Dua orang yang dipaksa hidup untuk ambisi orang lain, bertemu di tempat paling brutal: ruang operasi. Tekanan membuat mereka hancur, tapi juga satu-satunya tempat mereka jujur.
Devan Adiguna Handaru, Konsulen Bedah Thoraks dan Kardiovaskular, 35 tahun. Pewaris rumah sakit swasta terbesar. Hidupnya cuma sekitar nama keluarga dan pisau bedah.
Savira, residen muda yang mimisan di tangga darurat. Tapi tetap senyum ke pasien. Hidupnya cuma jaga gawang ekspektasi mamanya.
Mampukah dua orang yang hanya kenal cairan infus dan darah... menambahkan warna untuk hidup satu sama lain? Atau ambisi Chandra Handaru yang akan menghancurkan mereka sebelum cinta sempat tumbuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starry Light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Devan Effect
Dokter Erika menghela napas lega setelah selesai visit bangsal anak. Ia berjalan lesu sambil memikirkan kejadian di lift tadi pagi. Jika diingat, jantungnya masih berdebar hebat. Padahal dokter Devan hanya menatapnya, dan itu hanya beberapa detik karena ia langsung kabur.
"Savira benar-benar butuh pertolongan. Jangan sampai dia berubah jadi mesin tanpa empati karena terlalu sering bersama dokter Devan." gumamnya berjalan ke arah meja nurse station.
Ia meletakan map visit di meja nurse station dengan agak kasar. Mapnya jatuh kebuka.
Suster Nilam yang lagi input data menoleh. "Dokter Erika. Capek banget ya?" tanyanya sambil tersenyum manis.
Erika bersandar di meja, tangannya menyangga kepala sambil melirik suster Nilam di balik meja. "Nilam, menurutmu dokter Devan gimana?" dia menatap suster Nilam mode serius.
Suster Nilam mengerutkan keningnya heran. "Dok-dokter Devan, ya?" katanya meringis garing.
Erika manggut cepat. "Iya, si dewa maut rumah sakit kita. Gimana kalau kamu kerja sama dia?"
Erika mencari validasi, jika dokter Devan yang dipikirkannya sama persis seperti yang dipikirkan orang-orang. Dan hanya Savira yang aneh, karena merasa aman kerja bareng dokter Devan.
"Ehh itu tidak mungkin, Dok." jawab Nilam cepat. "Saya kan perawat di bangsal anak. Jadi tidak mungkin kerja sama dengan dokter Devan." jawab Nilam. Realistis.
Dokter Devan adalah dokter jantung. Kebanyakan pasiennya orang dewasa, mungkin hanya satu atau dua anak yang menjadi pasiennya. Itu karena kelainan jantung bawaan, selebihnya kemungkinan cuma 0,0%. Jadi Nilam merasa aman, jauh dari radar dokter Devan.
Erika manggut-manggut, tapi Nilam kembali buka suara. "Tapi kalau saya kerja bareng beliau, bisa-bisa saya yang jadi pasiennya. Dokter Devan itu terkenal dengan cara kerjanya yang sempurna di atas rata-rata. Tekanan pasti...."
Brak...
Erika menggebrak meja nurse station, hingga Nilam terkejut dan berhenti bicara.
"ITU DIA!" serunya semangat. "Semua orang yang kerja sama dokter Devan pasti akan bilang seperti itu, kan? Bahkan perawat senior seperti suster Eli aja masih ngeluh tiap abis operasi bareng dokter Devan."
Nilam menghela napas dalam-dalam, ia kembali menghadap komputer nya. "Semua juga akan mengeluh seperti itu kalau bekerja dengan dokter Devan, dok." katanya menanggapi perkataan Erika.
"Iya, harusnya memang begitu. Tapi kenapa Savira malah bilang aman kerja sama si dewa maut?" katanya penuh tanda tanya.
Nilam menarik jarinya saat hendak mengetik diatas papan keyboard. Lalu menoleh pada Erika. "Savira?" ulangnya. "Maksud dokter, dokter Savira residen anestesi itu?" tebaknya mendapat anggukan mantap dari Erika.
"Iya. Siapa lagi…" katanya.
Dokter Erika dan suster Nilam terus membicarakan tentang Devan dan Savira dengan asumsi liar. Sepertinya topik yang mereka pilih benar-benar menarik, hingga keduanya tidak menyadari kedatangan dokter Andre yang merupakan teman dokter Devan.
"Seru banget kayaknya. Pada ngomongin apa?" celetuk dokter Andre nimbrung.
"Dokter Andre!" seru dokter Erika dan suster Nilam bersamaan.
Pria bermana lengkap Andre Baskoro itu ikut menyenderkan tubuhnya di meja nurse station. Bersiap menyimak obrolan dua wanita itu.
"Kebetulan banget dokter Andre di sini. Temen dokter itu udah bikin residen anestesi nya jadi robot, sampai dia bilang aman kerja bareng dewa maut." kata Erika semangat.
