⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"
10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.
Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.
"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Tak segampang itu
"Hari ini banyak juga yang order," gumam Hanum saat dia fokus pada layar monitor yang ada di depannya. Dia menyunggingkan senyumnya. Dengan cekatan dia segera menuju ruangan Dela, melaporkan adanya peningkatan dalam permintaan barang.
"Wah, ini momen langka loh! Udah bertahun-tahun gak pernah ada pembeli sebanyak ini!" Tampak Dela antusias saat membaca data yang diserahkan oleh Hanum.
"Tentunya kamu udah pro banget dalam urusan ini, gak sia-sia sih kamu langsung jadi manajer, sekalian aja kamu jadi wakil saya," Dela tersenyum menatap Hanum yang juga senang.
"Ya sudah, nanti malam kita makan bareng ya! Bilang sama karyawan lain hehe. Kapan lagi kan kita self reward nya?"
Hanum mengangguk. "Oke siap kakak!"
Segera Hanum memberitahu karyawan yang ada di butik itu, sontak saja mereka senang.
"Cihuy!! Akhirnya, hemat pengeluaran juga malam ini!" seru Nunung semakin gesit memaketkan barang yang akan dikirim.
Hanum meraih ponselnya. Dia mengirim pesan pada Devan.
"Van, aku izin makan malam sama orang kantor ya"
Devan membacanya langsung.
"Ok"
Hanum pun kembali bekerja, masih ada yang harus dia selesaikan beberapa lagi.
"Pernah gak sih Mbak kepikiran mau nikah lagi?" Kali ini saat waktu istirahat setelah Zuhur, Nunung dan Hanum tengah duduk menunggu pesanan ayam geprek mereka di salah satu warung makan.
"Aduh, kalo itu aku juga belum kepikiran, Nung. Kamu udah punya gebetan emang?"
Nunung pun tersenyum lebar, membuat pipinya yang chubby nan tembem itu mengembang seperti bakpao.
"Ada dong, Mbak hehe. Doain ya semoga langgeng dan lanjut ke jenjang selanjutnya," katanya sambil cekikikan.
Hanum tertawa kecil, "Amiin, aku tunggu ya hehe," katanya lagi.
"Tapi, Mbak. Menurut aku, gak ada salahnya kok Mbak Hanum pikir kembali. Apalagi kan Mbak Hanum juga masih oke, belum punya anak dan stay beauty pastinya," ujar Nunung sambil membantu Mbak pelayan yang mengantarkan ayam geprek mereka ke atas meja.
"Silakan dinikmati!" ucap Mbak pelayan itu lalu pergi.
"Ya udah, kita makan dulu deh. Mbak Hanum kalo merasa berlebih jangan segan-segan kasihin ke saya ya, mubazir!"
Dalam hatinya, Hanum ingin sekali tertawa. Tapi dia tersenyum saja, "Iya iya, aman itu."
"Jujur lama banget ya, Mbak. Kalo ada agenda penting itu pas nungguin nya itu lama banget," ucap Hanum sambil mengambil ayam geprek dan mencocolnya ke sambal terasi pedas yang ada di mangkuk kecil.
"Tapi baru kali ini loh, Mbak. Kita dapat orderan sebanyak itu, apa jangan-jangan ini karena ada Mbak Hanum ya?" tanyanya lagi. "Sebelumnya mbak kerja dimana sih? Jadi penasaran deh"
Hanum tersenyum menatap orang yang suka banyak tanya ini. Tapi dia menyukainya sebab teman seperti ini membuatnya terhibur.
"Aku? Sebelum pindah kesini aku juga punya butik, Nung," ucap Hanum.
"Apa??! Eh, pantes aja Mbak nya lihai dala urusan begituan. Jangan-jangan butik mbak itu yang.., H&B itu ya??" Nunung mencoba untuk menebak.
Hanum mengangguk. "Iya, bener," jawabnya.
"PANTAS AJA MBAK!" tiba-tiba Nunung berseru sambil menggebrak meja. Membuat semua orang yang ada di dalam warung itu mengalihkan pandangannya ke arah mereka berdua. Termasuk mbak pelayan dan pemilik warung tadi.
"Eh.., Mbak! Ayam geprek nya satu lagi!" entah darimana ide itu terbesit begitu saja.
