Siapa sangka, niat Amira cuma mau bantu temannya nganter kopi ke ruang CEO malah jadi awal dari malam paling gila dalam hidupnya.
Amira Shalwanissa. Karyawan biasa yang terjebak lembur di kantor karena menggantikan temannya yang sakit.
Zian Ardana. CEO muda, anak pemilik perusahaan, terkenal kejam dan nggak punya hati buat karyawannya.
Malam itu, ruang kerja CEO yang biasanya sepi berubah jadi tempat paling berbahaya.
Zian jatuh pingsan. Amira panik dan menolong. Tapi demam tinggi membuat Zian kehilangan kendali.
“Lepaskan saya, bapak mau apa!”
“Shutt, apa kamu nggak bisa diam... kepalaku sakit.”
Amira melawan. Dia menendang, berlari, bersembunyi di bawah meja. Tapi bayangan Zian terus mengejarnya, dengan tawa rendah yang bikin bulu kuduk merinding.
Malam itu menjadi saksi bisu awal dari segala malapetaka dalam hidupnya.
Apakah Amira bisa lolos? Atau dia benar-benar akan jadi... simpanan CEO muda itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Hingga pagi menyapa, Zian masih duduk di meja itu dengan tangan yang sibuk mengetik. Di belakangnya, Amira baru saja terbangun.
Gadis itu bergumam dalam hati saat melihat Zian masih bekerja,
“Dia memang gila kerja.” cetus Amira sambil merenggangkan ototnya lalu turun dari tempat tidur.
“Mas, mau saya buatkan kopi atau sarapan?” tanya Amira.
Zian menoleh. Wajahnya terlihat lelah, matanya merah—jelas kalau pria itu bergadang semalaman.
“Nggak usah. Saya harus cepat-cepat ke kantor,” katanya, lalu segera beranjak menuju kamar mandi.
Amira mengerutkan keningnya, dia merasa nada bicara Zian yang beda terdengar, dingin.
Didalam kamar mandi suara air mengalir pelan. Amira berjalan ke dapur kecil, menyalakan kompor untuk membuat telur dadar . Tangannya bergerak otomatis, tapi pikirannya masih tertuju pada Zian.
Belum lima menit, suara pintu kontrakan terdengar diketuk pelan.
Tok!
Tok!
Amira mengerutkan kening. Jarang ada tamu datang sepagi ini. dia melirik ke arah kamar mandi—Zian masih belum keluar.
Dengan langkah hati-hati, ia membuka pintu.
Di ambang pintu berdiri Kevin, asisten Zian. Ia tersenyum canggung sambil mengangkat kunci mobil.
“Selamat pagi, Mbak Amira. Maaf mengganggu pagi-pagi. Pak Zian sudah bangun belum? Saya disuruh jemput, ada rapat mendadak jam 8.”
Amira mengangguk pelan.
“Sudah bangun, tapi lagi mandi. Masuk dulu aja, Pak Kevin.”
Kevin masuk dan meletakkan map di meja. Matanya sekilas melirik ke arah kamar mandi, lalu ke Amira yang masih memakai piyama dan rambut berantakan.
“Mau dibuatkan minum pak Kevin?"
"Nggak usah mba. Saya duduk aja tunggu aja pak Zian."
Amira hanya tersenyum kecil, mengangguk lalu kembali ke dapur.
Belum ada lima menit pintu kamar mandi sudah terbuka, Zian keluar dari kamar mandi dengan handuk yang handuk di pinggangnya. Rambutnya masih basah.
Kevin langsung berdiri kaku.
“Pak! Selamat pagi. Oh iya, rapatnya satu jam lagi, Pak.”
Zian hanya mengangguk singkat, matanya melirik ke Amira yang sibuk menggoreng telur.
" Tolong ambil jas saya Kevin. Lima menit lagi, kita berangkat.”
Kevin mengangguk cepat dan berlalu ke kamar.
"Mas, mau sarapan dulu? saya buat telur dan nasi goreng." Ucap Amira.
Zian mengeleng. "Kamu makan aja, saya buru-buru." Kata Zian lalu mengambil jas dari tangan Kevin yang baru saja datang itu.
"Siapin mobil, kita berangkat." Kata Zian lalu kembali masuk kamar mandi.
"Iya pak."
beberapa menit kemudian, Zian keluar sudah rapi dengan kemeja hitam dan jas. Wajahnya masih tampak lelah, tapi tatapannya sudah kembali dingin dan profesional.
“Kevin, jalan.”
