NovelToon NovelToon
Kau Milikku Sayang

Kau Milikku Sayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Single Mom
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

"siapa namamu?"
xavier menatap lekat bocah 5 tahun itu yang melotot marah kepadanya, bocah laki-laki dengan rambut gondrong ikal sebahu, memegang sebuah rubrik di tangannya.
mata bocah itu mengingatkan xavier pada wanita itu, wanita sialan yang pergi begitu saja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tiga puluh dua

"dengarkan aku dulu, di, pliss!"

Diandra melengos, membuang pandangannya ke arah lain.

"aku mencintaimu, diandra. Aku tak pernah berpikir sedikitpun mempermainkan perasaanmu demi merebut killian darimu"

Diandra memalingkan wajahnya, air matanya sendiri sudah jatuh di pipi. Semua rasa bercampur baur di hatinya saat ini.

Diandra merasa hina, perlakuan xavier barusan menginjak-injak harga dirinya.

Dia memang mencintai pria ini, tapi bukan berarti dia bisa melakukan hal seperti tadi tanpa ijin seenaknya.

"kamu bukan mencintaiku, xavi!, kamu hanya merindukan tubuhku!" suara diandra lirih bergetar penuh amarah.

"kamu hanya ingin menikmatiku tanpa rasa bersalah"

"diandra..." seru xavier terkejut tak percaya, tangannya kembali merengkuh pundak wanita itu yang berusaha mengelak dan menepis tangannya kasar.

"kamu datang kemari, menjual cerita cintamu, agar aku luluh dan rela melepaskan killian untukmu!"

"ohh..tuhan.." seru xavier frustasi, "dengarkan dulu seluruh ceritaku, sayang. Kamu salah paham!"

Diandra menangis tanpa suara, ia tak menjawab, karena takut suara histerisnya akan memancing perhatian killian.

"aku tidak ada niatan menikahi geraldine sama sekali, sayang. Seribu atau ribuan kali pun dia mencoba bunuh diri, aku tak mungkin meninggalkan kalian demi dirinya"

Suara xavier yang lembut membujuk, membuat diandra sedikit melunak. Ucapan pria itu barusan terdengar meyakinkan dan dapat dipercaya.

"kamu dan killian segalanya bagiku, di!"

Diandra mendongak, menatap mata biru pria itu yang membujuknya.

"aku hanya ingin meminta kesabaranmu sedikit lebih lama, biarkan aku menyelesaikan masalahku dengan aldine terlebih dahulu"

"xavi...!"

"aku mengatakan semua ini, sayang. Agar kamu tak curiga atau bertanya-tanya kalau aku akan menjadi jarang datang kemari, aku harus segera menyelesaikan secepatnya!"

"xavi..." panggil diandra lirih, sorot matanya sendu.

"maaf.."

"hhhhhh.." desah xavier lega, menarik kepala yang mendongak itu ke dalam dekapannya.

"kan aku sudah bilang tadi, dengarkan sampai habis dan jangan marah-marah dulu"

"maaf..." pinta diandra lagi, suaranya sedikit tak jelas karena mulutnya tepat berada di dada xavier.

"ahhh, sayang. Amarahmu mengerikan, kamu tahu itu?"

Diandra tertawa kecil dengan suara sisa-sisa isakan yang masih terdengar.

"dan apa itu tadi?" tanya xavier mengurai pelukannya, mencengkeram pundak diandra lembut.

"aku merindukan tubuhmu?"

Wajah diandra ngeblush seketika, ia memalingkan wajahnya cepat, karena xavier mengedipkan mata sebelah, menggodanya.

"tentu, sayang. Aku merindukan semua tentangmu, aroma tubuhmu, lembut kulitmu dan..." ujar xavier menjeda ucapannya, xavier mengarahkan bibirnya ke telinga diandra.

"desahan manjamu, juga tanda lahir di perutmu itu"

Diandra benar-benar malu, wajahnya sudah seperti kepiting rebus, merah dan menjalar panas ke telinganya.

"hahahahha" tawa xavier pecah, tak tahan melihat diandra yang menunduk tersipu malu, wajah diandra benar-benar merah.

"kenapa malu, sayang?, kita bahkan sudah punya killian"

Diandra menggeleng masih dalam keadaan menunduk dalam, tangannya memukuli lengan xavier gemas.

"beda dong!" sahutnya mencicit malu, " saat itu kamukan tidak dalam keadaan sadar, kamu kan mabuk malam itu"

"tapi aku tidak lupa rasamu malam itu, sayang. Walaupun aku mabuk, rasa itu masih melekat hangat di ingatanku"

"sudah..xavi..." ujar diandra jengah, dengan masih merona merah, diandra menatap lekat xavier kembali.

"bagaimana jika tunangan bersikeras tetap harus menikah denganmu?"

Seketika senyum di wajah tampan nan eksotis itu menghilang, berganti dengan desah nafasnya yang terdengar kesal.

"sayang...!" panggilnya tiba-tiba, mencengkeram pundak diandra kembali.

"seandainya, satu-satunya cara untuk kita bersama, aku harus meninggalkan grup pratama, apakah kamu mau hidup miskin denganku?"

Diandra menatap lekat mata biru yang menatapnya penuh harap itu, binar matanya terlalu indah, terlalu tulus.

"emangnya kamu mau meninggalkan kekayaanmu hanya demi aku dan lian?"

