NovelToon NovelToon
Aku Menyelamatkan Seorang Mafia

Aku Menyelamatkan Seorang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Keysa Bom

Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.

Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.

Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.

Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.

Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?

Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 14 Suara yang Hilang

Malam turun dengan begitu tenang di atas langit Desa Sekar. Setelah beberapa hari terakhir terus-menerus diguyur hujan lebat, malam ini langit pesisir tampak bersih tanpa sekat, memamerkan ribuan bintang yang bertaburan menghiasi hamparan cakrawala. Di kejauhan, suara deburan ombak terdengar memecah karang dengan ritme yang lembut, seolah ikut meninabobokan keheningan desa yang mulai terlelap.

Tak terasa, sudah satu minggu penuh Kael menetap di rumah panggung milik Bu Ratih. Bangunan kayu sederhana yang menghadap langsung ke arah laut lepas itu perlahan-lahan mulai terasa seperti sebuah rumah sungguhan di dalam benak Kael tempat bernaung yang nyata, bukan sekadar tempat singgah sementara.

Di halaman depan yang hanya beralaskan tanah, Kael duduk santai di atas bangku kayu panjang sembari menikmati embusan angin laut malam yang sejuk. Tidak jauh dari posisinya, Rani duduk bersila di atas selembar tikar pandan lecek dengan buku gambar setianya yang terpangku di atas lutut.

Jemari mungil gadis kecil itu sesekali bergerak lincah, menari di atas kertas putih menggunakan krayon. Setiap beberapa saat, ia akan mengangkat wajahnya, menatap Kael lekat-lekat seolah memastikan gurunya itu tidak akan pergi kemana-mana.

Di dalam rumah, Bu Ratih sudah mendengkur halus sejak awal malam, tubuh rentanya kelelahan setelah seharian penuh mengurus tanaman di kebun kecil samping rumah.

Sementara itu, jauh di sisi lain desa, lampu neon di rumah dinas kecil tepat di samping Poskesdes masih tampak menyala terang. Hana, dengan kacamata bertengger di hidungnya, masih sibuk menggoreskan pena, berkutat dengan tumpukan laporan kesehatan bulanan yang harus segera ia selesaikan sebelum beristirahat.

Kael mengalihkan pandangannya dari laut, berganti memperhatikan Rani yang kini sedang sibuk memberikan warna pada gambarnya.

Selama beberapa hari terakhir menghabiskan waktu bersama, Kael mulai menyadari satu hal krusial tentang anak ini. Rani sebenarnya memahami seluruh pembicaraan orang-orang di sekitarnya dengan sangat baik.

Gadis kecil itu bisa membaca lambang huruf, mengerti instruksi tulisan, bahkan memiliki tingkat pemahaman serta ekspresi emosi yang luar biasa cerdas untuk anak seusianya.

Namun, ia memilih untuk mengunci rapat bibirnya dari dunia luar.

"Rani, aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Kael, suaranya memecah kesunyian malam dengan nada rendah yang menenangkan.

Rani menghentikan gerakan krayonnya. Kepala kecil itu mendongak, menatap Kael dengan sepasang mata bulatnya yang jernih.

"Mengapa kau tidak pernah mencoba untuk berbicara?"

Pertanyaan langsung itu seketika membuat lengkungan senyum tipis di wajah manis Rani perlahan-lahan memudar. Binar jenaka di matanya meredup, digantikan oleh gurat sendu.

Gadis kecil itu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Jemarinya bergerak lambat, mengambil sebuah pensil hitam lalu menorehkannya di atas lembar kosong buku gambarnya.

"Aku tidak bisa."

Kael memajukan tubuhnya sedikit, membaca tulisan berhuruf tebal itu dengan saksama.

"Benar-benar tidak bisa? Bukan karena kau tidak mau?"

Rani menggelengkan kepalanya dengan cepat, meremas pensil di genggamannya. Ia kembali menunjuk tulisan itu dengan penekanan yang kuat.

"Tidak bisa."

Kael kembali menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku, terdiam seraya mencerna jawaban tersebut. Ingatannya berputar pada percakapannya dengan Dokter Hana beberapa hari yang lalu di Poskesdes.

Saat itu, Hana menjelaskan dari sudut pandang medis bahwa secara fisik, struktur pita suara dan indera pendengaran Rani sebenarnya berada dalam kondisi yang sangat normal tanpa cacat sedikit pun.

Namun, tragedi enam bulan lalu saat ayah Rani meninggal akibat kecelakaan tragis di tengah laut telah menghantam jiwa kecilnya dengan trauma emosional yang terlampau hebat. Sejak hari kelam itu, Rani berhenti bersuara.

Dalam literatur medis, kondisi yang dialami Rani dikenal sebagai mutisme selektif akibat trauma psikologis. Ini bukanlah ketidakmampuan fisik, melainkan sebuah mekanisme pertahanan diri di mana otak pasien secara tidak sadar mengunci fungsi vokal demi melindungi ego dari tekanan emosional yang belum sanggup mereka proses.

Kael mengalihkan tatapannya kembali pada bentangan laut yang gelap di depan mereka. Entah mengapa, penjelasan ilmiah dari Hana malam itu terasa begitu mengusik benaknya. Ia tahu betul bagaimana rasanya mengunci diri karena sebuah trauma.

"Lalu..." Kael kembali menatap Rani yang masih menunduk. "...apakah kau memiliki keinginan untuk berbicara lagi?"

Hening tercipta cukup lama di antara mereka. Rani terpaksa bergelut dengan pikirannya sendiri sebelum akhirnya, secara perlahan, ia menganggukkan kepalanya. Gerakan itu sangat pelan, nyaris tak terlihat jika bukan karena ketajaman mata Kael yang terus mengawasinya.

