Diana Veronika berniat memberi tahu kekasihnya tentang kehamilannya, berharap pria itu akan ikut bahagia.
Namun bukannya bertanggung jawab, Samuel justru meninggalkannya karena tak berani melawan orang tuanya dan memilih wanita dari perjodohan keluarga.
Hamil sendirian, Diana berusaha bangkit demi anaknya, hingga seorang CEO dingin perlahan hadir dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria bermata elang
“Selamat bekerja, semuanya. Jangan sampai kita mengecewakan Nona Merchella, ya.”
Puspa memberikan semangat kepada rekan-rekan kerjanya.
Semua pegawai telah hadir di ballroom hotel mewah yang ada di Kota Velmora.
Bahkan pegawai Castella Cake yang hadir di acara itu mendapatkan seragam khusus.
Diana tampak antusias menyusun kue-kue di meja dessert bersama beberapa rekan lainnya.
Matanya berbinar melihat ballroom hotel mewah itu yang dihiasi lampu kristal besar, bunga-bunga segar, serta dekorasi elegan bernuansa putih dan emas.
“Cantik banget...” gumam Diana pelan.
Tiara yang berada di sampingnya ikut mengangguk heboh.
“Aku juga baru pertama kali masuk hotel semewah ini. Rasanya kayak mimpi.”
Diana terkekeh kecil.
Ia kembali fokus menata Pavlova buatannya di atas meja dessert utama.
Kue-kue kecil itu tersusun rapi dan tampak begitu cantik.
Beberapa wedding organizer yang lewat bahkan sempat memuji tampilannya.
“Dessert table dari Castella Cake terlihat sangat bagus.”
Diana tersenyum malu mendengarnya.
°°••°°
Sementara di dalam ruang rias pengantin, wajah Chella tampak panik.
Ia terus mondar-mandir sambil menatap layar ponselnya.
Panggilannya tak kunjung diangkat.
“Angkat dong... angkat...” gumamnya dengan wajah pucat.
Waktu terus berjalan.
Acara pernikahannya tinggal tiga puluh menit lagi.
Tok! Tok!
Pintu ruangan terbuka cepat.
Salah satu tim wedding organizer masuk dengan wajah panik.
“Nona Chella...”
Chella langsung menoleh cepat.
“Mana MUA saya?”
Wanita itu tampak ragu menjawab.
“MUA Anda mengalami kecelakaan di jalan menuju hotel.”
Deg!
Tubuh Chella langsung melemas.
“Apa?”
“Mobilnya ditabrak dari samping, tapi untung kondisinya stabil. Saat ini beliau dibawa ke rumah sakit.”
Wajah Chella langsung memucat.
“Tapi pernikahanku tinggal tiga puluh menit lagi!” suaranya bergetar panik.
“Apa kalian tidak punya pengganti?!”
“Kami sedang berusaha mencari, Nona.”
Chella hampir menangis frustrasi.
Di saat bersamaan—
Tok! Tok!
Puspa masuk ke ruangan dengan senyum lebar.
“Chella, aku mau mengucapkan selamat—”
Kalimatnya terhenti.
Matanya membulat sempurna melihat wajah Chella yang masih polos tanpa riasan sedikit pun.
“Ya Tuhan... kenapa kamu belum makeup?”
Chella hampir menangis.
“MUA-ku kecelakaan!”
Deg!
Wajah Puspa ikut berubah panik.
“Apa?!”
“Acara tinggal tiga puluh menit lagi!” ucap Chella frustasi.
Puspa ikut mondar-mandir panik.
“Astaga... astaga... bagaimana ini...”
Tiba-tiba langkahnya terhenti.
Matanya membulat seolah teringat sesuatu.
“Diana!”
Tanpa membuang waktu, Puspa langsung berlari keluar ruangan.
Sementara itu di ballroom, Diana masih sibuk menata dessert.
“Diana!” teriak Puspa panik.
Diana dan Tiara langsung menoleh kaget.
“Kak? Ada apa?”
Puspa langsung menggenggam tangan Diana.
“Kamu ikut aku sekarang!”
Diana kebingungan.
“Hah? Kemana?”
“Kamu harus merias Chella!”
Deg!
