Novel ini kelanjutan dari Novel. " Cinta Gadis Tangguh Dari Desa."
Luna Haifa Adhitama putri sulung dari Kavindra Adhitama dengan Freya Pratiwi Adhitama. Luna mempunyai adik kembar yang bernama Aryan Zaidan Adhitama dan Aryana Zaidah Adhitama.
Luna seorang Dokter spesialis Anak. Karena pembawaannya yang lembut dan ramah. Dia menjadi Dokter yang diidolakan sama semua pasiennya.
Pada saat dia pergi ke rumah kumuh yang sudah menjadi kebiasaannya satu bulan sekali. Membantu orang-orang yang disana untuk memberikan perobatan gratis disana.
Dia bertemu dengan anggota TNI yang juga lagi membantu menyalurkan bantuannya ke orang-orang yang ditinggal di bawah Jembatan.
Akankah Luna mengenali salah satu dari anggota TNI tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 DIPINDAH TUGAS
SELAMAT MEMBACA !!!
Nathan berjalan menghadap atasannya, tadi dia ditelpon, katanya ada yang mau di sampaikan kepadanya.
Tok tok tok pintu diketuk oleh Nathan.
"Masuk..!" ucap seseorang yang berada di dalam ruangannya.
"Maaf LetKol, ada apa ya saya dipanggil ke sini?" tanya Nathan dengan hormat masih berdiri tegak di depan pintu. Dia nggak berani langsung masuk ke dalam ruangan atasnya.
LetKol Rian mendongakan kepalanya meninggalkan berkas-berkas yang ada di atas mejanya.
"Silahkan duduk dulu. Ada hal penting yang harus saya sampaikan dan bahas kepadamu," jawab LetKol Rian tegas, sambil menunjuk kursi yang berada di depannya.
"Siap, LetKol," jawab Nathan juga dengan tegas.
"Begini, Kapten William. Kemarin saya mendapatkan telpon dari Batalyon pusat yang di Jakarta. Beliau berkata menginginkan seorang Perwira yang sudah mumpuni menjalankan tugas memimpin sebuah Batalyon. Aku berpikir, Kapten William cocok untuk mengemban tugas dan dipindah tugaskan di wilayah Jakarta. Bagaimana menurut Kapten William sendiri?" tanya LetKol Rian kepada Nathan/ William.
"Siap, LetKol. Dimana pun saya dipindah tugaskan, siap menjalankan perintah dari atasan. Lagian keluarga saya banyak yang tinggal di Jakarta dan kemungkinan kalau masih dekat dengan rumah keluarga. Bolehkah saya tidak mengambil rumah dinas, Letnan?" Jawab William menerima dengan ikhlas perpindahan tugas ke Jakarta.
LetKol Rian tersenyum bangga, tanpa berpikir lebih dulu, William langsung menerima perpindahan tugas ini. Letnan Rian percaya kalau Kapten William bisa mengemban tugas dengan baik. Di umurnya yang masih muda dia sudah berhasil berpangkat Kapten itu sangat luar biasa.
"Kemungkinan boleh, Kapten. Nanti sampainya disana anda langsung laporan kepada Jendral yang meminta anda pindah ke Jakarta. Nanti juga saya bantu jika memang Batalyonnya dekat rumah keluarga anda di Jakarta," jawab LetKol Rian kepada Nathan.
"Kalau begitu, saya izin langsung pulang, LetKol. Tolong surat perpindahannya segera di tanda tangani . Saya harus membereskan barang-barang dulu, sebelum mengambil surat jalan perpindahan tugas."
LetKol menganggukan kepalanya, lalu meraih pulpen dan menandatangani dokumen di atas meja dengan cepat. Setelah selesai menandatangani kertas itu langsung di lipat disodorkan ke depannya Nathan.
"Ini sudah ditandatangani dokumennya. Tolong bawa kebagian administrasi nanti, mereka akan mengurus surat jalan untukmu." ujar LetKol Rian dengan datar tapi masih dengan sopan.
Ia menatap sebentar sebelum melanjutkan ucapannya. "Semoga tugas baru ditempat baru berjalan dengan lancar. Tetap jaga kedisiplin dan kesopanan. Saya yakin Kapten William mampu menjalankan tugas ini dengan baik di sana," pesan LetKol Rian kepada Nathan.
Nathan mengambil kertas itu lalu berdiri tegak untuk memberi hormat kepada atasannya.
"Siap, LetKol. Terima kasih atas kepercayaannya. Saya akan berusaha menjalankan tugas ini dengan baik," Jawab Nathan dengan hormat.
Nathan keluar dari ruangan atasannya menuju keruang kerja.
"Kapten William, tunggu!" panggil seseorang dari arah belakangnya.
Nathan berhenti dan membalikkan tubuhnya, ingin melihat siapa yang memanggilnya.
Serda Bagas sampai didepan Nathan dengan nafas ngos-ngosan, dia berlari ingin memastikan apakah benar yang dikatakan teman-temannya bahwa Nathan akan dipindah tugaskan ke Jakarta.
