NovelToon NovelToon
Tumbal Di Akar Randu

Tumbal Di Akar Randu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Misteri
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: kegelapan malam

Seorang wanita bernama Nirmala harus kembali ke desa terpencil tempat kakeknya tinggal setelah menerima surat misterius. Di desa itu, ada mitos tentang "Wewe Putih", sosok yang konon mencuri anak-anak, namun hanya anak yang "dilupakan" oleh keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

Pagi di lereng Merapi kini tidak lagi terasa mencekam bagi Nirmala. Sinar matahari yang menembus celah-celah pohon pinus terasa seperti belaian hangat yang mengisi jiwanya. Ada sesuatu yang berubah sejak Sandiwayang "tidur" di dalam dirinya. Jika dulu ia merasa seperti wadah yang hampir pecah, kini ia merasa seperti tanah subur yang sedang menunggu untuk ditanami.

Jahitan kayu di lengannya tidak lagi terasa kasar dan dingin. Sebaliknya, guratan itu kini memiliki rona kehijauan yang halus, menyerupai urat daun yang sangat indah jika dilihat dari dekat.

Pagi itu, Aki sedang duduk di amben depan rumah, mencoba memperbaiki sebuah cangkul tua. Namun, tangannya yang sudah sangat renta gemetar, dan tanpa sengaja pisau raut yang ia gunakan meleset, menyayat telapak tangannya hingga cukup dalam. Darah merah tua mulai mengalir, membasahi kain sarungnya.

"Aki!" Nirmala berlari mendekat.

Ia secara refleks memegang tangan Aki yang terluka. Saat jemari Nirmala yang "berkayu" itu menyentuh luka tersebut, sesuatu yang luar biasa terjadi. Nirmala merasakan denyut hangat di dadanya tepat di mana Biji Purba bersemayam. Denyut itu menjalar ke lengannya, melewati jalur jahitan kayu, dan berpindah ke ujung jari-jarinya.

Cahaya putih kehijauan yang lembut merembes keluar dari balik kuku Nirmala.

Aki terdiam, matanya yang tua membelalak. Ia melihat bagaimana luka sayatan yang dalam itu perlahan-lahan merapat sendiri. Bukan sekadar darah yang berhenti mengalir, tapi daging dan kulit itu seolah-olah "tumbuh" kembali dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Dalam hitungan detik, luka itu hilang, hanya menyisakan garis merah tipis yang kemudian lenyap sama sekali.

"Nirmala..." bisik Aki, suaranya bergetar antara haru dan ngeri. "Kau... kau baru saja memberikan 'napas' pada lukaku."

Nirmala menarik tangannya, napasnya tersengal-sengal. Ia merasa lemas, namun ada rasa bahagia yang aneh. "Aku tidak tahu bagaimana melakukannya Aki. Itu mengalir begitu saja."

Aki memandangi telapak tangannya yang kini mulus kembali. "Biji Purba itu... dia bukan lagi parasit. Dia sudah menyatu dengan nuranimu. Kau memiliki kekuatan untuk memulihkan, Nirmala. Kekuatan yang selama ini dicuri oleh Randu Alas untuk kepentingannya sendiri, kini kau miliki sebagai manusia."

Siang itu, sebuah mobil sampai di halaman rumah Aki. Ibu Lastri turun dengan langkah terburu-buru. Wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi kecemasan. Sejak pelarian dari Sandiwayang, ia belum sempat melihat kondisi anaknya secara langsung.

"Arka! Nirmala!" teriak Ibu Lastri. Arka keluar dari dalam rumah, dipandu oleh tongkatnya. Ibu Lastri langsung menghambur memeluk anaknya, tangisnya pecah saat melihat kain hitam yang menutupi mata putra kesayangannya.

"Maafkan Ibu, Nak... Ibu tidak bisa melindungimu saat itu." isak Ibu Lastri.

"Aku baik-baik saja Bu. Aku masih hidup." Arka menepuk-nepuk bahu ibunya dengan tenang.

Saat makan siang bersama di atas tikar, Ibu Lastri terus memperhatikan Nirmala. Ia melihat selendang yang melilit lengan gadis itu, menyembunyikan rahasia besar di baliknya. Aki menceritakan apa yang terjadi pagi tadi tentang luka di tangannya yang sembuh secara ajaib.

