Li Yunru tiba-tiba bertransmigrasi ke zaman kuno setelah memakai cincin naga perak berisi ruang spiritual misterius. Bukan itu saja, dia juga menjadi koki spiritual yang mampu menyembuhkan segala jenis penyakit dan keracunan.
Berkat cincin naga perak juga, Li Yunru ditakdirkan menjadi pasangan sang raja naga putih penguasa wilayah utara—Bai Muzhi. Pria berwajah dingin yang jiwanya terluka akibat pedang antar benua ratusan tahun lalu itu, akhirnya menemukan satu-satunya penyembuh yang mampu mengobatinya. Perlahan, perasaan cinta tanpa sadar tumbuh di antara keduanya.
Rupanya kemunculan Li Yunru bukan hanya mengungkap banyak rahasia masa lalu, tapi juga membuat musuh di kegelapan mulai mengincar kekuatan tersembunyi dalam dirinya. Menghadapi misteri ribuan tahun lalu yang mulai tersingkap, mampukah Li Yunru melewati cobaan tersebut sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghilangkan Bau
Ruu buru-buru menekan hidung rubah merah itu dengan kaki kecilnya. Sesaat kemudian ia menghela napas lega. "Belum, Tuan. Hanya pingsan. Masih bernapas."
"Sayang sekali ..." gumam Li Yunru pelan. "Kamu bilang dia raja wilayah Hongbo?"
"Ya. Hong Maxing dan Xu Jiangyue saling kenal. Dia mungkin datang untuk membalaskan dendam wanita rubah putih itu."
"Begitu rupanya." Li Yunru menggertakkan gigi. "Rubah putih maupun rubah merah sama saja kelakuannya. Dasar rubah!"
Namun bukankah seorang raja seharusnya kuat? Mengapa yang satu ini justru tidak bisa melawannya? Hei Sanfeng juga begitu. Ini benar-benar aneh.
Gadis itu langsung mengangkat rubah merah dengan memegang salah satu ekornya seperti membawa hewan buruan. Tubuh rubah itu menggantung lemas, bergoyang mengikuti langkahnya.
"Aku lapar. Mari kembali ke titik awal."
"Ya, Tuan."
"Kalau begitu pimpin jalan. Aku lupa tadi lewat mana."
Ruu menjawab jujur, "Hah? Aku juga tidak tahu. Ini pertama kalinya aku lewat sini."
"Bukankah kamu menandai beberapa pohon dengan air kencing?"
Kelinci itu langsung tersinggung. "Sembarangan! Aku ini kelinci, bukan anjing!"
"...."
Benar-benar kelinci bodoh dan tidak berguna, batinnya.
Setelah berputar-putar cukup lama sambil memarahi Ruu, Li Yunru akhirnya kembali ke titik awal. Di sana, Bai Muzhi dan elang hitam jelmaan Hei Sanfeng sudah menunggunya. Matahari mulai condong ke barat.
"Sejak kapan kamu di sini?" tanyanya pada Bai Muzhi.
"Cukup lama."
"Mengapa tidak mencariku? Mungkin saja aku menginjak lubang lalu meninggal."
"Kalau begitu, raja ini pasti sudah merasakannya melalui tanda kepemilikan di tubuhmu."
"...."
Sungguh tanpa hati nurani. Kelinci dan tuan naganya sama saja, batinnya.
Li Yunru melempar rubah merah jelmaan Hong Maxing ke dekat kaki Bai Muzhi. "Awasi rubah genit itu untukku. Dia berutang satu ekor padaku."
"Ekor?" Bai Muzhi melirik rubah merah yang tampak familier itu. Mata merahnya sedikit menyipit. "Bukankah ini Hong Maxing?"
Elang hitam jelmaan Hei Sanfeng turun dari dahan dan mendarat di dekat rubah merah yang pingsan. "Manusia, bagaimana dia bisa jadi begini?"
"Tadi dia merayuku lalu hendak membunuhku. Jadi kutendang saja sampai pingsan setelah mencium batang pohon," jawab Li Yunru datar.
"... Hanya itu?" Elang hitam itu tidak percaya.
Apakah Hong Maxing yang terkenal sebagai penjahat benar-benar kalah dari Li Yunru? Tanpa sadar ia menyentuh puncak kepalanya yang masih botak. Benar-benar dejavu.
"Rubah ini seharusnya di wilayah barat. Mengapa datang ke utara?" tanyanya.
"Balas dendam untuk kekasihnya," jawab Ruu mewakili Li Yunru.
"Apa? Kekasih siapa?" Elang hitam itu langsung tertarik untuk bergosip.
"Itu Xu Jiangyue yang jatuh cinta pada sepupumu."
Elang hitam itu menatap Bai Muzhi seolah baru mendengar kabar besar. "Ternyata kamu diam-diam menyimpan kekasih raja rubah merah."
Sudut mulut Bai Muzhi berkedut. Ia menatap elang hitam jelmaan Hei Sanfeng dengan jijik. "Percaya saja pada perkataan kelinci itu. Apa kamu tidak takut paruhmu menjadi pendek?"
Hei Sanfeng mendengus dan menyentuh paruh tajamnya dengan sayap. "Jika kelinci itu berbohong, ekornya yang akan memanjang."
"Kepala botak! Aku hanya mengatakannya dengan santai. Jangan diambil hati!" Ruu langsung panik membayangkan ekornya memanjang.
