"Di mata dunia, dia adalah pangeran penyelamat. Di mataku, dia adalah sipir penjara yang kejam."
Bagi keluarga besar Aris Baskoro, Aris adalah anak berbakti dan abang idaman. Sebagai seorang Manager Regional sukses dengan gaji puluhan juta, dia tak pernah ragu melunasi cicilan mobil adiknya, membiayai kuliah saudara-saudaranya, hingga memberikan tas-tas branded untuk ibunya tercinta. Aris adalah 'pahlawan' yang selalu diagung-agungkan.
Namun, di balik pintu rumahnya sendiri, Aris adalah monster yang berbeda bagi sang istri, Maya Safira.
Di rumah mewah yang mereka tempati, Maya harus hidup dalam 'kemiskinan' yang dipaksakan. Aris memperlakukannya bukan sebagai istri, melainkan tawanan. Setiap rupiah uang belanja dicatat, setiap struk harus dilaporkan. Sementara Aris royal pada orang lain, dia pelit setengah mati pada istri dan anaknya, Dafa. Maya bahkan harus memutar otak mencari uang seratus ribu untuk SPP anaknya yang menunggak, padahal di saat yang sama, Aris baru saja mentransfer
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwandaMw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
**Bab 14 Garis takdir yang terang
🌸🌸🌸
Sinar matahari pagi di bulan kelima pasca-perceraian terasa berbeda bagi Maya.
Tidak ada lagi rasa cemas yang merayap di dadanya setiap kali membuka mata, tak ada lagi ketakutan akan omelan suami atau dering telepon dari mertua yang menuntut ini dan itu.
Di dalam studio karyanya yang makin berkembang, aroma kopi arabika bercampur dengan wangi kertas cetak baru.
Maya berdiri di dekat jendela kaca besar, memperhatikan kesibukan Rina yang sedang mengatur jadwal rapat online dengan klien agensi dari Jakarta.
Kini, Maya tidak hanya mengerjakan proyek tulisan secara eceran. Nama studio kecilnya mulai dikenal sebagai penyedia jasa konten kreatif yang berdedikasi dan penuh konsep matang.
"Mbak Maya," panggil Rina sambil mengangkat gagang telepon, "ini dari tim keuangan PT Samudra Karya.
Mereka mau mengonfirmasi transfer uang muka untuk proyek kampanye tahunan kita. Kontrak lima puluh juta rupiah sudah mereka tandatangani."
Maya tersenyum tipis dan mengangguk tenang. "Terima kasih, Rina. Masukkan ke rekapitulasi keuangan bulan ini, ya.
Jangan lupa sisihkan bonus untuk kamu dan uang operasional studio."
Rp50.000.000. Sebuah angka yang dulu mungkin terasa mustahil bagi Maya saat ia masih hidup mengemis-ngemis kejujuran Aris atas uang belanja dua juta rupiah.
Namun kini, angka sebesar itu lahir murni dari buah pikirannya, jemarinya yang menari di keyboard, dan ketekunannya yang tak pernah padam di sepertiga malam.
Dafa, yang bulan depan genap berusia lima tahun, sudah didaftarkan ke sekolah taman kanak-kanak terbaik di dekat studio. Maya tidak perlu lagi pusing memikirkan biaya pendaftaran atau seragam.
Kemandirian finansial yang ia bangun sebagai pekerja lepas telah memberinya benteng perlindungan paling kokoh.
Sementara itu, di sudut perumahan lama, Aris duduk di warung makan sederhana tak jauh dari kantornya. Di hadapannya, semangkuk soto ayam yang sudah dingin tak tersentuh.
Ponsel murah di atas meja bergetar nyaring. Nama Ibu Ratna tertera di layar. Aris menarik napas panjang, menatap layar itu dengan tatapan jenuh yang luar biasa sebelum mengangkatnya.
"Halo, Bu..."
"Aris!" suara Ibu Ratna langsung memekik dari seberang telepon, penuh dengan amarah dan desakan.
"Uang kiriman kamu kok cuma tujuh ratus ribu bulan ini?! Ibu di kampung mau makan apa? Siska juga butuh ongkos buat naik angkot kerja ke pabrik! Kamu ini gimana sih, Ris? Mana janji kamu mau kirim tiga juta tiap bulan?!"
