Han jian merupakan seorang pemuda dari klan Han yang tidak dapat ber kultivasi sejak kecil sehingga menjadi bahan hinaan di klan Han, ia tidak dapat ber kultivasi dikarenakan ia tidak memiliki dantian seperti yang lain nya melain kan sebuah pusaran hitam yang di akibatkan karena dantian nya telah hancur, namun nasibnya berubah setelah menemukan sebuah fragmen tulang di makam ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 秋天(Qiūtiān), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: KESELARASAN DUA JIWA
Lembah Bayangan Abadi bergejolak. Rantai-rantai emas yang muncul dari kegelapan bukanlah rantai biasa; mereka adalah Hukum Penjara Kosmos, manifestasi kehendak Sang Penenun Utama untuk mengikat segala sesuatu yang mencoba keluar dari jalur takdir. Setiap rantai yang menyentuh dek Kapal Fosil meninggalkan bekas luka bakar suci yang membuat fosil naga purba itu mengerang kesakitan.
Han Jian melesat di antara jalinan rantai tersebut. Di lengan kirinya, proyeksi Pedang Kehancuran Sempurna berpendar kelabu pekat. Setiap kali bilah itu menebas, sebuah ledakan energi destruktif terjadi, menghancurkan hukum emas tersebut menjadi serpihan cahaya yang sia-sia.
Namun, ada sesuatu yang salah.
"Mati... Kalian semua harus mati!" geram Han Jian.
Suaranya bukan lagi suaranya sendiri. Ada nada kebencian yang begitu purba dan dalam, sebuah resonansi dari kemarahan Han Rin yang tersimpan selama ribuan tahun di dalam pedang tersebut. Mata Han Jian yang semula emas-hitam kini perlahan berubah menjadi merah darah yang gelap. Aura kelabunya mulai membakar pakaiannya sendiri, dan kulit di lengan kirinya mulai retak-retak, mengeluarkan uap panas.
"Han Jian! Kendalikan dirimu!" teriak Karsa dari atas dek sambil menangkis rantai-rantai yang mencoba melilit tiang kapal. "Pedang itu memakan kewarasanmu! Kau bukan ibumu, kau adalah senjatanya!"
Han Jian tidak mendengar. Ia justru tertawa gila, sebuah tawa yang menyayat hati. Ia melihat para Penjaga Hukum Kosmos—sosok-sosok tanpa wajah bersayap enam yang muncul dari balik rantai—bukan lagi sebagai musuh, melainkan sebagai objek yang harus ia hapuskan dari sejarah keberadaan.
"Seni Kehancuran: Kiamat Tulang!"
Han Jian mengayunkan lengannya dalam lingkaran penuh. Sebuah gelombang energi kelabu berbentuk sabit raksasa melesat, memotong sepuluh Penjaga Hukum sekaligus. Namun, serangan itu juga menghisap sebagian besar vitalitas Han Jian. Tubuhnya mendadak lemas, dan energi kelabu itu mulai berbalik menyerang sumsum tulangnya sendiri.
Di ambang kegelapan mental itu, saat kebencian Han Rin hampir menelan jiwa Han Jian sepenuhnya, sebuah kehangatan muncul dari pusat dadanya.
"Jian-er... bernapaslah."
Suara Han Shuo, ayahnya, terdengar begitu jernih dan tenang di tengah badai amarah tersebut. Cahaya perak dari Tulang Ilahi Transenden—yang merupakan esensi pengorbanan Han Shuo—mulai mengalir keluar, membungkus energi kelabu yang liar itu dengan kelembutan yang tak tergoyahkan.
Rasa sakit yang membakar di lengan Han Jian perlahan mereda. Cahaya perak ayahnya bertindak sebagai filter, mendinginkan kemarahan ibunya yang membara. Han Jian tersentak, kesadarannya kembali dalam sekejap. Ia melihat tangannya; energi kelabu dan perak kini menari bersama, membentuk sebuah keseimbangan baru yang lebih stabil.
‘Terima kasih, Ayah,’ batin Han Jian.
Ia menyadari bahwa kekuatannya selama ini timpang. Kemarahan tanpa kendali akan menghancurkan penggunanya, sedangkan ketenangan tanpa kekuatan tidak akan bisa mengubah dunia. Ia harus menyatukan keduanya.
Han Jian berdiri tegak di ruang hampa. Ia menutup matanya sejenak, membiarkan energi ayahnya (Kasih Sayang dan Perlindungan) menyatu dengan energi ibunya (Kehancuran dan Keadilan).
"Seni Nihilitas Sejati: Harmoni Dua Dunia!"