"Seandainya kamu tidak berkata begitu, apa aku akan percaya?"
Lagi pula, Hei Sanfeng jarang berkunjung ke utara. Mana mungkin dia tahu bahwa Bai Muzhi memiliki pengagum gila yang sering datang ke istana.
Ruu langsung mengejek elang berkepala botak itu. "Kamu kan raja elang hitam! Bagaimana bisa sebodoh itu? Malu pada leluhurmu!"
"Leluhurku sudah mati. Dia tidak akan malu!"
"Kamu cari pemukulan, kan? Kemari dan ayo bertarung!" Kelinci putih itu langsung memasang kuda-kuda, telinganya tegak penuh semangat.
"Siapa takut! Gendut, maju kalau berani. Kali ini aku tidak akan kalah!"
"Humph! Belum tentu! Rasakan ini!"
Seekor kelinci dan elang hitam kembali berguling-guling, saling mencakar, mematuk, memukul dan menggigit. Bai Muzhi sama sekali tidak memedulikannya. Begitu pula Li Yunru yang sudah mengeluarkan seekor ayam potong dari ruang spiritual dan meletakkannya di baskom kayu.
Bai Muzhi menghampirinya. "Kamu akan memasak? Kenapa kita tidak kembali saja? Hari sudah mulai sore."
"Tidak apa-apa. Aku kebetulan ingin menikmati alam hari ini." Li Yunru sedikit terkejut saat Bai Muzhi berdiri begitu dekat. Pria itu tampak mengendus tubuhnya. "A-ada apa? Jangan terlalu dekat," katanya canggung.
Wajah tampan itu benar-benar mematikan, pikirnya.
Bai Muzhi mengangkat sebelah alis. "Raja ini mencium bau rubah merah di tubuhmu. Apakah kalian berpelukan?"
"Kamu mengatakannya seolah aku selingkuh," gerutu Li Yunru. "Dia memelukku dan memanggilku 'Si Cantik Yunyun'."
Mata Bai Muzhi berhenti pada Li Yunru beberapa saat lebih lama dari biasanya. Lalu saat gadis itu hendak memotong jeruk lemon, ia tiba-tiba memeluknya.
Tubuh Li Yunru langsung menegang. "Mengapa tiba-tiba memelukku?"
"Menghilangkan bau rubah merah itu. Kamu ini pasanganku."
"Bukankah kamu bilang tidak peduli padaku, wahai naga putih narsistik?"
"Apakah raja ini mengatakannya?" Bai Muzhi jelas tidak mau mengaku.
"Tidak perlu dikatakan, sikapmu sudah menunjukkannya!" Li Yunru memutar bola matanya, lalu mendorong Bai Muzhi ke samping. "Menyingkirlah, aku sibuk."
"Beranikah kamu menolakku?"
"Apa?" Li Yunru menatapnya bingung. "Maaf, sepertinya kamu belum pernah menyatakan cinta padaku. Di mana aku menolakmu?"
Mengapa pria narsistik ini mulai membuatnya bingung? Apa pun yang dilakukannya pasti berakhir dengan salah paham.
"Kamu menolak dipeluk olehku. Cinta atau tidak, pasangan harus dekat."
Li Yunru mengacungkan pisau. "Naga, kita tidak menikah, hanya terikat karena cincinmu. Berharap peluk dan cium? Mimpi! Jika kamu memaksaku, kupotong kumis nagamu," katanya santai, tetapi penuh ancaman.
Alih-alih marah, Bai Muzhi justru tersenyum kecil. Ia mengulurkan tangan dan menyelipkan anak rambut Li Yunru ke belakang telinganya.
"Kamu ingin pernikahan? Yakin? Raja ini tidak keberatan menikahimu. Tapi raja ini tidak yakin kamu bisa mengimbanginya."
"...."
Li Yunru hanya bisa kebingungan. Apa maksudnya "mengimbangi"? Bukankah ini hanya soal menikah? Daripada memikirkannya, ia memilih kembali menyiapkan ayam panggang.
Sementara itu, Ruu dan elang hitam jelmaan Hei Sanfeng sudah berhenti berkelahi. Hasilnya imbang. Meski begitu, Li Yunru merasa puncak kepala elang itu tampak semakin botak.
Tak lagi memedulikan kelinci gemuk itu, elang hitam jelmaan Hei Sanfeng melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Ia mengambil satu buah merah dari keranjang bambu dengan cakarnya.
"Manusia, apakah buah merah ini enak? Baru kali ini aku melihatnya," tanyanya.
Li Yunru melirik sekilas. "Lumayan. Aku dan Ruu sudah memakannya. Jika mau, makan saja."
Bai Muzhi melihat elang hitam itu langsung mematuk dan menelannya tanpa ragu. Ia hendak menghentikan, tetapi sudah terlambat.
Sesuai dugaannya, Hei Sanfeng langsung merasa tubuhnya nyeri dan kepalanya pusing hingga terjengkang dengan mata juling. Sayapnya mengepak lemah beberapa kali sebelum akhirnya terkulai.
Li Yunru terkejut sekaligus gugup. "Ruu bilang buah itu hanya beracun untuk manusia. Apakah manusia setengah binatang juga tidak bisa memakannya?"
mungkin kita juga bisa mencoba resepnyaa 😂