Tryas menganggap Jati tak lebih dari "barang antik" yang membosankan, hingga ia melemparkan perjodohan itu kepada sahabatnya, Gayuh. Namun, di balik sikap kuno itu, Jati adalah seorang CEO dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat Jati mulai "meratukan" Gayuh dalam sandiwara yang ia susun sendiri, Tryas tersadar telah membuang permata. Kini, sang sahabat dituduh pengkhianat. Akankah Jati melepaskan wanita yang tulus mencintainya demi tuntutan perjodohan awal, atau justru membawa sang "pemeran pengganti" ke pelaminan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Setelah selesai makan siang dan menghabiskan mie ayam bersama di lantai atas, Jati bersiap-siap untuk berangkat.
Ia merapikan kembali jasnya, lalu mengecup kening Gayuh dengan waktu yang cukup lama, menyalurkan rasa berat hati karena harus berpisah sementara waktu.
"Nanti aku akan mengabarimu kalau sudah sampai Surabaya. Ingat, jangan tidur larut malam ya, Sayang," pesan Jati dengan nada protektif yang begitu kentara.
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan, jangan lupa kabari kalau sudah mendarat," jawab Gayuh lembut sembari menganggukkan kepalanya.
Gayuh mengantarkan suaminya sampai ke depan teras.
Ia berdiri di sana, melambaikan tangannya dengan senyum manis saat mobil mewah Jati perlahan melaju meninggalkan halaman mansion.
Setelah mobil suaminya benar-benar hilang dari pandangan, Gayuh menghela napas pendek dan membalikkan badan.
Ia kembali masuk ke dalam rumah menulis untuk melanjutkan draf novelnya, sekaligus memantau beberapa peserta yang masih tampak fokus dan duduk di bangku mereka masing-masing.
Suasana ruangan kembali tenang, hanya menyisakan suara ketikan keyboard yang bersahut-sahutan.
Namun, ketenangan itu terusik saat seseorang berdiri di dekat meja kerjanya.
"Permisi..."
Gayuh mendongakkan kepalanya saat mendengar suara berat seorang pria.
Di hadapannya, berdiri seorang lelaki muda yang penampilannya tampak seperti seorang mahasiswa, mengenakan jaket denim dan tas ransel yang disampirkan di satu bahu.
"Iya, Mas, ada apa? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Gayuh ramah, mengira pria ini adalah peserta baru yang ingin mendaftar kelas menulis gratisnya.
Namun, di luar dugaan, lelaki itu tidak menjawab dengan kata-kata.
Dengan gerakan yang sangat cepat dan tiba-tiba, ia melangkah maju melewati batas meja dan langsung memeluk tubuh Gayuh dengan erat.
Gayuh tersentak kaget, tubuhnya menegang seketika.
"Eh?!"
"Aku penggemarmu!" ucap lelaki itu dengan nada suara yang terdengar sangat emosional dan penuh pemujaan, mempererat pelukannya di tubuh Gayuh yang masih belum pulih benar dari rasa perih di punggungnya.
Rasa terkejut dan tidak nyaman langsung menyelimuti benak Gayuh.
Mengingat statusnya sebagai istri Jati dan batas kesopanan, Gayuh segera mengerahkan tenaganya untuk mendorong sedikit tubuh lelaki itu menjauh agar ada jarak di antara mereka.
"Maaf, Mas, tolong jaga sopan santunnya," ucap Gayuh dengan nada tegas, mencoba mengendalikan situasi agar tidak memicu keributan di ruangan.
Sadar dirinya didorong, lelaki itu langsung melepaskan pelukannya dan mundur satu langkah.
Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menatap Gayuh dengan binar mata yang sulit diartikan.
"Maaf, aku terlalu senang bisa bertemu langsung denganmu. Perkenalkan, aku Permana," ucap lelaki itu sambil mengulurkan tangannya, memperkenalkan diri dengan senyuman yang merekah.
Gayuh menarik napas dalam-dalam, berusaha menetralkan rasa terkejutnya demi menjaga profesionalisme sebagai seorang mentor.
