Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.
Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.
Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.
Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?
Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Sembilan Belas
Malam terasa lebih sunyi di kontrakan kecil yang ditempati Hana.
Lampu ruang tengah menyala redup, hanya cukup menerangi sebagian ruangan. Di luar, suara jangkrik bersahutan, sesekali diselingi suara motor yang melintas. Tapi di dalam, semuanya terasa hening.
Hana duduk di tepi ranjang, kedua tangannya bertumpu di pangkuan. Pandangannya kosong, menatap lantai yang dingin.
Tanpa sadar, tangannya perlahan bergerak, menyentuh perutnya sendiri. Masih rata. Belum terlihat apa-apa. Tapi ia tahu, itu tidak akan bertahan lama.
“Nanti juga kelihatan …,” bisiknya pelan.
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi menghantam pikirannya keras. Nafasnya tertahan sesaat.
Bayangan demi bayangan mulai bermunculan. Tatapan tetangga. Bisik-bisik di belakang punggung.
Pertanyaan yang menusuk tanpa belas kasihan.
“Suaminya mana?”
“Kok hamil sendiri?”
“Jangan-jangan .…”
Hana memejamkan mata rapat. Kepalanya menggeleng pelan, seolah ingin mengusir semua suara itu.
“Aku nggak yakin kuat menghadapinya nanti …,” gumamnya lirih.
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Tapi pikirannya terus berputar. Tidak ada jalan keluar yang mudah.
Jika ia tetap di sini, semuanya hanya tinggal menunggu waktu. Perutnya akan membesar. Orang-orang akan mulai curiga.
Dan pada akhirnya, ia harus menjawab pertanyaan yang bahkan ia sendiri belum siap untuk menghadapinya. Beberapa menit berlalu dalam diam.
Hana membuka matanya perlahan. Tatapannya berubah. Tidak lagi kosong, tapi mulai penuh pertimbangan.
“Kalau aku pergi .…”
Kalimat itu menggantung. Ia menelan ludah, lalu melanjutkan dalam hati. “Kalau aku pulang kampung .…”
Seketika, pikirannya terasa sedikit lebih ringan. Di sana tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia bisa mengatur ceritanya sendiri. Ia bisa memilih apa yang ingin ia katakan.
“Aku bilang saja … aku sudah cerai,” ucapnya pelan, hampir seperti meyakinkan diri sendiri.
Logika itu terasa masuk akal. Perceraian bukan hal yang aneh. Orang-orang mungkin akan bertanya, tapi tidak akan sejauh ini.
Dan soal kehamilan, ia menghela napas panjang. “Setidaknya aku punya waktu,” lanjutnya lirih.
Keputusan itu perlahan terbentuk. Tidak mudah. Tapi itu satu-satunya jalan yang ia rasa bisa ia tempuh.
Hana bangkit dari duduknya. Langkahnya pelan, tapi pasti. Ia berjalan menuju lemari kecil di sudut ruangan.
Pintu lemari dibuka. Beberapa pakaian tergantung rapi, sebagian lagi terlipat seadanya.
Ia menarik koper dari lemari. Suara gesekan koper dengan lantai terdengar pelan, tapi cukup memecah kesunyian.
Hana membuka koper itu. Tangannya mulai bergerak, mengambil satu per satu pakaian. Semuanya dimasukkan dengan rapi, meski sesekali gerakannya terhenti.
Setiap helai pakaian seolah membawa kenangan. Tentang hidupnya di kota ini. Tentang Farhan. Tentang semua yang sudah terjadi.
Hana berhenti sejenak. Tangannya menggenggam sepotong dress yang pernah ia pakai saat masih bersama Farhan.
Ia menatapnya lama. Matanya berkaca-kaca. Tapi tidak ada air mata yang jatuh. Sudah cukup selama ini ia menangisi pria itu. Perlahan, ia melipat dress itu dan memasukkannya ke dalam koper.
“Udah selesai …,” bisiknya.bIa menutup koper, lalu menguncinya.
Sementara itu, di tempat lain, seorang pria berpakaian rapi berjalan cepat memasuki gedung kantor megah. Wajahnya terlihat serius. Ia langsung menuju lift dan menekan tombol lantai atas.
Beberapa menit kemudian, pintu lift terbuka. Ia melangkah keluar dan berjalan menuju sebuah ruangan besar dengan pintu kayu. Tanpa ragu, ia mengetuk.
