Genre : Action, Adventure, Fantasi, Reinkarnasi
Status : Season 1 — Ongoing
Kekacauan besar melanda seluruh benua selatan hingga menyebabkan peperangan. Semua ras yang ada di dunia bersatu teguh demi melawan iblis yang ingin menguasai dunia ini. Oleh karena itu, terjadilah perang yang panjang.
Pertarungan antara Ratu Iblis dan Pahlawan pun terjadi dan tidak dapat dihindari. Pertarungan mereka bertahan selama tujuh jam hingga Pahlawan berhasil dikalahkan.
Meski berhasil dikalahkan, namun tetap pahlawan yang menggenggam kemenangan. Itu karena Ratu Iblis telah mengalami hal yang sangat buruk, yaitu pengkhianatan.
Ratu Iblis mati dibunuh oleh bawahannya sendiri, apalagi dia adalah salah satu dari 4 Order yang dia percayai. Dia mati dan meninggalkan penyesalan yang dalam. Namun, kematian itu ternyata bukanlah akhir dari perjalanannya.
Dia bereinkarnasi ke masa depan dan menjadi manusia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Watashi Monarch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 - Rekan Assassin Baru
Pelayan yang ditangkap oleh Alexia adalah assassin dari organisasi yang bergerak di balik bayang-bayang. Gadis itu sangat terampil dalam hal penyusupan dan spionase, apalagi dia adalah assassin elit terbaik di organisasinya.
Dia menyusup ke keluarga Swan dan bekerja selama dua tahun tanpa ketahuan. Selain itu, dia bahkan diatur oleh kepala pelayan untuk menjadi pelayan pribadinya Alexia.
Tidak ada yang curiga, karena dia memiliki latar belakang yang bersih dan berasal dari desa. Apalagi, gadis itu juga membawa surat rekomendasi yang ditulis langsung oleh kerabat dekat Alexia dan telah disetujui pengurus rumah.
Dengan informasi sejelas itu, Alexia pun berpikir.
'Sepertinya ada lebih dari satu mata-mata di rumah ini.'
Alisnya berkerut dan merasa sedikit tidak senang.
"S-saya tidak punya apa-apa lagi untuk dikatakan."
Pelayan itu menyerah dan berhenti memberontak.
"Cepat bunuh saya, nona Alexia. Saya tidak punya alasan untuk meminta maaf ataupun pengampunan dari anda."
Alexia terdiam dan melepaskan tangan pelayan itu. "Aku tidak akan membunuhmu. Terlebih, kau masih berguna bagiku untuk melenyapkan tikus-tikus yang menyusup."
Mendengar jawabannya membuat pelayan itu terdiam.
"S-saya sudah meracuni dan mengkhianati kepercayaan anda, sudah sepantasnya saya mati di sini!" pelayan itu bangun dan berlutut di hadapannya. "Cepat bunuh saya!"
Suasana yang tegang pun berubah menjadi keheningan.
"Apakah itu hanya karena rasa bersalah, atau rasa iba?"
Pelayan itu tiba-tiba tertegun setelah mendengar hal itu.
"Jangan pikir aku tidak tahu apa yang telah kau lakukan."
Alexia duduk di tepi ranjang dan memandang pelayan itu dengan tatapan tanpa kebencian. "Racun Mana Blocking adalah salah satu dari banyaknya jenis racun yang cukup mematikan. Selain menyakitkan, racun ini juga membuat orang yang mengonsumsinya sangat menderita. Namun dosis yang kau berikan padaku tidak lebih dari batasnya."
Setelah mendengar perkataannya, pelayan itu terdiam.
"Itu artinya, kau tidak punya niat untuk membunuhku."
'B-bagaimana nona Alexia bisa tahu ...?' batin pelayan itu.
Dia mempelajari kebiasaan Alexia dan mengikuti seluruh kegiatannya dari pagi sampai malam hari. Setiap hari, dia tak pernah melepaskan pandangan matanya dari Alexia.
Dan setelah bertahan selama dua setengah tahun, gadis itu tahu bahwa Alexia tidak memiliki bakat apapun selain bermain dengan sihir. Kemampuan berpedangnya buruk, dan dia terlihat tidak punya bakat menggunakan senjata.
