Alone Claney hidup dalam kesendirian seperti namanya. Ibu suri yang terpikat padanya pun menjodohkan Alone dengan putra mahkota, calon pewaris tahta. Tak seperti cerita Cinderella yang bahagia bertemu pangeran, nestapa justru menghampirinya ketika mengetahui sifat pangeran yang akan menikahinya ternyata kejam dan kasar.
Karena suatu kejadian, seseorang datang menggantikan posisi pangeran sebagai putra mahkota sekaligus suaminya. Berbeda dengan pangeran yang asli, pria ini sungguh lembut dan penuh rasa keadilan yang tinggi. Sayangnya, pria itu hanyalah sesosok yang menyelusup masuk ke dalam istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yu aotian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Royal Wedding yang Semakin Dekat
Aku mengerjapkan mata berulang-ulang ketika ia menyerahkan bunga snowdrop itu padaku. Dengan pelan dan sedikit gugup, tanganku terulur tuk mengambil bunga itu dari tangannya. Lagi-lagi, sikapnya membuatku sulit mendefinisikan kerja jantungku yang berdetak tak normal. Sederet perlakuan manis ini kenapa harus dilakukan olehnya? Mengapa bukan dilakukan oleh pangeran Julian yang memang dijodohkan untukku? Dan ketika hatiku mulai mempertanyakan itu, di saat itu juga aku segera sadar untuk tidak boleh terlena.
Begitu bunga itu kuambil, aku langsung mengomelinya. "Bagaimana bisa kau malah asyik mengambil bunga saat sedang bertanding balap kuda? Ingat, pangeran Julian rutin mengajak seluruh pemuda bangsawan untuk mengikuti balap kuda dan tak pernah seorang pun bisa mengalahkannya selama ini!"
"Benarkah begitu? Baguslah!" ucapnya memasang gaya santai.
Aku mengernyit. "Apanya yang bagus jika kau saja belum bisa mengalahkan Theo, Ciro dan juga Sam!"
"Tadi kau bilang Julian rutin mengajak seluruh pemuda bangsawan untuk bertanding balap kuda dan belum ada seorang pun yang bisa mengalahkannya. Kupikir hanya ada dua alasan untuk itu. Pertama, lawan-lawan Julian tidak ada yang berkompeten, mengingat mereka hanyalah anak bangsawan yang tidak pernah turun ke medan perang seperti para prajurit sehingga kemampuan mereka mungkin setara denganku. Kedua, mungkin saja mereka sungkan mengalahkan putra mahkota negeri ini, jadi mereka terus membiarkannya memenangkan pertandingan, dengan kata lain kemampuan Julian tidak sehebat itu," paparnya sambil bersedekap.
Ciro mendadak ikut menyela pembicaraan kami. "Maaf, Nona, apa yang dikatakan pangeran Bright ada benarnya. Saya pikir juga selama ini para pemuda bangsawan hanya berusaha menyenangkan hati pangeran Julian. Sebab, jika kalah, suasana hati pangeran akan berubah kelam dan membuat mereka kerepotan sendiri menanganinya."
Aku terdiam sejenak sembari melirik ke arahnya. Apa yang dia paparkan cukup masuk akal. Rupanya ia memiliki kemampuan menalar sesuatu dengan baik.
"Bagaimana jika kita latihan berburu saja?" ajak Bright kemudian.
"Kau tidak mengusulkan itu hanya karena kau jago dalam hal memanah, kan?"
Sindiranku hanya dibalas tawa kecil olehnya.
Kini giliran Sam yang berucap dengan nada hati-hati. "Sebenarnya pangeran Julian juga tidak mahir dalam hal berburu. Meski dia rutin berburu di hutan dengan para pejabat istana, dia jarang berhasil mendapatkan target buruannya. Panahnya pun sering meleset ke mana-mana."
"Ya, sebenarnya berburu hanya bagian dari pelarian pangeran Julian jika sedang kesal dengan orang-orang yang berada di kubu pangeran Flynn dan kesempatan itu sering digunakan para pejabat militer untuk menghasutnya."
Kurasa apa yang dikatakan ketiga pengawalnya ini valid. Mengingat mereka lebih banyak menghabiskan waktu bersama pangeran Julian, dibanding aku yang hanya mengetahui tentang dia dari ibu suri.
"Dengan kata lain ... kau tidak bisa terlalu menunjukkan keahlian memanahmu kelak," ejekku sambil menyeringai ke arahnya.
Napas kasarnya lantas berembus. "Hah, ternyata dia cuma modal tampang tapi tidak punya bakat apa pun!" Namun, seketika dia melirik ke arahku sambil menutup mulutnya dengan gaya yang dibuat-buat. "Ups, maaf, Nona, aku tak bermaksud meremehkan calon suamimu."
"Tidak masalah, calon suamiku itu adalah saudara kembarmu juga."
"Dibanding memanah atau pun berkuda, sebenarnya ... ada satu hal yang benar-benar merupakan keahlian pangeran Julian." Theo tiba-tiba berceletuk.
"Apa itu?" Aku dan Bright kompak bertanya.
