NovelToon NovelToon
Tuan Muda Harta Langit

Tuan Muda Harta Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:386.1k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Ini adalah cerita Gao Rui, murid sekte terkuat yang sekaligus salah satu pemilik Kelompok Dagang Harta Langit. Salah satu kelompok dagang besar dan paling berkembang di Kekaisaran Zhou...
Simak petualangannya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Ini Kami Batalkan

Waktu berlalu tanpa terasa. Satu percakapan berganti dengan percakapan lain. Satu wajah digantikan oleh wajah berikutnya. Hingga akhirnya… bahkan para tamu itu sendiri mulai merasa cukup. Perlahan, kerumunan di sekitar Gao Rui mulai menyusut.

Namun saat suasana benar-benar mulai lengang… sesi makan malam… justru sudah hampir berakhir.

Pembawa acara kembali naik ke atas panggung. Senyumnya tetap terjaga, suaranya lantang menyapa seluruh aula.

“Para tamu yang terhormat, terima kasih atas kehadiran dan partisipasi Anda semua malam ini…”

Suara itu menggema, menandakan bahwa acara telah mencapai penghujungnya.

Para tamu undangan satu per satu mulai kembali ke meja mereka masing-masing. Beberapa masih membawa piring, sebagian lain hanya duduk sambil berbincang ringan, menikmati sisa suasana.

Di sisi lain… Gao Rui berjalan kembali ke mejanya dengan langkah gontai. Di tangannya… masih ada semangkuk bola daging yang bahkan belum sempat ia makan.

Kuahnya sudah tidak lagi mengepul. Permukaannya mulai tenang. Makanan itu… jelas sudah dingin. Mungkin cita rasanya juga telah sedikit berkurang.

Ia duduk perlahan. Bahunya sedikit turun, seolah tenaga yang tadi ia keluarkan bukan untuk bertarung… melainkan untuk bertahan dari percakapan tanpa akhir.

Di sampingnya, Lan Suya melirik sekilas. Lalu… ia tertawa kecil.

“Heh… kau bahkan tidak sempat makan?” ujarnya ringan.

Gao Rui hanya menatap mangkuk di tangannya beberapa detik… lalu menghela napas pelan.

“Tidak sempat…” jawabnya jujur.

Namun anehnya… sekarang ia justru sudah tidak terlalu berselera.

Ia mengangkat pandangannya, melihat ke arah berbagai meja hidangan yang tadi begitu menggoda. Banyak area yang bahkan belum sempat ia datangi. Daging panggang, sup herbal, manisan langka… Semua itu kini hanya bisa ia lihat dari kejauhan.

“…Aku malah sibuk berbasa-basi,” gumamnya pelan.

Lan Suya hanya tersenyum tipis, jelas menikmati situasi itu.

Di atas panggung, pembawa acara telah bersiap untuk benar-benar menutup acara. Namun… di meja mereka berdua, tiba-tiba seorang perempuan mendekat.

Langkahnya ringan, pakaiannya rapi seperti pelayan tingkat tinggi keluarga besar. Ia berhenti di samping Lan Suya, lalu sedikit membungkuk. Perempuan itu berbisik pelan.

Gao Rui tidak mendengar apa yang dikatakan. Namun ia melihat dengan jelas… Lan Suya mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali.

“Baik,” jawab Lan Suya singkat.

Perempuan itu kembali membungkuk, lalu pergi secepat ia datang.

Gao Rui mengernyit sedikit.

“…Ada apa, Bi?” tanyanya.

Lan Suya tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, seolah menyimpan sesuatu.

“Tidak lama lagi kau juga akan tahu,” katanya santai.

Di meja itu juga, Cao Ren yang sejak tadi duduk diam… tiba-tiba sedikit mengernyit. Entah kenapa sebuah firasat buruk muncul begitu saja di dalam hatinya. Namun ia tidak mengatakan apa pun. Hanya diam… dan memperhatikan.

“Dengan ini, kami menutup jamuan malam ini!”

Suara pembawa acara menggema, diiringi tepuk tangan para tamu.

Acara itu… akhirnya benar-benar selesai. Gao Rui menarik napas panjang, lalu berdiri dari tempat duduknya.