Ibu Lastri tertegun. Ia memegang tangan Nirmala dengan lembut. "Nirmala, apakah itu benar? Apakah kekuatan itu... bisa menyembuhkan apa saja?"

Nirmala menunduk, ia melirik ke arah Arka yang duduk dalam kegelapan di sampingnya. "Aku belum tahu batasannya, Bu. Tapi aku merasakannya... energi itu ingin menolong."

Ibu Lastri menatap mata Arka yang tertutup kain hitam. Harapan besar terpancar dari wajahnya. "Mungkinkah... mungkinkah kau bisa menyembuhkan mata Arka?"

Suasana di meja makan seketika menjadi hening. Aki menghentikan kunyahan sirihnya, sementara Arka hanya terdiam, wajahnya tetap datar namun jemarinya mencengkeram erat pinggiran tikar.

"Jangan memberinya beban Bu." suara Arka terdengar berat. "Mataku bukan luka biasa. Syarafnya sudah mati karena terbakar energi gaib. Ini adalah harga yang sudah kusetujui."

"Tapi Arka, jika ada kesempatan..."

"Nirmala tidak boleh memaksakan kekuatannya untukku." sela Arka tegas.

Malam harinya, keinginan Ibu Lastri tetap membekas di hati Nirmala. Saat Arka sedang duduk di teras mendengarkan suara jangkrik, Nirmala mendekat. Ia duduk di hadapan Arka, menatap kain hitam yang menutupi luka pengorbanan itu.

"Arka... boleh aku mencoba?" bisik Nirmala.

"Nir, kau sudah dengar apa yang kukatakan tadi."

"Hanya mencoba. Aku tidak menjanjikan apa pun. Aku hanya ingin tahu apakah Biji Purba ini bisa memaafkan masa lalu kita." Nirmala memegang kedua tangan Arka.

Arka menghela napas panjang. "Baiklah. Tapi jika kau merasa sakit atau lemas, segera berhenti. Aku tidak mau kau menjadi pohon yang layu hanya demi mataku."

Nirmala perlahan membuka ikatan kain hitam di wajah Arka. Saat kain itu terlepas, ia melihat kelopak mata Arka yang cekung. Ketika Arka membukanya, yang terlihat hanya warna putih susu yang keruh, dengan urat-urat hitam kecil yang menyebar di sekitarnya. Pemandangan itu masih terasa menyakitkan bagi Nirmala.

Nirmala memejamkan matanya. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di depan mata Arka, tanpa menyentuhnya langsung. Ia mulai berkonsentrasi pada detak jantungnya.

Tok...

Tok...

Tok...

Bunyi kayu itu kini terdengar seperti detak jantung yang sehat. Nirmala membayangkan akar-akar putih dari Biji Purba di dadanya menjalar naik ke arah tangannya. Kali ini, ia tidak merasakan panas yang membakar, melainkan rasa dingin yang sangat murni, seperti air pegunungan.

Cahaya putih kehijauan mulai memancar dari tangan Nirmala, menerangi teras rumah Aki yang gelap. Ibu Lastri dan Aki berdiri di ambang pintu, menyaksikan pemandangan itu dengan napas tertahan.

Nirmala merasakan syaraf-syaraf di tangannya berdenyut kencang. Ia seolah-olah bisa "melihat" ke dalam kepala Arka. Ia melihat jaringan syaraf yang hangus dan mati, menghitam karena kutukan Randu Alas. Nirmala mengirimkan "napas hijau" itu ke dalam kegelapan tersebut.

"Aaakh..." Arka mengerang kecil. Ia merasakan sensasi seperti jutaan semut dingin yang merayap di dalam lubang matanya.

Nirmala berkonsentrasi lebih dalam. Ia membayangkan bunga Randu yang mekar di pagi hari. Ia memaksa energi itu untuk merajut kembali syaraf yang sudah putus. Keringat membasahi dahi Nirmala, dan jahitan kayu di lengannya mulai bersinar terang hingga tembus ke balik kain bajunya.

Tiba-tiba, warna putih susu di mata Arka mulai memudar. Rona hitam di urat-uratnya perlahan tersapu oleh warna hijau jernih. Pupil mata Arka yang tadinya hilang, kini mulai terbentuk kembali, meskipun warnanya sangat aneh, bukan cokelat gelap seperti dulu, melainkan hijau zamrud yang dalam.

