besar yang tebal, siap menyeret Mayang menuju tumpukan kayu yang kini mulai diperciki api obor.

Namun, tepat ketika ujung tali tambang itu hendak menyentuh pergelangan tangan Mayang yang halus, sebuah pergerakan kecil mendadak memecah barisan kepungan massa. Dari sela-sela kerumunan orang dewasa yang sedang beringas, sesosok anak kecil melesat maju dengan cepat. Anak laki-laki itu berusia tidak lebih dari tujuh tahun, mengenakan pakaian kain lusuh yang kedodoran, dengan tubuh yang tampak kurus.

Tanpa rasa takut sedikit pun, anak kecil itu langsung berdiri tegak tepat di depan tubuh bersimpuh Mayang. Ia merentangkan kedua tangan kecilnya yang kurus ke samping, memosisikan dirinya sendiri sebagai sebuah perisai hidup yang kokoh di antara Mayang dan mata tombak para algojo desa. Sepasang mata bulat milik anak kecil itu memancarkan keberanian yang sangat tidak lazim bagi bocah seusianya, menatap lurus ke arah kerumunan orang dewasa yang sedang murka.

"Jangan sentuh Kak Mayang! Kalian semua jahat! Kak Mayang bukan orang jahat!" teriak anak kecil itu dengan suara cemprengnya yang melengking tinggi, memecah riuh rendah makian di alun-alun desa.

Tindakan nekat dan tiba-tiba dari bocah kecil itu seketika membuat seluruh alun-alun desa mendadak senyap. Langkah kaki kedua algojo yang membawa tali langsung terhenti di udara, memandangi bocah itu dengan kening yang berkerut dalam. Kerumunan warga desa saling pandang satu sama lain, merasa sangat bingung, terkejut, sekaligus sedikit kesal karena momentum penghakiman mereka mendadak diganggu oleh seorang anak kecil yang tidak tahu dari mana asalnya.

"Heh, bocah sialan! Minggir kau dari sana!" bentak sang pemimpin massa dengan nada kesal, melangkah maju beberapa tindak sambil menghentakkan popor tombaknya ke tanah. "Kau tidak tahu apa-apa! Gadis di belakangmu itu adalah penyihir yang membawa kutukan kabut hitam ini! Minggir atau kau juga akan ikut kami bakar!"

Namun, anak kecil itu tetap bergeming. Ia tidak mundur satu senti pun, justru pegangan kakinya di atas tanah berlumpur kian mengencang. "Aku tidak mau minggir! Kak Mayang bukan penyebab kutukan ini! Orang-orang dari klan kabut itu datang bukan karena Kak Mayang! Mereka datang karena... karena mengejar wanita baik yang dulu pernah menyelamatkanku di hutan maut!" seru si bocah dengan polos namun penuh keyakinan.

Mendengar penuturan anak kecil itu, suasana di alun-alun desa yang semula panas oleh amarah kini mendadak dipenuhi oleh tanda tanya besar yang menggantung di udara. Mayang yang berada di belakang bocah itu perlahan membuka matanya, menatap punggung kecil si anak dengan rasa bingung yang amat sangat. Siapakah sebenarnya anak kecil ini? Mengapa ia begitu berani mempertaruhkan nyawanya demi melindungi Mayang? Dan apa hubungannya antara anak ini dengan klan kabut yang dibawa pergi oleh Dion kemarin siang?

Semua mata kini tertuju tajam pada sosok perisai kecil tersebut, menanti jawaban yang berpotensi merobek tirai konspirasi yang jauh lebih besar di balik kabut hitam yang mengurung takdir mereka semua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!