“Kalau begitu… kita kembali ke penginapan?” ujarnya santai.

Namun… baru saja ia hendak melangkah, sebuah tangan tiba-tiba memegang lengannya.

“Eh?”

Gao Rui menoleh.

Lan Suya. Wanita itu sudah berdiri di sampingnya, dengan ekspresi santai seperti biasa.

“Ikut denganku,” katanya singkat.

“…Hah?”

Gao Rui jelas kebingungan. Namun melihat sikap Lan Suya yang tidak memberi ruang untuk bertanya lebih jauh… ia hanya bisa menurut. Mereka berdua mulai meninggalkan aula utama.

Tidak lama kemudian, seorang pelayan keluarga Shao mendekati mereka. Ia membungkuk hormat, lalu berkata,

“Silakan ikut saya.”

Tanpa banyak bicara, pelayan itu berbalik dan mulai berjalan. Lan Suya mengikuti tanpa ragu. Gao Rui berjalan di belakangnya.

Lorong-lorong yang mereka lewati semakin sepi. Suara keramaian dari aula utama perlahan menghilang, digantikan oleh keheningan khas bagian dalam kediaman keluarga besar.

Langkah mereka terus berlanjut. Satu belokan, dua belokan… hingga akhirnya mereka berhenti di depan sebuah pintu besar.

Pelayan itu mendorong pintu tersebut perlahan.

Kreek…

Pintu terbuka. Dan di dalam ruangan itu… sudah ada dua orang yang menunggu.

Shao Dong berdiri dengan sikap hormat. Dan tidak jauh dari sana… An Ran juga berdiri dengan anggun, tangannya terlipat rapi.

Tatapan mereka berdua… langsung tertuju pada Lan Suya dan Gao Rui begitu pintu terbuka.  Suasana di ruangan itu… jauh lebih berat dibandingkan aula tadi. Seolah-olah… apa yang akan terjadi selanjutnya… bukan lagi sekadar jamuan biasa.

Shao Dong segera melangkah ke depan begitu Lan Suya dan Gao Rui masuk ke ruangan. Ia tidak menunggu lama, langsung memberi isyarat hormat dengan tangan.

“Silakan duduk,” ucapnya cepat namun tetap menjaga wibawa.

Pelayan yang tadi mengantar mereka segera mundur, menutup pintu perlahan di belakang. Suasana di dalam ruangan langsung terasa lebih tertutup, lebih berat, seolah dunia di luar tidak lagi relevan.

Lan Suya tidak banyak bicara. Ia berjalan santai dan duduk lebih dulu, seakan ruangan itu memang miliknya sendiri. Gao Rui mengikuti di sampingnya, sedikit ragu sebelum akhirnya duduk juga.

Baru setelah semua duduk, Shao Dong menarik napas pendek. Lalu ia menundukkan kepala sedikit.

“Pertama-tama… aku harus meminta maaf kepada Nyonya Ya.”

Lan Suya mengangkat pandangannya pelan. Tidak langsung menjawab.

Shao Dong melanjutkan, suaranya lebih serius dari sebelumnya.

“Soal rencana kami menjual senjata keluarga Shao kepada Rumah Dagang Naga Emas… keputusan itu akan kami batalkan.”

Gao Rui sedikit menoleh. Ia tidak menyangka pembicaraan langsung masuk ke inti seperti ini. Shao Dong melanjutkan lagi, kali ini lebih tegas.

“Mulai sekarang, semua senjata keluarga Shao akan tetap dijual melalui Harta Langit.”

Ruangan menjadi hening sesaat. Lan Suya mengedip pelan, lalu… tertawa kecil.

“Hehehe…”

Tawanya ringan, seperti angin yang lewat. Namun justru itu membuat suasana terasa tidak lebih tenang.

“Tidak perlu seperti itu,” ucapnya santai. “Harta Langit tidak masalah jika harus berbagi jalur dengan Rumah Dagang Naga Emas.”

Shao Dong tidak langsung menjawab. Ia menatap Lan Suya beberapa saat. Entah itu ujian… atau benar-benar ketulusan. Tapi Shao Dong tidak berani berspekulasi. Ia menunduk sedikit lebih dalam.