Kevin mengangguk, lalu menoleh ke Amira.
“Mbak, saya pamit dulu ya.”
Amira hanya tersenyum tipis. “Hati-hati.”
Pintu tertutup. Suara langkah kaki dan mesin mobil perlahan menghilang.
Amira kembali ke dapur. Mengambil sarapan yang sudah dibuat, lalu duduk di kursi kayu, menatap piring kosong di depannya.
“Kenapa ya… rasanya kayak saya mengganggu dia,” gumamnya pelan.
Di mobil, Zian menatap keluar jendela. Tangannya menggenggam ponsel erat.
Kevin yang biasanya diam sepanjang perjalanan, hari itu memperhatikan Zian dari kaca spion. Wajah atasannya itu kusut, tatapannya kosong.
“Bapak kenapa?” tanya Kevin pelan.
Zian menatap kaca spion.
“Saya khawatir, Kevin. Bagaimana saya harus menjelaskan ini semua pada Rian?”
Kevin terdiam sejenak, memilih kata.
“Menurut saya… tunggu waktu yang tepat, Pak,” kata Kevin hati-hati.
Zian tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, lalu kembali diam.
Waktu terus berputar. Kini jam menunjukkan pukul satu siang, Zian baru mendapat kabar pesawat Rian sudah mendarat di Indonesia.
Dan siang itu juga, Khail datang untuk menjemput Zian agar mereka bisa makan siang bersama.
Namun, saat Khail melewati koridor, ia tidak sengaja menabrak seorang gadis. Minuman itu tumpah mengenai baju gadis itu.
Khail mencoba membersihkan dan meminta maaf, tapi Amira justru tersenyum lebar dan terus mengatakan tidak apa-apa.
“Sekali lagi saya minta maaf, Nak. Saya benar-benar tidak melihat tadi.”
“Tidak apa-apa, Pak. Saya yang kurang fokus,” jawab Amira.
Khail menatap Amira, tapi gadis itu buru-buru membersihkan pecahan gelas dan pergi begitu saja.
Khail melanjutkan jalannya sampai ke ruangan Zian, sementara Amira sampai di dapur kantor. Bu Mis melihat pecahan gelas itu langsung memarahi Amira.
“Astagfirullah, Amira. Kamu ini niat kerja nggak sih? Ini sudah nggak masuk, izin terus, sekarang kerja juga tidak benar lagi.”
“Maaf Bu, tadi benar-benar saya nggak sengaja. Ada pria paruh baya yang menabrak saya,” Amira berusaha menjelaskan. Tapi Bu Mis menolak mentah-mentah dan justru menghukum Amira untuk membersihkan gudang.
“Nggak ada alasan. Sekarang kamu bersihkan gudang.”
“Jangan dong, Bu. Masa saya harus bersihkan gudang lagi?”
“Nggak ada penawaran. Cepat.” tegas Bu Mis.
Amira hanya bisa menunduk lalu berjalan keluar menuju gudang kantor.
Di sisi lain, Zian dan Khail kini sudah berada di satu mobil. Mereka menunggu Rian di depan bandara. Tidak lama kemudian, pria dengan pakaian kasual itu muncul.
Senyumnya mekar seperti bunga. Kedatangannya disambut hangat oleh Zian dan sang Daddy, Khail.
“Bagaimana kabarmu, Nak?”
“Sangat baik, Dad. Daddy dan Kak Zian bagaimana?”
“Seperti yang kamu lihat, kami sangat sehat,” Ucap Daddy khail.
Rian tersenyum lebar.
"Kak Zian aku denger perusahaan semakin berkembang, selamat ya." Zian hanya tersenyum masam
"Makasih." jawab Zian singkat.
“Kamu memang tidak pernah berubah, Kak,” kata Rian sambil tertawa.
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju restoran favorit Rian.
Sepanjang perjalanan Rian tidak henti-hentinya bercerita tentang dirinya selama di Amerika. Ia menceritakan semuanya pada Zian.
“Oh iya, Kak, bagaimana dengan Amira? Dia baik kan? Aku tidak sabar bertemu dengannya.” Ucapan itu membuat Zian terdiam sejenak.
“Emm baik kamu harus segera bertemu dengannya.” Jawab Zian dengan wajah datar nya. Zian tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
keven sekelas asisten buru di perkampungan yg ga tau kecangian, ceo ga bisa tau kelakuan mis yg sering menghukum amira, di kernakan amira bukan barang berharga buat zean karna itu don't care