NovelToon NovelToon
DEWA PERANG DAN KUCING BENCANA

DEWA PERANG DAN KUCING BENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:869
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

Di dunia di mana batas tertinggi manusia hanyalah Saint Rank, Sander Duster—putra ketiga keluarga militer terkuat di Elegrand Kingdom—dianggap gagal karena tidak memiliki bakat Life Energy seperti para ksatria lain. Namun takdirnya berubah saat ia menyelamatkan seekor kucing hitam misterius di tengah badai salju.

Kucing itu ternyata adalah Behemoth, salah satu Legendary Beast pemegang Hukum Devouring yang hampir memusnahkan dunia di masa lalu.

Melalui ikatan Soul Resonance yang tak disengaja, Sander perlahan memperoleh kekuatan fisik abnormal yang melampaui logika manusia biasa. Di balik kehidupan akademi, intrik politik bangsawan, ancaman perang antar kerajaan, dan kebangkitan monster legendaris mulai mengguncang dunia.

Saat semua orang memperebutkan kekuasaan, Sander justru berjalan menuju sesuatu yang belum pernah dicapai siapa pun dalam sejarah—

God Rank, ranah sang Dewa Perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Gadis Bermata Es

Langkah kaki Sander Duster dan Elena Aurelius membawa mereka memasuki pelataran dalam dekat aula pengarahan murid baru. Di area ini, koridor marmer melebar dan membentuk sebuah selasar besar yang langsung menghadap ke taman bagian dalam akademi. Di tengah selasar, konsentrasi murid baru tampak semakin padat. Mereka berjalan bergerombol, menciptakan dengung suara yang memenuhi langit-langit bangunan yang tinggi.

Di tengah keriuhan tersebut, perhatian Sander mendadak teralih ke arah salah satu sudut pilar batu besar tidak jauh dari posisi mereka berjalan. Di sana, tampak seulas kehebohan kecil yang mulai menarik perhatian beberapa anak bangsawan di sekitarnya. Seorang gadis remaja sedang berdiri dengan tubuh yang sedikit kaku di depan seorang petugas administrasi berseragam biru tua.

Gadis itu berusia empat belas tahun, memiliki rambut perak panjang yang dipotong rapi dan berkilau bersih laksana lapisan es abadi di wilayah utara. Sepasang matanya yang berwarna biru jernih memancarkan tatapan yang pendiam, namun saat ini di dalamnya tersorot rasa gugup dan kebingungan yang sangat besar. Ia mengenakan jubah beludru tebal sewarna biru muda dengan lencana serigala es yang terukir di atas lempengan perak kecil di dada kirinya.

Dia adalah Sylvia Frost, putri tunggal dari Marquis Benedict Frost, sang penguasa wilayah perbatasan utara yang bertindak sebagai tangan kanan keluarga Duster.

"Saya sudah memeriksa seluruh berkas reguler di meja ini, Nona Muda, namun nama Anda tidak tercantum di dalam daftar asrama wilayah barat," ucap petugas administrasi tersebut dengan nada suara yang terdengar lelah dan sedikit kaku karena menghadapi ribuan murid sejak pagi hari. "Jika Anda tidak bisa menunjukkan lembar konfirmasi khusus dari kementerian dalam negeri, saya tidak bisa mengeluarkan kunci kamar untuk Anda hari ini."

Sylvia Frost menundukkan kepalanya sedikit, jemari tangannya yang halus tampak meremas ujung gaun bulu tebalnya dengan erat. Suaranya yang pelan dan agak bergetar terdengar saat ia mencoba memberikan penjelasan.

"Tapi... ayah saya sudah mengirimkan seluruh dokumen itu bersama dengan kereta logistik klan sejak dua minggu yang lalu. Petugas di gerbang depan juga mengatakan bahwa seluruh administrasi klan Frost sudah dialihkan ke jalur khusus."

"Jalur khusus hanya berlaku untuk keluarga keluarga Grand Duke, Nona," potong petugas itu sembari merapikan tumpukan kertas di atas meja tanpa melihat wajah Sylvia. "Marquis Frost adalah keluarga militer perbatasan yang terhormat, tetapi peraturan akademi tetaplah peraturan. Tanpa adanya lembar fisik tersebut di meja saya, Anda harus mengantre kembali di gedung pusat di kota bawah untuk memperbarui data."

