“Hidup memang harus berani, berani pergi dari sesuatu yang tak pantas untuk di tinggali”
Ana wanita paruh baya yang terpaksa menjadi tenaga kerja wanita(TKW) demi masa depan Anak-anaknya dan juga perjuangannya terlepas dari suami patriarki.
Ana yang selalu gagal dalam rumah tangga merasa dirinya tak layak dicintai sampai dia bertemu dengan laki-laki bernama Huang Lhi—majikan tempatnya bekerja.
Namun, kisah cinta Ana dan Huang Lhi tak semulus drama perbedaan kasta menjadi penghalang utama. Bisakah Ana mendapatkan cinta sejati? Kemana Akhir akan membawa kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan Untuk Ana
Teriakkan kesakitan menggema dari kamar yang bercahaya remang, ranjang besi berderit lirih saat tubuh nenek menggelepar menahan sakit di pangkal pahanya. Sudah sedari kemarin orang tua itu terus-terusan mengeluhkan sakit yang luar biasa pada kakinya.
Ana berjalan cepat menghampiri sang nenek, bertanya dengan nada lembut meski raut ketus dan jawaban kasar yang dia dapat.
“Beri aku obat lagi!” bentak nenek.
“Kamu sudah minum dua butir, malam nanti baru boleh minum lagi,” sahut Ana.
“Tapi, kakiku sakit sekali, Ana!” bentaknya sambil melotot ke arah sang pembantu.
“Ya mau bagaimana lagi, aku sudah kasih kamu obat, nenek,” balas Ana.
Nenek memalingkan wajahnya, satu tanganya menekan erat pangkal pahanya sembari terus berdesis menahan sakit.
Ana menghela napas kasar, bersamaan dengan itu ponselnya berdering nyaring. Nama Mbak Asih terpampang di layar depan. Ana buru-buru menggeser tombol hijau di ponselnya, senyumnya seketika merekah saat melihat wajah polos Aidar memenuhi layar.
“Hey, anak pinter Ibu?” sapa Ana, lalu mengambil headsetnya dan berjalan keluar kamar.
Di balik panggilan Aidar terus mengoceh sembari mencoba berdiri dengan berpegangan kursi, lalu berjalan lepas tangan dan berjalan dua langkah sebelum kembali terduduk di lantai keramik. Melihat kemajuan pertumbuhan sang putra bungsu, mata Ana berkaca-kaca, namun bukan karena sedih melainkan ungkapan kebahagiaan yang membuncah.
“Kamu udah pinter jalan, Nak?” seru Ana.
“Alah udah nerutus poll, Nduk. Semua barang dibanting, Kemarin kopinya Pakde baru diminum separo di masukin puntung rokok, habis itu mau di minum. Ndak bisa lengah sedikit pokoknya,” sahut Mbak Asih. “Itu liaten, udah sampe depan tv lagi,” lanjut Mbak Asih sambil mengarahkan kamera ponselnya ke Aidar yang sudah berdiri di depan tv.
“Dik sini … ini Ibunya telepon lo? Aidar,” panggil Mbak Asih mencoba menarik perhatian Aidar.
Mendengar suara Mbak Asih, Aidar langsung merangkak cepat—menghampiri sang bude. Tawa riang terbit dari bibir kecil bocah gempal itu.
“Sayang dulu Ibunya, gimana kalo sayang ibu?” titah Mbak Asih kemudian sambil mendekatkan ponselnya e bibir Aidar.
Sontak, Aidar memonyongkan bibirnya sambil mengecup pelan.
Muach … muach … muach …
Tawa bahagia langsung merekah di wajah Ana, rasa lelah yang sudah menumpuk beberapa hari ini menguar ke udara, wajah polos Aidar serta senyuman bocah gembul itu menjadi obat mujarab dari segala kelelahan dalam hidupnya.
“Makin pinter kamu sekarang, Dik,” ujarnya kemudian.
Mbak Asih meraih tubuh Aidar yang menggeliat ingin kembali merangkak, memaksanya untuk diam di pangkuannya. “Anteng sebentar, to Dik, Ibu ee telepon itu lo.” Mbak Asih mencium gemas pipi gembul Aidar.
“Roy masih tukang telepon mintain duit nggak, Nduk?” lanjut Mbak Asih.
“Masihlah, Mbak. Nguber terus yang perkara sepuluh juta kemarin. Aku bilang nggak sanggup, kalau mau aku kasih dua juta buat ongkos sama hidup satu minggu ‘kan cukup itu,” jelas Ana.
Mbak Asih mendengus kasar, sambil membenarkan posisi duduk Aidar yang sibuk dengan mainannya. “Kok enak benar mau kerja minta ongkos segitu, kemarin ada kesini liat Aidar, tapi, ya tangan kosong. Malah pulang-pulang rokok Mas mu di gondol.”
Ana mengerutkan alisnya, sudut matanya memicing sedikit. “Kok bisa rokoke Pak de di gondol?”
“Iyo habis diajak makan sama Mas mu, minta rokok di bawa sebungkuse. Tapi, suamimu itu kadang memang kebangeten, Nduk, bener-bener nggak mau bergerak, terlalu mengandalkan kamu,” ujar Mbak Asih.
