Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Kisah yang Terus Berlanjut
Beberapa bulan telah berlalu sejak peristiwa di Gua Akar Dunia. Kehidupan di kaki Gunung Karang dan seluruh daerah sekitarnya kembali berjalan dengan damai, bahkan terasa lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Tidak ada lagi kabut aneh, suara gaib yang membingungkan, atau makhluk mengganggu yang keluar dari tempat tersembunyi. Alam pun terlihat semakin subur: sungai mengalir jernih, hutan lebat menghijau, dan hasil bumi melimpah ruah.
Cepot dan Dawala kini kembali menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasa—membantu ibu di rumah, bekerja di ladang, dan sesekali berkeliling ke desa-desa tetangga untuk berdagang atau sekadar bersilaturahmi. Namun, pengalaman yang mereka lalui telah mengubah pandangan mereka, meskipun sifat aslinya tetap tidak berubah: Cepot yang suka bercanda dan pandai mengambil keputusan, serta Dawala yang polos, hati-hati, namun semakin berani.
Suatu pagi yang cerah, saat keduanya sedang membersihkan kebun di belakang rumah, terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa mendekat. Seorang lelaki dari desa sebelah datang dengan napas terengah-engah, wajahnya tampak cemas.
“Cepot! Dawala! Syukurlah kalian ada di sini!” serunya sambil menyeka keringat di dahi.
Cepot segera berhenti bekerja, lalu menegur dengan nada ramah. “Ada apa, Pak Jaya? Kenapa terlihat tergesa dan cemas sekali? Apakah ada masalah di desamu?”
Pak Jaya menarik napas panjang sebelum menjawab. “Belum tentu bahaya, tapi hal yang aneh mulai terjadi. Sejak tiga hari yang lalu, setiap malam di tepi Danau Hijau muncul cahaya berwarna kebiruan yang terbang ke sana kemari. Suaranya seperti dentingan logam yang halus, namun siapa pun yang mendekat akan merasa pusing dan tubuh terasa lemas. Beberapa orang yang mencoba melihatnya malah jatuh sakit demam tinggi.”
Dawala yang mendengar hal itu langsung mengernyitkan dahi. “Apakah itu makhluk jahat juga, seperti Ki Burak atau Nyai Ronggeng?”
“Belum tentu jahat,” jawab Cepot sambil menggaruk dagunya. “Bisa jadi itu hanya makhluk yang terganggu, atau benda yang memiliki kekuatan tersendiri. Kita tidak boleh langsung menuduhnya sebelum melihat sendiri. Tapi karena warga merasa terganggu, sebaiknya kita periksa saja kebenarannya.”
Mereka pun berpamitan kepada ibu, menyiapkan bekal secukupnya, serta membawa kembali Golek Pancasona dan galah bambu kesayangan. Perjalanan menuju Danau Hijau memakan waktu sekitar setengah hari, melewati jalan setapak yang sudah akrab mereka lalui.
Sesampainya di tepi danau saat senja mulai turun, suasana terasa sepi namun tidak menakutkan. Air danau berkilau terkena cahaya matahari yang terbenam, menampilkan warna hijau kebiruan yang alami. Namun, begitu malam tiba dan langit mulai gelap, terlihat jelas cahaya samar berwarna biru muda yang melayang perlahan di atas permukaan air, bergerak mengikuti arus angin.
“Lihat itu, Kang! Benar kata Pak Jaya, ada cahaya yang terbang sendiri,” bisik Dawala sambil menunjuk ke arah tengah danau. “Rasanya udara di sekitar sini memang terasa sedikit berat, tidak segar seperti tempat lain.”
Cepot mengangkat tangan tanda agar adiknya tetap diam dan tidak bergerak mendadak. Ia memperhatikan cahaya itu dengan saksama, lalu berkata pelan, “Lihat gerakannya. Ia tidak menyerang, hanya bergerak-gerak tidak menentu seolah sedang bingung atau mencari sesuatu. Kalau ia jahat, pasti sudah mendekati kita sejak tadi.”
Mereka pun melangkah perlahan mendekati tepi air, tidak terlalu dekat namun cukup untuk melihat dengan jelas. Saat jarak mereka sekitar sepuluh langkah, cahaya itu tiba-tiba berhenti melayang, lalu berputar cepat sebelum berubah wujud menjadi sosok kecil setinggi anak manusia, berpakaian dari daun-daun kering dan rambutnya berkilau seperti butiran embun. Matanya bening, namun tampak sedih dan lelah.
“Siapa kalian? Mengapa datang ke tempat ini?” tanyanya dengan suara lembut yang terdengar seperti desiran angin. “Apakah kalian juga ingin mengambil benda yang menjadi hakku?”
