𝐇𝐞❜𝐬 𝐜𝐫𝐮𝐞𝐥 𝐚𝐧𝐝 𝐇𝐞❜𝐬 𝐜𝐫𝐚𝐳𝐲.
𝐁𝐮𝐭 ... 𝐒𝐡𝐞 𝐥𝐨𝐯𝐞𝐬 𝐡𝐢𝐦.
Bagaimana perasaanmu ketika dipaksa menjadi istri dari pria yang tidak dikenal?
Diperlakukan kejam, diklaim sebagai miliknya, dan dihina dengan kalimat-kalimat sarkas.
Elva mengalami semua hal itu setelah menikah dengan CEO sosiopat bernama Zeyan Kai.
Awalnya Elva berpikir akan segera bebas dari belenggu pria itu jika ia memberitahukan hal yang sebenarnya---kalau dia bukan lah perempuan yang seharusnya menikah dengan Zeyan.
Akan tetapi semua ucapannya selalu dianggap omong kosong belaka di mata pria tersebut. Elva menerima kenyataan jika identitasnya dianggap sebagai orang lain oleh Zeyan. Tapi kenyataannya ... pria itu sudah mengetahuinya segalanya tentangnya.
Zeyan berbohong dengan alasan kalau pria itu menyukai Elva setelah beberapa bulan tinggal bersama.
Di satu sisi Elva merasa kecewa dan marah, namun di sisi lain dia juga merasakan perasaan tabu padanya. Terlebih lagi masalah selalu berdatangan dan menentang mereka untuk hidup bersama.
Kesalahpahaman, ego, dan latar belakang menjadi tembok pemisah di antara mereka berdua.
(JUDUL AWAL ISTRI TAWANAN)
Genre : Romance, Young adult, Action.
copyright©2020
By : Kadewa Gregoria Hanum/Gege Hanum
Ig @i_kadewa
#KARYA HANYA ADA DI NOVELTOON/MANGATOON!!
#TIDAK MENOLERANSI SEGALA BENTUK PLAGIARISME
#JADWAL UP SESUAI MOOD PENULIS!!
[ KALO MAU CEPET UPDATE, VOTE+HADIAH DAN KOMEN BANYAK-BANYAK 🐣🐥 ]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gege Hanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MWS : PART XIV
...◉✿🦋✿◉...
“Kau sudah membawa barang yang kuminta?” Zeyan sedang berkaca sambil melipat ujung baju pergelangannya.
Hari ini Zeyan akan menyamar sebagai orang cacat. Jangan tanya untuk apa dia melakukan itu. Meskipun dia adalah seorang CEO yang kaya raya, namun privasi atas penampilannya tidak pernah ada yang tahu. Yah, kecuali orang-orang yang benar-benar dekat dengannya dan rekan kerja. Zeyan tidak pernah muncul dari publik. Saat ada pertemuan bisnis pun, Zeyan tidak pernah mengikutinya. Masa bodoh dengan para pebisnis senior yang menganggapnya tidak sopan.
“Saya sudah menyiapkannya Tuan,” sahut pak Zhang. Melihat Tuan mudanya yang kesulitan memakai perban, pak Zhang berinisiatif membantunya. Kepala Zeyan diperban bersama salah satu matanya. Benar-benar terlihat seperti mumi. Tapi mumi yang tampan.
“Tuan Surya sudah datang?”
“Dia sudah datang beberapa menit yang lalu Tuan.” jawab pak Zhang sambil melihat arloji ditangannya.
Zeyan tersenyum tipis melihat penampilannya. Dia memakai kaus putih polos dibalut kemeja berwarna biru muda. Serta celana jeans hitam panjang. Sepertinya saat didandani menjadi orang cacat pun, Zeyan tetap saja tampan rupawan. Dasar narsis.
“Tuan,” panggil pak Zhang melihat Zeyan yang terus bercermin. Zeyan meliriknya lalu berdehem dua kali.
“Ayo kita ke sana,” ajak Zeyan. Pak Zhang mengambil kursi rodanya, dan mempersilahkan Zeyan duduk. Ia mendorong kursi roda itu lalu pergi ke arah tempat Tuan Surya berada.
“Maaf sudah membuatmu menunggu Tuan Surya,” kata pak Zhang setelah mereka sampai.
Tuan Surya menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak apa-apa, aku tidak keberatan menunggu menantuku,” ucapnya seraya tersenyum dibalik kumisnya yang lebat. Tuan Surya memperhatikan Zeyan yang duduk di kursi roda dengan seksama.