Alexia tidak memberikan ancaman serius, namun orang yang telah memberikannya perintah berpikir sebaliknya.
Anak singa tidak akan menunjukkan taringnya karena dia belum mempunyai insting dan kekuatan untuk melawan musuh, apalagi menjadi pemangsa. Tapi jika ia diberikan waktu, singa akan tetap menjadi singa, sang Raja Hutan.
Karena alasan itu, gadis assassin tersebut mendapatkan perintah dari petinggi untuk menyingkirkannya. Di dalam surat perintah, dia juga menerima racun Mana Blocking dan cara efektif agar tak dicurigai sebagai tersangkanya.
Namun, gadis itu menolak untuk mengikuti perintah.
Kenangan yang dia buat bersama Alexia selama 2 tahun terasa menyenangkan. Gadis itu merasa bersalah karena tidak dapat memenuhi semua tugasnya sebagai pelayan.
Meski begitu, dia dengan berani menentang keputusan organisasi dan meracuni Alexia dengan dosis yang kecil.
"Katakan padaku, siapa yang memberimu perintah?"
Misi seorang assassin adalah membunuh targetnya, tapi jika gagal, kematian adalah jalan satu-satunya. Gadis itu mengetahuinya, tapi ia mulai ragu dengan keputusannya.
Alexia yang melihatnya enggan bicara pun berdiri.
"Tidak ada gunanya kau terus menutup mulutmu untuk melindunginya. Andai kau berhasil meracuniku, apa kau tahu pasti apa yang akan terjadi padamu selanjutnya?"
Pelayan itu mendongak dan menatapnya penasaran.
"Kau juga akan ikut mati bersamaku." kata Alexia hingga membuat pelayan itu melebarkan mata, sangat terkejut.
"I-itu tidak mungkin ..." gumamnya, mulai ketakutan.
"Coba kau pikirkan baik-baik. Jika aku mati, siapa orang pertama yang akan disalahkan dari semua orang? Kalau kau gadis yang pintar, kau pasti mengetahui maksudku."
Setelah dipikirkan, dia adalah satu-satunya pelayan yang selalu berada di sisi Alexia. Pelayan yang lain tidak dekat dengannya karena kebiasaannya yang aneh seperti terus berlatih sihir padahal dia berasal dari keturunan ksatria.
Apalagi, orang yang memerintahkannya juga kejam dan licik. Dia tidak segan-segan membunuh seorang gadis biasa yang tidak melakukan apapun tanpa rasa bersalah.
"Jika orang yang menyuruhmu tahu kalau misimu gagal, aku yakin dampaknya akan berimbas pada keluarga dan orang terdekatmu. Selain itu, hanya orang mati saja yang dapat menjaga rahasia. Apa yang aku katakan ini salah?"
Ketakutan yang dikatakan Alexia membuatnya goyah.
Gadis assassin itu, yang mulai gelisah pun berpikir.
'Apakah orang itu akan menusukku dari belakang ...?'
Pertanyaan itu terus menghantuinya seperti teror.
Tidak heran jika suatu hari nanti gilirannya akan dibuang tiba. Gadis itu sebenarnya tidak peduli jika dia mati atau hidup, tapi yang membuatnya takut mati adalah saudara kandung, adiknya yang dijadikan tawanan oleh mereka.
Dengan organisasi yang mementingkan tujuannya, tidak mungkin mereka memberikan belas kasihan. Orang yang menjadi tawanan mereka kemungkinan besar akan mati.
Setelah merenung sebentar, dia pun berubah pikiran.
'Tidak, aku tidak boleh membiarkannya mati!'
Tangannya mengepal dan tatapannya menjadi tajam.
'Dia adalah keluarga dan satu-satunya alasan aku bekerja keras selama ini. Jika dia mati, ibu dan ayah yang ada di atas sana pasti akan memarahiku!' lanjutnya dan berdiri.
Pelayan itu pun mengeratkan giginya dan berkata,
"Tolong beri saya kesempatan sekali lagi, nona Alexia."
Permintaan tiba-tiba itu membuat Alexia menyeringai.
"Kenapa aku harus membiarkanmu tetap hidup?"
Gadis itu terdiam dan langsung terduduk di lantai.
