"Menikahlah. Jadi orang tua utuh untuk Kenzie. Jangan biarkan dia merasa kehilangan sosok ayah dan ibu. Tolong, jangan biarkan dia sendirian."
Demi wasiat kedua kakaknya. Aruna dan Gavin terpaksa menikah saat itu juga. untuk menggantika peran kedua kakaknya pada keponakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amillea24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Hari kedua Kenzie bersekolah diawali dengan rutinitas baru yang mulai terasa familier. Pukul 07.30 WIB, Gavin sudah rapi dengan kaus putih polos bermerek dan celana jins hitam, lengkap dengan parfum maskulinnya yang menguar mewah. Di jok belakang, Kenzie dan Aruna sudah siap untuk berangkat.
"Ingat ya, Daddy Apin," goda Aruna saat mereka turun di parkiran sekolah, sengaja menekankan panggilan baru itu dengan senyum jahil. "Hari ini jadwalnya kelas sensory play untuk merangsang motorik dan fokus anak. Siapkan mentalmu."
##
Gavin membenarkan letak gendongan Kenzie di pundaknya, lalu terkekeh meremehkan. "Alah, cuma mainan anak bayi, Mami Runa. Paling cuma mindahin balok atau masukin bola. Gampang lah, kecil itu mah!"
Aruna hanya melempar senyum penuh arti yang membuat bulu kuduk Gavin mendadak meremang.“Kita lihat saja nanti, terlalu mengentengkan saja pria Playboy ini” batin Aruna geli sebelum melambaikan tangan untuk masuk ke kelasnya sendiri.
Begitu Gavin melangkah masuk ke ruang daycare kelas batita, matanya langsung membelalak. Karpet puzzle angka yang kemarin bersih, kini sudah dilapisi lembaran plastik benar-benar lebar di seluruh penjuru ruangan. Di tengah-tengah kelas, sudah berjejer beberapa baskom besar berisi bahan-bahan yang membuat insting overthinking Gavin langsung bergejolak.
Ada wadah berisi tepung kering, beras warna-warni, jeli kenyal, genangan air sabun, hingga... ember berisi lumpur buatan dari campuran cokelat bubuk dan air.
"Selamat pagi, Daddy Kenzie! Wah, kompak sekali hari ini," sapa Bu Guru berkacamata dengan ceria. "Hari ini tema kita adalah mengenal tekstur keras, lembek, kenyal, dan basah ya. Para orang tua dimohon mendampingi dan membiarkan anak-anak bereksplorasi secara bebas. Jangan dilarang ya, Mam, Dad!"
Gavin menelan ludah pasrah saat didudukkan di dekat wadah jeli dan lumpur cokelat. Di sekelilingnya, ibu-ibu lain sudah tampak memakai celemek plastik dengan wajah was - was. Sementara Gavin? Ia lupa membawa baju ganti untuk dirinya sendiri.
"OMG!! Mati aku. Mana baju ku putih lagi. Kenapa Aruna tak bicara kalo sensory play nya kaya gini ?" Gumam Gavin dengan raut wajah tertekan.
Sedangkan bocah kecil yang berada di dalam gendongannya malah antusias. Melihat pembelajaran kali ini seperti ini.
Tanpa aba-aba, batita aktif itu langsung merangkak maju. Berbaur dengan para teman - temannya yang sudah bergabung bermain disana. Target pertamanya: baskom berisi jeli kenyal berwarna merah terang.
Plop!
Kenzie meremas jeli itu dengan tangan mungilnya hingga hancur. Suara tawa renyahnya pecah. Namun, belum sempat Gavin bernapas lega, tangan Kenzie yang penuh dengan sisa jeli lengket itu langsung mendarat tepat di pipi mulus Gavin.
"Eh, Kenzie! Jangan ke muka Daddy, dong—"
Belum selesai Gavin memprotes, Kenzie sudah berpindah ketertarikan. Kali ini, matanya berbinar melihat baskom lumpur cokelat di sebelahnya. Dengan kecepatan cahaya yang tidak terduga, Kenzie mencelupkan kedua tangan dan kakinya ke dalam sana, lalu mulai menepuk-nepuk air lumpur itu dengan riang.
