Mati karena kelelahan melayani 10 istri cantik? Itu adalah akhir paling konyol dalam hidup Arka. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlahir kembali sebagai Reno, seorang pemuda miskin di desa terpencil dunia Beast Tamer.
Di dunia di mana kekuatan ditentukan oleh hewan kontrak, Reno justru menjadi bahan tertawaan karena hanya mampu menjinakkan seekor cacing tanah kecil yang lemas. Semua orang menghinanya, menganggap masa depannya telah berakhir sebagai petani rendahan.
Tapi mereka tidak tahu... cacing itu bukanlah cacing biasa. Di dalam tubuh kecil itu, bersemayam jiwa Nidhogg, Naga Kuno legendaris yang pernah memusnahkan sebuah negara dalam satu malam!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Predator Rawa
Episode 21
Kabut di Sektor Utara semakin pekat, seolah-olah ia memiliki nyawa sendiri yang ingin menelan siapa pun yang berani melangkah terlalu dalam ke pusat rawa. Bau belerang yang menyengat bercampur dengan aroma amis air payau membuat napas terasa berat. Reno berdiri diam di atas akar pohon besar yang mencuat dari air, sementara di bawahnya, air rawa yang berwarna hitam pekat tampak bergejolak pelan.
Byur... Byur...
Suara itu semakin dekat. Bukan sekadar suara langkah kaki, tapi sesuatu yang menggeser massa air dalam jumlah besar. Reno bisa merasakan getaran itu melalui teknik Arus Bumi yang ia jalankan di telapak kakinya. Getaran ini sangat berat dan berirama lambat, menandakan makhluk yang datang memiliki ukuran yang sangat besar.
"Reno, ini bukan binatang Tingkat Perunggu biasa," Nidhogg berbisik, tubuhnya menegang di bahu Reno. "Auranya lebih dekat ke Tingkat Perak tahap menengah. Sepertinya pihak akademi sengaja menaruh predator ini untuk 'membersihkan' murid-murid yang terlalu lemah di awal turnamen."
"Atau mungkin ada seseorang yang sengaja melepaskannya untukku," gumam Reno sambil menyipitkan mata, menatap ke arah kabut yang mulai berputar.
Tiba-tiba, dari arah kiri, suara jeritan seorang gadis memecah kesunyian.
"Aaaaaah! Tolong!"
Reno menoleh. Melalui celah kabut, ia melihat seorang murid perempuan dengan seragam biru murid dari kelas sebelah sedang berlari dengan susah payah di atas lumpur. Pakaiannya kotor penuh noda hitam, dan di sampingnya, seekor Elang Sayap Perak kecil terbang dengan sempoyongan, seolah olah salah satu sayapnya terluka.
Di belakang gadis itu, sebuah moncong raksasa muncul dari permukaan air. Makhluk itu menyerupai buaya, namun tubuhnya sepanjang delapan meter dengan sisik yang keras seperti batu karang dan memiliki enam pasang mata merah di kepalanya. Itu adalah Buaya Sisik Bayangan, predator penguasa rawa.
"Dito dan Lani selalu bilang agar aku membantu orang lain," desah Reno pelan. "Tapi di dunia ini, membantu orang tanpa rencana adalah bunuh diri."
"Tapi manusia itu memiliki lencana di pinggangnya, Reno. Lihat, dia membawa lima lencana!" Nidhogg memberikan alasan yang lebih pragmatis. "Jika kau menyelamatkannya, kita bisa mengambil lencana itu sebagai biaya jasa."
Reno tersenyum tipis. "Ide yang bagus, Nidhogg."
Gadis itu, yang belakangan Reno ketahui bernama Elara, tersandung akar pohon dan jatuh terjerembap ke dalam lumpur. Buaya raksasa itu membuka mulutnya yang lebar, menampakkan deretan gigi kuning yang setajam pedang. Saat maut hampir menjemput, Reno bergerak.
"Vibrasi Tanah: Langkah Bayangan!"