Ternyata dia memang cacat. Beruntung putriku tidak menikah dengannya. Tuan Surya membatin.
“Kenapa melihatku seperti itu?” Zeyan bertanya selidik. Tuan Surya menggaruk kepalanya dan tersenyum kaku.
“Tidak, aku hanya bertanya-tanya kenapa menantuku ingin bertemu denganku. Dan ya, kenapa putriku tidak ada? Ke mana dia?”
“Putrimu?” Zeyan tertawa pelan. Pak Zhang di sampingnya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Tuan Surya yang masih berani berbohong. “Kau tahu, ini lucu. Kupikir kau mengerti kenapa aku memanggilmu datang kemari.”
“Maksudmu?” Tuan Surya menatap mereka tak mengerti.
“Tuan, apa kau yakin menikahkan putrimu sendiri dan bukannya orang lain?” Pak Zhang memberinya tatapan membunuh.
Raut wajah Tuan Surya berubah pucat.
“Te-tentu, tentu saja aku menikahkan putriku. Memangnya siapa lagi?” kata Tuan Surya gugup.
“Lalu kenapa kammu gugup? Dan kenapa sampai berkeringat?” Zeyan menyelidik.
“Ini … aku, aku sedang tidak sehat tuan. Makanya aku berkeringat,” Tuan Surya beralasan. Ternyata dia sama sekali tidak ingin mengatakan yang sebenarnya.
Lalu Zeyan melempar sebuah map dan pulpen kepadanya. “Tanda tangani itu!” titahnya.
“Apa ini?” Tuan Surya membolak-balik halamannya.
“Hutangmu padaku masih belum terbayar. Kau menipuku dengan mengganti putrimu. Aku akan membuat perusahaan mu kehilangan 50 persen dari pendapatan yang kau hasilkan setiap bulannya,” jelas Zeyan membuat Tuan Surya melebarkan kedua bola matanya terkejut.
“Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku?!” Tuan Surya tak terima, “Kau tidak bisa melakukan itu. Aku mertuamu, kau masih terikat pernikahan dengan nama putriku di kantor catatan sipil!”
Zeyan terkekeh, “Tidak perlu berteriak seperti anjing begitu di rumahku,” katanya memprovokasi. “Aku sudah melacak keberadaan putrimu yang ada di Amerika. Dan aku juga sudah mengajukan surat cerai. Besok, orang ku akan membawa surat cerai itu ke rumahmu. Jika kau tidak menandatangani suratnya, anak buahku yang ada di Amerika akan melakukan sesuatu pada putrimu.”
Tangan kanan Tuan Surya mengepal erat. Bagaimana semua ini bisa terjadi?
“Tuan, kumohon beri aku kesempatan. Aku akan menikahkan putriku lagi denganmu. Aku tidak akan menipumu lagi kali ini. Kumohon berikan aku kesempatan Tuan.”
“Kau bercanda? Aku tidak suka dengan barang bekas,” Pak Zhang terkekeh mendengar ejekan Zeyan. Sementara Tuan Surya memikirkan segala cara untuk menyelamatkan perusahaannya.
“Aku telah melakukan kesalahan, Tuan. Tolong maafkan aku, jika kau mengambil setengah pendapatan perusahaan ku setiap bulan, maka perusahaan ku tidak akan menghasilkan pendapatan yang besar,” Tuan Surya memohon belas kasihan.
“Itu masalahmu,” ucap Zeyan tidak peduli. “Kau cepatlah tanda tangani surat itu. Aku tidak suka berlama-lama dengan orang yang tidak penting seperti dirimu. Dan jangan pernah menginjakkan kakimu lagi ke rumah ku!”
Zeyan memberi kode kepada pak Zhang. Mereka kemudian pergi meninggalkan Tuan Surya yang berteriak-teriak memanggil namanya.
...••🦋••...
“Tuan, setelah ini apa kau akan pergi ke kantor?” tanya pak Zhang memperhatikan Zeyan yang sedang melepaskan perbannya. Pak Zhang melirik arlojinya sebentar. Terlambat 20 menit mungkin tidak apa-apa selagi Zeyan ingin pergi.
“Dengan siapa pertemuan hari ini?”
“Dengan para kolega bisnis dari Belanda dan Jerman Tuan. Kita sudah terlambat 20 menit,” beri tahu pak Zhang sembari melihat jadwal hari ini.
“Batalkan. Kita tidak akan ke kantor.”
