Pernahkan kalian melihat angsa? Berenang dan menari dengan anggunnya di tengah sungai.
Tapi tahukah kalian? Di balik ketenangan tubuhnya di atas permukaan, Angsa berjuang mengayuhkan kakinya di dalam air agar dapat terlihat anggun di permukaan.
Begitulah hidup Gisella,
Tak ada yang tahu perjuangan hidupnya selama ini,
Pribadi yang selalu tersenyum riang di depan orang-orang, ternyata memiliki masa lalu yang kelam.
Bergumul dengan masa kecilnya yang selalu di rundung oleh teman-temannya, dan trauma masa kecilnya,
"Dasar anak pembawa sial!"
Ibunya sendiri mengatainya sebagai anak pembawa sial dan mengusirnya dari rumah.
Sang sopir membawa Gisella pergi dari rumah dan membuangnya di tempat antah berantah.
"Nak, kenapa menangis di sini?" tanya seorang wanita paruh baya yang melihat Gisella duduk menangis di pinggiran kebun.
Gisella kecil hanya menatapnya, lalu kembali meringkuk menangis pilu.
"Nak, ikut Emak mau?" tanya suara lembut itu lagi, mengulurkan tangannya kepada Gisella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CloverMint, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 14
"I'm not ready."
"No one ever is. We don't get to choose out time."
^^^-Doctor Strange, Marvel^^^
...----------------...
Ella melangkah masuk kedalam rumahnya yang sudah dipadati para tetangga.
"Bude.. Ada apa ini?" tanya Ella panik.
"Kamu yang sabar ya La, ikhlas ya," ucap Bude Sri.
"Itu Emak kenapa Bude?" tanya Ella melihat Emak yang dikelilingi oleh tetangga wanita.
"Emak mau segera dimandikan dan dimakamkan, La," jawab Bude lirih.
"Mak ... Mak ... Bangun Mak ... Jangan tidur terus ... Ella lulus Mak ..." ucap Ella menggoyang-goyangkan tubuh Mak Mila.
"Mak ... Ayo bangun Mak, kata dokter kalau Ella buat Emak bahagia, Emak akan segera sembuh ... Ini Ella lulus Mak ..." panggil Ella tak menyerah. Matanya berkabut, pikirannya berputar. Ella masih belum sanggup menerima kematian Mak Mila.
"Sudah La, ikhlas La, biar Emakmu tenang di sana ..." ucap Bude yang tak kuat menahan air matanya. Hatinya iba melihat Ella yang menangis meraung-raung.
"Nggak Bude, Emak cuma tidur ... Emak bakal bangun ... Emak nggak mungkin ninggalin Ella ... Emak bangun, Mak ..." ucap Ella.
"Istighfar La... Ikhlaskan Emakmu, ya ... " ucap Bude.
"Nggak, Ella nggak mau kehilangan Emak. Kalian jangan sentuh Emak Ella! biar Emak tetap di sini!" jerit Ella sambil memeluk Mak Mila saat para tetangga hendak memindahkan Mak Mila untuk dimandikan.
"Ya Allah, La ... Ikhlas La ... " ucap Bude Sri dan beberapa orang memegangi badan Ella.
Ella terus berontak meraung-raung. "Enggak!! Enggak!! Emak pasti bangun!!"
"Kalian jahat!! Kalian mau bawa kemana emaknya Ella?! Nggak boleh!! Jangan sentuh emaknya Ella!!" teriak Ella meraung kencang.
Bu Lurah yang melihat Ella seperti itu langsung mendekat dan memeluk Ella.
"Sing sabar La ... kalau kamu begini, nanti emakmu ndak tenang di sana, Nduk ... " bujuk Bu Lurah ikut menangis melihat Ella.
"Nggak mau! Ella mau sama Emak! Bu Lurah, lepasin Ella ... Nggak mau!! Ella mau sama Emak!!" rengek Ella berulang-ulang kali.
Ella menangis meraung-raung. Perkataannya sudah tak jelas. Suaranya dipenuhi isakan tangis.
Seorang ustadz mendekati Ella.
"La, Emakmu sekarang sudah bahagia, dia tak lagi merasakan sakit dan lemah pada tubuhnya. Apa kamu tega melihat Emak kesakitan, cuma tidur diranjang tanpa bisa kemana-mana? Ikhlaskan Emak bahagia di atas sana ya, La... " ucap pak Ustadz.
Ella terdiam mendengar ucapan pak Ustadz,walau tangisnya tak dapat ditahan.