Ana tersenyum datar, tatapannya meredup. “Biarin aja dulu, Mbak. Aku juga udah mulai mengurangi komunikasi sama dia, capek lama-lama,” sahut Ana, ia lalu beranjak dari tempatnya saat mendengar sang nenek memanggilnya.
“Ah, Mbak, udah dulu, ya. Itu nenekku teriak-teriak,” pamitnya kemudian.
“Ya dah, kamu hati-hati di situ, Nduk,” sahut Mbak Asih.
Ana berdehem pelan sebelum menutup panggilannya, lalu bergegas menghampiri nenek.
Napas lelah berembus dari mulut Ana begitu ia sampai di kamar. Aroma busuk kembali menyeruak, tumpukan kotoran memenuhi kasur dan selimut.
Sudah dua hari ini onderdil belakang sang nenek bekerja tak sewajarnya. Selain jangka waktunya, juga aroma yang dikeluarkan tidak sewajarnya membuat Ana curiga. Dengan tatapan menyelidik Ana mulai mengintrogasi sang nenek.
“Ama kamu minum obat pelancar kotoran lagi, ya?” serbunya.
Nenek menggelang pelan, tapi ada raut ketakutan di sorot matanya.
“Bohong. Berapa banyak kamu ambil?” tanya Ana.
Dengan sedikit ragu, nenek menautkan jarinya membentuk simbol plus. Sontak, mata Ana terbelalak, rahangnya mengeras.
“Sepuluh?” tegas Ana.
Nenek mengangguk lemas sebelum membalas Ana dengan tatapan galak dan suara lantang. “Dokter bilang aku harus banyak buang kotoran biar kaki ku tidak sakit!”
Ana menghela napas lelah, lalu mulai membersihkan onderdil si nenek sambil mengomel. “Bukan harus bung banyak kotoran, Ama. Tapi, setiap hari kau harus buang kotoran. Kalau seperti ini kau bisa kelelahan dan sakit.”
Nenek tak lagi menjawab, hanya menurut dengan apa yang Ana suruh sambil mendengarkan mulut pembantunya yang masih mengomel.
Malam merangkak pelan, udara dingin menusuk, derap langkah terburu-terburu menggema di lorong rumah sakit. Ana duduk sambil gemetar di sebuah kursi tunggu, sambil menggenggam ponselnya.
Saat akan di bangunkan untuk makan malam, badan nenek tiba-tiba panas dan wajahnya pucat, membuat Ana panik dan langsung menelpon majikannya. Dengan sedikit gemetar Ana menjelaskan apa yang terjadi pada nenek sebelumnya kepada dokter yang menangani nenek di UGD.
Raut gelisah dan ketakutan di wajah Ana, ia takut disalahkan atas keteledorannya hingga nenek minum obat terlalu banyak. Beruntung dokter mengatakan penyebab nenek tiba-tiba demam bukan karena efek obat melainkan infeksi pada bekas operasi di punggungnya.
Kondisi nenek yang buruk membuatnya harus di rawat di rumah sakit, untuk pemeriksaan lanjutan.
Tiga hari sudah Ana menjaga nenek di rumah sakit, onderdil bodolnya berhasil diatasi berganti dengan mulut mungilnya yang terus berteriak karena kesakitan di pangkal pahanya. Beruntung sang majikan mengambil kamar VIP untuk mereka sehingga teriakan nenek tidak mengganggu pasien lain.
Ana baru saja mendudukkan bokongnya saat satu pesan masuk ke ponselnya, sebuah nomor yang tidak ada kenal.
“Ana, ini Julia. An, ini suami kamu bukan?” Isi pesan yang dikirim Julia—sahabat lama Ana.
Kemudian disusul sebuah photo dan video.
Ana memperhatikan dengan saksama photo yang dikirim Julia, lalu mengetik balasan singkat untuk sang sahabat.
“Iya.”
Bulir bening perlahan membasahi ujung mata Ana. video Roy yang sedang bernyanyi dengan seorang wanita seksi menari di pikirannya, belum lagi tumpukan uang yang digenggam laki-laki itu yang kemudian dengan nakal di selipkan di belahan dada sang wanita.
Dada Ana sesak seketika, air matanya tak mampu ia tahan. Ana menangis sejadi-jadinya di kamar mandi. Satu tangannya menarik kuat rambutnya—seolah ingin memberitahu dunia betapa hancurnya dia malam itu.
Ia kemudian menatap kosong tampilannya di kaca, membelai kasar wajahnya. Mata sembab, wajah kusam, badan gendut.
‘Apa karena ini Mas Roy berpaling?’ batinnya.
Air matanya kembali luruh, ia lalu menghidupkan shower air, membiarkan badannya berada di bawah guyuran air seakan-akan dinginnya air bisa menghanyutkan segala beban pikirannya.
Ana kembali menatap tampilannya di cermin, senyum getir terbit di wajahnya yang basah kuyup. Suaranya lirih, nyaris tertelan gemericik air.
“Aku menyerah, aku sudah tidak sanggup berada di samping laki-laki itu.”
Bersambung.
awas 👊🏻
semangat thor untuk selalu berkarya. sehat selalu
klu yg kecil pasti anak'a roy kan?