Ciprat! Ciprat! Ciprat!
"Astagfirullah!" Gavin spontan memekik, refleks menutup wajahnya.
Terlambat. Kaus putih polos bermerek mahal milik Gavin kini sudah sukses berubah motif menjadi bercak-bercak cokelat asimetris. Tidak hanya itu, sejumput rambut rapinya yang tadi ditata dengan pomade kini ketempelan tepung kering yang diterbangkan oleh anak di sebelah mereka. Gavin resmi terlihat seperti adonan kue berjalan.
"Wah, Daddy Kenzie hebat ya, gak takut kotor!" puji ibu-ibu di sebelahnya sambil tertawa tertahan melihat komat-kamit pasrah di wajah tampan Gavin.
Gavin hanya bisa tersenyum masam dengan sudut bibir berkedut. "Iya, Bu... demi motorik anak," jawabnya pasrah, sementara dalam hati ia menjerit meratapi harga dirinya yang runtuh berkeping-keping.
Melihat anak - anak di kelas ini sangat begitu senang dan bersemangat bermain motorik seperti ini. Membuat Gavin merinding melihatnya. Lihat lah anak - anak itu sudah tak berbentuk lagi. Tampilan yang tadi rapih dan bersih kini sudah berubah kotor. Saking semangatnya bocah kecil itu bermain
Puncak kekacauan terjadi di satu jam terakhir. Kenzie yang sudah telanjur basah kuyup oleh jeli, air sabun, dan lumpur cokelat, tiba-tiba merasa gemas pada Gavin. Dengan tubuhnya yang licin dan penuh warna itu, Kenzie merangkak naik ke atas pangkuan Gavin, lalu memeluk leher pamannya itu dengan erat.
"Didi... Eji tayan (sayang) Didi..." celoteh Kenzie manja, menempelkan pipinya yang penuh cokelat ke leher Gavin.
Deg.
Rasa kesal, pusing tujuh keliling, dan penyesalan Gavin karena memakai baju putih mendadak menguap begitu saja. Mendengar suara cadel Kenzie yang memanggilnya 'Daddy' dengan begitu tulus sambil memeluknya erat, ada rasa hangat yang luar biasa menjalar di dada Gavin. Perlahan, tangan Gavin yang juga sudah kotor ikut membalas pelukan mungil Kenzie, mengabaikan fakta bahwa penampilannya kini sudah mirip kuda lumping habis atraksi.
"Iya, Daddy juga sayang Kenzie," bisik Gavin lembut, mengacak rambut lebat keponakannya yang kini wangi cokelat dan minyak telon.
##
Saat jam istirahat tiba, Aruna sengaja berjalan melewati koridor kelas batita untuk mengecek keadaan. Begitu matanya menangkap sosok Gavin yang terduduk lemas di pojokan kelas dengan baju penuh noda cokelat, tepung di rambut, dan wajah pasrah, tawa Aruna langsung pecah tanpa bisa ditahan. Ia menutup mulutnya, bahunya terguncang hebat karena geli.
Gavin yang melihat Aruna menertawakannya dari balik kaca langsung memberikan tatapan tajam yang tersiksa, seolah memberi kode: "Tolong aku, Ru! Aku mau pingsan!"
Aruna menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyum manis yang tertinggal di bibirnya. Di balik kekacauan hari itu, Aruna tahu, Gavin benar-benar sedang berjuang keras untuk menjadi sosok 'Daddy' yang nyata bagi Kenzie.
"Tadi aja sombong banget. Bilangnya cuman permainan anak bayi." Dengus Aruna kesal.
Merasa kasih melihat pria itu tak berdaya seperti itu membuat Aruna berjalan masuk kedalam kelas Kenzie. Ia mengambil Kenzie yang sedang menemplok bak cicak di atas tubuh Gavin.
"Saatnya Kenzie mandi. Badan Kenzie sudah kotor sekali." Ucap Aruna dengan lembut sambil mengangkat tubuh Kenzie dari atas tubuh Gavin.
Bersambung...
tapi bagus run keren Badas Banggt dari pada pusing Meding enjoy sama ponakan
lagi dong Thor