Blurb :
ARJUNA, seorang advokat/pengacara/lawyer yang profesional di bidangnya. Namun, karena pesonanya itu, dia kerap didatangi para wanita-wanita cantik hingga gelar 'Play Boy' pun melekat pada dirinya. Ada alasan tersendiri kenapa rumor yang kurang enak disandang itu menyebar begitu saja.
Persidangan telah mempertemukan Arjuna dengan jaksa muda bernama SHADRINA ARIMBIE. Intrik mewarnai kisah cinta mereka hingga terungkap jati diri Arjuna yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman romantis
“Oh, ya ... kami sampai lupa bertanya. Boleh saya tahu, Mas ini siapa?” tanya wanita itu sambil menatap wajah Arjuna.
Arjuna mengulurkan tangannya sambil tersenyum. “Ar ....” Belum selesai ia mengucapkan namanya, tiba-tiba teriakan Arimbie yang baru keluar dari Spa, membuyarkan suasana.
“Ayah ...! Bunda ...!”
Semua perhatian telah beralih pada Arimbie yang muncul dengan penampilan barunya.
Orang tuanya pun berdiri menyambut Arimbie yang berlari ke arahnya.
“Ayah ... apa gadis itu memanggil kita?”
“Ya, ampun. Bunda, kan ibunya. Masa gak bisa mengenalinya?”
Arimbie semakin mendekat lalu memeluk orang tuanya satu persatu.
“Ayah, siapa gadis cantik ini? kenapa dia peluk-peluk Bunda kaya gini?” ucap sang ibu yang masih ingin menggoda anak gadisnya.
“A--aah ... Bunda, nih. Cantik-cantik, kok, pikun.” Arimbie menghujani ibunya dengan ciuman yang bertubi-tubi.
“Bie ... kamu buang di mana kaca mata tebalmu itu?” canda sang Ayah pada Arimbie yang tampil beda dari biasanya.
“Ada, Ayah. Arimbie tidak akan membuangnya, kok,” ucap Arimbie sambil menunjukkan kaca mata di tangannya.
“Ehhm ....” Tiba-tiba Arjuna berdehem. Dia baru tahu kalau ternyata tamu itu adalah orang tua Arimbie. “Saya ... benar-benar minta maaf, karena tidak tahu kalau--”
“Ahh, sudah tidak Apa-apa. Saya mengerti,” ucap Luthfie--ayahnya Arimbie, sambil mengusap lengan Arjuna.
“Oh iya, Bie. Ini siapa?” tanya Shasha--ibunya Arimbie yang sudah penasaran dari tadi.
“Ohh, dia ini tetangga Arimbie, Bund. Bunda lihat papan nama itu? Dia tinggal di sana.” Arimbie menunjuk tempat tinggal Arjuna dengan tangannya.
“Jadi ... Mas ini ternyata seorang pengacara?” ucap Shasha setelah membaca papan nama yang bertengger di atas pintu ruko. “Maaf, loh. Bunda gak tahu, tadi sempat mengira asistennya Arimbie.” Shasha tersenyum menunjukkan penyesalannya.
“Tidak apa-apa, Bunda. Saya malah senang kalau dipanggil asisten Bu Jaksa.” Selorohnya membuat Shasha dan Luthfie tertawa ringan saat itu.
“Kalau begitu, ayo kita masuk, Hhh ... Mas siapa tadi namanya bunda lupa,” Shasha yang tengah menggandeng tangan suaminya, kembali melirik nama yang tertera di papan.
“Arjuna, Bunda. Panggil saja Arjuna!” tegasnya.
“Arjuna?!” Seketika Shasha meremas tangan suami yang tengah digelayutinya. Matanya mendongak ke arah Luthfie yang juga tengah menatapnya.
Arimbie membukakan pintu lalu mempersilakan mereka semua untuk masuk.