“Masuk.”
Suara dingin dari dalam terdengar. Pria itu membuka pintu dan masuk.
Di dalam, Arsaka duduk di balik meja kerjanya. Wajahnya tenang seperti biasa, tapi matanya tajam menatap dokumen di tangannya.
“Ada laporan?” tanyanya tanpa basa-basi.
“Iya, Pak,” jawab pria itu.
Arsaka mengangkat wajahnya. “Tentang Hana?”
“Iya, Pak.”
Arsaka langsung meletakkan dokumennya. Fokusnya berpindah sepenuhnya.
“Dia ke mana hari ini?”
“Ke rumah sakit, Pak,” jawab anak buahnya.
Alis Arsaka sedikit berkerut. “Rumah sakit?”
“Iya, Pak. Dia ke dokter kandungan.”
Kalimat itu membuat suasana berubah seketika. Arsaka terdiam beberapa detik. Wajahnya tetap tenang, tapi pikirannya jelas bergerak cepat.
“Dokter kandungan …,” ulangnya pelan.
Ia bersandar di kursinya. Tatapannya kosong sesaat, tapi penuh perhitungan.
“Kalau dia hamil .…”
Kalimat itu tidak selesai. Tapi jawabannya langsung muncul di kepalanya. Dua kemungkinan. Dan keduanya sama-sama berbahaya.
“Anak suaminya … atau .…”
Rahang Arsaka mengeras sedikit. “… anakku?”
Ia menghela napas pelan, tapi dalam. Tatapannya kembali tajam.
“Cari tahu,” perintahnya tegas.
“Pak, data pasien biasanya—”
“Aku tahu sulit,” potong Arsaka cepat. “Tapi aku nggak peduli.”
Nada suaranya dingin. Tidak memberi ruang untuk bantahan.
“Aku mau tahu semuanya. Dokternya siapa, hasilnya apa, usia kandungannya berapa.”
“Iya, Pak.”
“Gunakan cara apa pun yang kalian punya,” lanjut Arsaka. “Aku percaya kemampuan kalian.”
Anak buahnya mengangguk mantap. “Siap, Pak.”
“Dan satu lagi,” tambah Arsaka.
“Iya, Pak?”
“Jangan sampai dia tahu kalau kita mengawasi.”
“Siap.”
Pria itu lalu keluar dari ruangan. Arsaka kembali sendirian.
Ia menatap ke luar jendela, melihat kota yang mulai gelap. Pikirannya tidak berhenti bekerja. Tentang Hana dan kehamilannya. Dan kemungkinan yang tidak pernah ia rencanakan.
“Kalau itu anakku …,” gumamnya pelan.
Tatapannya mengeras. “Berarti semuanya berubah.”
Kembali ke kontrakan .…
Hana berdiri di depan pintu, koper di sampingnya. Ia menatap sekeliling ruangan.
Tempat yang menjadi saksi semua luka dan keputusannya. Kontrakannya tidak besar dan tidak mewah. Tapi cukup untuk menyimpan banyak cerita.
Ia menghela napas panjang. Lalu membuka pintu. Di luar, pemilik kontrakan sudah berdiri, seolah memang menunggu.
“Ibu … saya pamit,” ucap Hana sopan.
Ibu pemilik kontrakan menatapnya dengan sedikit heran. “Lho, mau ke mana, Nak?”
“Saya mau pulang kampung dulu,” jawab Hana.
“Lama?”
Hana tersenyum tipis. “Belum tahu, Bu.”
Wanita itu mengangguk pelan. “Hati-hati ya.”
“Iya, Bu. Terima kasih selama ini.”
Hana sedikit menunduk, lalu menarik kopernya keluar. Langkahnya pelan saat meninggalkan halaman kontrakan.
Tidak ada yang menahannya. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya ia bawa. Bukan hanya koper. Tapi juga rahasia besar di dalam dirinya.
Hana berhenti sejenak di depan gerbang. Ia menoleh ke belakang. Menatap untuk terakhir kalinya. Lalu ia berbalik. Dan melangkah pergi.
Tanpa tahu, bahwa di saat yang sama, seseorang sedang berusaha mengungkap semua yang ia sembunyikan.
dan dia yg bkln meratukan kan membhgiakan kmu Hana....