“A-apa?!” Diana membelalakkan matanya.
Tiara ikut terkejut.
“Diana bisa makeup?”
Puspa mengangguk cepat.
“Aku pernah lihat hasil makeup Diana waktu dia bantu makeup salah satu teman dapur. Bagus banget dan nggak menor.”
Diana langsung menggeleng panik.
“Kak, kemampuan makeupku biasa saja. Aku bukan MUA profesional.”
“Tidak ada waktu!” potong Puspa.
Diana makin gugup.
“Tapi kalau hasilnya jelek bagaimana?”
Puspa menggenggam bahunya.
“Percaya sama dirimu sendiri.”
Tanpa menunggu jawaban, Puspa menyeret Diana menuju ruang pengantin.
Begitu masuk—
Chella langsung menghampiri Diana dengan wajah penuh harap.
“Kamu bisa makeup?”
Diana gugup luar biasa.
“Aku... cuma bisa sedikit.”
Air mata Chella hampir jatuh.
“Aku mohon bantu aku... aku nggak punya pilihan lain.”
Diana terdiam.
Ia menatap wajah panik Chella.
Lalu menarik napas panjang.
“Baiklah... aku akan coba.”
Wajah Chella langsung berbinar.
“Terima kasih!”
Diana segera duduk di depan meja rias.
Ia memeriksa perlengkapan makeup Chella satu per satu.
“Kamu mau look seperti apa?”
Chella menjawab cepat.
“Makeup ala Korea. Natural, soft, tapi tetap elegan.”
Diana mengangguk pelan.
“Oke.”
Tangannya mulai bekerja.
Ruangan mendadak hening karena semua orang tegang.
Puspa bahkan terus berdoa dalam hati.
Diana fokus penuh saat mengaplikasikan foundation, eye makeup, hingga lip tint lembut.
Waktu berjalan begitu cepat.
Beberapa saat kemudian—
“Sudah selesai.”
Chella perlahan membuka matanya.
Semua orang di ruangan langsung terdiam.
Deg!
Chella menatap pantulan dirinya di cermin dengan mata membulat.
Makeup itu terlihat sangat cantik.
Natural.
Elegan.
Lembut.
Persis seperti yang ia inginkan.
“Ya Tuhan...” lirih Chella tak percaya.
Air matanya perlahan jatuh.
“Ini cantik sekali...”
Puspa sampai menutup mulutnya tak percaya.
“Diana... ternyata kamu sehebat ini?”
Diana tersenyum canggung.
“Saya hanya berusaha semampu saya.”
Chella langsung memeluk Diana erat.
“Terima kasih... kamu benar-benar menyelamatkan hari pernikahanku.”
°°••°°
Diana tersenyum bahagia melihat Chella di atas pelaminan bersama suaminya.
Ia merasa lega karena riasan yang ia buat disukai oleh Chella.
Kini Diana duduk santai sambil memperhatikan para tamu yang tampaknya bukan berasal dari kalangan biasa.
Ia juga menikmati beberapa hidangan yang tersaji.
Pekerjaannya telah selesai, jadi sekarang ia bisa bersantai sejenak.
Tanpa Diana sadari, seseorang terus memperhatikannya sejak ia keluar dari ruangan Chella.
Sepasang mata elang menyorot tajam ke arahnya.
Sepasang mata itu terus memantau setiap pergerakan Diana.
Diana tampak begitu antusias makan sambil menikmati alunan musik yang terdengar merdu.
Hingga ia tidak sadar, sudut bibirnya terkena noda bumbu makanan.
Hal itu membuat seseorang yang sejak tadi memperhatikannya menyunggingkan senyum tipis.
Pria itu akhirnya mendekat.
Setelah berada di samping Diana, pria itu memberikan sapu tangan kepada wanita itu. Wajah tampannya terlihat dingin dan sulit didekati.
Diana mendongak bingung menatap sapu tangan tersebut.
“Untuk apa?”
“Ada noda di bibirmu,” jawab pria itu dengan dingin.
Setelah mengatakan itu, ia langsung pergi.
Diana menatap kepergiannya dengan bingung.
“Dasar aneh.”
Selamat menikmati kesengsaraanmu...
SELAMANYA!!!
Mpusss...