"tentu.." sahut xavier cepat dan yakin, "aku akan meninggalkan semuanya jika itu adalah syarat dari oma untuk bisa bersama dengan kalian"

Jantung diandra berdenyut cepat, menghasilkan rasa haru yang membuncah. Rasanya tak mungkin pria ini berbohong dengan tatapan setulus itu.

"kalau kamu siap meninggalkan semua kekayaan yang kamu punya sejak kecil itu begitu saja, apalagi aku, xavi. Aku siap asalkan bersamamu"

"ohhh..sayang!" seru xavier lega, memeluk tubuh mungil diandra dan mendekapnya erat.

"aku sangat mencintaimu, di"

Diandra hanya diam, menikmati rasa indah yang menyelimuti hatinya penuh dan hangat.

<<<<<<<<<<<>>>>>>>>>>>

"keluarga santoso meminta pernikahan kalian di percepat, xavi. Mereka mau di gelar sebelum rapat tahunan para pemegang saham tahun ini"

Xavier yang baru saja duduk di meja makan, menghela nafasnya berat.

"aku nggak bisa menikahi aldine, oma"

"kamu apa-apaan sih?" tanya omanya kesal, " kita udah bicarakan ini kemarin kan?"

"kalau aku bersikeras menikahi diandra, apa yang akan oma lakukan?"

Omanya menggeleng kesal lagi, wajah tuanya terlihat menahan marah.

"kamu bukan bocah kemarin sore, xavi. Usiamu sudah 35 tahun, usia yang tidak hanya memikirkan cinta..."

"oma.." sela xavier cepat, sorot matanya protes.

"oma sudah katakan padamu, kamu bisa nikahi diandra setelah kamu menikahi geraldine, dan pikirkan ini dengan kepala dingin"

"aku nggak mau menduakan diandra oma..!"

"hhhhhh" dengus omanya kembali terdengar kesal.

"kamu dan diandra sudah memiliki killian, ada bocah tampan itu yang menjadi prioritas kamu saat ini, emangnya kamu nggak mau killian hidup berkecukupan?"

"aku bisa bekerja keras oma, aku yakin aku bisa!"

"hahahahhah.." tawa nyonya nurmala pecah, namun tawa itu terdengar sinis.

"kamu bekerja keras?, kamu yang dari lahir sudah hidup dalam gelimangan kekayaan dan kemudahan? Kamu yakin?"

Xavier melengos, ucapan omanya terasa seperti sindiran.

"kamu harusnya paham, xavi. Bagaimana cara menyelesaikan sebuah masalah dengan meminimalisir masalah lain. Kamu seorang ceo dan pemilik grup, juga pemilik saham terbesar di grup kita, oma harap kamu bisa berpikir cerdas"

Xavier terdiam cukup lama, di bawah tatapan omanya yang penuh harap.

"kamu tahu kan, saham keluarga santoso di grup kita hampir 10%, jika di rapat para pemegang saham nanti, santoso menggoncang dan mempengaruhi yang lainnya, akan membahayakan posisi kamu!"

"tapi sahamku dan saham oma kalau di gabungkan lebih dari 50%, oma.."

"benar.." sahut omanya cepat, "mereka tidak akan bisa menguasai grup sepenuhnya, tapi posisi kamu sebagai ceo akan terancam, xavi"

Xavier mendesah kasar, suara hembusan nafasnya terdengar berat.

"oma yakin, diandra pasti memahamimu"

Xavier menoleh, menatap omanya yang mengangguk penuh keyakinan.

<<<<<<<<<>>>>>>>>>

Nyonya wina termangu, menatap keluar jendela mobil yang masih tertutup. Di seberang terlihat diandra kewalahan melayani pelanggannya.

Nyonya wina melirik arloji di tangan kanannya, baru pukul 11 siang, ia harus cepat. Nyonya wina tak ingin ketemu xavier nantinya, akan susah berbicara dengan diandra kalau cucunya itu nanti ikut nimbrung.

Perlahan dia turun dari mobil, dan meminta supirnya untuk tetap menunggunya di sana. Dan tak lupa mengingatkan supir itu untuk mengawasi kedatangan xavier dan mengabarinya segera.

Kakinya melangkah anggun, jaraknya semakin dekat dengan diandra yang masih belum menyadari kedatangannya.

Wanita sepuh itu berdiri di jalan masuk ke rumah, kehadirannya cukup memancing perhatian pelanggan diandra.

Diandra menoleh, mengikuti arah mata pelanggannya. Ia cukup tersentak kaget, terlihat jelas wajahnya memias sesaat.

"oma..!"

"bisa kita bicara sebentar?"

Diandra mengangguk, " oma silahkan masuk, aku menyelesaikan pesanan pelanggan dulu"

Nyonya wina tak menjawab, ia berjalan anggun meninggalkan pelanggan yang terdengar bisik-bisik.

Matanya menatap ruang tamu mungil diandra dengan sorot sendu, sofanya terlihat tua di sudut.

'sesederhana ini kah penerus pratama di besarkan?'

Nyonya wina masih berdiri, menyapu bersih seluruh isi rumah dengan tatapan tuanya.

"silahkan duduk, oma!"

Nyonya wina menoleh, menatap lekat wajah diandra yang kelihatan kelelahan, namun bahagia, sepertinya.

"aku buatkan oma minum dulu!"

"air putih saja, diandra. Oma nggak minum yang manis-manis"

Diandra tersenyum, mengangguk sopan. Meninggalkan oma wina, yang duduk dengan mata masih menyapu seluruh isi ruangan.

Bersambung...

1
Sri S
lanjut
Sri S
suka
Sri S
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!