"Siap, maaf Kapten. Saya menghalangi perjalanannya. Saya mau bertanya? Apa benar Kapten William akan dipindah tugaskan ke Jakarta?" tanya Serda Bagas yang nggak rela, atasannya diganti orang lain.
Nathan tersenyum, "Benar, Serda Bagas. Saya akan dipindah tugaskan ke Jakarta oleh pimpinan. Kamu di sini harus menjalankan tugas dengan baik. Walaupun atasan kamu nanti akan diganti orang lain," jawab Nathan sambil menepuk pundaknya Serda Bagas.
"Siap, Kapten. Tapi rasanya nggak ikhlas kalau Kapten dipindah tugaskan ke Jakarta. Apa saya nggak bisa ikut pindah ke Jakarta, Kapten?" tanya Serda Bagas masih nggak ikhlas ditinggalkan seorang Kapten yang baik seperti Nathan, yang selalu membantu dan mengajarkan berbagai keahlian untuk bawahannya.
"Insyaallah jika nanti ada peluang jabatan kosong. Akan saya tarik kamu untuk pindah ke Jakarta, Serda Bagas. Kalau Begitu saya pamit ya. Ingat jalankan tugas dengan baik di sini," pesan Nathan lagi.
Ia langsung berbalik berjalan menuju keruangannya. Nathan mengamati setiap sudut ruangannya yang menyimpan kenangan selama lima tahun ini. Menata barang-barangnya di kardus. Dia keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju ke mobilnya.
Tiga puluh menit kemudian dia sampai dihalaman depan rumahnya. Ia membawa barang-barang masuk ke dalam rumahnya.
"Lho kok sudah pulang, Nak?" tanya Bundanya yang kebetulan hari ini juga sudah dirumah.
"Iya, Bun. Mulai senin aku dipindah tugaskan ke Jakarta, Bun. Jadi hari ini aku sudah dibebaskan kerja di Batalyon," jawab Nathan sambil mencium tangan ibunya dengan takzim.
"HAH!! BENARKAH, NAK!?" kaget ibunya nggak percaya.
"Ada apa ini, Bun? Kok teriak begitu?" tegur suaminya.
Nafisah menoleh ke arah suaminya dengan tersenyum malu, karena tanpa sadar dia tadi berteriak.
"Hehehe ini lho, Yah. Nathan katanya mulai senin sudah dipindah tugaskan ke Jakarta, Yah. Kan tadi aku kaget, Yah. Nggak ada info dulu, kok langsung senin sudah pindah tugas," jawab Nafisah kepada suaminya.
"BENARKAH, NAK!! Ya alhamdulillah kalau pindahnya ke Jakarta. Sekalian kamu bisa mengawasi Opa dan Omamu di sana. Memangnya Jakarta mana Nak?" tanya Andrian kepada putra sulungnya.
"Belum tau, Yah. Mungkin besok surat dinasnya turun. Tadi aku juga sudah izin jika pangkalan Batalyonnya dekat dari rumah Opa, aku mau ikut tinggal di rumahnya Opa saja," jawab Nathan kepada kedua orang tuanya.
Mereka bertiga terdiam dan berdoa semoga Batalyonnya dekat dengan rumah kedua orang tuanya Andrian.
Selama ini dia hanya mengandalkan adik angkatnya yang selalu merawat kedua orang tuanya. Dan sekarang salah satu dari putranya ada yang akan tinggal bersama mereka.
**********
Persiapan keluarganya Vindra untuk pergi ke Villa yang sudah di sewa oleh Divisi perencanaan.
"Ayo semua masuk ke dalam mobil dulu, Dek Rena dan Dek Runa sudah siap?" tanya Arya pada kedua bocil itu.
"Siap, Abang! Runa sudah siap dan sudah membawa tas kecil untuk menyimpan jajan dari Mommy," jawab polos Runa.
Semua orang tertawa ketika mendengar jawaban polos dari Runa. Sedangkan Runa sendiri malah bingung kenapa semua orang malah tertawa.
"Ayo masuk ke mobil, Sayang. Nanti ditinggal Abang, lho!" peringat Freya menyuruh kedua bocil itu untuk segera masuk ke dalam mobilnya Arya.
Mobil Arya menuju ke Perusahaan dulu, bergabung dengan rombongan karyawan Perusahaan yang lain. Sambil menunggu keluarga inti Adhitama berkumpul. Sampainya di Lobby Perusahaan sudah banyak karyawan yang datang bersama dengan keluarganya.
"Mom! Kok banyak sekali yang ikut?" tanya Rena. Dia jadi ketakutan sendiri tangannya menggenggam erat tangan Freya, saat melihat banyaknya orang yang berkumpul di Lobby Perusahaan.
"Nggak usah takut, Sayang. Di sini banyak orang yang akan melindungi kamu dan adik. Sebentar lagi keluarga dari Bang Axel juga akan sampai ke sini. Jadi Rena nggak takut lagi, Sayang," pesan Freya kepada Rena. Freya selalu menanamkan rasa percaya diri pada Rena, supaya hatinya terbentengi dengan ketenangan dan keyakinan.