Nirmala tersungkur lemas setelah mengeluarkan energi besar itu. Arka segera menangkapnya.

"Nir! Kau tidak apa-apa?" Arka bertanya panik.

Nirmala mendongak, napasnya memburu. "Arka... coba buka matamu pelan-pelan."

Ibu Lastri mendekat dengan tangan gemetar. Arka perlahan membuka kelopak matanya. Ia berkedip beberapa kali. Awalnya semuanya buram, tertutup kabut hijau yang tebal. Namun perlahan, bayangan mulai terbentuk.

Ia melihat wajah Nirmala. Namun, ia tidak melihat wajah Nirmala dengan cara manusia biasa. Ia melihat Nirmala sebagai sosok yang dikelilingi oleh aura cahaya putih yang sangat indah. Ia juga bisa melihat aliran energi di pepohonan di sekitar mereka.

"Aku... aku bisa melihatmu Nir." bisik Arka. Suaranya pecah oleh emosi.

Ibu Lastri menangis sejadi-jadinya, memeluk Arka dan Nirmala sekaligus. Aki hanya bisa mengucap syukur berkali-kali sambil menatap langit.

"Tapi mataku..." Arka melihat pantulan dirinya di sebuah cermin tua yang dibawa ibunya. Matanya kini berwarna hijau zamrud terang, tanpa pupil hitam yang normal. "Aku tetap tidak lagi sepenuhnya manusia, kan?"

"Kita berdua memang sudah berubah Koko Arka." jawab Nirmala sambil tersenyum meski wajahnya pucat. "Tapi setidaknya, kegelapan itu tidak lagi menang."

Malam itu, mereka duduk bersama di teras. Arka masih harus membiasakan diri dengan "penglihatan barunya". Ia kini bisa melihat penyakit di dalam tubuh ibunya sebuah titik gelap di lambung yang segera disembuhkan oleh sentuhan ringan Nirmala.

Namun, di tengah kebahagiaan itu, Aki menatap ke arah hutan Merapi yang gelap. Ia tahu bahwa kekuatan penyembuh Nirmala ini akan mengundang perhatian "sesuatu" yang lain.

"Nirmala." panggil Aki lirih saat yang lain sudah masuk ke dalam. "Berhati-hatilah. Berita tentang 'Gadis dengan Tangan Penolong' akan tersebar cepat di dunia gaib. Mereka yang lapar akan kehidupan akan mencarimu. Kau bukan lagi tumbal, tapi kau sekarang adalah 'obat' yang diperebutkan."

Nirmala menatap tangannya yang kini terlihat biasa saja, namun ia tahu di dalamnya tersimpan kekuatan yang bisa menghidupkan sekaligus mengundang maut.

1
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
kenapa hrus berbohong
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Sehat² ya othor tayang, kutunggu kelanjutan ceritamu😘
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: terimakasih 🥰😘
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apaan di panen, bengekkk
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
fokuss nirr fokuss
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ihhh kok ngerii
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: ihhh masa sih😭
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
susah sih bagi nirmala jika dia tidak memikirkan itu, pasti di memilkirkan itu terus
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
pengen aku tendang kauuu nirmala
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
pengen ku tabokkk kau nirmallaa
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: tabok tabok🤣😭
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apaan sih nirmalaa lelet amatt
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ishh kok ngeri kali
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ishhh napa pula ini mumcull
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ada apa di sandiwayang?
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
nirmala jadi.... tumbal gegara utang ayahnya, kenapa harus di jadikan tumbal ihhh 😭
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apakah itu...
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
bacaaa ahhh, jika tidak lanjut baca berarti mentalku nggak kuat😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: 🤣🤣 aku yakin pasti kuat mentalmu
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Mungkinkah gempa selama ini karena pertarungan itu? 😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: aku juga gk tw😭
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Gak kebayang kalo aku ikut blusukan kek mereka, pasti asma ku lgsg kambuh🤧
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Bisa nih aku pinjam Nirmala buat bersihin air laut yg butek di daerahku/Proud/
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ: Sip.... Kalo gak dibolehin nanti ku culik Nirmala nya🤣🤣🤣
total 3 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Tiga puluh hari itu sebentar lho, gak bisa apa waktunya ditambah🙄
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: dih dia nego😭
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Oh Nirmala... Hidupmu tidak pernah di berikan nafas lega sebentar saja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!