Aris memejamkan mata rapat-rapat. Garpu di tangan kirinya mengepal erat.
"Bu... tolong mengerti," suara Aris bergetar, menahan rasa lelah yang menumpuk di dadanya. "Kantor Mas baru saja memotong tunjangan jabatan karena kinerja kantor turun.
Gaji bersih Mas cuma tersisa empat setengah juta. Dari situ, tiga setengah juta sudah terpotong otomatis untuk nafkah Dafa sesuai putusan pengadilan! Mas cuma pegang uang satu juta buat makan Mas sendiri sebulan!"
"Ya kamu minta keringanan sama si Maya itu, Aris!" bentak Ibu Ratna tak mau tahu. "Masa anak kandung kamu dibayar tiga setengah juta, sementara ibu kamu sendiri cuma dikasih tujuh ratus ribu?! Kamu itu anak durhaka kalau lebih mementingkan mantan istri kamu daripada Ibu!"
"Ini buat Dafa, Bu! Bukan buat Maya!" teriak Aris,
akhirnya emosinya pecah di warung makan itu hingga beberapa pengunjung menoleh padanya. Aris menurunkan suaranya, memelankan intonasinya dengan tenggorokan yang serak.
"Dan asal Ibu ingat... dulu Maya tidak pernah mengeluh waktu uang belanjanya dipotong demi Siska dan Ibu. Tapi sekarang, waktu Mas susah, Ibu sama Siska cuma tahu menuntut dan menyalahkan Mas."
"Aris! Kamu berani mengungkit-ungkit—"
Tanpa menunggu bentakan ibunya selesai, Aris mematikan sambungan telepon itu sepihak. Ia meletakkan ponselnya di meja dengan tangan gemetar.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aris merasakan kesepian dan kehampaan yang teramat dalam.
Rumah perumahan satu lantai yang dulu ia banggakan kini terasa seperti penjara. Tak ada lagi istri yang menyambutnya di depan pintu, tak ada lagi tawa anak yang berlari mendekat, dan tak ada lagi makanan hangat di meja.
Keluarga besar yang dulu selalu ia agung-agungkan kini berubah menjadi benalu yang terus menggerogoti sisa-sisa hidupnya tanpa rasa empati.
Ia telah kehilangan segalanya demi sebuah topeng 'pahlawan' yang rapuh.
Sore harinya, Maya menjemput Dafa dari sekolah. Anak laki-laki itu berlari ke arahnya sambil membawa sebuah kertas bergambar rumah kecil dengan tiga sosok manusia yang digambar dengan krayon warna-warni.
"Bunda! Lihat, Dafa gambar rumah kita!" seru Dafa girang sambil memeluk kaki Maya.
Maya berlutut, menerima kertas itu, dan menatap gambarnya. Di sana, Dafa menggambar dirinya, Maya, dan sebuah matahari tersenyum lebar di atas atap rumah.
Tidak ada sosok Aris di sana, tetapi wajah Dafa di dalam gambar itu diwarnai dengan senyum yang paling cerah.
"Bagus sekali, Sayang," bisik Maya, mencium kening Dafa dengan tulus. "Rumah kita indah sekali, ya?"
"Iya! Kata Ibu Guru, rumah Dafa warnanya terang!" sahut anak itu polos.
Maya tersenyum, lalu menggandeng tangan mungil Dafa menuju mobil kompak sederhana yang baru saja ia beli secara tunai dari hasil tabungan karyanya.
Langkah kaki Maya kini begitu ringan. Rasa sakit dari masa lalu, potongan nafkah yang teraniaya, dan kepalsuan janji mantan suaminya kini telah menjadi bagian dari sejarah yang tak lagi memiliki kuasa atas dirinya. Ia telah membuktikan bahwa keterpurukan bukanlah garis akhir, melainkan awal dari sebuah keberanian untuk mengambil alih kendali atas takdirnya sendiri.
Di bawah langit sore yang hangat, Maya melangkah mantap menyongsong masa depan—sebuah masa depan yang cerah, mandiri, dan sepenuhnya berada di bawah kedaulatannya sendiri.
🌸🌸🌸🌸
author up sore sore nih..buat nemenin kalian🫰🫰