Mendengar bahwa ia harus kembali ke kota bawah di tengah kondisi pelataran yang semakin padat dan melelahkan ini, raut wajah Sylvia tampak semakin pucat. Sifatnya yang pemalu dan kurang pandai berdebat di depan umum membuatnya hanya bisa berdiri mematung di depan meja, tidak tahu harus berbuat apa. Beberapa anak bangsawan dari wilayah selatan yang lewat di dekat tempat itu mulai melemparkan tatapan meremehkan, berbisik-bisik mengenai ketidakmampuan keluarga perbatasan dalam mengurus masalah administrasi sederhana.

Sander yang menyaksikan pemandangan tersebut dari jarak beberapa meter langsung mengenali lencana klan Frost yang dikenakan oleh Sylvia. Pikirannya seketika berputar kembali pada memori lima tahun lalu di pasar kota bawah Aethelgard, saat Marquis Benedict Frost membungkuk hormat dengan penuh kepatuhan di hadapannya dan menyatakan bahwa klan Frost akan selalu menjadi pedang dan perisai yang paling setia bagi keluarga Duster.

Sebagai anak dari klan Duster yang dibesarkan dengan doktrin untuk selalu melindungi orang-orang yang berada di bawah naungan mereka, Sander tidak bisa tinggal diam melihat putri dari pengikut setia ayahnya dipermalukan oleh kelalaian sistem akademi. Tanpa berpikir panjang, ia melepaskan diri dari sisi Elena dan melangkah mantap mendekati meja administrasi tersebut.

Behemoth yang berada di atas bahu Sander kembali membuka sepasang mata emasnya, melirik ke arah Sylvia sebelum mendengus di dalam benak Sander.

(Manusia perempuan yang satu ini benar-benar lembek, Sander. Energi internalnya terasa sangat tipis dan tertutup oleh rasa takut yang konyol. Mengapa manusia di dunia fana ini sangat mudah gemetar hanya karena selembar kertas kertas bodoh? Sungguh merepotkan.)

Sander mengabaikan komentar Behemoth. Ia melangkah maju hingga berdiri tepat di samping Sylvia, membuat gadis bermata es itu tersentak kaget dan menoleh secara refleks. Sebelum petugas administrasi sempat mengeluarkan kata-kata lain, Sander mengangkat tangan kanannya yang kokoh dan meletakkan sebuah lencana perak Frost Wolf milik klan Duster tepat di atas permukaan meja batu.

Bunyi ketukan logam lencana yang berat itu seketika membungkam bisik-bisik miring di sekitar mereka. Petugas administrasi tersebut langsung mendongak, dan wajahnya seketika berubah menjadi sangat tegang ketika melihat simbol serigala es klan Grand Duke Duster berada di depan matanya.

"Klan Frost dari Utara datang ke tempat ini di bawah pengawalan dan rekomendasi langsung dari kediaman Grand Duke Duster," ucap Sander dengan nada suara bariton yang sangat tenang, datar, namun memiliki penekanan intonasi yang begitu tegas dan tidak bisa dibantah. "Seluruh dokumen administrasi mereka telah disatukan di dalam peti logistik klan kami yang diperiksa oleh Royal Knights Order di gerbang pertama. Cari berkas cadangan klan Duster di laci bawah mejamu, nomor urut empat belas."

Petugas administrasi itu menelan ludahnya dengan susah payah. Otoritas nama besar Duster yang dibawa oleh Sander, ditambah dengan kehadiran lencana resmi Grand Duke, membuat pria paruh baya itu tidak berani membantah sepatah kata pun. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia buru-buru membuka laci kayu besar di bawah mejanya dan membalik beberapa lembar dokumen tebal bersampul kulit hitam.

Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh detik bagi petugas itu untuk menemukan selembar kertas konfirmasi berwarna perak yang terselip di dalam berkas klan Duster. Wajah petugas itu memerah karena malu atas kelalaiannya sendiri.

"Maafkan kekeliruan saya, Tuan Muda Duster, Nona Frost," kata petugas itu dengan sikap membungkuk yang sangat dalam hingga kepalanya hampir menyentuh meja. "Dokumen konfirmasi milik Nona Sylvia Frost memang dipindahkan ke dalam bundel logistik khusus perbatasan utara atas permintaan militer. Ini adalah kunci kamar asrama nomor tiga puluh dua di distrik menara perak. Selamat datang di akademi."

Petugas itu menyerahkan sebuah kunci kuningan berukir mantra sihir kepada Sylvia dengan kedua tangannya. Sylvia menerima kunci tersebut dengan gerakan yang masih sedikit kaku, seolah-olah ia belum sepenuhnya menyadari bahwa masalah besarnya baru saja selesai dalam sekejap mata berkat intervensi pemuda di sampingnya.