“Maaf, Nyonya Ya. Aku tidak berani mengambil risiko salah langkah lagi. Kami  hanya akan tetap menjalin hubungan dengan Harta Langit.”

Lan Suya masih tersenyum, tapi matanya tidak berubah. Shao Dong menambahkan cepat, seolah ingin menutup celah kesalahpahaman.

“Dan satu lagi… hadiah malam ini dari Cao Ren akan aku kembalikan kepada orang tersebut.”

Nama itu membuat Gao Rui sedikit mengangkat alis.

Lan Suya menatap Shao Dong lebih lama kali ini. Lalu ia tertawa pelan lagi. Namun kali ini… ada sedikit perubahan di dalam sorot matanya.

“Patriark Shao,” ucapnya akhirnya, suaranya lebih pelan dari sebelumnya, “aku harap… kau tidak mengkhianatiku lagi.”

Kata-kata itu jatuh perlahan. Tapi beratnya terasa menekan udara di ruangan.

Shao Dong langsung berkeringat dingin. Ia menunduk dalam-dalam.

“Aku tidak berani.”

Jawabannya singkat. Jelas dan tanpa ruang tambahan.

Lan Suya tidak langsung merespons. Ia hanya menatapnya beberapa detik, lalu bersandar ringan di kursinya, kembali seperti sebelumnya. Seolah percakapan tadi hanya hal kecil.

Di sisi lain, Gao Rui diam memperhatikan semuanya. Dari awal sampai akhir. Ia tidak ikut berbicara. Tidak ikut campur. Tapi matanya bergerak perlahan, menyimpan setiap detail.

Shao Dong yang sebelumnya tegas, kini seperti orang yang berjalan di atas es tipis. Lan Suya yang tersenyum ringan, tapi setiap kalimatnya seperti menekan arah keputusan orang lain tanpa perlu mengangkat suara.

Di momen itu… Gao Rui mulai memahami sesuatu. Tidak semua masalah diselesaikan dengan pedang. Tidak semua ancaman datang dalam bentuk kekerasan.

Kadang… kata-kata yang tenang, senyum yang tidak berubah, dan satu kalimat yang tepat di waktu yang benar... jauh lebih menakutkan daripada pertempuran hidup dan mati.

Ia menatap Lan Suya sekilas. Lalu Shao Dong. Lalu kembali diam. Ia belajar banyak malam ini.

1
Raju
kesian tukang kebersihan...
dpt tambahan kerja tpi g dapat bonus....🤣🤣🤣🤣
Arie Chaniago70
🙂🙂🙂🙂🙂👍👍👍👍👍👍
tariii
tenang saja , Senior Yuang Dao... Rui tidak akan terpengaruh dg aura kematian..👍👍👍👍
Arie Chaniago70
🙂🙂🙂🙂🙂🙂dasar songong,,seharus dibunuh aja tadi Rui,,,jgn diberi bernafas dia yg mulai di pula yg menujuk orang lain,,,😃😃😃😃
Arie Chaniago70
👍👍👍👍💪💪💪💪🙂🙂🙂🌹🌹🌹🌹 hajar mereka Rui,,
Mahayabank
Makasih upnya 👍👍
Made Suarjana
akan lebih bagus kalau judulnya CEO harta langit😄😄😄
Arie Chaniago70
selesaikan Jiang bikin mereka menyesal seumur hidup nya😃😃
Benny Gunawan
luar biasaaa
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
apes bener Angin malam🤣🤣 bantaaaaaaaiiiiii
Rinaldi Sigar
lnjut
A 170 RI
gak ada yg mati, waduhhh.. bukan murid pendekar chang kalau gitu🤭🤭
Nanang Jamu
boleh juga nih thor, yuang dao jadi teman laltih tanding buat gao rui
Akhmad Baihaki
😍😍😍😍😍😍😍
budiman_tulungagung
masih satu mawar 🌹
budiman_tulungagung
masih mawar 🌹
budiman_tulungagung
satu mawar 🌹
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Njoooooost 🔥🌽
Markinyo
knp yuang dao tidak menyadari kl d perhatikan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!