Reno melesat dari akar pohon. Ia tidak berlari di atas tanah, melainkan seolah-olah meluncur di atas udara tipis. Dalam sekejap, ia sudah berada di depan Elara.
"Nidhogg, gunakan Perisai Armor!"
Nidhogg melompat dari bahu Reno, tubuhnya membesar seketika menjadi panjang satu meter dengan sisik hitam yang sangat tebal. Ia menghantam rahang buaya itu tepat saat makhluk itu hendak mengatupkan mulutnya.
BAM!
Suara benturan logam terdengar nyaring. Buaya raksasa itu terkejut. Kekuatan tekanannya yang biasanya sanggup menghancurkan tulang gajah, justru tertahan oleh makhluk kecil yang kerasnya bukan main.
"Cepat bangun dan lari ke pohon besar itu!" perintah Reno tanpa menoleh ke arah Elara.
Elara tertegun, menatap punggung Reno yang tampak sangat kokoh. "Ka..kau... Reno si Penjinak Cacing?"
"Cepat!" bentak Reno.
Elara segera bangkit, menarik elangnya, dan berlari menuju tempat yang lebih aman. Sekarang, hanya tinggal Reno dan predator rawa tersebut.
Buaya Sisik Bayangan itu meraung marah. Keenam matanya menatap Reno dengan kebencian. Ia memutar tubuhnya yang berat, mencoba menghantam Reno dengan ekornya yang menyerupai gada berduri.
Reno menarik napas dalam, mengaktifkan energi buminya. "Nidhogg, kita tidak punya waktu untuk bermain lama. Gunakan serangan internal."
"Hehe... mengerti!"
Nidhogg tidak lagi menyerang dari luar. Saat ekor buaya itu mendekat, Nidhogg justru meluncur masuk ke dalam air. Karena tubuhnya yang licin dan kecil, ia bisa bergerak sangat cepat di dalam lumpur. Nidhogg mencari celah di bawah perut buaya yang sisiknya lebih lunak.
Zruuuut!
Nidhogg menusuk masuk ke dalam tubuh buaya tersebut.
Makhluk raksasa itu tiba-tiba berhenti bergerak. Ia mengeluarkan suara raungan tertahan yang sangat menyakitkan. Dari luar, tidak terlihat ada luka, namun di dalam, Nidhogg sedang menghisap energi inti jantung buaya itu dengan teknik Soul Devour yang sudah dimodifikasi agar tidak mencolok.
Beberapa detik kemudian, buaya raksasa itu tumbang. Tubuhnya tidak mengering seperti korban Nidhogg sebelumnya (karena Reno memerintahkannya untuk hanya mengambil energi inti, bukan seluruh cairan tubuh), namun ia sudah tidak bernyawa lagi.
Reno mendekati bangkai itu, mengambil Nidhogg yang merayap keluar dengan wajah puas, lalu mengambil Inti Kristal Perak yang muncul dari tubuh buaya tersebut.
"Lumayan. Satu inti perak setara dengan lima puluh inti perunggu," gumam Reno.
Ia kemudian berjalan menuju pohon tempat Elara bersembunyi. Gadis itu menatap Reno dengan tatapan yang sangat kompleks takut, kagum, dan bingung.
"Kau... kau membunuhnya hanya dalam hitungan detik?" suara Elara gemetar.
"Dia sudah tua, mungkin jantungnya lemah," jawab Reno dengan alasan yang sangat tidak masuk akal. Ia mengulurkan tangannya. "Namaku Reno. Dan kau berhutang nyawa padaku."
Elara mengambil napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia adalah putri dari keluarga bangsawan rendah dari kota tetangga. Ia selalu diajarkan bahwa penjinak cacing adalah kasta terendah, tapi apa yang ia lihat barusan mematahkan semua teorinya.
"Aku Elara. Terima kasih telah menyelamatkanku," ia melepaskan dua lencana dari pinggangnya dan memberikannya kepada Reno. "Aku tahu kau pasti mengincar ini. Ambilah sebagai tanda terima kasih."