Sander mengambil kembali lencana perak keluarganya, menyematkannya kembali di dada kiri, lalu menoleh menatap langsung ke arah sepasang mata biru jernih milik Sylvia.

"Apakah kau baik-baik saja, Nona Sylvia?" tanya Sander dengan nada yang melembut.

Sylvia Frost menatap wajah tenang Sander untuk beberapa saat. Bagi gadis pemalu yang sejak pagi merasa terasing di tengah kemegahan ibukota ini, kehadiran Sander laksana sebuah pilar kokoh yang memberikan rasa aman yang sangat luar biasa. Rasa gugup yang sempat mengunci tenggorokannya perlahan menguap, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar di dadanya. Ia memberikan sebuah lambaian hormat kecil yang sangat anggun khas bangsawan tinggi Utara.

"Saya baik-baik saja, Tuan Muda Sander. Terima kasih banyak atas bantuan Anda. Jika Anda tidak datang tepat waktu, saya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa dengan petugas tadi."

Sander menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak perlu seformal itu, Sylvia. Panggil saja aku Sander. Keluarga kita telah berdiri bersama di Utara selama berabad-abad, sudah menjadi kewajibanku untuk membantumu saat berada di tempat yang asing ini."

Tepat pada saat itu, Elena Aurelius melangkah mendekati mereka berdua dengan senyuman cerianya yang biasa. Mata birunya melirik ke arah Sylvia dengan penuh ketertarikan yang ramah.

"Wah, Sander, jadi ini gadis berbakat dari klan Frost yang sering diceritakan oleh para panglima perbatasan itu?" tanya Elena sembari mengulurkan tangan kanannya ke arah Sylvia. "Halo, aku Elena Aurelius. Senang bisa bertemu denganmu. Mulai hari ini kita semua adalah sesama murid baru di akademi ini."

Melihat Putri Pertama kerajaan berdiri di depannya dan menyapanya dengan begitu ramah, Sylvia sempat merasa sungkan. Namun, kehangatan yang terpancar dari ekspresi Elena membuat pertahanan emosionalnya melunak. Ia menyambut uluran tangan sang putri dengan senyuman kecil yang sangat manis, sebuah pendaran ekspresi yang membuat wajah cantiknya terlihat laksana kelopak bunga es yang mekar di musim semi.

"Sebuah kehormatan bagi saya, Tuan Putri Elena. Saya adalah Sylvia Frost," jawabnya dengan nada suara yang kini sudah jauh lebih stabil dan tenang.

Elena tertawa renyah, langsung merangkul lengan Sylvia dengan akrab tanpa memedulikan status kerajaan yang melekat pada dirinya sendiri. "Sudah kubilang pada Sander tadi, panggil saja aku Elena selama kita berada di dalam dinding akademi ini. Karena kita semua berasal dari arah rute yang sama, bagaimana jika kita berjalan bersama menuju aula pengarahan? Aku yakin perjalanannya akan menjadi jauh lebih menyenangkan jika kita bertiga."

Sylvia melirik ke arah Sander, seolah meminta konfirmasi dari pemuda yang kini menjadi jangkar kepercayaannya di tempat ini. Sander yang melihat tatapan tersebut hanya menganggukkan kepalanya dengan senyuman tipis.

"Ide yang bagus, Elena. Aula pertemuan utama sudah tidak terlalu jauh dari ujung selasar ini," ucap Sander.

Ketiga remaja tersebut akhirnya mulai melangkah bersama membelah kerumunan murid baru di selasar dalam akademi. Elena berjalan di tengah dengan pembawaannya yang penuh energi, terus menceritakan berbagai detail menarik mengenai tata letak bangunan marmer yang ia ketahui, sementara Sylvia berjalan di sisi lain sembari sesekali memberikan tanggapan pendek dengan kecerdasannya yang tenang.

Sander melangkah di samping mereka dengan posisi tegak, menjaga area perimeter luar secara pasif dengan kekuatan fisiknya yang padat. Di atas bahunya, Behemoth kembali melipat cakarnya dan memejamkan mata emasnya dalam diam, meskipun di dalam batinnya ia terus menggerutu mengenai betapa cepatnya manusia-manusia fana ini membentuk sebuah kelompok yang aneh di hari pertama mereka menapakkan kaki di Elegrand Royal Academy.

1
Manusia Ikan 🫪
bagus bagus, aku kasih nawar untuk kamu/Chuckle//Rose/

folback aku yah ehehe
Argo Sujendro: termakasih kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!