Saat ia membuka mata, pupilnya berubah menjadi unik: lingkaran perak di luar dengan pusat kelabu yang dalam. Tombak Pemutus Takdir yang sempat ia lepaskan kini kembali ke tangannya, namun bentuknya telah berubah. Ia kini berupa tombak panjang dengan bilah ganda—satu sisi bersinar perak, sisi lainnya kelabu gelap.
Para Penjaga Hukum Kosmos yang tersisa merasakan perubahan aura ini. Mereka serentak mengangkat tangan mereka, menciptakan sebuah bola energi emas raksasa yang mengandung hukum Penghakiman Terakhir.
"Subjek tidak stabil. Musnahkan," ucap mereka secara serempak dengan suara monoton.
Bola energi itu melesat menuju Han Jian dengan kecepatan yang mampu menghentikan aliran waktu di sekitarnya. Karsa memejamkan mata, bersiap menghadapi benturan yang mungkin akan menghancurkan Kapal Fosil.
Namun, Han Jian tidak menghindar. Ia hanya mengangkat tombak barunya secara horizontal.
"Kalian menghakimi berdasarkan hukum yang kalian buat sendiri," ucap Han Jian, suaranya kini kembali stabil dan penuh wibawa. "Tapi hukumku... adalah kebebasan untuk menentukan takdir."
Han Jian menusukkan tombaknya ke arah bola energi emas tersebut.
Syuuuut...
Tidak ada ledakan dahsyat. Sebaliknya, bola energi raksasa itu seolah-olah "terurai". Sisi perak tombak Han Jian menetralisir hukum emas tersebut, sementara sisi kelabunya menghancurkan struktur energinya hingga menjadi ketiadaan.
Dalam satu tarikan napas, serangan terkuat para utusan itu hilang ditelan kehampaan.
Han Jian tidak berhenti di situ. Ia melesat maju, bergerak dalam pola yang tidak terduga—selaras dengan detak jantung alam semesta yang baru ia pahami. Dengan satu tebasan yang menggabungkan perak dan kelabu, ia memotong seluruh rantai emas yang menjerat kapal dan menghancurkan sisa-sisa Penjaga Hukum dalam satu serangan tunggal.
PYAAARR!
Keheningan kembali menyelimuti Lembah Bayangan Abadi. Rantai-rantai itu lenyap, dan kegelapan samudera kembali tenang.
Han Jian mendarat di dek kapal dengan sangat ringan. Tato pedang di lengan kirinya kini tidak lagi membara merah, melainkan bersinar dengan warna perak-kelabu yang sejuk.
Karsa berjalan mendekat, menatap Han Jian dengan tatapan takjub yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Kau... kau berhasil menyatukan esensi mereka berdua. Tidak ada seorang pun di sejarah Samudera Kehampaan yang bisa menahan beban dua emosi purba sekaligus tanpa menjadi gila."
Han Jian menatap tangannya, lalu menatap ke arah Karsa. "Ayahku adalah pelindung, dan ibuku adalah penghancur. Aku menyadari bahwa aku tidak perlu memilih salah satu. Aku adalah hasil dari keduanya."
Ia menoleh ke arah barisan pedang di punggung Karsa. "Lanjutkan latihannya. Aku ingin tahu apa yang disimpan oleh Pedang Kedua."
Karsa tersenyum, kali ini sebuah senyuman tulus. "Pedang kedua adalah Bilah Kesunyian. Ia terbuat dari tulang pendengaran ibumu. Ia tidak mengajarkan kehancuran fisik, tapi mengajarkan cara mendengar 'Rencana Sang Penenun' sebelum ia terjadi. Tapi sebelum itu..."
Karsa menunjuk ke cakrawala samudera yang mulai memerah. "Kita hampir sampai di Pelabuhan Jiwa yang Hilang. Di sana, kau akan bertemu dengan seseorang yang mengenal ayahmu jauh sebelum ia bertemu ibumu. Seseorang yang memegang kunci untuk masuk ke Inti Ketiadaan."
Han Jian mengepalkan tangannya. Setiap langkah yang ia ambil membawanya semakin dekat ke kebenaran yang pahit, namun ia tidak lagi merasa takut. Dengan kehadiran ayahnya di dalam tulangnya dan kemarahan ibunya di tangannya, Han Jian telah menjadi entitas yang melampaui segala definisi kultivasi yang pernah ada.
Kapal Fosil itu terus melaju, membelah kegelapan menuju cahaya merah di kejauhan, membawa sang Kaisar Kehampaan menuju babak baru dalam perang melawan pencipta takdir.