"Benar kata Pak Ustadz, La.. " hibur Bu Lurah masih merangkul Ella.
"Ella nggak mau ditinggal Emak ... Ella nggak mau sendirian ... Ella kangen Emak... Ella mau tinggal sama Emak ... Ella sayang Emak... Emak ..." ucap Ella kembali menangis.
Ira yang juga mendengar berita duka tentang Mak Mila segera berlari ke rumah Ella. Saat Ira masuk, ia melihat kondisi Ella yang berantakan. Dihampiri dan dipeluknya sahabatnya itu.
a
"Yang kuat La, kamu harus sabar, ingat janjimu ke Emak," ucap Ira sambil memeluk Ella dengan erat.
"Ir, emakku kenapa Ir? " rintih Ella.
"Sabar La ..." ucap Ira. Hatinya sakit melihat kondisi sahabatnya seperti ini.
"Aku berusaha membahagiakan Emak, aku lulus dengan nilai terbaik. .. tapi kenapa Emak malah pergi, Ir."
"La, ini sudah kehendak Allah, kamu harus ikhlas ..." ucap Ira juga meneteskan airmata.
"La.. Sehabis ini Emak akan didoakan, kemudian dimakamkan, apa kamu mau ikut nganter Emak ke peristirahatan terakhirnya?" tanya Bude Sri pelan.
Ella menyeret kakinya melangkah keluar kamar, dia melihat tubuh Emak yang akan segera dikafani.
"Emak.. bangun Mak ... kenapa Emak hanya diam ..."
Ella berlari memeluk Mak Mila yang terbujur kaku.
"Mak… jangan tinggalin Ella sendiri.. " jerit Ella sambil kembali menangis kencang.
Bude Sri yang melihat itu segera mencoba melepaskan pelukan Ella di tubuh Mak Mila dibantu oleh Ira.
Ella memeluk Emak dengan sangat kuat. Ella masih tidak rela melepaskan Mak Mila. Akhirnya dua orang bapak-bapak, membantu menarik dan menggendong Ella menjauh, tapi Ella terus berontak untuk dilepaskan.
Ira dengan setia menemani dan menghibur Ella.
Ditatapnya Ella dengan hati sedih.
"La.. Karena tidak menunggu siapa-siapa lagi, Mak Mila akan segera dimakamkan, Ella dirumah saja ya ...?" Bujuk Bude Sri.
Ella langsung menatap Bude Sri.
"Ella ikut ..." ucapnya lirih.
Ira dan Bude memapah Ella bangun dan menuntunnya berjalan. Sepanjang perjalanan menuju makam, Ella diam tak bersuara. Ella diam dengan tatapan kosong. Ella merasa dunianya seperti runtuh karena harus kehilangan orang yang sangat disayanginya.
Saat jasad Mak Mila akan dimasukkan ke liang kubur tiba-tiba Ella menghempaskan tangan Ira dan Bude, lalu berlari sambil berteriak.
"Jangan, jangan bawa Emak!! " pekik Ella menjerit-jerit. Beberapa orang di dekatnya memegangi Ella, menahan Ella agar tidak mendekat.
Bude dan Ira segera berlari menghampiri Ella.
"Ya Allah.. Ikhlas La ... " ucap Bude Sri menangis prihatin melihat kondisi Ella.
"Jangan pisahkan Ella dengan Emak .... Jangan ambil Emak!!" Ella menangis dengan kencang.
Ira dan Bude terus memegangi Ella. Kepala Ella berputar, pandangannya kabur.Tak lama, Ella terkulai tak sadarkan diri.
Ira terkejut melihatnya, segera Bude meminta suaminya membopong Ella ke tempat yang lebih adem di bawah pohon.
Ira menatap Ella dengan hati hancur melihat Ella yamg pingsan karena sangat tergoncang. Ella tak kuat menerima kematian emaknya.
"Bude.. Ira beli minyak angin dulu ya, tolong jaga Ella ya," pamit Ira berlari mencari warung terdekat.
Bude Sri hanya bisa menatap Ella dengan sedih, meratapi kemalangan yang menimpa Ella.
Tak Lama, Ira berlari kembali menghampiri Bude Sri sambil membawa minyak angin.
Dioleskannya hidung Ella dengan minyak angin pelan-pelan. Usaha Ira berhasil, Ella terlihat bergerak, kesadarannya perlahan-lahan kembali.
"La.. Bangun ... kamu sudah sadarkan?" tanya Ira pelan.