Cepot tersenyum tenang, lalu menjawab dengan nada sopan. “Kami hanya lewat dan mendengar kabar bahwa kehadiranmu membuat warga sekitar merasa tidak nyaman. Kami tidak ingin mengambil apa-apa, hanya ingin tahu mengapa kau terlihat gelisah dan membuat udara di sini terasa berat.”
Sosok itu menghela napas panjang, lalu duduk di atas air seolah duduk di atas tanah yang kokoh. “Namaku Lintang, penjaga permata penyeimbang air danau ini. Dulu, saat Ki Burak masih memiliki kekuatan besar, ia mencuri sebagian energi dari permata ini untuk menambah tenaganya. Sekarang setelah ia lemah, energinya kembali, tapi terpecah-pecah dan tidak menempati tempatnya semula. Itulah sebabnya aku menjadi tidak tenang, dan getarannya membuat siapa pun yang mendekat merasa pusing.”
Dawala yang mendengar penjelasan itu segera merasa iba. “Jadi bukan kau yang jahat, tapi hanya terganggu karena tugasmu menjadi sulit? Maafkan kami yang sempat berpikir buruk.”
Lintang menggeleng pelan. “Tidak apa-apa. Banyak yang takut melihat cahaya aneh dan langsung menganggapnya bahaya. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara menyatukan kembali energi yang terpecah itu. Sudah berhari-hari aku mencobanya, tapi usahaku selalu gagal.”
Cepot teringat kembali pesan Mbah Jati dan sifat Golek Pancasona yang mampu memantulkan dan menyeimbangkan energi. Ia perlahan mengeluarkan pusaka itu dari pinggangnya, namun tidak mengangkatnya dengan cara mengancam.
“Kalau boleh, biarkan kami membantu,” katanya lembut. “Benda ini memiliki kekuatan untuk menyeimbangkan apa yang kacau. Biarkan ia menyentuh permukaan air, mungkin ia bisa membantu mengembalikan semuanya ke tempat asalnya.”
Lintang ragu sejenak, lalu mengangguk setuju. Cepot melangkah mendekat, lalu menurunkan ujung Golek Pancasona hingga menyentuh permukaan air danau. Seketika itu juga, cahaya putih keemasan memancar pelan, bercampur dengan cahaya biru yang keluar dari tubuh Lintang. Kedua cahaya itu menyatu, lalu menyebar ke seluruh permukaan air dan masuk ke dalam kedalaman danau.
Terdengar suara lembut seperti alunan air yang tenang, dan rasa berat yang menyelimuti udara perlahan menghilang. Tidak lama kemudian, cahaya yang terpecah-pecah itu berkumpul kembali menjadi satu titik terang yang masuk ke dalam dasar danau. Suasana kembali menjadi segar, bahkan terasa lebih menyejukkan dari sebelumnya.
Lintang terlihat sangat lega, senyumnya kembali terukir indah. “Terima kasih banyak, Cepot dan Dawala! Kalian telah mengembalikan keseimbangan ini. Sekarang tugasku bisa berjalan dengan baik lagi, dan warga desa tidak akan merasa terganggu lagi.”
“Kami senang bisa membantu,” jawab Cepot sambil menyimpan kembali pusakanya. “Ingat saja, kalau ada masalah lagi atau butuh bantuan, panggil saja kami. Kami akan datang sebisa mungkin.”
Setelah berpamitan dan memastikan semuanya aman, keduanya pun berjalan pulang saat fajar mulai menyingsing. Di sepanjang perjalanan, Dawala tampak berpikir dalam-dalam.
“Kang, ternyata tidak semua hal yang terlihat aneh itu berbahaya, ya?” tanyanya. “Kadang mereka hanya membutuhkan bantuan, bukan pertarungan.”
Cepot menepuk pundak adiknya sambil tertawa. “Benar sekali, Da. Itu pelajaran baru lagi. Kekuatan bukan hanya untuk melawan musuh, tapi juga untuk membantu mereka yang kesulitan. Selama hati kita tetap terbuka dan tidak langsung menghakimi, jalan keluarnya akan selalu ada.”
Mereka melanjutkan langkah dengan hati yang gembira, menyadari bahwa petualangan mereka belum tentu berakhir. Dunia ini luas, dan pasti akan selalu ada hal baru yang menanti untuk dipelajari dan dihadapi—namun kali ini, mereka melangkah dengan lebih bijak, lebih percaya diri, dan tetap membawa sifat sederhana yang menjadi ciri khas mereka.