Ia menatap Permana yang masih berdiri menanti respons darinya dengan senyuman yang sulit diartikan.
"Gayuh..." gumam Permana pelan, menyebut nama wanita di hadapannya dengan nada yang terdengar begitu akrab, seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama.
Enggan memperpanjang kecanggungan di depan para peserta lain yang mulai mencuri pandang, Gayuh akhirnya mengangguk formal. Kemudian, Gayuh mempersilakannya masuk lebih dalam ke area rumah menulis.
"Mau daftar kelas atau hanya mau membaca novel?" tanya Gayuh, mencoba mengalihkan suasana kembali ke koridor formalitas sebuah tempat belajar.
Permana tersenyum lebar, lalu merogoh tas ranselnya dan mengeluarkan sebuah kotak cokelat premium yang tampak rapi.
"Aku mau mendaftar kelas. Dan, ini untuk kamu," ucap Permana sambil menyodorkan cokelat tersebut langsung ke hadapan Gayuh. Matanya menatap Gayuh tanpa kedip.
Melihat pemberian itu, Gayuh langsung teringat akan posisinya sebagai istri Jati.
Ia tahu betul ia harus menjaga batasan yang tegas agar tidak menimbulkan kesalahpahaman atau memicu kecemburuan suaminya yang sangat protektif itu.
"Permana, maaf. Aku tidak bisa menerimanya," tolak Gayuh dengan halus namun terselip nada tegas yang tidak bisa dibantah.
Wajah Permana tampak sedikit berubah kecewa, tangannya yang memegang cokelat menggantung di udara.
Melihat hal itu, Gayuh segera menunjuk ke arah meja panjang di sudut ruangan tempat camilan para peserta diletakkan.
"Lebih baik kamu taruh di sana saja, biar orang lain yang mengambilnya dan bisa dinikmati bersama-sama dengan peserta yang lain."
Permana terdiam sejenak, menatap kotak cokelat di tangannya lalu beralih menatap wajah tegas Gayuh.
Sadar bahwa pendirian Nyonya Aditama ini tidak bisa digoyahkan, Permana akhirnya menganggukkan kepalanya dengan patuh.
"Baiklah kalau begitu, Mbak Gayuh," ujar Permana sebelum melangkah menuju meja camilan untuk meletakkan cokelatnya, lalu mengambil formulir pendaftaran kelas menulis yang terletak di dekat meja depan.
Setelah Permana selesai mengisi lembar kertas di tangannya, Gayuh menerima dokumen tersebut dan meminta Permana untuk duduk di salah satu kursi kosong yang berada di barisan depan.
Gayuh mulai membaca baris demi baris informasi yang tertulis di formulir pendaftaran milik Permana. Namun, gerakan matanya mendadak terhenti pada kolom pekerjaan.
"Dosen?" gumam Gayuh pelan.
Gayuh sedikit terkejut ketika mendapati fakta bahwa pria yang tadi sempat memeluknya secara impulsif itu ternyata memiliki latar belakang profesi yang sangat terhormat di bidang akademis.
Profil Permana sebagai seorang dosen terasa sangat kontras dengan sikap menggebu-gebu dan kurang sopan yang ditunjukkannya saat pertama kali tiba di rumah menulis tadi.
Menyadari dirinya sempat terdistraksi oleh latar belakang Permana, Gayuh segera berdeham kecil dan merapikan kembali kertas formulir tersebut ke dalam map.
Ia tidak ingin membeda-bedakan peserta berdasarkan status sosial mereka.
Gayuh kembali menerangkan tentang dasar-dasar kepenulisan bagi penulis awal kepada Permana dan beberapa orang di sekitarnya.
Dengan suara yang tenang dan profesional, ia menjelaskan pentingnya menentukan premis yang kuat, membangun konsistensi karakter, serta bagaimana cara mengatasi writer's block yang sering melanda para pemula.
Di bawah bimbingan Gayuh yang telaten, suasana kelas kembali fokus dan kondusif.
Detik demi detik berganti hingga jarum jam akhirnya menunjukkan pukul lima sore.
