Di kehidupan sebelumnya, Aluna dibenci dan dikucilkan oleh keluarga kandungnya sendiri karena hasutan Chika–anak yang diadopsi oleh Keluarga Anggara hingga tewas mengenaskan. Tidak hanya itu, Chika yang memang sudah mengincar harta kekayaan Keluarga Anggara pun akhirnya menghabisi semua anggota keluarga Anggara tanpa sisa. Hal tersebut membuat Aluna menyesal akan sikapnya yang selalu diam dan menerima saat ditindas.
Saat takdir memberi Aluna kesempatan untuk hidup kembali, Aluna berjanji untuk mengubahnya.
"Aku pasti bisa melindungi dan mempertahankan keluargaku! Pasti!" ucap Aluna penuh keyakinan.
Tapi, lho kok? Kenapa sikap semua orang tidak sama seperti di kehidupan sebelumnya? Sebenarnya apa yang terjadi?
Yuk, ikuti kisah SUARA HATI ALUNA. Jangan lupa like, komen, dan rate bintang 5 nya ya. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Andi menghela napas panjang. Sebenarnya dia tidak rela adik perempuan yang baru ditemukannya itu menjalin hubungan dengan lawan jenis. Apalagi dia baru menyadari bahwa adik perempuannya ternyata sangat baik, tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Dari suara hati yang ia dengar sepertinya Aluna juga sebenarnya tidak menyukai keluarganya entah karena apa.
Andi akui, tadinya ia dan Armand sepakat untuk tidak menganggapnya adik karena bagi mereka Chikalah satu-satunya adik yang mereka kenal dan sayang. Tapi, semuanya berubah setelah ia tahu bahwa Chika tidak sebaik yang ia kira. Anggaplah ia belum benar-benar tulus menerima dan menyayangi Aluna, tapi setidaknya ia memiliki kemauan untuk dekat adiknya itu.
"Aku setuju dengan perkataan Luna," jawab Andi menjelaskan. "Dan kamu Marvin, datanglah ke rumah besok untuk meminta izin kepada orang tua kami."
Andi menepuk bahu Marvin.
"Kak!" protes Chika.
Aluna tersenyum senang. Setidaknya kali ini ia sudah berhasil membuat Chika kesal.
"Dan kamu Chika, dari pada mengurusi soal hubungan Aluna dengan pria itu. Lebih baik kamu pikirkan bagaimana kamu akan menjelaskan soal kebocoran rencana proyek perusahaan kita. Apalagi diantara kita semua selain aku dan Armand hanya kamu yang tahu kode brankas," ucap Andi dengan nada tegas.
Chika sedikit terkejut. Ia kira kakak pertamanya tersebut sudah melupakannya apalagi tender itu akhirnya tetap jatuh ke perusahaan Anggara. Bukankah seharusnya Andi tidak mengungkit hal ini?
Andi berjalan masuk ke dalam mobilnya, diikuti oleh Armand.
Chika menatap kesal Aluna setelah itu ia pun ikut masuk ke dalam mobil.
"Senang juga melihat Chika kesal," batin Aluna.
Gadis yang masih memeluk lengan Marvin itu tersenyum senang.
"Sampai kapan kamu akan memeluk tanganku?" tanya Marvin dengan wajah datar.
Buru-buru Aluna melepaskannya.
"Maaf, maaf," ucapnya.
"Ck, sok kecakepan! Daripada lihat wajah lepeng kamu ini, sepertinya wajah culun kamu lebih menggemaskan." Aluna membatin.
Dia melirik Marvin yang matanya entah kenapa sedikit membelalak seperti baru saja mendengar sesuatu.
"Soal perkataanku tadi, nggak usah dianggap serius. Kamu tidak perlu datang ke rumah. Nanti aku yang akan bicara dengan kakak-kakakku," ucap Aluna.
Ia mulai melangkahkan kakinya untuk meninggalkan pemuda bernama Marvin tersebut. Namun, baru satu langkah berjalan suara Marvin membuatnya menghentikan langkah.
"Datang ke rumah orang tuamu atau tidak, itu bukan menjadi keputusanmu lagi. Tapi, semua diputuskan olehku," ucap Marvin.
Aluna berbalik dan menatap pemuda bernama Marvin itu.
"Maksudmu?" tanya Aluna bingung.
Marvin berjalan mendekati Aluna, menarik pinggang gadis itu hingga membuat tubuh keduanya bersentuhan.
Marvin menatap kedua bola mata Aluna. Ia menelusuri wajah Aluna menggunakan jari telunjuk.
"Kamu cantik dan sepertinya aku juga jatuh cinta padamu," ucap Marvin sambil menyeringai.
Aluna membeku. Sentuhan tangan Marvin membuat jantungnya berdetak tak karuan.
"Kamu sepertinya menyukai tubuhku. Bagaimana kalau sebagai tanda kita sudah jadian kita berciu–"
Aluna yang takut tidak bisa mengendalikan diri segera mendorong tubuh Marvin. Aluna benar-benar gugup.
"Kakak-kakakku sudah menunggu."
Setelah mengatakan itu, Aluna bergegas lari ke masuk ke dalam mobil kakaknya. Tidak lama mobil itupun pergi meninggalkan area parkir.
Marvin menghela napasnya. Sejujurnya dia pun merasa gugup. Dia masih tidak percaya kalau bisa sedekat itu dengan Aluna.
"Kali ini aku tidak akan membiarkanmu menjauh seperti sebelumnya. Aku tidak mau kehilangan dirimu lagi," gumam Marvin.
"Tuan Muda, Anggara Grup sudah menandatangani kontrak kerjasama dengan perusahaan kita seperti yang Anda inginkan."
Seorang laki-laki berjas hitam datang melapor. Ia menyerahkan dokumen berisi kontrak kerjasama itu kepada Marvin.
"Bagus. Kamu terus awasi pergerakan mereka!" suruh Marvin setelah melihat dokumen di tangannya.
"Kali ini aku pasti akan menjagamu Luna. Aku tidak akan membiarkan siapapun mencelakaimu lagi, meski mereka adalah keluargamu sendiri," janji Marvin di dalam hati.
Pemuda itu mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Siapkan beberapa hadiah mewah untuk besok!" seru Marvin pada orang berjas hitam di hadapannya.
"Baik, Tuan Muda."
ini si nenek" rada" oleng