Judul:
Dijual 500 Juta: Istri Kontrak CEO Dingin
Deskripsi/Sinopsis:
Liana dijual bapak tirinya seharga 500 juta untuk jadi istri kontrak Arka Wijaya, CEO dingin yang lumpuh dan membenci semua orang.
Di rumah mewah itu, dia dipermalukan setiap hari. Disiram comberan, diusir ke gudang, dianggap sampah oleh Keluarga Wijaya.
Tapi yang tidak mereka tahu, di dalam tas lusuh Liana ada surat wasiat Ibu yang bisa mengguncang seluruh Keluarga Wijaya.
Surat yang menyebut nama Arka sebagai kunci atas kematian ayahnya 5 tahun lalu.
Dari gadis desa yang dihina, Liana akan berubah menjadi wanita yang ditakuti.
Dia datang bukan untuk tunduk. Dia datang untuk membalas dendam.
Pertanyaannya:
Apakah balas dendam itu akan membuat Arka jatuh cinta padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TheDee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
BAB 12: HANGAT YANG BERBAHAYA
Di ruang tamu keluarga Wijaya, suasana mendadak panas.
Nyonya Darmi menatap Arka tajam, suaranya sengaja dibuat tinggi.
"Arka, Mama heran sama kamu. Sejak ada dia, kamu berubah."
Tangannya menunjuk ke arah Liana. "Kamu pikir Mama buta? Dia itu cuma wanita desa. Kerbau yang dicucuk hidungnya pun lebih tahu malu daripada dia."
Arka menghela napas panjang.
"Ma, aku masih mikirin masalah di kantor. Jangan tambah pusing aku, Ma."
Nyonya Darmi mendengus.
"Selama ini Mama diam bukan berarti Mama menerima dia jadi menantu. Menantu Mama harus wanita berkelas, bukan dia!"
"Ma, ini hidupku. Ini juga pilihanku," jawab Arka pelan, tapi tegas.
Liana hanya diam di sudut. Jarinya mengepal erat sampai kuku hampir menancap ke telapak tangan. Ia tahan. Ia harus tahan.
Tuan Wijaya yang sedari tadi duduk di sofa hanya melirik sekilas, lalu kembali membaca koran seolah semua ini tak ada artinya.
"Kalau Mama manggil kami cuma buat marah-marah, mending kami pulang," ucap Arka dingin.
Tanpa menunggu jawaban, ia menggandeng tangan Liana dan keluar dari rumah itu.
Di mobil, Liana baru berani berbisik, "Kamu nggak apa-apa, Ka?"
Arka menggenggam tangannya lebih erat. "Nggak apa-apa. Mulai hari ini, kita nggak perlu pulang ke sana lagi."
Mobil berhenti di parkiran basement apartemen mewah milik Arka. Sepanjang jalan pulang, keduanya diam. Arka sesekali melirik Liana dari kaca spion, tapi Liana pura-pura menatap luar jendela.
Baru saja mereka masuk lift, Arka tiba-tiba menggenggam tangan Liana. Hangat. Tegas.
"Liana, kamu nggak salah. Jangan dengarkan omongan Mama," katanya pelan.
Liana terkejut. Detak jantungnya kacau.
Ka, jangan kasih perhatian ke aku... jangan sampai aku beneran jatuh hati. Nanti kalau kamu tinggalkan aku, aku nggak tahu harus apain hati ini, batinnya.
Ia menarik tangannya pelan. "Aku baik-baik aja, Ka. Udah biasa dihina."
Arka mengerutkan kening. "Bukan soal biasa atau nggak. Kamu nggak pantas diperlakukan kayak gitu."
Pintu lift terbuka di lantai 24. Liana buru-buru melangkah keluar, menghindari tatapan Arka yang terlalu dalam.
Sampai di apartemen, suasana berubah. Apartemen 3 kamar itu sunyi, tapi hangat. Wangi kayu dan kopi masih terasa di udara.
