Tidak ada yang tahu, Ratu pergi bukan karena ingin meraih cita-cita, namun untuk lari dari perasaannya kepada sosok laki-laki yang ternyata telah memiliki tunangan.
Dia adalah Ardiansyah, putra kedua dari keluarga Suhadi, seorang CEO yang baru saja di Lantik setahun yang lalu setelah menyelesaikan pendidikannya,dan fokus memimpin perusahaan raksasa. namun fakta yang membuat Ratu pergi, Ardiansyah telah bertunangan dengan seorang gadis salehah, teman Adiknya saat berada di pesantren dan memutuskan untuk pergi ke kota dengan misi tersembunyi.
yuk ikuti kisah Ratu di sini....
kawal sampai akhir ya...
apakah sad ending, atau happy ending...
terimakasih atas dukungannya selama ini...
🥰🥰🥰🥰🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Lahan luas di pusat Jakarta itu kini terasa menyiksanya. Debu proyek yang beterbangan seolah memperkeruh pikirannya yang kacau. Ardiansyah mencengkeram erat helm proyek di tangannya, matanya menatap tajam ke arah jejak ban mobil Angga yang baru saja melesat pergi membawa Nisya dan Pramuji. Rasa panas membakar dadanya, namun harga dirinya terlalu tinggi untuk membiarkan mereka melihat betapa terganggunya dia.
"Pak siapkan mobil. Saya harus pergi sekarang." ucap Ardiansyah pada staff yang usianya sudah hampir mendekati setengah abad.
Ia melemparkan helm proyeknya ke kursi belakang, lalu melajukan mobil mewahnya dengan kecepatan tinggi. Pikirannya terbagi, satu sisi ingin menyusul Nisya ke restoran , sisi lain... sisi lain justru merindukan kejujuran tajam dari sosok Ratu.
Saat mobilnya melewati area taman kota yang tidak jauh dari gedung perkantoran Afnan style, Ardiansyah menginjak rem mendadak. Matanya tertuju pada sebuah lesehan ketoprak di pinggir taman. Di sana, di bawah pohon rindang, Ratu sedang duduk bersila di atas tikar anti air.
Dia tidak mengenakan jaket kulit seperti tadi pagi. Ratu memakai kemeja santai, dan celana jeans kulot yang ia lihat tadi pagi, Yang membuat Ardiansyah mendidih adalah Ratu sedang tertawa lepas, tawa tulus yang sangat jarang ia tunjukkan di depannya sambil menunjuk-nunjuk piring ketopraknya.
Di depannya duduk seorang pria muda mengenakan seragam polisi, wajahnya tampan dan gagah. Pria itu menatap Ratu dengan pandangan protektif yang sangat familiar bagi Ardiansyah...
Ardiansyah mengkeraman pada setir memutih "Siapa lagi pria ini? Kenapa dia bisa membuatmu tertawa sehebat itu, Ratu?, kenapa hidup mu di kelilingi pria-pria gagah"
Ardiansyah menatap dirinya pada pantulan cermin yang ada di dalam mobilnya, Ia merapikan rambutnya agar tidak berantakan setelah tadi memakai helm proyek.
Rasa cemburu yang tadinya ditujukan pada Angga, kini sepenuhnya beralih pada polisi muda itu. Ardiansyah memarkir mobilnya sembarangan, mengabaikan klakson kendaraan lain.
Ardiansyah melangkah mendekat ke lesehan dengan langkah angkuh yang dipaksakan. Ia melepaskan kacamata hitamnya, menatap Ratu yang tersentak melihat kedatangannya.
"Pak... Pak Ardiansyah? Sedang apa Anda di sini? Bukannya Anda harusnya sedang sibuk meninjau lahan bersama... tunangan Anda?"
Ardiansyah duduk bersila di samping Ratu tanpa diundang, mengabaikan tatapan bingung polisi muda itu "Saya lapar. Dan saya lihat ketoprak di sini sepertinya enak." Sahut Ardiansyah lalu menoleh ke arah tukang ketoprak yang sedang menggoreng tahu" Pak, Ketoprak satu! Pedas... sangat pedas!"
Ratu menaikkan alisnya. "Sangat pedas? Anda yakin? Terakhir kali saya cek, selera Anda itu sedatar Kanebo kering, mana mungkin kuat makan pedas tingkat dewa, Saat makan ayam penyet saja, perut anda juga merasa mulas bukan?"
Polisi Muda itu tersenyum ramah, mengulurkan tangan "Selamat siang, Pak Ardiansyah. Saya Dilan, sahabat Aditiya , Saya memang sangat dekat dengan Ratu, Saya sering dengar cerita tentang Anda dari Ratu..."
Ardiansyah menjabat tangan Dilan dengan cengkeraman kuat, matanya tetap menatap Ratu "Sahabat Aditya? Oh, pantas saja aura protektifnya terasa berlebihan. Ratu memang butuh banyak perlindungan... dari pria-pria yang salah fokus."
"Ini Tuan, ketoprak nya" ucap pedagang ketoprak itu dengan ramah.
Ardiansyah menelan ludah nya kasar , Warnanya merah menyala karena cabai.
"Terimakasih " sahutnya sopan.
Ardiansyah meraih sendok, lalu melirik Ratu yang sedang asyik menyuap makanannya.
"Hmm, baunya cukup menjanjikan. Kita lihat seberapa hebat ketoprak ini." gumamnya pelan.