Ella menatap sekelilingnya. Banyak pusara di sana. kuburan, pikirnya.
"Emak mana?" tanyanya.
Ira mnatap ke sebuah pusara yang terlihat masih basah dan masih ramai dengan orang-orang yang menabur bunga.
Ella segera bangkit dan berlari ke makam tersebut, dibacanya batu nisan tersebut, Karmila. Ella langsung memeluk batu nisan tersebut dan kembali menangis meraung sejadi-jadinya.
Ira dan Bude Sri hanya mengamati Ella dari kejauhan, tak tega menghentikan Ella.
Semua pelayat mulai berpamitan, tapi Ella masih tak mau meninggalkan pusara Emak Mila.
Sudah 3 jam Ella menangis di sana. Tinggal Ira yang menemani, karena Bude Sri harus membantu menyiapkan doa nanti malam.
"La, mau sampai kapan kamu begini? Kita pulang ya? Nanti malam ada doa di rumah, kalau kamu benar sayang Emak, kamu harus ikut ngirim doa. Ayo kita pulang ya... " ajak Ira sambil menggenggam tangan Ella.
Ira memapah Ella bangun. Ella merasa tubuhnya tak bertenaga. Dengan sabar, Ira memapahnya kembali sampai ke rumah.
###
Sudah dua hari sejak kepergian Mak Mila, Ella tak pernah keluar rumah, cuma duduk diam di dalam kamar Mak Mila.
Ira yang tak tega melihat kondisi Ella, meminta ijin orang tuanya menginap di sana.
"La.. Kalau kamu terus seperti ini kamu akan jatuh sakit. Nanti Mak Mila sedih melihat kamu seperti ini.." ucap Ira sedih.
"Kemana Ella sahabatku yang tegar, yang periang?"
Ella diam hanya menatap Ira dengan perasaan hampa. Bibirnya kering. Sudah berapa lama ia tak makan dan tak minum. Seharian ia hanya menangis.
Ira hanya bisa menghela nafas, kemudian Ira berjalan ke arah lemari pakaian Mak Mila. Ira ingin merapikan rumah daripada diam terus pikirnya.
"La, lihat. Ini ada surat untukmu," ucap Ira menyodorkan sebuah surat yang ditemukannya di dalam lemari Mak Mila.
Ella bergerak mengambil surat dari tangan Ira, dibacanya tulisan diatas amplop putih.
'Untuk putriku tercinta, Gisella.'
Ella kembali menangis terisak melihat tulisan tangan itu. Benar itu adalah tulisan tangan emaknya.
Dengar air mata membanjiri pipinya, Ella memeluk surat itu. "Mak, Ella juga sayang sekali sama Emak ..."
Ira yang melihat hati Ella yang hancur juga tak kuat, hingga ikut meneteskan air mata. Dirangkulnya pundak Ella. "Kamu harus kuat La."
Perlahan Ella membuka amplop putih yang ditujukan untuk dirinya.
Ella sayang,
Saat kamu membaca surat ini, berarti Emak sudah tidak lagi di sisimu.
Emak tahu kamu pasti sedih dan tak rela akan kepergian Emak, makanya Emak sengaja menuliskam surat untukmu.
Ella ... Putriku tersayang,
Emak juga tidak ingin meninggalkanmu sendirian, tetapi tubuh tua Emak sudah tak kuat lagi menahan sakit dan melawan penyakit Emak.
Ella harus tahu, kehadiran Ella memberikan kebahagian dalam hidup Emak. Emak sangat bersyukur Ella hadir dalam hidup Emak.
Saat kamu membaca surat ini, Emak berharap kamu mengikhlaskan kepergian Emak, ya..
Jangan menangis lagi, matamu sudah bengkak, Nak.
Emak berharap, Ella menepati janji Ella ke Emak, terus lah sekolah yang tinggi dan raih kesuksesan dalam hidup Ella, Emak tidak di sisi Ella tapi Emak tetap akan mengawasi Ella dari sini.
Jangan karena kepergian Emak, kamu menjadi rapuh dan patah semangat, kalau sampai itu terjadi, Emak di sini akan sedih.
Jadilah wanita yang tegar, jangan takut sendirian karena Ella tak akan pernah sendiri, Emak akan selalu ada di hati Ella. Emak akan selalu mengawasi dan mendoakan Ella dari sini, ya.
Peluk cium ,
Emak Mila
Udah teman teman mengejek Eh kakaknya juga ikutan ...
Tapi YG membuat Tambah sedih mama nya kok cuek Amat...