Nunung pun tersipu malu. Lalu tertawa kecil. "Maaf, Mbak hehe. Saya terlalu semangat sih tapi saya juga sadar, gara-gara sifat saya tadi banyak yang gak mau temenan sama saya," kata Nunung kemudian.
"Haha, gapapa kok udah biasa itu mah, Nung. Kamu serius pesen ayam lagi?" tanya Hanum.
"Terlanjur, Mbak. Udah lah biarin aja," kata Nunung tertawa.
Hanum tak habis pikir dengan Nunung tadi.
H&B adalah nama butik nya sendiri yang mana memiliki arti dari nama Hanum dan suaminya, Bramasta. Ah, bagaimana kabar butiknya itu? Pikir Hanum.
"Udah makan siang?"
Sebuah pesan masuk dan Hanum mengintipnya lewat pop up yang ada di layar kunci ponselnya. Dia sudah siap makan dari tadi, tinggal menunggu Nunung yang masih menyantap satu porsi ayam geprek lagi.
"Udah, kamu?"
Devan tersenyum menatap pesan yang dikirimkan Hanum tersebut.
"Aku juga sudah. Nanti malam biar aku jemput."
Hanum balas tersenyum. Terkadang dia tak habis pikir dengan Devan yang selalu saja membantu nya di situasi apa pun itu, ada kalanya dia merasa malu dengan dirinya sendiri, mengapa dia bisa bergantung seperti ini kepada pria itu? Juga perasaan aneh yang tiba-tiba muncul saat menatap Devan tersenyum. Akan tetapi, dia juga sadar kalau dirinya tak layak untuk bersama dengan pria itu. Dalam benaknya, sudah pasti pria itu tak menyukai wanita bekas seperti dirinya.
"Guys, habis magrib otw ke resto yang udah dikirim di grup ya!" seru Dela saat dia memasuki ruangan para karyawannya bekerja.
"Horee! Siap laksanakan boss!"
Hanum dan Nunung saling tatap, "Makan lagi, Mbak?" Nunung cengengesan.
Sehabis magrib, para karyawan butik itu pun pergi ke restoran yang dimaksud. Mereka menghabiskan makan malam yang sudah dipesan sejak siang tadi. Hingga akhirnya mereka saling berceloteh satu sama lain. Begitu juga Hanum yang cukup pandai dalam hal itu sebab dia sudah pernah bercakap-cakap dengan para karyawannya.
"Kak, aku mau ke toilet dulu," ucap Hanum pada Dela yang ada di sebelahnya.
"Oke, itu langsung ke atas aja," kata Dela memberi tahu Hanum karena dia juga tadi habis dari sana.
Hanum berjalan meninggalkan perkumpulannya, menaiki tangga dan masuk ke dalam toilet. Sehabis membuang hajatnya, saat dia menatap cermin dan membetulkan hijabnya, seorang wanita muncul dari belakangnya.
"Lama gak ketemu nih," ucapnya.
Hanum langsung memasang wajah datar.
"Ada gebetan baru ya? Jangan-jangan om-om lagi," kata Vanya yang langsung berdiri di sampingnya.
"Sembarangan kamu." Hanum malas meladeni wanita gila itu.
"Kasihan banget ya, udah lah gak dicintai suaminya sendiri sekarang malah terlunta-lunta sama om-om demi bisa hidup seneng," Vanya mengejek Hanum.
"Hah.., terserah deh kamu mau bilang apa. Urus aja suami mu yang sekarang jadi sarang duit kamu itu," balas Hanum memutarkan bola matanya.
"Bilang aja iri sama gue, fine kan?"
"Iri? Mikir pake otak dong. Aku malah seneng kok," kata Hanum lagi.
"Selamat bersenang-senang dengan mantan suami aku ya," Hanum segera meninggalkan Vanya yang kini mengomelinya.
Di sisi lain, tak sengaja kedua pasang mata itu saling bertatapan. Bramasta yang duduk di meja VIP itu menatap Hanum, tetapi buru-buru Hanum memalingkan wajahnya.
Menuruni tangga, Hanum mengingat ucapan Vanya yang mengatainya berkencan dengan om-om tadi.
"Om-om? Kencan? Tak segampang itu dibandingkan kamu pelakor, Vanya."