"Saya tidak memiliki artefak atau sesuatu yang berharga untuk ditukarkan dengan nyawa ini." kata pelayan itu dan menyerah sambil meletakkan tangannya ke lantai. "Yang bisa saya tawarkan pada anda adalah tubuh dan jiwa ini."
Dia mengatakan itu secara spontan. Alexia bahkan tidak mendengar ada satupun kebohongan dalam kalimatnya.
'Untuk rencanaku ke depannya, sepertinya menggunakan gadis ini akan berguna.' batin Alexia dan melirik ke arah belati yang tergeletak. 'Lebih baik gunakan apa yang ada.'
"Bukankah kau ingin mati sebelumnya?" tanya Alexia dan mengambil belati di lantai. Setelah itu, ia berbalik sambil melempar belati tersebut ke depannya. "Siapa namamu?"
Gadis itu gemetar sambil menatap belati di depannya.
"S-Siria ..." balasnya dengan gugup. "Siria Silverwood."
'A-ada yang aneh dengan sikap nona Alexia ...' pikirnya.
Sifatnya tidak mendominasi seperti itu sebelumnya, tapi sekarang dia sungguh terlihat seperti seorang penguasa.
"Baiklah, Siria. Aku memberimu kesempatan." kata Alexia sambil berjalan mendekat dan berdiri di depannya. "Siria Silverwood sekarang sudah mati, dan yang hidup adalah Siria. Sekarang, hidup dan matilah menjadi bayanganku."
Siria ragu untuk memberikan kesetiaan pada Alexia, tapi dia juga tak punya pilihan lain. Lebih baik hidup dan mati dengan orang yang tidak akan pernah mengkhianatinya.
Pelayan itu, Siria tanpa basa-basi mengambil belati dan memotong rambut hitamnya yang panjang. Mata hitam yang menatap dengan penuh permusuhan, kini berubah menjadi tatapan kagum dan kesetiaan yang tidak goyah.
Setelah membulatkan tekadnya, tangan Siria yang patah dan bengkak akibat dipelintir Alexia perlahan-lahan pulih.
'C-cahaya hangat ini ...?' batin Siria dengan mata melebar dan menoleh ke arah Alexia yang sedang mengangkat tangannya. 'Sejak kapan nona Alexia bisa memakai sihir?'
Tangannya perlahan sembuh berkat sihir penyembuhan yang digunakan Alexia. Terlebih, sihirnya terasa nyaman dan lebih hangat daripada sihir penyembuhan biasanya.
"S-sejak kapan anda bisa menggunakan sihir ...?"
Alexia tersenyum tipis dan menjawab, "Itu rahasia."
Siria merasa telah mengetahui sesuatu yang tidak boleh dia ketahui. Dia pun dengan cepat mengubah sikapnya.
"Kalau begitu," Siria berlutut dan bersumpah. "Saya Siria, Silver Moon, kini bersumpah setia pada anda, Alexia Iris Swan. Gunakan saya sebagai pedang dan perisai anda."
"Ya, aku menantikan kerja kerasmu."
Alexia tersenyum tipis sambil meletakkan tangannya di kepala Siria, sebagai bentuk menerima sumpah setianya.
****
Sementara itu, di sisi lain...
Seorang pria paruh baya sedang menulis di meja sambil membalik halaman buku di sebelahnya. Suasana kamar yang lumayan gelap membuat sosoknya menjadi samar.
Bunyi jam dinding yang berdenting terasa cukup damai dan menenangkan, membuat pria paruh baya itu rileks.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama saat sebuah bayangan tiba-tiba saja muncul dari kegelapan pekat dan berjalan mendekati pria paruh baya yang sedang duduk.
"Bagaimana dengan perkembangannya?" tanya pria itu.
Bayangan hitam itu duduk di kursi dan menghela napas panjang. "Aku sudah mengirim orang untuk memeriksa keadaan di perbatasan, tapi tidak ada kabar dari mereka."
"Biarkan saja." pria paruh baya itu berhenti menulis dan menyeringai. "Saat berita kematian seseorang sampai ke telinganya, mau tidak mau dia harus keluar dan kembali."
"Kau benar juga." balas sosok bayangan hitam.
Mereka berdua saling bertatap mata dan tersenyum licik.