“Iya, Bunda. Saya lebih suka dipanggil Arjuna dari pada nama yang terpampang di sana,” Arjuna turut masuk ke dalam rumah Arimbie dengan membawa Snowy di pangkuannya.
“Oh ... begitu, ya.” Shasha mengangguk lalu tersenyum menatap Arjuna seperti sedang mencari sesuatu di wajahnya.
“Bunda tahu, gak, kenapa dia suka dengan panggilan Arjuna?” tanya Arimbie sambil mempersilakan ibunya untuk duduk. Shasha menggeleng sambil mengerutkan dahinya karena tidak tahu jawabannya.
“Karena pacarnya banyak, Bund. Sama seperti tokoh Arjuna dalam cerita pewayangan yang memiliki 15 istri itu, loh.” Mata Arimbie melirik ke arah Arjuna.
“Ya, ampun, Bu Jaksa. Itu Fitnah namanya,” sambar Arjuna tidak terima.
“Hhh ... lagi-lagi image playboy. Bagaimana aku bisa memikat hati orang tuanya? Belum apa-apa sudah dicoreng,” batin Arjuna sambil mendelik ke arah Arimbie lalu menepuk jidatnya sendiri.
“Sudah, pengacara. Tidak perlu jaim di depan Ayah, Bundaku,” ucap Arimbie sambil bergegas pergi ke dapur untuk mengambil minuman.
Mereka tertawa bersama seperti sudah mengenal sejak lama. Arjuna merasakan kehangatan di tengah orang tua Arimbie melebihi keluarganya sendiri. Tapi tak lama dia pamit pulang ke rumahnya karena harus membersihkan diri setelah badannya penuh keringat.
“Juna pulang dulu ya, Bund ... Ayah. Sampai lupa sudah meninggalkan adik-adikku terlalu lama di rumah,” ucap Arjuna sambil menatap jam tangannya.
“Tapi jangan lupa datang di acara nanti ya, Jun.” Shasha mengusap lengan Arjuna saat dia beranjak dari tempat duduknya.
“Oh ya, terima kasih juga karena sudah membantu Arimbie,” seru Luthfie sambil menatap wajahnya.
Arjuna hanya tersenyum dan mengangguk lalu pergi dari tempat Arimbie. Dia masih bisa merasakan sentuhan Luthfie dan Shasha di tangannya beberapa waktu yang lalu. Terkadang dia merasa sedikit iri karena semua orang memiliki keluarga yang hangat seperti itu kecuali dirinya.
Untunglah, saat tiba di rumah dia mendapat sambutan yang lebih hangat dari ketiga teman yang sudah seperti adik-adiknya sendiri. Meskipun mereka selalu menimbulkan kerusuhan di rumahnya, tetapi itu adalah bentuk perhatian yang mereka tunjukkan untuk mencairkan suasana hati Arjuna yang sesungguhnya sangat dingin dan sepi.
Dia masih berdiri memandangi adik-adiknya yang sibuk menyiapkan makan siang untuknya.
“Loh, kenapa Abang masih berdiri di situ? Gak lapar emangnya?” tanya Ghaisan sambil meletakkan piring-piring di meja makan.
“Lihat! bibirnya senyum-senyum sendiri, mungkin Abang kita sedang terharu,” bisik Ghiffari yang hanya melirik dengan ekor matanya.
“Bukan, bukan. Dia pasti sedang mengingat salah satu pacarnya, menurutku,” ucap Ghibran sambil menunjukkan ponselnya yang siap untuk menelepon. “Mau aku teleponin satu-satu gak, Bang, pacar Abang yang artis itu?”
“Coba saja kalau berani, akan aku patahkan leher kalian satu-satu,” jawab Arjuna sambil duduk di kursi meja makan. “Awas aja kalau kalian kasih tahu tempat tinggalku saat ini!”
“Nah, nah, nah. Ada berita hangat nih di surat kabar kesayangan kita.” Ghiffari yang pura-pura fokus membaca koran tiba-tiba membacakan sebuah artikel dengan sangat lantang.