Reno menerima lencana itu tanpa ragu. Di dunia bisnis lamanya, jasa harus selalu dibayar. "Kau punya informasi tentang apa yang terjadi di sektor ini? Kenapa ada predator tingkat perak di sini?"
Elara mendekat, wajahnya menjadi serius. "Itu yang aneh. Aku sempat melihat sekelompok murid dengan pita lengan merah kelompok Bagas melemparkan sesuatu ke dalam air rawa sebelum buaya ini muncul. Aku rasa itu adalah 'Umpan Penarik Binatang'. Mereka sengaja memancing monster ini untuk muncul di jalur drop murid-murid lain."
Reno menyipitkan mata. "Jadi Bagas menggunakan taktik kotor untuk mengeliminasi pesaingnya bahkan sebelum babak duel dimulai."
"Bukan hanya itu," Elara melanjutkan. "Kudengar mereka berencana mengumpulkan semua lencana di satu tempat di pusat rawa ini. Mereka membangun benteng pertahanan sementara di sana. Siapa pun yang lewat akan dirampok lencananya."
Reno tersenyum tipis. Strategi Bagas ini sangat mirip dengan monopoli pasar yang sering ia lakukan dulu. Kumpulkan semua sumber daya di satu tangan, lalu hancurkan sisanya.
"Baguslah kalau begitu," ucap Reno.
Elara bingung. "Bagus? Kau gila? Mereka ada dua puluh orang lebih!"
"Justru bagus karena aku tidak perlu mencari mereka satu per satu ke seluruh hutan," Reno menatap ke arah pusat rawa. "Mereka sudah mengumpulkan semua lencana di satu tempat untukku. Aku hanya perlu datang dan mengambilnya."
Elara ternganga. Ia merasa pemuda di depannya ini antara sangat percaya diri atau benar-benar sudah gila. "Kau... kau mau menyerang benteng mereka sendirian?"
"Siapa bilang sendirian?" Reno melirik Elara. "Kau adalah penjinak tipe udara. Elang mu bisa memantau posisi mereka dari atas kabut. Jika kau membantuku, aku akan memastikan kau masuk ke babak 64 besar."
Elara terdiam sejenak. Ia melihat elangnya yang terluka, lalu melihat Reno. Pilihan di depannya sederhana: bersembunyi dan kemungkinan besar dieliminasi, atau bertaruh pada pemuda misterius ini.
"Baiklah. Aku akan ikut," ucap Elara mantap. "Tapi jika situasinya berbahaya, aku akan lari."
"Itu keputusan yang cerdas," balas Reno.
Maka, aliansi yang tidak terduga itu terbentuk. Seorang penjinak cacing dan seorang gadis bangsawan yang kehilangan arah, mulai bergerak menembus kabut menuju pusat rawa.
Di sepanjang jalan, Reno mulai melatih Elara untuk menggunakan energi mentalnya secara lebih efisien. Ia memberikan beberapa tips tentang cara menyembunyikan aura, teknik yang ia pelajari dari Raka. Reno sadar, ia butuh bidak catur yang berguna, dan Elara memiliki potensi.
"Reno, kau mulai bertingkah seperti bos lagi," goda Nidhogg.
"Aku bukan bertingkah, Nidhogg. Aku memang seorang bos," jawab Reno dalam hati dengan senyum yang penuh rahasia.
Tanpa mereka sadari, dari kejauhan, sebuah mata mekanik milik salah satu instruktur senior sedang memantau gerakan mereka. Di ruang pengawas, Instruktur Raka yang sedang duduk menyilangkan kaki hanya tersenyum tipis melihat layar sihir di depannya.
"Tunjukkan padaku, Reno. Seberapa cepat kau bisa menguasai rawa ini," bisik Raka pelan.
Perjalanan Reno menuju puncak turnamen tengah semester baru saja dimulai, dan kali ini, ia tidak akan lagi bermain secara pasif. Ia akan mengambil alih seluruh permainan.