"Ka, aku ke kamar dulu ya. Mandi bentar," ucap Liana cepat, lalu masuk ke kamarnya tanpa menunggu jawaban.
Arka hanya mengangguk. Ia tahu Liana butuh waktu buat menenangkan diri.
---
Malam mulai turun. Jam menunjukkan pukul 19.00.
Dari dapur terdengar suara sendok beradu dengan wajan. Liana keluar dari kamar, masih memakai kaos oversize dan celana pendek. Rambutnya digelung asal.
Ia berjalan ke dapur. Di sana, Bibi Susi sibuk menumis bawang dan cabai. Bau sambal terasi langsung menusuk hidung. Liana tersenyum kecil.
"Bi, aku bantu ya," kata Liana pelan sambil melepas gelang di tangannya.
Bibi Susi langsung menoleh, matanya membelalak. "Nggak usah, Non! Nanti tangannya kepanasan. Biar Bibi aja."
Liana menggeleng. Ia mengambil celemek gantung di belakang pintu dan mengikatkannya di pinggang.
"Nggak apa-apa, Bi. Aku kan nggak ada kerjaan di sini. Daripada di kamar bengong, mending bantu Bibi."
Bibi Susi mendesah, tapi akhirnya menyerahkan talenan kecil dan pisau. "Iya sudah, Non. Tapi hati-hati ya. Iris bawangnya pelan-pelan."
Mereka mulai memasak bersama. Bibi Susi yang awalnya canggung, lama-lama jadi banyak cerita.
"Dulu Bibi juga kerja di rumah orang kaya, Non. Tapi tuannya galak banget. Beda sama Tuan Muda Arka. Dia baik. Jarang marah."
Liana mengangguk sambil mengaduk sayur asem. "Arka emang baik, Bi. Makanya aku... bingung."
"Bingung kenapa, Non?" tanya Bibi Susi sambil menoleh.
Liana menggigit bibir. "Bingung kenapa dia tiba-tiba baik banget sama aku. Kemarin masih dingin, sekarang malah bela aku di depan mamanya."
Bibi Susi tertawa kecil. "Itu namanya hati mulai goyah, Non. Tuan Muda mungkin udah jatuh cinta, tapi gengsi ngaku."
Liana terdiam. Wajahnya memerah.
Jatuh cinta? Nggak mungkin. Aku cuma anak desa. Dia pewaris Wijaya Group.
"Udah, Non. Jangan dipikirin dulu. Yang penting malam ini kita masak yang enak. Biar Tuan Muda senang," kata Bibi Susi sambil menyodorkan piring.
Liana mengangguk. Mereka menyiapkan tiga menu: ayam bakar madu, tumis kangkung, dan sayur asem. Sederhana, tapi aromanya bikin perut keroncongan.
---
"Arka, makan!" teriak Liana dari ruang makan.
Arka keluar dari ruang kerja dengan kemeja yang lengannya digulung. Ia terkejut melihat meja makan penuh dengan masakan.
"Kamu yang masak ini semua?"
Liana menggaruk kepalanya, malu. "Iya... bantu-bantu sama Bibi Susi. Semoga cocok di lidah kamu."
Arka duduk dan mencicipi ayam bakar itu. Matanya sedikit melebar.
"Enak banget. Lebih enak dari katering."
Bibi Susi yang berdiri di sudut langsung tertawa kecil. "Tuh kan, Non. Tuan Muda aja bilang enak."
Liana tersenyum lega. Untuk pertama kalinya sejak tinggal di apartemen itu, ia merasa... dibutuhkan.
Mereka makan bertiga dengan santai. Nggak ada status bos dan pembantu. Nggak ada status menantu dan mertua. Hanya tiga orang yang lapar dan butuh obrolan ringan.
Di tengah makan, Arka menatap Liana lama.
"Makasih, Li. Hari ini... aku senang."
Liana hanya mengangguk, tapi hatinya berantakan.
Kalau begini terus, aku beneran nggak bisa nahan hati aku, Ka, batin Liana.
Bersambung...