"Berdansa!" jawab Theo singkat.
"Ya, berdansa!" Chiro membenarkan. "Pangeran Julian dikenal dengan kemampuan dansa yang baik dan lincah. Dia sering menerima undangan pesta dansa para bangsawan. Tak ada yang bisa menandingi kharismanya ketika berada di lantai dansa. Para gadis pun selalu rebutan untuk bisa menjadi pasangan dansanya, karena itu akan membuat mereka lebih dikenal pria-pria di kota ini setelahnya," lanjutnya menerangkan.
Aku lantas menoleh ke arah Bright. "Kuralat ucapanku waktu itu, ternyata dia memiliki sedikit bakat seni di bidang tari, yaitu berdansa. Bagaimana denganmu?"
"Ini lebih gawat dari sekadar menunggang kuda karena aku sama sekali tak pernah melakukannya. Bahkan untuk menghadiri pesta dansa pun tak pernah," balas Bright sambil menggaruk-garuk kepala.
"Baiklah. Hanya tersisa dua Minggu untuk kalian mengajari pangeran Bright berdansa," perintahku pada ketiga pengawal.
Mereka lalu saling melirik, sebelum salah satu di antaranya berucap, "Sepertinya yang ini harus diajari langsung oleh Anda, Nona."
"Benar, Nona. Apalagi, akan ada pesta dansa di malam perayaan pernikahan kalian. Di sana kalian akan tampil sebagai pasangan dansa di depan para tamu."
Aku tertegun seketika. Ya, benar, aku hampir lupa dengan serangkaian prosesi pernikahan yang harus kulakukan bersama Bright nantinya.
Menoleh ke arahnya, aku berkata, "Baiklah, mulai malam ini, kita akan latihan dansa."
Meski sibuk menemani Bright berlatih banyak hal, aku tetap rutin ke istana untuk melihat keadaan pangeran Julian. Sayangnya, tak ada perkembangan apa pun dari setiap waktu yang terlewati. Pria itu terus berada di fase koma.
Kuraih tangannya yang begitu tak berdaya seraya mulai bergumam pelan. "Pangeran, mohon cepatlah sadar. Aku merindukan masa-masa mengintipmu diam-diam dari balik pohon maple dekat gerbang paviliunmu. Kau tahu, untuk bisa menginjakkan kaki ke istana dan terpilih menjadi calon pendampingmu, aku telah berusaha keras mengalahkan gadis-gadis terbaik yang ada di kota ini. Walau pada akhirnya, aku pun tetap kalah karena sebenarnya kau tak pernah memilihku. Meski begitu, aku sungguh berharap kau segera sadar dan pulih kembali agar saudara kembarmu tak perlu bersusah payah menjadi dirimu. Hati dan pikirannya terlalu jernih untuk berada di lingkungan kerajaan yang penuh dengan kepalsuan."
"Bagaimana dengan pangeran Bright? Apa dia sudah siap untuk masuk ke istana?" Suara ayah mendadak mengagetkanku.
Aku segera menghapus jejak air mataku sebelum menoleh ke arah ayah. "Iya, dia terus berlatih untuk bisa semirip mungkin dengan pangeran Julian. Tapi ayah, bukankah yang kita lakukan ini salah? Kita akan memalsukan pangeran!" ucapku penuh kekhawatiran.
"Tidak ada yang salah untuk situasi saat ini. Meski dibesarkan di luar istana, statusnya tetaplah seorang pangeran. Di dalam tubuhnya mengalir darah raja. Secara tak langsung, kita telah membantunya mendapatkan hak sebagai anggota kerajaan yang seharusnya ia terima sejak lahir. Meskipun itu hanya sampai pangeran Julian sadar dan pulih kembali," ujar ayah tanpa keraguan sedikit pun.
Ucapan ayah membuatku tak memunculkan sepatah kata apa pun. Segala jenis pikiran masih menari-nari ricuh di kepalaku. Di sisi lain, orang-orang di istana semakin sibuk menyiapkan pernikahan kami.
Gaun pengantin yang akan kukenakan hampir selesai dikerjakan. Begitu juga dengan jubah militer yang seharusnya akan dipakai pangeran Julian. Para penari, penyanyi serta band pengiring rutin berlatih untuk tampil sebagai hiburan. Kereta kuda termegah pun telah disiapkan untuk mengarak kami berkeliling ke seluruh kota Veridia. Bahkan rute jalanan yang akan kami lewati nanti telah dihias dan dijaga ketat. Ini mungkin akan menjadi 'Royal Wedding' termewah.
Dengan semua persiapan ini, membuatku semakin gugup dan takut. Bisakah aku mengelabui istana dengan menikahi saudara kembar pangeran Julian?
.
.
like dan komeng
kenapa ga langsung aja, Barbara ini anunya gitu
pastinya luar dalam dilayani🤭
Bgmn y Bright memperlakukan Barbara serba salah y......
dan selanjutnya apa yang akan terjadi...Kooong
Pangeran bright.....,, waspada,, hati2 jangan smpe si batubara mencurigaimu....