Satu per satu peserta kelas menulis pamit untuk pulang, meninggalkan ruangan yang kini kembali sunyi.
Gayuh merapikan meja kerjanya, menyusun buku-buku, dan memastikan semua laptop serta peralatan belajar sudah rapi pada tempatnya.
Setelah itu, ia mematikan lampu ruangan.
Setelah mengunci pintu rumah menulis dengan rapat, Gayuh berjalan menuju mobilnya yang terparkir di halaman.
Mengingat pesan Jati untuk tidak kelelahan dan segera istirahat, Gayuh berniat langsung kembali ke mansion utama.
Ia masuk ke dalam kemudi, memasukkan kunci, dan mencoba menyalakan mesin.
Ceklek... ceklek...
"Kenapa tidak bisa hidup?" gumam Gayuh bingung.
Ia mencoba memutar kunci sekali lagi, namun mesin mobilnya tetap bungkam dan hanya mengeluarkan suara gesekan halus.
Merasa ada yang tidak beres, Gayuh turun dari mobil. Ia menarik tuas dari dalam, lalu berjalan ke depan untuk membuka kap mobil dan memeriksa bagian mesinnya, meskipun sejujurnya ia tidak terlalu paham soal otomotif.
"Apa ada masalah?"
Gayuh terkejut ketika mendengar suara berat yang tiba-tiba memecah keheningan sore itu di dekatnya.
Jantungnya sempat berdesir waswas. Ia segera menoleh ke arah sumber suara.
"Permana? Belum pulang?" tanya Gayuh dengan kening berkerut.
Halaman rumah menulis sudah sepi sejak lima belas menit yang lalu, dan ia tidak menyangka pria itu masih berada di sekitar sini.
Permana menggelengkan kepalanya perlahan, menatap Gayuh dengan senyuman tipis yang sulit diartikan di bawah temaram cahaya sore.
"Belum, Mbak Gayuh. Kebetulan saya tadi masih membaca beberapa referensi di depan, dan melihat Mbak sepertinya sedang kesulitan dengan mobilnya."
"Iya, entah kenapa mobilnya nggak bisa hidup. Padahal tadi pagi waktu dipakai Mas Jati masih baik-baik saja," ujar Gayuh sambil menyeka keringat tipis di dahinya, merasa agak lega karena ada seseorang yang menawarkan bantuan.
"Mari saya bantu," ucap Permana dengan sigap. Ia melangkah mendekat, menggulung sedikit lengan kemejanya, dan mulai memeriksa beberapa komponen di bawah kap mobil dengan cekatan.
Tampaknya latar belakangnya sebagai dosen tidak membuatnya buta akan urusan mesin.
Permana memeriksa kabel aki dan beberapa sekring.
Tak berselang lama, setelah mengencangkan salah satu bagian, ia meminta Gayuh untuk mencoba menyalakan mesin kembali.
Gayuh memutar kunci kontak, dan mesin mobil kembali hidup dengan suara yang halus.
Gayuh tersenyum lega dan segera turun dari mobil.
"Alhamdulillah. Terima kasih banyak ya, Permana. Untung ada kamu. Oh ya, kamu sendiri naik apa pulangnya? Ini sudah hampir magrib, jalanan pasti mulai sepi."
"Saya naik angkot, Mbak," ucap Permana ramah sambil membersihkan tangannya dengan tisu.
Mendengar hal itu, Gayuh merasa tidak enak hati. Permana sudah membantunya memperbaiki mobil, dan rasanya kurang sopan jika membiarkan seorang dosen yang telah menolongnya harus menunggu angkutan umum yang jam segini sudah mulai jarang lewat.
"Ayo, saya antar sampai rumah kamu sekalian. Anggap saja sebagai tanda terima kasih karena sudah membetulkan mobilku," ucap Gayuh menawarkan.
Permana mengangguk kecil dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Baiklah, kalau tidak merepotkan, Mbak Gayuh." Ia kemudian berjalan memutar dan masuk ke dalam mobil, duduk di kursi penumpang di samping Gayuh.