''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."
Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.
Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.
Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.
Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Sore itu, langit di atas rumah eyang tampak begitu cantik, berwarna jingga keunguan yang hangat. Aku duduk di ayunan kayu halaman belakang, sementara Farez duduk di sampingku. Dia tidak banyak bicara, hanya sibuk mengupas jeruk untukku, lalu menyuapkannya dengan gerakan pelan yang sangat gentle.
"Rana, nanti kalau kuliah, kamu jangan terlalu sering begadang gara-gara tugas organisasi ya," ucapnya lembut. Suara Farez selalu begitu, soft-spoken dan menenangkan, seolah dia adalah peredam dari sifatku yang meledak-ledak dan berisik.
Aku tertawa, menyenggol bahunya. "Kan ada kamu yang bakal ingetin, Rez. Lagian, Ayah juga pasti dukung aku aktif di kampus."
Farez tersenyum kecil, mengacak rambutku. Dia tahu betapa aku memuja Ayah. Bagiku, Ayah adalah standar laki-laki sempurna. Meskipun sibuk bisnis di luar kota, Ayah selalu pulang dengan pelukan hangat dan oleh-oleh yang tidak pernah absen. Ayah adalah pahlawanku.
Namun, kehangatan sore itu tiba-tiba menguap saat suara teriakan pecah dari dalam rumah.
Aku dan Farez tersentak. Itu suara Ibu. Selama belasan tahun aku hidup, aku belum pernah mendengar Ibu berteriak sekeras itu. Aku berlari masuk ke dalam rumah dengan jantung yang berdegup kencang, meninggalkan Farez yang menatapku dengan cemas.
Di ruang tamu, koper Ayah tergeletak terbuka di lantai. Ibu berdiri gemetar, tangannya memegang ponsel Ayah yang layarnya menyala. Wajah Ibu pucat pasi, air matanya jatuh tanpa suara, namun dadanya naik turun menahan amarah yang hebat.
"Siapa mereka, Mas?" tanya Ibu dengan suara serak, menunjuk layar ponsel itu.
Ayah berdiri mematung. Tidak ada pembelaan. Tidak ada pelukan hangat seperti biasanya. Ayah hanya diam, menunduk dengan wajah yang tampak lelah.
"Dia istri pertamaku, sebelum aku mengenalmu," jawab Ayah lirih.
Kalimat itu seperti petir yang menyambar tepat di ulu hatiku. Kakiku lemas.
"Dan anak laki-laki ini... dia anak kandungku," lanjut Ayah.
Duniaku runtuh saat itu juga. Ternyata, perjalanan bisnis ke luar kota yang selalu aku banggakan hanyalah kedok untuk Ayah pulang ke rumah "istri tuanya". Selama ini, kami hanyalah rumah kedua. Kami adalah rahasia yang ia simpan rapi di bawah bayang-bayang kebohongannya.
Ibu luruh ke lantai, menangis histeris. Aku berlari memeluknya, ikut hancur bersamanya. Aku menatap Ayah dengan pandangan benci yang luar biasa. Laki-laki yang menjadi standarku tentang kesetiaan ternyata adalah penipu ulung.
"Pergi, Mas! Pergi ke rumahmu yang sebenarnya!" teriak Ibu di sela isaknya.
Tanpa kata maaf yang berarti, Ayah menutup kopernya. Dia melangkah keluar pintu tanpa menoleh lagi ke belakang. Dia benar-benar pergi, meninggalkan luka menganga di hati kami yang baru saja ia hancurkan.
Aku mengeratkan pelukanku pada Ibu. Malam itu, di tengah rintik hujan yang mulai turun, aku menatap rumah masa kecilku ini untuk terakhir kalinya.
"Bu, kita pergi dari sini. Kita mulai hidup baru," bisikku tegas, meski suaraku bergetar.
Malam itu juga, aku mematikan ponselku. Aku membuang kartu SIM yang berisi ribuan pesan manis dari Farez. Aku membuang nama panggilan sayang dari Ayah. Aku harus menjadi orang baru. Karena mulai hari ini, aku tidak akan lagi percaya pada janji manis laki-laki manapun.
Malam itu menjadi malam paling sunyi sekaligus paling bising di kepalaku. Suara isak tangis Ibu yang tertahan di balik pintu kamar adalah satu-satunya melodi yang menemani kami mengemasi barang-barang. Tidak banyak yang kami bawa, hanya pakaian dan surat-surat penting. Aku tidak menyentuh satu pun barang pemberian Ayah. Boneka, perhiasan, bahkan foto-foto di atas nakas, semuanya kutinggalkan agar membusuk bersama kenangan palsu di rumah ini.
"Sudah semua, Rana?" tanya Ibu pelan. Matanya sembab, suaranya parau, tapi aku bisa melihat secercah tekad di sana. Ibu tidak ingin mengemis cinta pada laki-laki yang sudah membaginya sejak awal.
Aku mengangguk mantap. "Sudah, Bu. Mobil jemputan sudah di depan."
Sebelum melangkah keluar, aku mengeluarkan ponsel dari saku. Ada tiga puluh panggilan tak terjawab dari Farez. Aku tahu dia pasti sedang mondar-mandir cemas di depan pagar rumahnya, menungguku memberi kabar tentang apa yang terjadi di dalam tadi.
Jariku gemetar di atas layar. Aku ingin sekali mengetik, 'Rez, duniaku hancur. Ayahku penipu.' Aku ingin dia datang dan memelukku sampai rasa sesak ini hilang. Tapi kemudian, wajah Ayah terbayang di benakku. Laki-laki yang kupikir paling jujur saja bisa berbohong sedalam itu, apalagi Farez yang "hanya" seorang pacar?
Cinta itu palsu, Farez. Dan aku tidak mau hancur untuk kedua kalinya karena laki-laki.
Dengan sisa keberanian yang kupunya, aku melepaskan kartu SIM dari ponselku, mematahkannya menjadi dua, dan membuangnya ke tempat sampah di sudut teras.
"Selamat tinggal, Rana kecil," bisikku pada diriku sendiri. Nama panggilan sayang dari Ayah itu kini terasa seperti kutukan.
Kami masuk ke dalam mobil dalam diam. Saat mobil mulai bergerak menjauhi gerbang rumah eyang, aku sempat melihat bayangan laki-laki berdiri di bawah lampu jalan tak jauh dari sana. Itu Farez. Dia berdiri mematung, menatap mobil kami dengan tatapan bingung yang menyayat hati.
Aku segera memalingkan wajah, menutup rapat kaca jendela yang mulai berembun. Aku tidak boleh menoleh. Jika aku menoleh, aku mungkin akan lari kembali padanya dan goyah.
"Kita mau ke mana, Bu?" tanyaku sambil menggenggam tangan Ibu yang dingin.
"Ke luar kota, Sayang. Ke tempat di mana tidak ada yang mengenal kita. Ibu punya sedikit tabungan, kita mulai dari sana," jawab Ibu berusaha tegar.
Aku menyandarkan kepala di bahu Ibu. Di luar, hujan turun semakin deras, menghapus jejak ban mobil kami di atas aspal. Dalam kegelapan malam yang bergerak cepat, aku berjanji pada diriku sendiri: Aku akan sukses, aku akan melindungi Ibu, dan aku tidak akan pernah membiarkan laki-laki mana pun masuk ke dalam hidupku lagi.
Lima tahun ke depan, aku tidak akan lagi menjadi Rana yang ceria dan berisik. Aku akan membangun tembok yang begitu tinggi, hingga tak ada satu pun "Farez" atau "Ayah" lain yang bisa meruntuhkannya.