"Itu berarti kau sebenarnya bisa," sahut Kael tegas, membuat Rani mendongak dengan raut wajah bingung.

Sudut bibir Kael terangkat sedikit, membentuk senyuman tipis yang sarat akan keyakinan.

"Mungkin tidak sekarang. Mungkin juga tidak besok pagi. Tapi suatu hari nanti, kau pasti bisa."

Rani menggigit bibir bawahnya pelan, matanya mulai berkaca-kaca mendengar keyakinan yang diucapkan oleh gurunya itu.

Kael kemudian membungkuk, memungut sebatang ranting pohon kecil yang patah di dekat kakinya. Di atas permukaan tanah yang rata di hadapan Rani, ia mulai menggoreskan ranting tersebut, membentuk satu huruf kapital yang tegas.

'A'

"Lihat ini," ujar Kael menarik perhatian anak itu.

Rani mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap coretan di atas tanah dengan serius.

"Ini huruf A." Kael menjatuhkan rantingnya, lalu menunjuk dadanya sendiri. "A."

Gadis kecil itu mengangguk paham, namun bibirnya tetap terkatup rapat.

Kael tidak menyerah, pun tidak menunjukkan tanda-tanam paksaan. Ia mengucapkannya kembali dengan vokal yang jelas dan tempo yang lambat. "A."

Rani hanya terus menatap pergerakan bibir Kael. Pria itu mengulanginya lagi, memberikan contoh dengan kesabaran yang luar biasa tebal sesuatu yang bahkan tidak pernah Kael sangka ada di dalam dirinya sendiri. "A."

Dan sekali lagi, "A."

Menit-menit berlalu dalam keheningan yang kian pekat. Rani mulai memperlihatkan gestur gugup; kedua tangan mungilnya meremas ujung baju kaosnya sendiri hingga berkerut. Matanya bergerak gelisah antara huruf di tanah dan wajah Kael.

Ada letupan keinginan yang besar di dalam dadanya untuk mencoba, namun dinding ketakutan tak kasatmata yang selama ini mengungkungnya masih menahan erat pita suaranya.

"Tidak apa-apa," potong Kael lembut, seolah bisa membaca badai yang sedang berkecamuk di dalam kepala anak itu. "Kau tidak harus langsung berhasil malam ini, Rani."

Rani menatap lurus ke dalam sepasang mata kelam milik Kael. Untuk pertama kalinya sejak rentetan peristiwa malang menimpanya, ia tidak menemukan kilat tuntutan, tuntunan yang memaksa, ataupun tatapan penuh rasa kasihan yang merendahkan dari mata seseorang.

Di mata pria itu, yang ada hanyalah hamparan kesabaran. Sebuah kepercayaan mutlak tanpa syarat bahwa dirinya pasti mampu melaluinya.

Perlahan, bibir mungil Rani mulai bergetar. Ia membuka mulutnya sedikit, mencoba mendorong udara keluar dari tenggorokannya yang terasa kering dan kaku selama berbulan-bulan.

"...A..."

Kael seketika membeku di tempatnya duduk.

Rani sendiri tampak terlonjak kaget akibat suara asing yang baru saja lolos dari celah bibirnya. Seolah tidak percaya bahwa getaran vokal itu benar-benar berasal dari dirinya sendiri, sepasang mata bulatnya membelalak sempurna.

Sedetik kemudian, ia buru-buru menutup mulutnya rapat-rapat menggunakan kedua telapak tangan. Napasnya memburu cepat, dipicu oleh rasa gugup dan syok yang bercampur aduk.

Namun, alih-alih mendesak, Kael justru tersenyum lebar sebuah senyuman tulus yang memancarkan rasa bangga yang luar biasa.

"Itu awal yang sangat bagus."

Mendengar pujian itu, pertahanan Rani runtuh. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini mulai menggenang di pelupuk mata.

"...A..." Rani mencobanya sekali lagi, kali ini dengan menurunkan perlahan kedua tangannya dari wajah.

Suara itu terdengar sangat kecil, serak, dan nyaris tenggelam oleh suara desau angin malam. Namun bagi Kael, itu adalah sebuah lompatan besar.

Bagi seorang anak yang telah mengubur suaranya sendiri dalam kesunyian mutlak selama berbulan-bulan, satu huruf sederhana yang berhasil diucapkan adalah sebuah kemenangan besar atas traumanya.

Satu titik air mata akhirnya lolos membasahi pipi Rani. Bukan karena rasa sedih, melainkan karena kelegaan yang luar biasa setelah sekian lama terjebak dalam sangkar sunyi. Ia berhasil mengeluarkan suaranya kembali.

Kael mengulurkan tangannya yang besar, mengusap puncak kepala gadis kecil itu dengan gerakan yang sangat lembut, menyalurkan seluruh dukungan yang ia punya.

"Bagus sekali, Rani. Kau hebat."

Rani tersenyum lebar di balik sisa air matanya, buru-buru menyeka pipinya menggunakan punggung lengan baju.

Malam terus bergulir menyelimuti pesisir Desa Sekar. Di bawah payungan langit malam yang bertabur jutaan bintang, seorang pria dengan masa lalu kelam dan seorang anak kecil yang terluka duduk berdampingan di halaman rumah panggung sederhana.

Tanpa mereka sadari, malam yang sunyi itu telah bertransformasi menjadi sebuah tonggak sejarah langkah pertama yang teramat berharga bagi Rani untuk merebut kembali suara yang sempat hilang dari hidupnya.

Bersambung...

1
falea sezi
Rani g punya ortu kah
Keysa_Bom: ada kak 😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!