Ratu hanya melirik sedikit, lalu terus menyuapkan ketopraknya yang terasa sangat lezat itu
Ardiansyah menyuap satu sendok besar. Detik pertama, lidahnya mati rasa. Detik kedua, tenggorokannya terasa terbakar. Wajah Ardiansyah langsung memerah, keringat mulai bercucuran di pelipisnya. Ia batuk-batuk kecil, mencoba menahan rasa panas yang menyiksanya demi gengsi di depan Ratu dan Dilan.
Ratu mulai tertawa kecil, menyodorkan segelas air mineral "Tuh kan, apa saya bilang. Jangan sok kuat kalau lidah Anda itu selera katering kantor. Minum dulu, Pak." ejek Ratu.
Ardiansyah menepis air itu dengan gengsi, suaranya parau "Tidak... tidak apa-apa. Ini... ini enak. Pedasnya pas. Saya... saya suka sensasinya."
Ardiansyah memaksakan diri menyuap sendok kedua, meski matanya mulai berkaca-kaca menahan perih. Ia melihat Dilan yang tersenyum sopan, sementara Ratu yang sudah tidak bisa menahan tawa, mengambil ponselnya dari tas kerja dan berpura-pura sibuk padahal ia sedang merekam wajah konyol Ardiansyah yang memerah menahan pedas.
"Dilan ... sebagai polisi, Anda harusnya menangkap penjual ketoprak ini. Ini bukan makanan, ini... ini senjata pemusnah massal!"
Ucap Ardiansyah dengan bibir yang bergetar.
Dilan tertawa lepas "Hahaha! Anda lucu juga ya, Pak Ardiansyah. Saya pikir Anda itu orangnya kaku dan membosankan seperti yang Ratu ceritakan."
Ardiansyah mendengus mendengar ucapan Dilan tentang dirinya,lalu menatap Ratu dengan tajam namun ada kelembutan di sana.
"Heh, Kak Dilan! Jangan buka kartu dong! Lagipula, Pak Ardiansyah ini memang suka kejutan. Kejutan yang konyol." celetuk Ratu yang lagi-lagi tertawa, tidak tahu kalau perut Ardiansyah sudah mulai bergejolak menerima serangan mematikan dari atas.
Ardiansyah menatap Ratu yang sedang tertawa lebar. Di bawah sinar matahari sore yang menembus celah pohon, wajah Ratu tampak begitu cerah dan tulus. Rasa panas di lidahnya perlahan berganti dengan rasa hangat di dadanya, hatinya sepenuhnya terisi oleh Ratu.
Ia meraih tisu, menyeka keringat dan air mata yang tanpa sadar menetes. Ia tersenyum tipis, sebuah senyum tulus yang sangat jarang ia tunjukkan pada siapa pun kecuali Najwa.
"Kamu... kamu benar-benar hebat, Ratu. Bisa membuat seorang polisi dan seorang CEO bertingkah konyol di pinggir jalan hanya karena sepiring ketoprak." seru Ardiansyah tersenyum,rasa cemburunya berkurang setelah mengetahui kalau Dilan adalah sahabat Aditiya yang kemungkinan sudah memiliki keluarga seperti Aditya.
Dilan memperhatikan interaksi mereka dengan pandangan tajam. Sebagai seorang polisi, ia bisa merasakan ada getaran aneh yang sangat kuat di antara Ratu dan Ardiansyah.
Dilan bergumam pelan, hampir tak terdengar. Sepertinya, Aditya salah menilai pria ini. Ardiansyah tidak kaku... dia hanya belum menemukan kunci yang tepat untuk membuka hatinya. Dan kunci itu... ada pada Ratu. Dilan meraih ponselnya lalu mengetikkan pesan pada Aditya.
Wajah Ardiansyah yang tadinya merah padam karena pedas, seketika berubah menjadi pucat pasi. Keringat sebesar biji jagung membasahi kemeja mahalnya. Perutnya seperti diperas-peras oleh tangan raksasa. Drama sok kuat di depan Ratu berakhir dengan bencana fisik yang nyata.
Ardiansyah memegang perutnya, suaranya parau, gengsi nya ia buang dalam-dalam karena rasa sakit yang teramat"Ra-ratu... di mana... toilet?"
Ratu yang tadinya tertawa, langsung berubah panik melihat kondisi rekannya. "Itu, di ujung taman! Pak, tapi itu toilet umum... Dan"
Tanpa menunggu penjelasan Ratu, Ardiansyah berlari dengan sisa tenaganya. Namun, begitu ia membuka pintu kayu yang sudah reyot itu, pemandangan di dalamnya jauh lebih mengerikan dari rasa pedas di lidahnya. Bau pesing yang menyengat, lantai becek, dan kondisi yang sangat tidak higienis membuat Ardiansyah, si perfeksionis yang terbiasa dengan kemewahan, bukannya buang air, malah mual hebat.
"Ratu...ini bukan toilet, ini seperti kandang babi" gumamnya pelan, ia meremas perutnya, bukannya Bab ia malah mual ....
"Ugh... hoeeeekk!"
"hoekkkkkk"
"hoekkkkkk ".
Ia muntah sejadi-jadinya di wastafel yang berkarat. Tubuhnya lemas, pandangannya mengabur. Tepat saat ia hampir ambruk ke lantai yang kotor, sebuah tangan kekar menangkap bahunya. Dilan, dengan sigap polisi, masuk menyusul.
Dilan mendengar suara Ardiansyah yang muntah-muntah, Ia segera berlari mendekat ke arah toilet umum.
"Pak Ardi! Bertahanlah!...."
Lalu berteriak ke arah Ratu "..Ratu, panggil bantuan! Kita bawa dia ke rumah sakit depan proyeknya sekarang juga!" Seru Dilan mengangkat tubuh Ardiansyah dengan mudah.