“Seorang pria tampan bersembunyi dari kejaran wanita-wanita cantik. Selang beberapa hari dikabarkan tewas karena selalu tebar pesona.”
“Wahh, gak bener nih berita,” lanjutnya sambil melempar koran ke tong sampah.
“Bukan! Yang gak bener itu pasti yang baca berita. Hahaha ... bener, gak, Bang?” Ghaisan melirik wajah Arjuna yang sudah mulai geram.
“Tapi aku penasaran, kira-kira ... kenapa pria itu selalu dikejar-kejar?” tanya Ghibran sambil memainkan dagunya.
“Pasti karena dia banyak utang?” jawab Ghiffari asal bunyi.
Arjuna meraih gelas d hadapannya lalu menghabiskan air dalam satu tegukan. Dia meletakkan kembali gelas dengan kasar lalu berdiri sambil menatap adiknya satu persatu. “Kalian semua sudah menghilangkan selera makan siangku!” bentaknya sambil pergi ke lantai atas.
Ketiga kembar bersaudara saling melirik lalu berlari mengejar. Tak hanya itu, mereka mengangkat tubuh Arjuna yang tengah menaiki tangga hingga ia terkaget-kaget.
“Hentikan! Apa-apaan kalian!?”
Mereka bertiga membawa kembali dan mendudukan Arjuna di meja makan. Ghaisan pergi ke dapur dan kembali dengan kue tart di tangannya.
“Selamat ulang tahun, Bang ...!” seru kembar bersaudara, bersamaan.
“Iishh ... kalian selalu ingat hari ulang tahunku, tapi gak pernah ingat berapa umurku? Itu angka berapa yang kalian pasang di atas kue?”
“Loh, Gha ... itu angka tiganya hilang lagi, ya? Kenapa tinggal angka nol saja yang ada di sana?” ucap Ghibran pada Ghaisan--adik bungsunya.
“Aku yang buang angka tiganya, aku gak rela kalau Abangku yang tampan ini menjadi tambah tua umurnya,” jawab Ghiffari. “Biarlah umurnya tetap nol biar dia tetap awet muda.”
“Hhh ... dasar kalian.” Arjuna tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“Semoga panjang umur, ya, Bang. Semoga semua hal yang Abang cari di dunia ini, cepat diketemukan,” doa Ghaisan untuk Arjuna. Mereka semua mendekat sambil membawa kue yang di buatnya bersama-sama.
“Maaf, ya, Bang. Kita kerjaannya cuma ngerecokin Abang selama ini,” ucap Ghibran. Dan suasana tiba-tiba menjadi sangat haru dan syahdu.
“Tidak! Sesungguhnya aku sangat bersyukur memiliki teman dan adik-adik seperti kalian. Kalian sangat romantis.” Arjuna memeluk ketiga temannya dengan mata yang sedikit berkaca.
“Benarkah?” tanya Ghaisan sambil mencolek sedikit mentega dan menempelkannya di hidung Arjuna.
“Tentu saja benar,” jawab Ghibran seraya meniru kelakuan adiknya yang menempelkan mentega di pipi Arjuna. Tak mau kalah, Ghiffari pun melakukan hal yang sama pada Arjuna.
Mereka seperti anak kecil dan kali ini Arjuna tidak ingin menegur kelakuan adik-adiknya karena tidak ingin merusak moment bahagia yang tengah berlangsung.
...-o0o-...
...—BERSAMBUNG—...
Readers, sebenarnya setampan apa sih wajah Arjuna dan kembar bersaudara dalam bayangan kalian? Bisakah kalian gambarkan imaginasi yang ada di kepala kalian? Siapa tahu cocok jadi visualnya nanti.
hanya 🌹yg dapat mewakili perasaan ku saat membaca nya 🥰🥰🥰
🙏🙏🙏🙏🙏
ku simak terus ya Thor