“Ha?” Pak Zhang mengorek telinganya. Apa dia tidak salah dengar? “Tapi Tuan akan kehilangan banyak uang nanti.”
“Tidak masalah. Aku bisa mendapatkan banyak uang kembali.”
“Tapi para pebisnis itu sudah ada di perusahaan.”
“Maka suruh saja mereka pulang,” ujar Zeyan enteng. Mungkin kehilangan uang lima juta Yen dari pertemuan itu tidak masalah baginya.
“Di mana dia sekarang?”
“Maksud Tuan, Nyonya Elva?” tanya pak Zhang.
“Kau pikir siapa lagi Nyonya di rumah ini?”
Pak Zhang tertawa garing menggaruk tengkuknya. Sepertinya dia tahu apa yang membuat tuannya ini tidak pergi ke kantor.
“Nyonya ada di kamarnya, Tuan.”
“Bagaimana keadaannya?”
“Kurasa baik. Jika Tuan mengkhawatirkannya kenapa tidak pergi padanya saja?”
“Siapa yang bilang aku mengkhawatirkannya?” Zeyan tidak terima dituduh. “Dia penghuni di rumah ini. Wajar bagiku bertanya keadaannya saat sakit. Ketika kau sakit aku juga bertanya tentang keadaanmu bukan? Kau lupa?”
Pak Zhang menatap Tuan mudanya dengan senyum masam. Dia masih ingat ketika dulu masuk angin, jangankan bertanya keadaan, Tuan mudanya ini malah tidak pernah kelihatan seperti ditelan bumi.
“Aku akan keluar mencari angin,” pamit Zeyan keluar. Dia pergi menuruni tangga. Langkahnya terhenti di depan kamar Elva. Pak Zhang yang diam-diam melihatnya dari atas mencibir pelan. Dasar tsundere.
“Sudah bangun?”
Suara Zeyan menghentikan Elva yang sedang membaca buku. Gadis itu termenung beberapa lama lalu tersadar kembali saat merasakan ranjangnya bergoyang.
“Hm, ada apa mencariku?”
Zeyan melemparkan sebuah pakaian padanya. “Itu untukmu.”
Elva mengangkat baju berwarna hitam putih sembari mengamatinya. Ternyata baju pelayan, hanya beda warna dan potongan saja dengan baju pelayan biasanya.
“Kulihat kau sudah pulih. Jadi, besok kau akan mulai bekerja menjadi pelayan kembali,” ucap Zeyan.
“Tapi kenapa roknya berubah pendek? Biasanya aku memakai baju pelayan yang roknya panjang.” Heran gadis itu.
Tapi memang benar. Dulu ia memakai baju pelayan yang agak tertutup. Namu yang ini? Roknya bahkan sangat pendek. Elva yakin jika ia memakainya pasti hanya sampai sebatas paha.
“Itu karena kau terlalu pendek. Jika kau memakai rok yang pendek, kau akan terlihat tinggi sedikit. Lagipula kau terlihat seperti valak jika memakai rok yang panjang dengan wajah buruk rupamu itu.” Hardik Zeyan parah.
Elva menatap Zeyan seolah berkata, Apa hubungannya?
“Ada apa dengan tatapanmu itu? Kau keberatan?” tanya Zeyan.
“Tidak, aku akan bekerja sekarang.” Elva beranjak dari duduknya.
“Ada hal lain lagi yang harus kukatakan.” Zeyan menghentikan langkahnya “kamu tidak perlu bekerja sendirian lagi. Ada tugas khusus untukmu.”
“Tugas khusus?” Elva membeo.
“Ya, kau adalah pelayan pribadiku mulai sekarang. Itu hukumanmu karena mencoba kabur dari sini. Kau juga tidak bisa menolaknya karena aku lah yang kemarin memanggil dokter untuk memeriksamu,” Zeyan melipat kedua tangannya tidak ingin dibantah.
“Baiklah, aku akan menjadi pelayan pribadimu,” balas Elva menyetujui.
Zeyan tersenyum puas. Dia berjalan mendekatinya kemudian tidur terlentang di atas kasur milik Elva. Menggerakkan telunjuknya pada Elva lalu berkata, “Karena kamu sudah menyetujuinya, maka mulailah bekerja sekarang.”
...BERSAMBUNG...
Contact me : IG @i_kadewa
semoga makin seru dan tx ad pelakor..!! yaa aku berharap alur di novel ini sedikit berbeda dr novel lainnya..!!🙏
senangnya liat anak muda yg berprestasi...
kutunggu up nya thor....