Dokter Andre mengerutkan keningnya. "Residen anestesi?" ulangnya.
"Iya! Savira. Dia bilang aman kerja bareng dokter Devan. Sangat tidak masuk akal. Benarkan, Nilam?" katanya mencari pembenaran.
Dokter Andre melihat Nilam, membuat gadis itu mengangguk kaku. Karena sebenarnya Nilam tidak tahu pasti. Ia hanya tahu dari cerita Erika.
"Benarkah?" tanyanya sedikit tidak percaya. Pertama dalam sejarah, ada orang yang merasa aman bekerja sama dengan sang dewa maut, sahabatnya.
Andre yang tadinya iseng nimbrung, merasa sedikit tertarik. Pasalnya ia tahu benar bagaimana sikap sahabatnya yang super membosankan itu. Devan tipe pria yang dingin, datar, kaku, dan nyebelin tingkat dewa.
Jika ada seseorang yang bilang aman bekerja dengannya, pasti ada apa-apanya. Dan jika di tarik kebelakang, beberapa minggu ini Devan tidak pernah mengeluh mengenai partner kerjanya.
Andre menggeser tubuhnya lebih dekat dengan Erika, hingga gadis itu bisa menghirup aroma disinfektan dan kopi espresso double shot darinya.
Jarak mereka hanya sejengkal. Erika bahkan bisa menghitung jumlah bulu mata Andre yang lumayan panjang untuk ukuran cowok. Wajahnya tampan, dan yang pasti tidak dingin seperti dokter Devan. Karena itu dokter Andre mempunyai julukan pangeran rumah sakit.
Terlebih karena Andre dokter anak. Senyum ramah dan sikap lembutnya, membuat para pasien anak menyukainya. Sangat berbanding terbalik dengan sahabatnya yang di juluki dewa maut.
Untuk sesaat, Erika menatap dalam-dalam wajah tampan itu. "Dokter Andre ganteng banget sih. Siapa wanita beruntung yang menjadi istrinya? Udah ganteng, baik, kaya, sayang sama anak-anak…." pikiran Erika melayang, bahkan tanpa sadar ia tersenyum malu membayangkan sesuatu yang nakal.
Tuk....
Lamunan Erika buyar saat jari telunjuk Andre menyentil keningnya.
"Awhhh.... Dokter..." rengeknya sambil mengusap kening.
"Kamu ngelamunin apa?" tanya dokter Andre. Nilam menahan senyum di balik meja.
Dokter Erika yang masih mengelus-elus keningnya berhenti. "Emmm bangsal 307 tadi belum sempat saya visit." elaknya nyelonong pergi dengan wajah merah seperti tomat.
Nilam tertawa pelan melihat dokter Erika salah tingkah. Sedangkan Andre bingung melihatnya kabur.
"Nilam, dia kenapa?" tanyanya masih melihat punggung mungil Erika.
Nilam berhenti tertawa. Menoleh pada dokter Andre sesaat. "Dokter Erika lupa visit bangsal 307, dokter." ulangnya.
Andre manggut-manggut meski masih heran dengan tingkah dokter Erika. Kini pandanganya jatuh pada Nilam yang mulai memegang mouse komputer.
"Jadi, siapa yang bilang aman kerja sama dewa maut kita?" tanya dokter Andre, lagi-lagi membuat Nilam menghentikan tangannya.
Nilam sedikit ragu, tapi ia menjawab pertanyaan itu. "Dokter Savira, dok. Residen anestesi tahun dua. Itu yang tadi di katakan dokter Erika."
"Savira." ulang dokter Andre pelan. Beberapa minggu lalu, Devan pernah bilang jika ada dua residen anestesi di bawah bimbingan nya.
Dokter Andre mengangguk paham, lalu mengambil permen lolipop dari saku jas snelli-nya.
"Nilam, nanti tolong kasih ini ke dokter Erika." katanya sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Eh...i-iya, dok." kata suster Nilam gugup.
Dokter Andre memberikan senyum terbaiknya. "Terimakasih, Nilam." katanya ramah, membuat hati Nilam meleleh.
"Sama-sama dokter....." jawab Nilam melihat dokter Andre menjauh dari meja kerjanya.
"Huhhfff.... Senyum pangeran rumah sakit sama bahayanya seperti tatapan datar dewa maut." katanya sambil ngelus dada yang jedag jedug.
Sedangkan Erika, gadis itu menggerutu di dalam toilet. Belum genap sehari, tapi dia sudah dapat dua kali serangan jantung.
Jika tadi pagi serangan jantungnya di sebabkan tatapan dingin dokter Devan. Dan kali ini, di sebabkan oleh sahabat dokter Devan. Jantungnya berdebar kencang dan perutnya terasa dipenuhi ribuan kupu-kupu.
"Ini gila. Aku benar-benar jadi pasien jantung kalau tiap hari begini." keluhnya lesu.
*
*
*
*
*
To be continued
Sampai bab ini, kalian udah bosen belum????